
"Get well soon, Selena. Pasti kau akan sangat cantik dengan gaun pengantinmu!"
Missyu mengecup kedua pipi Selena dan memberikan pelukan untuknya.
"Missyu!" Vier melotot ke arah Missyu.
Missyu mencebik ke arah Vier, namun dengan segera ia menarik senyumnya pada Selena.
"Thank you, Missyu," Selena mengulas senyumnya.
"Beristirahatlah Selena, sampai jumpa lagi," Missyu berpamitan.
Missyu pergi meninggalkan Selena dan Vier di ruang perawatan Selena.
Di depan ruang perawatan, Mike segera menghadang langkah Missyu.
"Ada apa, Mike?" tanya Missyu.
"Tolong hapus foto yang baru saja Anda unggah," jawab Mike.
Missyu mendelik gusar pada Mike.
"Mike, apa kau ini sungguh seorang penguntit?" tanya Missyu.
"Saya bukan seorang penguntit, Nona Missyu. Saya hanya kurang berkenan dengan foto terbaru yang Anda unggah. Terutama dengan caption yang Anda sematkan," jawab Mike.
"Mike, kau tidak punya hak untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kuunggah di laman media sosialku! Kau bukan managerku!" tukas Missyu.
"Nona Missyu, saya mohon kerjasama Anda. Saya hanya melakukan tugas saya untuk menjaga privasi Pak Vier," ucap Mike dengan tegas.
"Tidak! Aku tidak mau," tolak Missyu.
Missyu masih melemparkan tatapan skeptisnya ke arah Mike.
"Baiklah, jika Anda memang bersikeras untuk tidak menghapus foto itu. Jangan salahkan saya jika akun sosial media Anda tidak bisa diakses lagi," kata Mike dengan tenang.
"Mike, kau berani mengancamku?" tanya Missyu.
"Saya tidak mengancam Anda, Nona Missyu. Saya hanya mengatakan pada Anda apa yang harus saya lakukan demi menjaga privasi Pak Vier," jawab Mike dengan tegas.
Missyu benar-benar kesal dengan sikap Mike.
"Saya beri Anda waktu maksimal 1 x 24 jam untuk mengHAPUS," kata Mike dengan memberi penekanan pada kata hapus.
Missyu mengambil gawai cerdasnya, ia segera membuka laman sosial media, dengan cepat menghapus foto terbaru yang ia unggah. Ancaman Mike jelas tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sebagai seorang seleb Ensta yang tengah naik daun, Missyu tentu tidak boleh sampai kehilangan akses laman sosial medianya. Apalagi yang mengancamnya adalah pria yang seakan bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuannya.
"Lihat ini! Foto itu sudah kuhapus! Puas kau sekarang, Mike?!" geram Missyu.
Mike mengulas senyumnya sambil menunduk hormat.
"Terima kasih atas sikap kooperatif Anda, Nona Missyu," kata Mike.
Missyu mendengus kesal, ia segera melangkah pergi meninggalkan Mike.
...*****...
__ADS_1
"Bagaimana, Vier? Apa kau sudah menghubungi istrimu?" tanya Selena.
"Selena," lirih Vier.
"Ada apa, Vier? Apa kau sungguh tidak bisa membuktikan padaku bahwa wanita itu begitu mencintaimu?" tanya Selena penuh selidik.
"Selena, saat ini kesembuhanmu adalah prioritasku," kata Vier sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Selena.
"Vier!" sergah Selena.
Vier menghela napasnya, lalu menatap Selena yang terlihat jelas begitu menuntut jawaban Vier.
"Aku sungguh ingin tahu, Vier! Apakah wanita itu benar-benar mencintaimu seperti aku yang mencintaimu?" desak Selena.
"Selena, tolong berhentilah bersikap seperti ini. Bagiku, kesembuhanmu saat ini adalah hal yang sangat penting. Aku ingin kau bisa kembali sehat seperti sedia kala, Selena," kata Vier.
"Aku tidak ingin terus menerus disalahkan dan merasa bersalah karena membuatmu harus mengalami hal seperti ini, Selena. Aku ingin kau pulih sepenuhnya dan menjalani hari-hari yang membuatmu lebih bahagia."
"Bawa wanita itu padaku, Vier! Bawa dia! Aku sungguh ingin tahu, apakah dia benar-benar sangat mencintaimu? Atau hanya aku wanita yang paling mencintaimu, Vier!" pinta Selena.
"Tidak, Selena," Vier menggeleng pelan.
"Saat ini kau harus pulih seperti sedia kala," kata Vier dengan tegas.
"Bawa dia, Vier! Bawa dia!" Selena mendesak dengan paksa.
Vier menghela napasnya, begitu berat seberat bebannya saat ini.
"Selena, apa yang akan kau lakukan jika aku membawa Vaya kemari? Apa kau akan meneguk kembali semua obat-obatanmu sampai kau kembali overdosis?" tanya Vier.
"Apa kau akan dengan sengaja melakukan semua itu agar rasa bersalahku padamu semakin besar?" tanya Vier.
"Selena, sebaiknya kau beristirahat sekarang," perintah Vier.
"Bawa dia padaku, Vier!" sergah Selena.
Vier lagi-lagi menghela napas berat.
"Baiklah, aku akan membawa Vaya kemari, tapi tentu saja dengan syarat. Apa kau siap memenuhi syarat itu, Selena?" tanya Vier.
Selena terdiam mendengar pertanyaan dari Vier.
"Jika kau siap memenuhi syarat itu, maka akan kupenuhi apa yang kau minta," kata Vier dengan tegas.
...*****...
"Saya masih mencoba untuk terus mencari keberadaan Bu Vaya," kata Mike sambil membacakan isi tablet pintarnya.
"Selama tiga tahun ini, sulit mendeteksi keberadaan Bu Vaya. Hal itu dikarenakan uang yang selalu Anda kirimkan ke rekening beliau sama sekali tak tersentuh. Logikanya, jika Bu Vaya menggunakan uang itu, pastilah akan terdeteksi di mana posisi Bu Vaya melalui lokasi penarikan uang pada ATM terdekat," lanjut Mike.
"Belum lagi, ternyata Bu Vaya juga mengubah nomor telepon beliau sehingga keberadaannya menjadi tidak terlacak."
Vier mendengarkan secara saksama laporan penyelidikan yang disampaikan oleh Mike sambil menikmati sarapan paginya.
"Bagaimana dengan sepupunya, siapa itu namanya?" tanya Vier berusaha mengingat-ingat.
"Pak Deri," jawab Mike.
__ADS_1
"Ya, Deri! Apa Deri tahu?" tanya Vier.
"Pak Deri juga tidak tahu di mana keberadaan Bu Vaya. Bu Vaya dan keluarganya meninggalkan kota tanpa ada yang tahu," jawab Mike.
Vier melemparkan pandangannya keluar jendela sambil berkali-kali menghela napas berat.
Ke mana ia harus mencari keberadaan Vaya yang seakan benar-benar menyembunyikan jejaknya rapat-rapat. Seakan Vaya sengaja menghilangkan diri dari jangkauan Vier.
Vier bahkan tak tahu harus mencari Vaya ke mana, selama tiga tahun ini ia masih terus berusaha mencari di mana Vaya berada.
Entah apa maksud Vaya sampai menghilang seperti ini.
"Mike, bagaimana dengan adik-adik Vaya?" tanya Vier.
Mike menatap lurus ke arah Vier.
"Siapa tahu mereka mengetahui keberadaan Vaya," kata Vier.
"Saya sudah mencari keberadaan adik-adik Bu Vaya, salah satunya adalah adik laki-laki Bu Vaya. Saat ini adik laki-laki Bu Vaya yang bernama Rian, bekerja di salah satu kapal pesiar luar negeri," Mike menjelaskan.
"Hanya saja, Rian tidak berani memberikan keterangan apa pun," lanjut Mike.
Vier meneguk habis segelas jus jeruknya sebelum akhirnya berkata.
"Baiklah, ayo kita temui Rian."
...*****...
Rian menghentikan tugasnya mencuci semua piring yang ada di dapur ketika supervisor memanggilnya.
"Someone is looking for you. Meet him in five minutes at restaurant."
Rian mengangguk sebagai tanda bahwa ia memahami apa maksud dari supervisornya.
Rian bergegas menemui tamu yang mencarinya. Sungguh aneh sekali baginya, tidak biasanya ia kedatangan tamu.
"Rian."
Pria ramah itu segera menyambut kedatangan Rian.
"Pak Mike," Rian terperangah.
"Hai Rian," sapa Vier.
"Ka- Kak Vier," Rian tergagap begitu melihat sosok Vier.
"Maaf ya, aku datang di saat kau sedang sibuk bekerja," kata Vier.
Rian menatap Vier yang mengulas senyum ramah padanya.
"Ada apa Kak Vier mencariku?" tanya Rian.
Vier masih mengulas senyum ramahnya.
"Apa Kak Vier ingin mencari tahu di mana Kak Vaya?" tanya Rian lagi.
"Benar," jawab Vier.
__ADS_1
"Maaf Kak, aku diminta Kak Vaya untuk merahasiakan keberadaan Kak Vaya."
...*****...