Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
094 - Tumbal Gende-Vier


__ADS_3

Biasanya Vaya menghabiskan hari Sabtu dengan penuh kedamaian.


Jika mengingat beberapa bulan yang lalu, bahkan bertahun-tahun yang lalu, Vaya sudah biasa menghabiskan hari sabtu untuk tetap pergi ke kantor dalam rangka mencicil pekerjaannya.


Toh, dia adalah wanita pekerja yang tidak punya pacar alias jomblo yang bahkan tidak pernah pergi berkencan dengan pria mana pun. Jadi lebih baik mengisi waktu dengan bekerja saja.


Rutinitas lainnya yang dilakukan Vaya yakni tidur seharian. Kadang Ibe mengajaknya jalan-jalan atau sekadar nongkrong di salah satu kafe, sesekali bersama Mima jika Mima bisa datang. Lebih seringnya Vaya hanya berdiam diri di mess jika tidak sedang pulang menemui keluarganya.


Namun saat ini Vaya tidak sedang bersantai-santai di messnya, tidur dengan mengenakan kaus longgar dan celana pendek, sambil makan mie instan ketika perutnya terasa lapar.


Saat ini dua orang perawat melakukan pemeriksaan fisik untuk Vaya. Dua orang perawat yang merupakan anggota dari Dokter Reno. Keduanya dikirim sesuai instruksi dari Mike.


Salah satu perawat segera memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah sementara yang lain melakukan wawancara singkat pada Vaya seperti menanyakan apakah Vaya memiliki alergi terhadap obat-obatan.


"Tidak, saya tidak ada alergi terhadap obat-obatan," jawab Vaya singkat.


"Saya akan memberi Anda injeksi vitamin," kata perawat itu.


"Injeksi vitamin?" Vaya terperangah.


Vaya jadi makin gugup dan tentu saja makin luar biasa takut. Entah apa yang akan dilakukan oleh Vier sampai Vaya harus mendapat vitamin tambahan. Vaya meringis saat mendapatkan suntikan vitamin pada lengan atasnya.


"Oh ya, Bu, ngomong-ngomong, bagaimana dengan siklus menstruasi Ibu?" tanya perawat itu lagi.


"Siklus menstruasi?" Vaya balik bertanya.


"Maksud saya, apakah teratur setiap bulannya?" tanya perawat itu.


"Hmm, ya, paling bergeser dua atau tiga hari dari tanggal terakhir," jawab Vaya.


"Oh, begitu, baiklah, sekarang, Ibu tolong berbaring," kata perawat itu lagi.


"Hee? Berbaring?" Vaya keheranan.


"Ya Bu, saya akan memberi Anda injeksi selanjutnya," jawab perawat itu.


Vaya menurut dan segera berbaring.


" Ibu biasa tidur miring ke kiri atau ke kanan?" tanya perawat itu.


"Hmm biasanya...," Vaya mencoba mengingat-ingat.


Biasanya ia tidur dalam posisi memunggungi Vier, namun entah mengapa saat terbangun ia sudah berada dalam pelukan Vier.


"Miring ke kanan," jawab Vaya.


"Permisi ya Bu," perawat membantu Vaya untuk berbaring ke kiri.


Perawat itu dengan cekatan menutupi tubuh Vaya dengan selimut hingga sebatas pinggangnya lalu menyingkap gaun yang dikenakan Vaya.


"Suster, mau suntik di mana?" tanya Vaya.


"Suntik di bokong," jawab perawat itu sambil mengulas senyum.


"Hee? Di bokong?"


Perawat itu mengangguk lalu pelan-pelan menurunkan pakaian dalam Vaya.


"Harus ya? Kenapa tidak di tangan lagi?" tanya Vaya.


"Agar obatnya bekerja cepat dan maksimal," jawab perawat itu ramah.


"Oh begitu," sahut Vaya.


Apa Ibu ini tidak pernah suntik kb sebelumnya? Pikir perawat itu.

__ADS_1


"'Permisi ya Bu," ujar perawat itu sekali lagi sebelum memberikan suntikan untuk Vaya.


Vaya merasakan jarum panjang yang menembus kulitnya membuatnya ngilu.


"'Aduh," keluh Vaya.


Perawat itu mengulas senyumnya, sepertinya ibu ini memang tidak terbiasa disuntik.


Usai memberi suntikan, perawat itu segera mengusapkan kasa yang telah diberi alkohol pada titik yang mendapat suntikan.


"Sudah," katanya sambil kembali mengembalikan posisi pakaian dalam dan gaun Vaya.


"Terima kasih ya, Suster," kata Vaya.


Setelah membereskan peralatan medis mereka, dua orang perawat itu pun segera meninggalkan Vaya.


Vaya kembali duduk termenung di kamar sampai Pak Jo datang mengantarkan makan siang untuk Vaya.


Vaya memakan salad gulung, sup asparagus, dan dada ayam panggang tanpa semangat. Saat ini pikiran Vaya sedang tertuju pada malam penghakiman Vier.


Vaya menyebut malam melepas keperawanannya dengan sebutan penghakiman Vier karena pria itu yang nantinya akan merenggut keperawanannya.


Vaya kembali merasa resah dan gelisah. Apakah memberikan keperawanannya pada Vier merupakan keputusan yang tepat?


Menjadikan keperawanannya sebagai bukti agar terlepas dari tuduhan-tuduhan Vier.


Vaya benar-benar sangat takut, ketakutan yang setiap detiknya makin meningkat. Vaya sungguh tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Vier padanya.


Duh, apa keputusanku ini salah ya? Apakah tidak ada cara lain untuk lepas dari tudingan Vier tanpa harus menumbalkan keperawananku?


Jika ini adalah film horor, pastilah judulnya adalah Tumbal Darah Perawan. Di mana Vaya menjadi seorang perawan yang ditumbalkan para warga desa kepada dedemit penguasa hutan bernama Gende-Vier.


...*****...


Vaya sudah selesai mandi dan berpakaian. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Belum ada tanda-tanda Vier kembali dan itu sungguh membuat Vaya merasa lebih tenang.


Vaya membuka gawai cerdasnya. Sebuah pesan masuk yang semalam dikirimkan oleh Yoran belum juga dibalasnya.


Yoran: Vaya, apa kau baik-baik saja?


Vaya tidak mau menjawabnya dan segera menghapus pesan itu. Ia takut jika membalas akan membuat mereka jadi berbincang panjang lebar. Apalagi Vaya juga masih merasa kesal dengan Yoran.


Mengapa Yoran justru membeli penthouse dengan harga fantastis atas nama Vaya?


Untuk apa? Apa tujuannya? Apa Yoran sungguh ingin mati di tangan Vier?


Berkali-kali Vaya hanya bisa merutuk kesal pada Yoran. Informasi yang didapatkan Vier benar-benar mengerikan.


Sepertinya para informan Vier bahkan bisa menemukan Vaya meski Vaya bersembunyi di lubang semut.


Cklek..


Pintu kamar terbuka, langkah kaki Vier menggema memenuhi kamar. Jantung Vaya berdentam makin keras, Vaya benar-benar menyembunyikan dirinya dalam selimut.


Vier mengarahkan pandangannya pada gundukan di atas tempat tidur, ia segera menarik selimut dan mendapati Vaya yang sedang meringkuk, berpura-pura tidur.


"Wah, wah, Vaya, kenapa kau malah bersembunyi seperti pengecut?" tanya Vier.


Vaya membuka matanya perlahan, tubuhnya segera menegang tak karuan karena menatap Vier yang menyeringai horor.


"Vi-Vier," Vaya tercekat.


Vier membuka ikatan dasinya, melepaskan dan merentangkan dasi berbahan sutra berwarna abu-abu itu di hadapan Vaya.


"Vaya, kau tahu apa yang harus kau lakukan, sesuai dengan kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama," kata Vier.

__ADS_1


Suara Vier terdengar sangat tenang dan dingin.


Vaya hanya terdiam saat Vier memasang dasi tersebut untuk menutupi mata Vaya. Sedetik kemudian, Vaya hanya bisa melihat dan merasakan kegelapan.


"Ikut aku. "


Vaya memegang tangan Vier, telapak tangan Vier yang besar terasa panas. 


Vaya mendengar suara pintu yang dibuka, langkah kaki Vier menggema saat menyusuri koridor.


Vaya dalam kegelapan yang masih menyelimutinya hanya bisa berdoa memohon perlindungan Tuhan.


Semoga Vier berubah pikiran begitu melihat perut  dan paha Vaya yang bergelambir, penuh dengan tumpukan lemak jahat.


Doa apa yang harus dirapalkannya?


Rapalan ayat-ayat suci pengusir setan apakah ampuh untuk mengusir manusia?


Oh Tuhan! Apa yang harus kulakukan?


Blam...


Pintu di belakang Vaya tertutup. Vaya merasakan udara yang lebih hangat di sekelilingnya.


Vier membuka ikatan dasi yang menutup mata Vaya.


"Buka matamu," perintah Vier.


Perlahan Vaya membuka matanya, dalam pencahayaan yang temaram mata Vaya membulat.


Sebuah ruangan besar, dengan langit-langit tinggi, sekelilingnya dikelilingi oleh tirai berwarna hitam. Terdapat sebuah tempat tidur besar yang tertutup dengan kelambu berwarna perak di tengah ruangan.


"'Naik ke tempat tidur," perintah Vier.


Vaya berjalan pelan, sambil mengedarkan pandangan ke ruangan dengan aroma yang membuat Vaya seketika merasa aneh. Aneh di sini maksudnya, entah mengapa Vaya merasa saat mencium aromanya saja sudah membuat darahnya berdesir kencang.


Yah, sebenarnya bukan karena aromanya, namun melihat apa yang ada di atas tempat tidur dengan tiang-tiang kokoh itu membuat Vaya bergidik ngeri.


Vier segera menyusul Vaya yang sudah naik ke tempat tidur.


"'Berbaringlah," perintah Vier lagi.


Vaya berbaring di atas kasur empuk dengan seprai putih yang lembut.


Vaya terperanjat saat melihat Vier mengeluarkan sesuatu dari balik tiang kelambu. 


Borgol dengan rantai kromium yang berada di balik tiang kelambu dengan segera membelenggu kedua tangan Vaya.


Klik.. Klik..


Kedua tangan Vaya terentang lebar, dan membuat Vaya tak bisa bergerak ke mana-mana. Bak seekor kecoa yang telentang tak bisa memutar kembali tubuhnya.


"Vi-Vier," Vaya terperanjat.


"Vaya, kita sudah sepakat," kata Vier sambil tersenyum dingin.


Vier beranjak dari tempat tidur, ia berjalan menuju ke salah satu tirai, menyingkap tirai yang di baliknya terdapat pintu-pintu kaca.


Vier membuka salah satu pintu kaca dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Vaya tercekat melihat Vier mengeluarkan sebuah cambuk hitam dan memainkan cambuk itu di tangannya sambil berjalan kembali ke tempat tidur.


Menghampiri Vaya yang terbujur kaku dengan tatapan penuh kengerian yang tak bisa disembunyikannya.


Gende-Vier akan memangsanya!

__ADS_1


...*****...


__ADS_2