
Di sebuah sekolah menengah pertama, seorang gadis nampak melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor yang saat ini kosong lantaran jam pelajaran masih berlangsung.
Gadis itu menghentikan langkahnya saat tiba di ruang piket. Matanya langsung tertuju pada sosok pria berbadan tambun yang sedang berbincang dengan guru piket.
"Aria," sapa pria itu.
"Kak Deri," kata Aria takut-takut.
"Aria, ibumu sekarang ada di rumah sakit," kata Deri dengan ekspresi cemas.
"I-ibuku di rumah sakit? Kok bisa?!" Aria terperanjat.
Deri mengambil gawai cerdasnya, ia segera melakukan panggilan video.
"Halo, Deri."
Wajah Darti memenuhi layar gawai cerdas dengan latar belakang ruang tunggu rumah sakit.
"Ibu, bagaimana?" tanya Deri.
"Dokter masih melakukan pemeriksaan," jawab Darti.
"Aria, lekas kemari! Ibumu di sini!" Darti mengarahkan pandangannya pada Aria.
"I-iya, Tante," kata Aria.
"Aria, lekas kemasi barang-barangmu, aku tunggu di sini," kata Deri.
"I-iya, Kak Deri," sahut Aria.
"Oh ya, Aria, aku mau menghubungi Vaya dan Rian, berikan aku nomor telepon mereka ya," pinta Deri.
"Sebentar Kak, nomor telepon Kak Vaya dan Kak Rian ada di buku catatanku," sahut Aria.
"Baiklah, segera ya," Deri berpesan.
Aria bergegas kembali ke kelasnya. Diam-diam Deri mengulas senyum yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun, termasuk guru piket yang saat ini sedang berhadapan dengan Deri.
...*****...
Kring..
Vaya segera menjawab teleponnya.
"Iya halo, Rian," jawab Vaya. "Tumben kamu menelepon."
"Kak, kata Kak Deri, ibu di rumah sakit," kata Rian.
"Hee? Ibu di rumah sakit?" Vaya terperanjat.
"Iya, ibu di rumah sakit, aku mau ke rumah sakit, Kak," kata Rian.
"Tunggu, Rian, kenapa ibu di rumah sakit?" tanya Vaya.
"Kata Kak Deri, ibu bersama Tante Darti di rumah sakit," jawab Rian.
"Rumah sakit mana, Rian?" tanya Vaya.
"Kata Kak Deri, rumah sakit umum, Kak," jawab Rian.
"Rian, tunggu, tenang dulu, jangan tergesa-gesa," kata Vaya memperingatkan.
"Ada apa, Kak?" tanya Vaya.
"Apa kau yakin ibu ada di rumah sakit?" tanya Vaya.
"Habis, kata Kak Deri begitu," sahut Rian.
"Rian, coba kau pulang dulu, siapa tahu Deri cuma ngeprank," kata Vaya.
"Tapi Kak...," kata Rian.
"'Pulang dulu," perintah Vaya.
"Baiklah," sahut Rian sebelum menutup teleponnya.
Vaya segera menelepon ibunya, ia menunggu dengan perasaan gelisah.
__ADS_1
Kenapa ibunya bisa pergi ke rumah sakit bersama Tante Darti?
Ada apa memangnya?
Vaya merasakan firasatnya memburuk karena ibunya tidak menjawab teleponnya.
Tiga puluh menit kemudian, Rian kembali menelepon Vaya.
"Halo, Rian," jawab Vaya.
"Kakak, ibu tidak ada di rumah!" kata Rian terdengar panik.
"Apa?!" Vaya terperanjat.
"Tadi kata tetangga sebelah, ibu pergi bersama wanita berpakaian macan tutul," sahut Rian.
Macan tutul?
"Tante Darti," ucap Vaya.
"Kak, sepertinya aku harus mencari ibu di rumah sakit umum seperti kata Kak Deri," kata Rian.
"Rian, sebaiknya kau jangan gegabah, tunggulah di rumah, jangan ke mana-mana, oke?" kata Vaya.
"Baiklah," sahut Rian.
Tut... Tut...
Sambungan telepon terputus.
Vaya mendesaah berat, sebenarnya ada apa ini?
"Mbak Vaya, ada apa? Kenapa Mbak Vaya gelisah begitu?" tanya Evi.
"Tidak ada apa-apa, Evi," sahut Vaya berusaha menutupi rasa gelisahnya.
Tapi tetap saja kegelisahan Vaya makin meningkat tiap menitnya. Ia kepikiran dengan ibunya yang saat ini belum bisa dihubungi. Vaya ingin menghubungi Tante Darti, tapi Vaya bahkan tidak tahu nomor telepon wanita itu mengingat kurang baiknya hubungan mereka selama ini.
Tiba-tiba ponsel Vaya bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Mata Vaya terbelalak melihat sebuah foto yang masuk ke aplikasi chat berlogo hijau miliknya.
Vaya menutup mulutnya agar tak menjerit histeris dan mengagetkan semua orang.
Datanglah ke pergudangan SHZ jam 8 malam ini. Tanpa polisi. Jika tidak, semua pria ini akan bergiliran memperkosa Aria.
Di dalam foto itu, Deri turut membuat pose kemenangan yang membuat Vaya merasa sangat marah.
...*****...
"Pak Vier, Bu Vaya meminta izin untuk pulang terlambat malam ini," kata Mike sambil membaca pesan yang masuk di gawai cerdasnya.
Vier saat ini sedang berdiri di depan dinding kaca, menatap kosong arus lalu lintas yang padat merayap di bawah gedung kantornya.
"Huh, wanita itu bahkan tidak mau menghubungiku dan lebih memilih menghubungimu!" keluh Vier.
"Sebenarnya, Vaya itu menikah denganku atau denganmu, Mike?"
Vier melemparkan tatapan skeptis ke arah Mike.
"Ah, sial," Vier menyugar rambutnya dengan perasaan kesal.
Ia masih benar-benar merasa kesal pada Vaya. Gara-gara perkara cincin, mereka jadi bertengkar dan akhirnya saling berdiam diri.
Vier masih memakai cincin kawin berukiran nama Selena karena cincin itu memang cincin kawinnya. Cincin yang menjadi simbol bahwa ia sudah menikah dan tidak disangka masih lajang.
Bagi Vier, apalah arti ukiran nama yang ada pada cincinnya. Toh, cincin itu adalah miliknya. Cincin yang dipesan secara khusus pada salah satu rumah perhiasan ternama di Paris yang membutuhkan waktu pengerjaan selama enam bulan.
"Pak Vier, sebaiknya lebih baik Anda menghubungi Bu Vaya langsung. Tak baik rasanya melihat Anda dan Bu Vaya saling berdiam diri begini, rasanya situasi sungguh kurang nyaman," kata Mike.
"Mike, apa kau pikir aku betah berdiam diri seperti ini? Aku kesal! Aku benar-benar sangat kesal!" Vier melonggarkan ikatan dasinya.
Mike menyodorkan ponsel pribadi Vier.
"Kalau begitu, silakan telepon Bu Vaya, Pak," kata Mike.
"Mike, jangan macam-macam! Aku tidak mau bicara pada Vaya! Aku muak padanya!" sergah Vier.
__ADS_1
Mike menekan tombol panggil dan menunggu hingga Vaya menjawab telepon.
"Halo."
Mike langsung menekan tombol pengeras suara begitu mendengar suara Vaya.
Vier melotot ke arah Mike dan langsung menyambar ponselnya dari tangan Mike.
"Halo, Vaya," kata Vier.
"Ya, Vier," jawab Vaya.
"Vaya, kau kenapa?" tanya Vier begitu mendengar ada yang aneh dengan suara Vaya.
"Ehem.. Aku tidak apa-apa," sahut Vaya.
Tidak apa-apa bagi seorang wanita biasanya merupakan kode bahwa sedang ada sesuatu yang sedang terjadi.
Vier mendengarkan dengan jeli keramaian di belakang Vaya. Vier bisa menebak bahwa Vaya jelas bukan sedang berada di ruang kerja yang tenang.
"Kau di mana?" tanya Vier.
...*****...
Vaya duduk dengan gelisah, menunggu di terminal keberangkatan travel yang akan membawanya ke kota S.
"Vaya!"
Vaya menoleh saat melihat Vier yang berjalan menghampirinya. Ekspresi pria itu terlihat luar biasa kesal namun langsung melembut begitu melihat wajah Vaya yang sudah sembab.
"Vaya, ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Vier.
"Kau itu kenapa sih?" keluh Vier.
Vaya tak tahu, rasanya saat ini tenggorokannya tercekat.
"Bu Vaya, ada apa?" tanya Mike.
"Vier, sebenarnya adikku diculik," jawab Vaya sambil menahan tangisnya.
"Apa?!" Vier dan Mike berseru bersamaan.
Vaya kembali menangis, ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya bisa memperlihatkan pesan di gawai cerdasnya.
"Wah, wah, besar sekali nyali orang yang menculik adikmu," Vier tertawa kesal.
"Apa yang harus kulakukan, Vier? Aku benar-benar tidak tahu!" Vaya menunduk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kita lapor polisi saja, Bu Vaya," usul Mike.
"Pak Mike! Apa Anda tidak baca pesan dari pelakunya?! Dilarang lapor polisi!" sergah Vaya.
Vier mengerutkan keningnya.
"Vaya, siapa yang sudah berani menculik adikmu?" tanya Vier.
Vaya melemparkan tatapan skeptis pada Vier.
"Deri," jawab Vaya.
"Deri, maksud Anda Deri Sudrajat?" tanya Mike.
Vier dan Mike saling bersitatap.
"Huh, dasar pria itu!" dengus Vier.
"Vier, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan sampai Deri nekat menculik Aria?" tanya Vaya.
Vier dan Mike kembali saling berpandangan.
Rupanya pria itu benar-benar tak kapok mencari gara-gara! Dasar pembuat onar! Batin Vier.
...*****...
Visual
Mike
__ADS_1