Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
155 - Ini Bukan Salahmu


__ADS_3

"Obat yang dikonsumsi Selena menekan kinerja sistem syaraf pusat ketika dikonsumsi secara berlebihan. Hal tersebut mengakibatkan kelumpuhan pada sistem syaraf pusat," Dokter Reno menjelaskan diagnosis terkait kondisi Selena pada Vier dan juga Vaya.


"Tapi, Selena bisa sembuh kan, Dokter?" tanya Vier.


Dokter Reno menatap lurus ke arah Vier sambil sesekali mengerling ke arah Vaya.


"Selena bisa disembuhkan. Hanya saja, pasti memerlukan usaha yang tidak mudah," jawab Dokter Reno.


"Selena masih begitu muda, usianya baru dua puluh empat tahun. Dengan emosi yang masih belum stabil, dikhawatirkan Selena akan semakin depresi dan merasa bahwa ia tidak akan bisa sembuh. Oleh sebab itu, pastilah memerlukan waktu dan dukungan moral yang sangat besar," lanjut Dokter Reno.


Vaya melirik ke arah Vier. Ekspresi wajah pria itu menegang. Vaya menggenggam tangan Vier lebih erat, meyakinkan pada Vier bahwa Vier tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.


...*****...


"Pak Vier, Bu Vaya, sebaiknya kalian pulang dan beristirahat. Biar saya dan beberapa rekan yang berjaga di sini."


Mike berusaha mencairkan kesunyian dan ketegangan yang langsung tercipta di antara Vier dan Vaya begitu Bu Cintami memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Selama itu pula Vier dan Vaya terdiam, tenggelam dalam kebisuan yang benar-benar mencekam.


"Tidak apa-apa, Mike, aku akan tetap di sini, sampai setidaknya mendapat kabar tentang kondisi Selena," ucap Vier.


"Ya, aku juga akan menunggu di sini," kata Vaya.


"Vaya, lebih baik kau pulang dan beristirahat," tukas Vier.


Vaya menggeleng cepat.


"Tidak, Vier, aku akan tetap di sini bersamamu," tolak Vaya.


"Vaya," lirih Vier.


Vaya mengambil tangan Vier dan menggenggamnya.


"Aku tidak bisa membiarkan dirimu di sini sendiri, terpuruk oleh rasa bersalah yang sepenuhnya bukanlah kesalahanmu, Vier. Aku yang salah, Vier! Aku yang bersalah!" Vaya tak bisa membendung air matanya.


Vier menarik Vaya ke dalam pelukannya.


"Tidak, Vaya, ini bukan kesalahanmu. Semua ini adalah salahku. Apa yang dikatakan oleh ibuku benar, akulah yang harus mempertanggung jawabkan ini semua," kata Vier.


Vaya kembali menggeleng dalam pelukan Vier.


"Vier, semua ini adalah salahku. Seandainya saja aku tidak merusak rencana pernikahanmu dengan Selena, mungkin sekarang hal seperti ini tidak akan terjadi. Mungkin saat ini kalian sedang menjalani hari-hari yang begitu berbahagia," ucap Vaya sambil menahan rasa sesak yang memukul-mukul dadanya.


"Tidak, Vaya, sungguh, ini bukan salahmu, tolong jangan menyalahkan dirimu," ucap Vier.


Vaya memeluk erat tubuh Vier dan menangis dalam pelukan Vier.


"Maafkan aku, Vier, maafkan aku," lirih Vaya di sela-sela isak tangisnya.


...*****...


Langit mulai menampakkan bias sinar matahari pagi yang masih begitu malu-malu saat mengintip batas cakrawala.

__ADS_1


Vaya terbangun dari tidurnya, semalam ia tidur dalam posisi duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Vier.


Vaya menoleh ke arah Vier yang masih terlelap sambil bersedekap. Vaya juga melihat Mike yang duduk dalam posisi terlelap di bangku lain.


"Selena! Where is Selena?"


Vaya menoleh ke arah sosok pria dan wanita paruh baya yang datang memasuki koridor ruang ICU.


Mendengar kegaduhan, Vier dan Mike pun segera terbangun.


Vier mengusap wajahnya sebelum menghampiri dua orang yang dikenali Vier sebagai orang tua Selena.


Vier menjabat tangan Mr Steve, ayah Selena. Lalu memeluk ibu Selena yang bernama Linda.


"I am so sorry, Mr Steve, Mrs Linda," ucap Vier dengan begitu berat.


"Vier, you know Selena is my precious daughter, don't you?! Vier, kau tahu Selena adalah anak perempuanku yang berharga kan?!" tanya Mr Steve dengan intonasi meninggi.


"Yes, I do, Mr Steve. Ya, saya tahu, Mr Steve. This is my responsibility. Saya akan bertanggung jawab penuh atas kesembuhan Selena," ucap Vier dengan tegas.


"This is not about money, Vier! Ini bukan tentang uang, Vier! This is about Selena's future! Ini tentang masa depan Selena! Please consider it! Tolong pertimbangkan itu!" Mr Steve menyanggah.


"Mr Steve, look, I know you are so worried, but I know what should I do. Mr Steve, dengar, aku tahu kau sangat khawatir, tetapi, aku tahu apa yang harus kulakukan," sahut Vier masih tetap bersikap tenang.


Rasa sesak dalam dada Vaya makin meronta-ronta saat melihat betapa orang tua Selena menangis, meratapi nasib anak mereka yang saat ini sedang meregang nyawa bahkan terancam akan menghabiskan sisa hidupnya dalam kelumpuhan.


Vaya memeluk lengannya sendiri, rasa bersalah yang menderanya pun semakin besar.


...*****...


Hari nampak begitu mendung saat Vaya memutuskan untuk duduk di taman demi menghirup udara segar untuk menyegarkan paru-parunya.


Vier menyodorkan segelas susu hangat dan kantong kertas berisi roti lapis untuk Vaya.


"Vaya, makanlah," kata Vier.


"Terima kasih," kata Vaya.


Vaya menyeruput susu hangat yang membuat perutnya terasa hangat. Vier pun juga meneguk susu hangat dan mengunyah roti lapisnya.


"Orang tua Selena akan membawa Selena ke rumah sakit di luar negeri. Aku yakin, pengobatan yang tepat akan membuat Selena lekas pulih," kata Vier.


"Hmm, begitu ya. Jadi, apakah selama Selena menjalani pengobatan, kau akan mendampingi Selena?" tanya Vaya.


Vaya menatap Vier lekat-lekat.


"Ya. Dan aku akan menganggap itu sebagai tanggung jawabku secara moral," jawab Vier.


Vier mengulas senyumnya ke arah Vaya. Vaya bisa melihat dengan jelas bahwa senyum Vier terlihat begitu getir.


"Vier, apakah ini artinya kita harus berpisah?"

__ADS_1


Vaya merasakan rasa sesak yang lagi-lagi meremas paru-parunya. Lidahnya terasa begitu kelu namun pertanyaan itu harus ditanyakannya.


Vier menarik napas berat, ia melemparkan pandangannya ke arah barisan pepohonan pinus yang tertata rapi di taman rumah sakit itu.


Vaya menunduk, air matanya pun tumpah tak tertahankan, namun cepat-cepat Vaya menyekanya.


"Vaya, apa kau mencintaiku?" tanya Vier.


Vaya menoleh ke arah Vier yang kini menatap ke arah langit yang kelabu.


"Apa kau akan percaya jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?" tanya Vaya.


Vier menoleh ke arah Vaya dengan menarik senyum penuh kegetiran.


"Ah, ya, kau kan tidak percaya padaku karena aku adalah wanita yang penuh dengan kebohongan, wanita pendusta," Vaya menyeringai kecut.


Vier mengusap lembut rambut Vaya.


"Jadi, kau pasti tahu, apa yang harus kau lakukan?" tanya Vier.


"Memberimu bukti bahwa aku mencintaimu," jawab Vaya.


Vier mengangguk lagi, ia senang Vaya sudah bisa memahaminya.


"Lantas, apakah kau mencintaiku?" tanya Vaya.


Vier langsung membawa Vaya ke dalam pelukannya. Vaya bisa merasakan tubuh Vier yang bergetar. Ada isakan lirih yang membuat Vaya tak kuasa ikut meneteskan air matanya.


Vier tahu, ia punya harga diri sebagai seorang pria yang harus dijaganya.


Vier membawa kening dan hidungnya menempel di kening dan hidung Vaya. Jemarinya menghapus air mata yang membanjiri pipi Vaya.


"Berikan aku bukti bahwa kau mencintaiku," ucap Vier. "Maka akan kuberikan hal yang sama untukmu."


Vaya mengangguk dalam tangisnya, bibirnya yang bergetar terasa hangat ketika Vier membenamkan bibirnya.


...*****...


Vaya tahu, saat ini berat rasanya untuk merelakan Vier agar berada di sisi Selena.


Tidak menutup kemungkinan kebersamaan Vier dan Selena akan menyemikan kembali benih-benih cinta Vier untuk Selena.


Vaya sungguh tidak punya pilihan selain menerima keadaan ini. Keadaan saat pria itu harus membagi cinta, kasih sayang, dan perhatian kepada wanita lain.


Vaya kembali meneteskan air matanya. Ia benar-benar hanya bisa menangis dan meratapi semuanya sendiri.


Ia dituntut untuk bisa menerima semua ini dengan lapang dada.


Semua kesalahan ini awalnya terjadi karena Vaya. Vaya benar-benar harus berbesar hati menerima semua ini.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2