
"Aku tidak berkencan dengan Yoran, dan aku tidak tahu menahu dengan penthouse seharga dua puluh miliar atas namaku! Aku tidak tahu itu!"
Vaya memutuskan untuk memilih pilihan pertama. Ia bersikeras berpura-pura tidak tahu demi membela dirinya atas tudingan yang dilayangkan Vier terhadapnya. Tudingan bahwa Vaya dan Yoran berkencan secara rahasia.
Meski sudah ada dua buah bukti nyata yang dilemparkan dan terpampang jelas di hadapannya, Vaya tetap berkelit bahwa ia dan Yoran tidak berkencan.
Karena kenyataannya memang saat ini Vaya dan Yoran tidak memiliki hubungan apa pun. Tidak ada telepon, chat, atau pun pertemuan-pertemuan rahasia yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan Vier.
Hanya saja Vaya memang sudah menduga bahwa Vier pasti menurunkan mata-mata untuk memata-matai gerak-gerik Vaya.
Untunglah pertemuan rahasia mereka sudah berakhir. Namun yang membuat Vaya tidak habis pikir adalah Yoran sampai membelikannya sebuah penthouse mewah seharga dua puluh miliar yang sama sekali tidak diketahui oleh Vaya.
Vaya hanya menerima sebuah anting berlian dari Yoran yang saat ini disembunyikan Vaya di laci meja kerjanya. Sebuah kado perpisahan yang ia terima dari Yoran.
Anting dan penthouse jelas dua benda yang bentuknya berbeda.
Apa Vier hanya mengada-ada untuk menjebak Vaya?
Agar Vaya mengaku bahwa ia dan Yoran memang melakukan pertemuan rahasia di belakang Vier.
Atau Vier memang sengaja untuk menjebak Yoran karena merasa tak terima dipukul dan dipermalukan di depan umum?
Aku sungguh harus melindungi Yoran! Batin Vaya bergelut.
Vier masih menatap tajam ke arah Vaya, ia melirik ke arah Mike dengan sudut matanya.
"Ckck, Vaya!" Vier berdecak kesal.
"Sudah jelas ada bukti nyata di depan mata bahwa kau dan Yoran sudah melakukan perselingkuhan! Kau masih saja mengelak!" tandas Vier penuh penekanan.
Vaya meneguk ludahnya, sorot mata Vier berkilat-kilat penuh kemarahan yang berkobar. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Vaya jelas bukan hal yang diinginkan oleh Vier.
"Vier, kenapa tidak sekalian saja kau tuduh aku pergi ke Cappadocia bersama Yoran?" tanya Vaya.
"Apa? Cappadocia?" Vier mengerutkan alisnya.
"Ya, lalu kau berteriak padaku. Pergi ke Cappadocia itu impianku! It's my dream, Mbak! Not him!" nada bicara Vaya penuh cemoohan.
Vier terperangah dengan aksi teatrikal Vaya. Vaya terpaksa melakukan sedikit intermezo untuk menutupi rasa gentarnya.
"Vaya, terus saja kau berbohong padaku! Apa kau sungguh ingin kubakar hidup-hidup hingga menjadi abu?" tanya Vier.
Vaya meneguk kembali ludahnya lalu menarik napas, menghembuskan napasnya perlahan ketika rasa takut itu menggerogotinya.
"Lakukan saja jika menurutmu itu benar, Vier!" jawab Vaya menantang.
Plok.. plok.. Vier bertepuk tangan.
"Wah, wah, kau benar-benar menantangku, Vaya! Haruskah saat ini kau kubakar bersama Yoran?" tanya Vier.
Pria itu kembali menyeringai horor seperti seorang psikopat yang sedang memainkan belati di wajah Vaya.
Ugh! Dasar Vier gila!
"Vier! Aku dan Yoran tidak memiliki hubungan seperti yang kau tuduhkan!" tandas Vaya.
Vier beranjak dari sofa, ia melangkah berang ke arah Vaya.
"Vaya, apa kau menjual tubuhmu pada Yoran, agar Yoran memberimu penthouse itu?" tanya Vier.
"Tidak mungkin ada seorang pria yang akan memberikan fasilitas mewah kepada seorang wanita yang sama sekali tidak penting baginya!" cecar Vier penuh kemarahan.
"A-apa? Menjual tubuhku?" Vaya tercengang.
Vaya benar-benar makin kesal dengan tudingan Vier yang makin semena-mena.
__ADS_1
"Vier! Berapa kali aku harus mengatakan padamu bahwa aku tidak tahu menahu masalah penthouse mewah itu dan aku tidak memiliki hubungan romantis apa pun dengan Yoran!" tegas Vaya.
Vaya mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menatap mata Vier. Meski sejatinya ia sangat gentar namun harus ditutupinya dengan baik.
"Hubunganku dengan Yoran hanya sebatas teman! Aku menemui Yoran sama saja seperti aku menemui Mima dan Ibe!" pungkas Vaya.
Vier masih melemparkan tatapan skeptis ke arah Vaya.
"Vaya, apa kau kira aku akan percaya dengan semua kebohonganmu itu?" tanya Vier.
"Vier, aku tidak berbohong!" sahut Vaya.
Vaya menatap Vier, Vaya kembali meneguk ludahnya karena tenggorokannya yang benar-benar kering.
"Harus kubuktikan dengan apa agar kau percaya?" tanya Vaya.
"Apa aku harus memintamu untuk meniduriku agar kau percaya bahwa aku benar-benar tidak menjual diriku demi penthouse dua puluh miliar itu?"
Vier terkesiap mendengar ucapan Vaya.
"Ya, tiduri aku, Vier! Tiduri aku! Jadi kau tahu dan kau rasakan sendiri bahwa aku benar-benar tidak menjual diriku demi penthouse itu!" tandas Vaya.
Vier tak bergeming, ia hanya menatap lurus pada Vaya dan kesungguhan Vaya yang memohon agar Vier menidurinya demi membuktikan padanya bahwa Vaya masih tetap suci.
"Jika aku memang sudah tidak suci seperti dugaanmu, kau boleh membakarku!" tantang Vaya.
Tidak ada seringaian khas yang terukir di wajah tampan Vier yang menegang saat pria itu meninggalkan ruang kerjanya disusul oleh Mike.
Vaya merosot, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan kemampuan untuk berdiri. Vaya kembali merasakan rasa sesak di dadanya.
Apa ia sungguh harus menyerahkan keperawanannya sebagai bukti untuk Vier?
Bukti otentik untuk mematahkan tudingan Vier terhadap hubungan spesialnya dengan Yoran.
Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya dan juga Yoran.
...*****...
Vaya menyeruput kuah sup lambat-lambat, matanya masih menunduk, tak berani menatap Vier yang saat ini sedang menikmati makan paginya dengan tenang.
Vier menyeka mulutnya dengan serbet putih, menandakan bahwa ia sudah selesai menyantap sarapannya.
Vier memberi kode kepada Mike dan Pak Jo yang masih berada di ruang makan agar meninggalkan ruangan.
Mike dan Pak Jo segera pergi secara senyap, bahkan Vaya baru menyadari kepergian keduanya begitu mendengar debam pintu ruang makan yang ditutup.
"Jadi, Vaya...," kata Vier dengan kalimat yang menggantung.
Vaya mengangkat matanya, mengarahkan pada Vier yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mengenai pembicaraan kita semalam, aku rasa aku menerima tawaran yang kau berikan," kata Vier.
Deg..
Jantung Vaya seakan hendak melompat keluar dari mulutnya beserta lambung dan usus-ususnya begitu mendengar ucapan Vier.
"Tapi kau pasti tahu kan, konsekuensi yang harus kau terima saat memberiku penawaran untuk menidurimu?" kata Vier.
Kata-kata Vier terdengar begitu tenang, namun efeknya justru sangat menyayat hati Vaya.
"Dan sebelum aku menidurimu, ada beberapa hal yang harus kau sepakati sebagai permintaan khusus dariku," lanjut Vier.
"A-apa itu?" tanya Vaya dengan suara tercekat.
Vier menarik seringaian khas di wajah tampannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengatakannya sebelum kau menyetujuinya," sahut Vier.
Vaya memicingkan mata, dasar pria licik!
"Jika kau tidak mengatakannya bagaimana aku bisa mempertimbangkan lalu menyetujuinya?" tanya Vaya.
"Kau tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya, Vaya," Vier memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Ugh! Dasar pria licik! Licik!
Vaya sungguh tidak punya pilihan lain selain menyetujui semua itu.
"Jadi apa?" tanya Vaya.
"Katakan bahwa kau setuju," ucap Vier.
"Setuju," ucap Vaya dengan berat.
"'Lebih keras!" perintah Vier.
"Setuju! Aku setuju!" Vaya setengah berteriak.
Menahan rasa kesal yang membuncah dalam dadanya.
Vier mengulum senyumnya.
"Yang pertama, apa pun yang kulakukan, kau tidak punya hak untuk menolak!"
Vier mulai menyebutkan salah satu dari permintaan khususnya.
"A-apa?" Vaya terperangah.
Vier mengangkat sebelah alisnya, tinggi, dan tentu dengan gaya mengintimidasi yang begitu kentara.
"Lalu yang kedua," kata Vier sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
Vaya kembali merinding melihat seringaian horor Vier.
"Tidak ada setetes pun air mata yang akan kau teteskan!"
Lanjut Vier masih tetap mengurai seringaian horornya.
Vaya benar-benar tidak tahu apakah keputusannya untuk menerima permintaan khusus dari Vier benar-benar bisa disanggupinya.
"Baiklah, kalau begitu persiapkan dirimu sebaik mungkin! Dan ingat dua permintaan khususku itu!"
Vier menyeka mulutnya dengan serbet putih, setelah itu ia beranjak dari kursi dan keluar dari ruang makan.
Sepeninggalan Vier, Vaya langsung merasa bahwa darahnya berhenti mengalir ke seluruh tubuhnya.
Namun kepalanya terasa mau meledak.
Dua permintaan khusus dari Vier benar-benar terasa bagaikan pedang bermata dua yang saat ini ditodongkan Vier ke leher Vaya. Pedang yang siap menebas lehernya.
Vaya yang meminta untuk ditiduri Vier, dan harus setuju untuk menerima permintaan khusus Vier.
Permintaan ini membunuhku! Batin Vaya.
...*****...
Pembaca setia,
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak semangat dan dukungan buat othor. Pernaaah sihh nyobain ajuin crazy crazy gitu tapi ternyata ditolak. Begitu tidak menariknya karya recyeh ini sampai ditolak. Hehe..
Jadi, yah apa adanya aja yaa..
__ADS_1
Sekian curcol dari author recyeh ini.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.