
Pembaca setia, mohon maaf author lagi super slow up. Kondisi author yang udah seminggu lebih ini ngedrop, jadi harus banyak banyak istirahat. Selalu jaga kesehatan dan selamat membaca.
...*****...
Cintami Yanjayadi.
Wanita paruh baya itu baru saja selesai melakukan ritual mandi paginya. Ia masih mengenakan handuk kimono putih dan segera duduk di walk in closet alias ruang pakaian pribadi. Tiga orang asisten pribadinya menyodorkan koleksi pakaian yang akan dipilih oleh wanita itu. Berikut dengan berpasang-pasang sepatu, dan koleksi tas mewah.
Wanita itu cukup mengangkat jari telunjuk pada pakaian yang hendak dikenakannya.
Seorang penata rias beserta asisten datang menghampiri Cintami untuk mulai merias wajah wanita paruh baya tersebut. Bersamaan dengan penata rambut yang mulai menggarap rambut hitam beliau yang terawat.
"Bu Cintami."
Gemma, asisten pribadi Bu Cintami datang menghampiri. Wanita berusia akhir dua puluhan itu sudah menjadi asisten pribadi Bu Cintami selama satu tahun dan merupakan asisten pribadi yang cukup lama mendampingi beliau.
"Nyonya Cintami, ini ada undangan dari Nyonya Jocelyn, acara ulang tahun cucu pertama beliau."
Gemma menyodorkan sebuah undangan berwarna merah jambu lembut dengan sentuhan emas yang memberi kesan mewah nan glamor.
Bu Cintami memandang dengan tatapan yang begitu skeptis. Beliau bahkan sama sekali tak tertarik untuk menyentuh undangan itu. Dengan cekatan, Gemma membuka lebar-lebar undangan yang menampilkan foto-foto eksklusif bayi menggemaskan, membuat Bu Cintami mendelik gusar.
"Nyonya Jocelyn meminta konfirmasi apakah Anda bersedia datang pada acara ini, Nyonya," ujar Gemma.
Gemma bisa menebak bahwa Bu Cintami jelas tidak punya waktu untuk datang ke acara kaum sosialita tersebut.
Hanya saja, Bu Cintami sudah kerap kali mangkir setiap kali ada acara pesta ulang tahun cucu dari para kaum sosialitanya. Hal tersebut tak ayal menjadikan Bu Cintami sebagai bahan gunjingan segar.
Bukannya tanpa alasan Bu Cintami tidak pernah mau datang ke pesta ulang tahun cucu dari kaum sosialitanya. Hanya saja, rasa iri merasuk hingga ke sukma beliau.
Melihat dan mendengar para jajaran kaum sosialita membanggakan anak, menantu, serta para cucu mereka.
Sebagai wanita yang tahun ini genap berusia enam puluh tahun, Bu Cintami belum kunjung menimang cucu.
Anak-anak tirinya jelas terlihat jauh menikmati hidup mereka tanpa memikirkan pernikahan. Meski sudah berusia dewasa dan matang, Praise dan Honey lebih memilih untuk menikmati hidup melajang. Sementara Missyu masih menikmati puncak karirnya sebagai bintang bersinar. Begitu pula dengan Dearmine yang lebih memilih fokus untuk meneruskan pendidikan.
Di lain pihak, anak kandungnya, Vier, hingga kini masih terikat pada kesepakatan mereka yakni upaya pemulihan Selena. Vier bahkan sampai harus mengorbankan pernikahannya.
"Ah, sial! Mengapa semua hal tidak berjalan sesuai dengan yang kuinginkan?!"
Bu Cintami mengumpat kesal, penata rias hingga penata rambutnya tersentak kaget begitu Bu Cintami tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
Wanita paruh baya itu melangkah mondar-mandir, merasa frustrasi.
"Jocelyn! Wanita tua itu pasti sengaja melakukannya! Ya, dia pasti mengundangku hanya untuk memanas-manasiku bahwa dia adalah wanita paling berbahagia di muka bumi ini!"
__ADS_1
"Wanita tua bangka itu ingin menunjukkan padaku dengan sangat jelas bahwa menolak putrinya untuk menjadi menantu adalah kesalahan besarku!"
"Lihat, putriku akhirnya menikah dengan pria luar biasa, dan lihat, cucuku bahkan begitu cantik dan menggemaskan seperti ibunya!"
Bu Cintami bermonolog sendiri, bak pemain teater yang sedang menghafalkan naskah.
"Nyonya, apakah sebaiknya saya langsung memilih kado terbaik beserta ucapan untuk dikirimkan langsung kepada Nyonya Jocelyn?" tanya Gemma.
"Huh! Gemma! Jika kau melakukan itu, sama saja itu artinya aku sungguh menyesal karena menolak saat Jocelyn ingin agar Vier menjadi menantunya!"
"Mau ditaruh di mana mukaku ini, Gemma?!"
Gemma terdiam mendengar suara Bu Cintami yang meninggi dua oktaf.
"Sepertinya aku memang harus mengaturkan pernikahan antara Vier dan Selena!" tukas Bu Cintami.
"Sekarang teknologi kedokteran sudah begitu canggih! Inseminasi buatan bisa dilakukan bahkan meski wanita itu lumpuh!" lanjut Bu Cintami.
"Ya, aku rasa dengan begitu, aku tetap bisa mendapatkan cucu! Benar begitu kan, Gemma?"
Gemma mengangguk ragu-ragu, namun semua itu dilakukannya demi membuat Bu Cintami merasa senang.
"Gemma, siapkan perjalananku ke Paris, sekarang!"
...*****...
Begitu tiba di Paris, Bu Cintami segera menuju ke rumah sakit tempat Selena dirawat.
Bu Cintami merasa sudah kehilangan kesabarannya untuk menunggu Vier yang seakan belum bisa move on untuk menceraikan Vaya lalu menikahi Selena.
Tiga tahun jelas bukan waktu yang singkat untuk menunggu saat-saat Bu Cintami harus terus menahan diri untuk menghiraukan segala macam bentuk pertanyaan dari kaum sosialitanya.
Terlebih saat Vier yang dibangga-banggakannya di depan para kaum sosialitanya hingga kini belum bisa memberinya cucu.
Tiba-tiba seorang bocah laki-laki berlarian di koridor. Hal itu jelas mengejutkannya. Bahkan bocah itu menabrak rombongan Bu Cintami.
"Aduh! Anak siapa itu?! Kenapa malah berlarian begitu?! Ini di rumah sakit, bukan taman bermain!" tegur Bu Cintami dengan matanya yang melotot penuh kemarahan.
Bocah itu jatuh terduduk mendengar teguran Bu Cintami.
"Huwaaa!" bocah itu menangis.
Tangisnya membuat semua orang menoleh ke arah rombongan Bu Cintami.
"Excuse me. Can you speak English?" tanya Gemma.
__ADS_1
"Huwaa!" bocah itu masih menangis.
Bu Cintami mendelik gusar, ia menatap sinis bocah itu.
"Ke mana orang tuanya? Mengapa anak kecil dibiarkan berkeliaran sendirian seperti ini?!" decih Bu Cintami.
Bocah itu mendongak ke arah Bu Cintami sekilas.
"Huwaa! Nenek sihir!" bocah itu kembali menangis.
Gemma menahan senyumnya.
"Dasar anak tidak sopan!" geram Bu Cintami.
"Aku benar-benar bisa menuntut orang tuamu!" lanjutnya.
"Nyonya, saya akan mengantar anak ini ke pusat informasi. Silakan Anda pergi tanpa saya," kata Gemma.
Bu Cintami dan rombongannya segera meninggalkan Gemma.
"Adik kecil, saya akan mengantarmu," kata Gemma dengan ramah.
...*****...
"Baik, baik, saya mengerti, akan saya informasikan kembali setelah saya berdiskusi dengan Pak Vier. Saya mohon maaf, secepatnya akan saya kabari."
Mike menutup teleponnya dengan helaan napas berat. Ia masih berkutat di depan layar gawai cerdasnya yang berbentuk persegi panjang pipih.
Saat ini ia tetap harus bekerja mengurus perusahaan sambil menjaga Vero. Vero yang bosan berada di taman bermain meminta Mike untuk mengantarnya kepada kedua orang tuanya.
Bocah itu sungguh memaksa, sikap memaksanya sama persis seperti ayahnya yang akhirnya membuat Mike mengalah.
Mike pun mengantar Vero ke rumah sakit, namun sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Mike tanpa henti berkomunikasi dengan tim.
Begitu tiba di pelataran rumah sakit, Mike menghentikan mobilnya untuk memeriksa tablet pintarnya, memeriksa detail pekerjaan.
"Vero, maaf ya, kau pasti menunggu lama, yuk kita turun," ujar Mike sambil menoleh ke kursi penumpang.
Mata Mike membulat besar, tidak ada Vero yang tadinya duduk dengan sabuk pengaman yang menahan tubuh bocah itu.
"Vero? Vero!"
Ke mana Vero pergi?!
...*****...
__ADS_1