
"Vaya."
Vier menyodorkan potongan buah pepaya yang menancap pada garpu yang dipegang oleh Vier.
"Makan!" Vier memberi perintah.
Vaya membuka mulutnya, menerima suapan yang diberikan Vier untuknya. Menolak jelas bukan hal yang menguntungkan bagi Vaya saat ini.
Bagaimana jika Vaya menolak makan seperti yang terjadi semalam lalu Vier menjadikan kembali tubuhnya sebagai piring?
Menjadi piring saji Vier sungguh sangat memalukan dan Vaya sungguh berharap kejadian seperti itu tidak perlu terulang kembali.
Sehingga bersikap kooperatif merupakan pilihan yang sangat bijaksana bagi Vaya untuk mencari aman.
Vier menyeringai senang sambil mengusap-usap kepala Vaya.
"Good girl!" puji Vier senang.
Vaya mengemuut buah pepaya pelan-pelan dengan ekspresi masam, ia sungguh merasa malu karena melihat Mike menyembunyikan senyumnya.
Mike pasti sedang menertawakan Vaya yang saat ini terlihat seperti ayam yang sedang diberi makan biji-biji jagung oleh sang majikan.
Vier masih mengulas senyum hangat, sehangat mentari pagi yang bersinar pagi ini.
"Sekarang suapi aku," perintah Vier.
Vaya sungguh tidak punya hak untuk menolak perintah Vier.
Vaya mengambil potongan buah pepaya segar, mendekat ke arah Vier lalu mengambil bibir Vier. Vier terkejut karena Vaya tiba-tiba menyuapkan buah yang dimakannya pada Vier.
Mike terperangah menyaksikan adegan tersebut, pria lajang itu pun secara otomatis hanya bisa memalingkan wajahnya.
Vier menelan buah pepaya dengan cepat, ia bahkan tak mengunyahnya karena terkejut. Tumben sekali Vaya yang duluan menciumnya.
"Vaya, kenapa kau menciumku? Apa aku ada menyuruhmu untuk menciumku?" tanya Vier.
Vaya hanya diam.
"Vaya, apa perintahku kurang jelas? Aku menyuruhmu untuk menyuapiku, bukan menciumku!" tandas Vier.
"Aku hanya berinisiatif," jawab Vaya sambil mengambil potongan buah berikutnya.
"Inisiatif? Huh! Itu pelanggaran! Kau melanggar perintahku!" kata Vier.
Vaya menggigit sepotong apel, lalu mengarahkannya pada Vier.
"Ck, Vaya, kau benar-benar membuatku tidak bisa menolaknya!" sahut Vier.
Vier segera mengambil potongan apel dari mulut Vaya untuk mereka nikmati bersama
Ya Tuhan! Sungguh berat cobaanmu! Batin Mike penuh dengan rasa nelangsa.
Kalian berdua keterlaluan! Menyiksa jomblo sepertiku! Huuh!
Vaya melepas ciumannya dari Vier, mereka saling menatap, dan lengkungan senyum langsung menghiasi wajah tampan Vier.
"Vier, aku mau pulang sekarang, aku harus ke kantor," kata Vaya.
"Ke kantor? Untuk apa?" tanya Vier.
"Untuk membereskan kekacauan yang ditimbulkan gara-gara ada polisi yang menjemputku," sahut Vaya.
"Bagaimana kau bisa berpikir mengerahkan polisi untuk menjemputku? Apa kau pikir aku ini pelaku kriminal?" tanya Vaya.
"Memang! Kau adalah pelaku pelanggaran yang sudah banyak sekali melanggar aturanku," jawab Vier sambil menyeringai.
"Vier! Aku benar-benar tidak tahu harus menaruh wajahku di mana!" gerutu Vaya.
Vier menunjuk dadanya dengan bangga, membuat Vaya langsung mendelik gusar.
"Vier, aku tidak sedang bercanda," sahut Vaya.
"Ya, aku juga tidak sedang bercanda," sahut Vier enteng.
Vaya kembali merengut, menatap Vier yang menyeringai ke arahnya.
"Vaya, jangan merengut begitu," rutuk Vier.
__ADS_1
Vaya menarik senyumnya, meski rasanya sangat berat.
"Nah, begitu terlihat lebih baik, meski aneh! Haha! Ih, kenapa kau jelek sekali sih?" Vier tertawa.
Vaya kembali mengerucutkan bibirnya yang selalu sukses membuat Vier gemas dan langsung mencium Vaya lagi, memagut dengan penuh gairah.
Vaya kembali melepaskan bibirnya, menatap Vier yang tak henti-hentinya memandangnya dengan penuh hasrat.
"Vier, aku mau pulang sekarang, aku mau pulang!" rengek Vaya.
"Ya, ya, baiklah, kau boleh pulang lebih dulu," Vier akhirnya mengalah.
...*****...
Vaya sudah tiba di kantornya, meski waktu sudah menunjukkan hampir jam makan siang.
Maklum saja, karena Vaya harus pulang kembali ke kotanya setelah menempuh penerbangan selama dua jam.
Sepertinya lama-lama Vaya akan merasa bahwa naik pesawat terbang sama saja seperti naik angkutan kota.
Vaya segera menjadi pusat perhatian semua orang, mengingat bahwa kemarin ia dijemput oleh dua orang petugas kepolisian.
"Bu Vaya!"
Lamia menjadi orang nomor satu yang paling heboh menyambut kehadiran Vaya.
"Bu Vaya, baik-baik saja?" tanya Lamia.
"Vaya, kau kenapa sampai dijemput polisi begitu?" tanya Nola.
"Vaya, apa kau dagang narkoba?" ceplos Mery.
Vaya sudah bisa menduga bahwa semua orang pasti akan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membagongkan. Dan Vaya juga tidak mungkin memberi jawaban yang sejujurnya kepada semua orang bahwa ia dijemput polisi atas perintah dari suaminya yang setengah tidak waras.
Vaya cepat-cepat memutar otak untuk memberikan alasan yang tepat meski harus melontarkan kebohongan lagi
"Teman-teman semua, terima kasih sudah mencemaskanku, dan alasan mengapa aku sampai dijemput pihak kepolisian semuanya adalah murni kesalahpahaman," kata Vaya mencoba memberi klarifikasi.
"Kesalahpahaman apa?" tanya Lamia.
"Ya, hanya kesalahpahaman, dan mereka sudah meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut," jawab Vaya.
"Mbak Vaya, Mbak dicari Pak Andre."
Evi memotong kehebohan para tukang gosip yang mengerubungi Vaya.
"Oh oke, Evi," sahut Vaya. "Teman-teman permisi ya," Vaya berpamitan.
...*****...
Vaya segera menuju ke ruangan Pak Andre.
"Bu Vaya, silakan duduk," kata Pak Andre.
Vaya segera duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja kerja Pak Andre.
"Bu Vaya, mohon maaf sebelumnya, mungkin penyampaian saya ini akan membuat Bu Vaya kurang berkenan, hanya saja, saya harus menyampaikan masalah ini pada Bu Vaya," kata Pak Andre.
Vaya bisa menatap ekspresi Pak Andre yang terlihat ragu-ragu dengan kening yang berkerut-kerut.
"Saya kemarin mendapat teguran dari pihak manajemen terkait kedatangan pihak kepolisian yang datang menjemput Bu Vaya," kata Pak Andre.
"Sebenarnya ada masalah apa, Bu? Apa Bu Vaya melakukan sesuatu yang melanggar hukum?" tanya Pak Andre.
"Bu Vaya pasti tahu kan, bahwa perusahaan tempat kita bekerja ini memiliki peraturan yang cukup ketat terlebih jika bersinggungan dengan hukum," kata Pak Andre.
"Iya Pak, saya tahu," ucap Vaya.
"Saya sungguh minta maaf, karena sudah menimbulkan kehebohan seperti ini," Vaya melanjutkan.
"Bu Vaya bisa cerita, siapa tahu saya bisa membantu Anda," kata Pak Andre.
"Terima kasih Pak, tapi sungguh masalah ini terjadi karena kesalahpahaman, orang yang mereka cari ternyata bukan saya, yah, meski saya harus menunggu berjam-jam di kantor polisi," Vaya melontarkan kembali kebohongan dengan lancarnya.
Vaya tidak mungkin menceritakan secara detail apa yang dialaminya kemarin. Sungguh hari yang panjang dan sangat melelahkan bagi Vaya.
"Bu Vaya, saya harap untuk ke depannya jangan sampai hal ini terjadi lagi ya," kata Pak Andre.
__ADS_1
"Baik Pak," jawab Vaya.
"'Ya sudah, sekarang silakan kembali bekerja," tutup Pak Andre.
Vaya pun akhirnya meninggalkan ruang kerja Pak Andre, namun baru melangkah keluar, Lamia sudah menghampirinya.
"Bu Vaya, segera ke ruangan Manajer HR ya."
"Baik, terima kasih, Lamia," sahut Vaya.
...*****...
Vaya melangkah gontai begitu keluar dari ruang Manajer HR. Selembar surat peringatan level dua harus diterima oleh Vaya karena ia telah berurusan dengan pihak kepolisian. Vaya mendapat surat peringatan karena membuat kehebohan di lingkungan perusahaan. Meski tidak terbukti melakukan pelanggaran hukum, namun kehebohan yang ditimbulkan jelas membuat pihak manajemen akhirnya mengambil tindakan tegas untuk Vaya.
Ini semua gara-gara Vier! Ugh! Dasar pria sakit jiwa! Geram Vaya.
Vaya menatap kesal layar gawai cerdas yang saat ini sedang berada dalam genggamannya. Gawai cerdas pemberian Vier itu berdering memunculkan nama Vier.
Vaya merasa kesal karena gawai cerdasnya harus hancur berantakan dan nampaknya tak bisa terselamatkan lagi kecuali kartu memori dan sim card-nya.
Vaya menggeser panel hijau untuk menjawab telepon dari Vier.
"Ya," sahut Vaya.
"Kok ya?"
"Ya, ada apa meneleponku?" tanya Vaya.
"Apa aku harus punya alasan khusus untuk meneleponmu?"
Vaya mendelik gusar mendengar Vier yang terkekeh di seberang sana.
"Nanti malam aku pulang, aku ingin kau menyiapkan makan malam yang spesial untukku," kata Vier.
Tut.. Tut.. Telepon terputus.
Huuh! Dasar pria itu! Vaya meradang.
Kring...
Telepon kembali berdering, Vaya menatap nama Vier yang kembali muncul.
"Ada apa lagi, Vier?" tanya Vaya.
"Kenapa kau tidak menjawabku?" tanya Vier.
"Lah, bagaimana aku bisa menjawabmu, bukankah kau yang memutus sambungan telepon?" sungut Vaya.
"Ya, kau kan bisa telepon aku lagi! Apa sebegitu susahnya meneleponku lagi? Apa jempolmu digantungi gajah?!" sergah Vier.
"Wes.. wes.. yang waras ngalah," keluh Vaya.
"Apa kau bilang?" tanya Vier.
"Ya, ya, aku telepon," sahut Vaya.
"Oke, telepon aku sekarang!"
Tut... Tut...
Vaya segera menelepon ulang Vier.
"Halo, Vier," kata Vaya.
"Ya, nanti kutelepon balik," sahut Vier.
Vaya melengos.
"Aduh, aku benar-benar bisa gila ini!" keluh Vaya.
Kringg.. Telepon kembali berdering tanpa melihat layar, Vaya langsung menjawabnya.
"Ada apa lagi?!" keluh Vaya.
"Halo, Vaya?"
Deg.. Jantung Vaya seakan berhenti berdetak karena suara yang didengarnya bukanlah suara Vier.
__ADS_1
...*****...