Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
029 - Zona Penyiksaan


__ADS_3

Hosh... Hoshh..


Vaya terengah-engah, kehabisan napas, tubuhnya tergeletak tak berdaya pada matras dalam keadaan bersimbah keringat. Ia sudah terlalu lelah untuk melakukan semua gerakan yang membuat tubuhnya terasa remuk.


"Satu set lagi, Bu, masih ada lima belas menit."


Ivan, pelatih gym pribadi Vier memberi semangat kepada Vaya yang masih harus melakukan rangkaian gerakan olahraga demi mendapatkan bentuk tubuh ideal.


Lima belas menit matamu! Aku sudah mau mati begini! Jerit Vaya dalam hati.


"Vaya! Jangan berhenti sebelum tumpukan lemak jahat di tubuhmu menghilang! Haha!"


Vier yang berlari di atas treadmill tertawa senang.


Ugh! Berhentilah tertawa, Vier, ini benar-benar tidak lucu!


"Sudah, tidak usah banyak mengeluh! Mengeluh tidak akan membuat tubuhmu lebih baik! Haha!"


Vaya benar-benar merasa kesal dengan Vier yang seakan selalu punya cara untuk menyiksanya seperti ini.


Ugh, kapan penyiksaan Vier ini berakhir? Apa harus menunggu aku mati dulu?!


...*****...


Usai berolahraga, Vaya bergegas menuju ke halaman tempat Vier biasa menikmati sarapan pagi.


Pak Jo dan beberapa pelayan sudah menyiapkan menu sarapan untuk mereka berdua.


Vaya benar-benar merasa tidak berselera melihat menu makanan yang disajikan. Sayur-sayuran mentah dalam mangkuk ukuran besar dan jus sayur berwarna hijau yang dari aromanya saja sudah membuat Vaya merasa mual.


Vier meneguk habis jus sayuran itu tanpa tersisa, lagi-lagi Vaya menjadi mual.


"Habiskan! Ini jus terbaik yang resepnya diracik oleh ahli gizi terbaikku. Hanya dengan berolahraga saja belum cukup untuk membentuk tubuh ideal. Perlu pola makan yang bernutrisi baik dan seimbang," Vier menjelaskan.


Ugh, aku lebih suka makan bubur ayam! Batin Vaya.


Vaya mulai menyesap jus sayurnya, tenggorokannya menolak untuk menerima jus dengan rasa luar biasa aneh dan beraroma kurang sedap itu.


Vier menyeringai melihat Vaya yang mati-matian menahan rasa mualnya.


"Habiskan, Vaya! Jika kau muntahkan, aku akan menyuruh Pak Jo membawakan porsi ganda! Haha!" ejek Vier.


"Selamat pagi, Pak Vier, Bu Vaya."


Mike menghampiri mereka berdua sambil membawakan surat kabar pagi.


"Selamat pagi, Mike," Vier balas menyapa Mike.


"Bu Vaya, Anda baik-baik saja?" tanya Mike.


Vaya tidak menjawab pertanyaan Mike, saat ini mulutnya terkunci dengan jus sayur yang belum juga bersedia meluncur turun ke saluran pencernaannya.


"Vaya, apa kau mau jus sayur dua porsi lagi?" tanya Vier.


"Cepat jawab, Vaya!" Vier menyeringai jahat


Glek... Jus sayur itu tertelan begitu saja.


"Tidak! Aku tidak mau! Cukup ini saja!" tolak Vaya.

__ADS_1


"Habiskan!" perintah Vier.


Ugh! Perintah sialan! Maki Vaya dalam hati.


...*****...


Vaya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Namun rasanya tubuhnya terlalu lelah usai berolahraga pagi.


Huuh, apa aku benar-benar harus berolahraga dan makan menu tidak enak itu setiap hari?


Ini benar-benar penyiksaan! Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari zona penyiksaan Vier?


Tok... Tok...


"Bu Vaya."


Vaya bergegas membuka pintu kamarnya begitu mendengar suara Mike.


Cklek...


Vaya membuka pintu kamarnya.


"Bu Vaya, Anda sudah mau bersiap-siap ke kantor?" tanya Mike.


"Benar," jawab Vaya.


Mike mengeluarkan sebuah dompet dari dalam saku jas yang dikenakannya. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan salah satu kartu dari kumpulan kartu yang ada di dalam dompet tersebut.


"Pak Vier memberi kartu kredit beliau untuk Anda."


Mike menyodorkan selembar kartu kredit berwarna hitam yang membuat mata Vaya membulat.


"Hadiah untuk Anda," jawab Mike singkat.


"Anda boleh menggunakannya untuk membeli apa pun kebutuhan pribadi Anda," lanjut Mike.


"Hah?" Vaya tertegun.


"Saya harap Anda menggunakannya secara bijak, karena semua laporannya akan langsung saya sampaikan kepada Pak Vier. Jika ditemukan adanya penyalahgunaan, maka Anda akan tahu sendiri konsekuensinya," tambah Mike.


"Waduh, sepertinya saya berat untuk menerima ini, Pak Mike," keluh Vaya.


"Bu Vaya, ini hadiah untuk Anda, dan Anda diwajibkan menerimanya," kata Mike.


"Dan sebentar lagi sopir akan datang menjemput Anda lalu mengantarkan ke kantor, jadi Anda tidak perlu berjalan kaki."


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu," Mike berpamitan.


Vaya masih terbengong-bengong dengan kartu sakti yang saat ini dipegangnya.


Apalagi rencana jahat yang sedang disusun oleh Vier?


...*****...


Selama perjalanan menuju kantornya, Vaya termenung memikirkan nasib hadiah fantastis yang diberikan oleh Vier.


Hadiah berupa kartu kredit tanpa limit itu jelas sangat menggoda Vaya. 


Selama ini Vaya memang sudah bekerja keras, menggunakan semua penghasilan yang ia miliki untuk menanggung kehidupan ibu dan kedua adiknya. Membiayai uang sekolah Rian dan Aria yang tidak sedikit jumlahnya.

__ADS_1


Vaya bahkan hanya bisa mengalokasikan pendapatannya untuk makan sehari-hari. Vaya sudah terbiasa hidup serba kekurangan, terlebih pasca kepergian ayahnya.


Mendapat hadiah berupa kartu kredit tanpa limit jelas membuatnya merasa menemukan harta karun.


"Vaya, berhati-hatilah, bisa saja kartu kredit ini adalah jebakan untukmu!"


"Kau pakai kartunya untuk bersenang-senang, maka dia pakai tubuhmu untuk bersenang-senang!"


"Intinya kau jangan terlena, jangan terpedaya, dan jangan percaya pria itu!"


Begitulah pergulatan batin yang saat ini dialami oleh Vaya. Vaya benar-benar merasa sangat lelah. Ia benar-benar ingin bisa terbebas dari Vier.


Ia menginginkan kembali masa-masa penuh kebebasannya. Tanpa perlu ada yang mengatur seperti Vier yang kini seakan menggenggam hidupnya.


"Selamat pagi, Bu Vaya."


Lamunan Vaya buyar tatkala mendengar sapaan dari Pak Andre yang bertemu dengannya di lobi.


"Oh, selamat pagi, Pak Andre," sapa Vaya.


"Pagi-pagi kenapa bengong begitu, Bu? Pasti belum sarapan ya?" tanya Pak Andre.


"Oh, tidak, Pak, saya sudah sarapan," jawab Vaya.


"Begitu, padahal saya baru saja beli bubur ayam lebih," Pak Andre mengangkat bungkusan plastik yang dibawanya.


"Terima kasih, Pak," kata Vaya.


Vaya tiba-tiba saja teringat jaket Pak Andre yang dihancurkan oleh Vier.


Aduh! Bagaimana ini? Itu kan jaket mahal! Batin Vaya.


"Ada apa, Bu Vaya?" tanya Pak Andre.


"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Lamia semalam?" tanya Vaya.


"Lamia baik-baik saja, dia hanya terkena serangan panik karena terjatuh," jawab Pak Andre.


Pria berparas ramah itu mengulas senyumnya. 


"Oh ya Pak Andre, jaket yang Anda pinjamkan masih saya kirim ke penatu, nanti pasti akan saya kembalikan," kata Vaya.


"Tak apa, Bu Vaya," kata Pak Andre. "Saya minta maaf, semalam saya malah meninggalkan angkringan lebih dulu, padahal saya yang mengajak pergi," Pak Andre meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Pak, terima kasih sudah mengajak," kata Vaya.


"Selamat pagi, Pak Andre! Bu Vaya!"


Sapaan riang dari Lamia membuat Vaya dan Pak Andre menoleh serempak.


"Selamat pagi, Lamia," sapa Vaya dan Pak Andre bersamaan.


"Bu Vaya, boleh kita bicara sebentar?" Lamia segera mengaitkan lengannya ke lengan Vaya.


Belum sempat Vaya mengiyakan, Lamia sudah menyeret Vaya pergi.


Vaya merasakan firasatnya tidak enak, terlebih ia merasa cengkeraman dari Lamia begitu keras.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2