Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
168 - Terlihat Kesal


__ADS_3

Brakk..!


Vaya dengan cepat kembali menutup pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Vaya jelas begitu kaget karena melihat penampakan sosok pria yang sedang membuka pakaian. Saking kagetnya Vaya bahkan tidak melihat wajah pria yang memunggunginya.


Sementara itu, Vier yang sedang membuka pakaiannya terkejut mendengar suara teriakan disertai pintu di belakangnya yang dibanting dengan keras.


"Ck," Vier berdecak kesal.


Ia pun membuka pintu dan menujukan pandangannya pada seorang wanita yang langsung membuatnya terpaku, terpalu, dan terpahat sempurna.


Wanita berkulit gelap dan eksotis dengan sekujur tubuh basah akibat guyuran hujan. Wanita itu berdiri di hadapannya dengan pandangan mereka yang saling mengunci satu sama lain.


Begitu pula dengan Vaya, pandangannya tertuju pada sosok pria bertelanjang dada, bertubuh atletis yang tercetak sempurna dan terjaga. Wajah itu, tubuh, dan kehangatan pria itu seakan menghilang dari hidup Vaya dalam tiga tahun terakhir.


Pria yang membuat Vaya benar-benar nyaris kehilangan kewarasan atas perlakuan yang semena-mena. Namun pria itu juga yang membuat Vaya merasakan manis dan pahitnya cinta di saat bersamaan.


Vaya sungguh menolak untuk memercayai bahwa pria yang saat ini dilihatnya adalah Vier.


Vaya bahkan mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali guna meyakinkan diri bahwa sosok yang berada di hadapannya bukanlah Vier.


Bisa saja pria itu hanyalah delusi Vaya saja. Hanya imajinasi, halusinasi Vaya, atas segala kerinduannya terhadap Vier.


Atau jangan-jangan hanya orang yang mirip dengan Vier saja! Batin Vaya bertanya-tanya.


"Ibu, ada apa?" tanya Vero sambil berlari menghampiri Vaya.


"I-Ibu?" Vier terperangah.


Bahkan suaranya pun sama seperti suara Vier! Batin Vaya masih tak memercayai apa yang dilihatnya.


"Ibu!" Vero menggoyang lengan Vaya untuk menyadarkan Vaya.


"Eh, Ve-Vero," Vaya tersentak.


"Kenapa Ibu berteriak? Apa karena melihat Pak Vier?" tanya Vero.


"Eh?! Pak Vier?" Vaya melotot lebar.


"Pak Vier."


Mike yang baru saja memasuki rumah karena mendengar teriakan tertegun mendapati sosok Vaya yang tiba-tiba saja muncul.


Melihat sosok Mike, Vaya jadi benar-benar yakin bahwa saat ini ia pasti tidak sedang berhalusinasi.


Vier masih menatap Vaya dan juga Vero secara bergantian. 


Bocah ini memanggil Vaya dengan sebutan Ibu? Batin Vier.


"Ibu pasti terkejut ya karena ada Pak Vier dan Pak Mike?" kata Vero sambil menggoyangkan tangan Vaya.


Vaya langsung mengalihkan pandangannya pada Vero.


Kok Vero bisa mengenal mereka? Batin Vaya seketika menggusar.


"I-itu benar," jawab Vaya. "Kenapa mereka ada di sini?"


"Pak Vier dan Pak Mike menumpang sementara sampai hujan reda, Bu," jawab Vero.

__ADS_1


Vier masih terpaku menatap Vaya.


Begitu juga dengan Mike yang sama terkejutnya melihat Vaya yang ternyata adalah ibu dari Vero.


Serius Bu Vaya adalah ibu dari Vero? Itu artinya ayah Vero adalah? Batin Mike sambil melemparkan tatapannya pada Vier.


"Begitu ya, jadi mereka datang untuk menumpang hingga hujan reda," kata Vaya mengulang ucapan Vero.


Vaya berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Vier. Ia benar-benar masih menyimpan rasa kesal, marah, dan segala bentuk kekecewaannya pada pria itu.


"Kalau begitu, kalian bisa pergi setelah hujan reda," ucap Vaya.


Vier tersentak mendengar ucapan Vaya yang terkesan begitu dingin.


"Tidak, aku tidak hanya datang untuk sekadar menumpang hingga hujan reda," cegah Vier dengan cepat.


Vier mengulurkan tangannya ke arah Vero untuk mengusap kepala bocah itu, namun Vaya langsung bersikap defensif dengan melindungi Vero untuk menghindari Vier.


"Ayo Vero, kita ke atas saja," ajak Vaya.


"Ibu," Vero menatap Vaya.


Vero bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi ibunya.


"Vero, lain kali jangan biarkan orang asing menumpang sembarangan di rumah kita. Bagaimana jika orang asing itu berniat jahat?" tanya Vaya.


Vier merasa bahwa Vaya menyindirnya, belum sempat Vier bicara, Vero lebih dulu menyahut.


"Pak Vier dan Pak Mike bukan orang jahat, Bu," ucap Vero.


"Kalau mereka jahat, mereka sudah ditangkap polisi kan Bu?" jawab Vero.


Vaya menghela napas berat, saat ini rasanya ia benar-benar ingin marah pada Vier. Entah bagaimana caranya pria itu bisa sampai datang menemuinya seperti ini.


"Baiklah, kalau memang mereka bukan orang jahat. Setelah hujan reda, silakan pergi baik-baik," tukas Vaya sambil melemparkan pandangan sinis ke arah Vier.


"Ayo Vero," ajak Vaya pada Vero.


"Vaya, tunggu," cegah Vier.


Vaya masih melemparkan tatapan sinisnya ke arah Vier.


"Vaya, aku ingin bicara," kata Vier.


Vaya mengabaikan Vier.


"Vaya," Vier segera menghadang langkah Vaya.


"Maaf, aku harus mengganti pakaian dulu, permisi," kata Vaya.


"Ayo Vero," ajak Vaya.


Vaya segera membawa Vero ke lantai atas. Sementara itu Vier masih tak melepaskan matanya dari Vaya dan juga Vero yang menaiki tangga.


"Mike, aku benar-benar harus bicara pada Vaya," kata Vier.


"Ya, Anda memang harus bicara pada Bu Vaya. Hanya saja saat ini Anda harus memakai pakaian terlebih dulu," sahut Mike.

__ADS_1


...*****...


"Vero, di mana Mbah dan Aria?" tanya Vaya sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


"Mbah ke puskesmas bareng tante, Bu," jawab Vero.


"Apa? Puskesmas? Memangnya Mbah kenapa?" tanya Vaya.


"Mbah sakit, Bu," jawab Vero.


"Apa?! Sakit?"


"Iya Bu," jawab Vero.


"Jadi Vero ditinggal sendiri di rumah?" tanya Vaya.


"Iya, tapi karena ada Pak Vier dan Pak Mike, Vero jadi tidak sendirian," jawab Vero.


Vaya menghela napas berat, entah mengapa dadanya begitu terasa sesak. 


Padahal Vaya selalu membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Vier ketika mereka pada akhirnya bisa bertemu kembali setelah sekian lama. Mereka saling berpelukan sambil menangis penuh keharuan.


Namun rupanya semua itu hanya ada dalam khayalan Vaya saja. Nyatanya, ia harus bertemu lagi dengan Vier dalam keadaan yang benar-benar jauh berbeda dari apa yang dikhayalkan oleh Vaya.


Bagaimana pria itu bisa menemukan Vaya seperti ini?


Mau apa dia kemari?


Apa untuk mengambil Vero?


Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Vaya.


"Bu! Ibu!"


"Eh, i-iya, Vero," kata Vaya.


"Ibu, aku lapar," ucap Vero.


"Iya, sebentar Ibu siapkan makanan ya. Vero tunggu di sini saja," kata Vaya.


"Ibu, aku ikut Ibu ya," pinta Vero.


"Vero di sini saja ya," tolak Vaya.


"Ibu marah padaku ya?" tanya Vero.


"Tidak, Vero, Ibu tidak marah pada Vero," jawab Vaya.


"Terus kenapa Ibu kelihatan kesal begitu?" tanya Vero. "Apa karena aku membolehkan orang asing masuk ke rumah?" tanya Vero.


Vaya menghela napas berat. Ia segera memeluk Vero lantaran merasa sangat bersalah pada bocah kecil itu.


"Tidak, Vero, Ibu tidak marah pada Vero," Vaya memberi penegasan.


Ibu marah pada ayahmu!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2