
Vaya, kumohon, aku akan memenuhi apa pun yang kau inginkan! Asalkan kau bersedia membebaskan Deri! Kumohon, Vaya! Kumohon!"
Darti masih bersikeras, memohon dengan sangat. Darti tidak bisa menyerah begitu saja. Ia harus mendapatkan pengampunan atas kesalahan yang telah diperbuat oleh Deri yang mengakibatkan Deri harus mendekam di bui.
"Vaya, apa kau tak ingat, siapa yang berjasa untuk membiayai pengobatan ayahmu? Aku bahkan memberikan semua uang yang kumiliki demi adikku! Apa aku ada menagih kembali semua uang yang kukeluarkan pada saat itu?"
"Aku bahkan hanya memintamu untuk menggantinya dengan sebuah pernikahan! Pernikahan yang bertujuan untuk mengangkat derajat hidupmu, ibumu, dan adik-adikmu!"
"Tapi, apakah ini balasan atas semua kebaikan yang kuberikan padamu?"
Darti masih berusaha menjaga tensinya yang terus meningkat.
"Vaya, asal kau tahu, kau tidak bisa sepenuhnya bergantung pada suamimu!"
"'Coba kau tengok aku! Tengok ibumu! Aku dan ibumu begitu mencintai suami kami, tapi apa yang terjadi? Tuhan justru mengambil orang yang kami cintai!"
"Lalu coba kau tengok suamimu! Apa kalian merasa hubungan kalian akan kekal abadi selamanya? Ketika kalian berpisah entah karena maut atau pun keinginan kalian sendiri, pada akhirnya kalian hanya akan menjadi orang yang pernah mengenal!"
"Sedangkan aku, aku masih tetaplah tantemu! Di dalam darahmu, juga mengalir darahku!"
Plok... Plok...
Vier bertepuk tangan dan semua mata langsung tertuju padanya.
"Sungguh khotbah yang menggetarkan keimanan," kata Vier sambil menyeringai ngeri.
"Sesungguhnya aku merasa tersinggung dengan ucapan Tante Darti. Tante seakan menyumpahiku supaya aku bernasib sama seperti suami Tante, bahkan mendiang ayah Vaya."
"Padahal ya, yang membuatku nyaris berumur pendek adalah karena ulah Deri, anak kesayangan Tante yang datang bersama selusin preman. Jika saja aku dan Mike tidak melakukan perlawanan, saat ini kami berdua mungkin sudah tinggal nama saja," sahut Vier.
"Deri pasti hanya bercanda, karena Deri pada dasarnya adalah anak yang baik dan sangat berbakti pada orang tua!" sergah Darti.
Sejelek-jeleknya kelakuan seorang anak, seorang ibu pasti akan membelanya habis-habisan, itulah yang saat ini sedang diperjuangkan oleh Darti.
"'Haha!" Vier tertawa lagi.
"Apa kalian pikir begitu menyenangkan bercanda terhadap hidup seseorang?" tanya Vier.
Vaya langsung teringat bahwa ia juga melakukan candaan yang keterlaluan terhadap hidup Vier. Meski pria itu terlihat kerap bercanda, namun kenyataannya pria itu lebih serius dalam menjalani hidupnya.
"Umur seseorang memang sudah menjadi rahasia Tuhan. Aku sadar bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa."
"Tapi apa yang dilakukan Deri sama saja cari mati!" tandas Vier.
Darti menggigit bibirnya, rasanya ia tak sanggup untuk melawan argumentasi Vier.
Vaya menatap Vier, memang ya, kalau berdebat dengan Vier itu pasti akan membuat yang waras memilih untuk mengalah.
"Tapi daripada sibuk memperdebatkan siapa yang akan mati lebih dulu, tidakkah lebih baik menghilangkan semua perdebatan itu? Lebih baik mengisi kehidupan dengan segala bentuk curahan dan limpahan cinta serta kasih sayang."
"Jangan cari masalah, dan kau akan tenang dalam menjalani hidup ini. Sekian!"
Vier mengakhiri khotbah yang membuat Vaya tercengang. Entahlah, saat ini Vaya merasa bahwa kedewasaan Vier terlihat seksi.
__ADS_1
Ekspresi Darti masih diliputi kemarahan, wanita paruh baya itu berusaha bangkit, namun terlalu lama bersimpuh membuat tubuhnya seketika oleng.
"Tante Darti!" seru Vaya.
Vier dengan sigap, menghampiri Darti dan menopang tubuh wanita paruh baya itu.
"Tante Darti!"
Seruan Vaya perlahan menghilang, dan detik berikutnya, wanita paruh baya itu dikelilingi oleh kegelapan.
...*****...
"'Deri!"
Seru seorang petugas memanggil pria tambun yang duduk meringkuk, merapat di tembok, menjauh dari jeruji besi yang mengurung raganya. Sementara jiwanya sudah berkelana entah ke mana. Deri begitu sibuk bergumul dengan pikiran-pikiran yang kini mempertanyakan bagaimana kelangsungan nasibnya.
Mendekam di penjara sungguh tidak enak. Baru semalam ia merebahkan diri di lantai yang dingin, keras, dan kotor jelas membuatnya rindu pada tempat tidurnya yang luas, empuk, dan hangat.
Di rumah, ia bisa tidur nyenyak, pulas tanpa terganggu oleh dengkuran-dengkuran mengerikan dari para narapidana yang berbagi sel tahanan bersamanya
Bagaimana ibuku? Apa yang dilakukan ibuku?
Apa ibuku menangis semalam suntuk? Atau justru marah-marah semalaman hingga darah tingginya kambuh?
Bagaimana jika darah tingginya kambuh?
Di rumah hanya ada ibunya dan seorang pembantu berusia sebaya dengan ibunya. Mbok Ijah yang sudah bekerja selama puluhan tahun itu tetap setia mengabdi meski Deri sudah tidak mampu memberinya upah. Mbok Ijah tetap bekerja, yang penting masih ada tempat tinggal untuk melewati masa tuanya, karena beliau hanya hidup sebatang kara.
Air mata Deri rasanya sudah nyaris kering, ia lelah menangis semalaman. Meratapi kebodohan demi kebodohan yang sudah dilakukannya.
"Deri Sudrajat!"
Sang sipir memanggil nama Deri.
"Hei, orang baru! Kau dipanggil!"
Deri terperanjat, lamunannya seketika buyar. Ia menatap linglung sipir yang sudah berdiri di depan jeruji besi.
Deri melangkah gontai, di depan pintu yang terbuka ia mengulurkan tangan saat petugas memasang kembali borgol pada kedua tangannya.
"Ada yang mau bertemu denganmu! Waktumu hanya tiga puluh menit!" kata sipir berkumis tebal itu sambil menggiring Deri meninggalkan sel.
"Siapa yang menemuiku? Apakah ibuku?" Deri bertanya-tanya.
Deri segera digiring ke sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang petugas.
Deri terkejut bukan main karena yang datang mengunjunginya bukanlah ibunya melainkan Vaya dan Vier.
Deri rasanya sunggguh tidak punya muka untuk bertemu dengan dua orang itu.
Deri langsung menunduk begitu duduk di kursinya.
Vier dan Vaya saling berpandangan sebelum akhirnya Vier mulai bicara.
__ADS_1
"Bagaimana, Deri? Apa kau kerasan tinggal di penjara?" tanya Vier dengan nada yang terdengar mencemooh di telinga Deri.
Deri bungkam, ia bahkan tak punya keberanian untuk menatap Vier, tatapan mata pria itu sangat mengintimidasinya.
"Deri, apa kau itu tipe orang yang begitu sembrono? Bertindak tanpa memikirkan dan mempertimbangkan dampak dari perbuatanmu?" tanya Vier.
Vaya bisa merasakan dengan jelas atmosfer penuh ketegangan yang tercipta di ruangan itu. Melihat Deri yang hanya bisa menunduk dalam, semua kesombongannya bahkan sudah tak tersisa.
"A-ku tidak tahu, apakah aku masih bisa membela diri," Deri tergagap.
Pria itu mengumpulkan kepingan-kepingan keberaniannya yang masih tersisa. Nada bicaranya pun sudah tak terdengar arogan.
Deri mengangkat kepalanya. Ekspresinya pun penuh dengan kepasrahan. Bahkan sisa-sisa keangkuhan Deri menghilang bagai terkena badai topan.
"Ya, kau itu sudah salah, masih saja mencari pembelaan dan pembenaran, sungguh tipikal manusia pada umumnya!" sahut Vier.
"Aku, aku sungguh tidak tahu, apakah aku layak mendapatkan maaf, aku sungguh menyesal, aku menyesal sudah melakukan ini semua."
Deri mulai menangis lagi.
Vier mengulas senyumnya melihat Vaya yang nampak menegang.
"Deri, apa kau benar-benar sungguh menyesali perbuatanmu?" tanya Vaya.
"Aku bahkan sudah tidak peduli meski aku harus mati sekarang," kata Deri.
"Ya sudah, kalau begitu mati saja kau sekarang," sahut Vier enteng.
"Tidak! Tidak! Sungguh aku menyesal, aku sungguh menyesal dan aku sungguh ingin menebus semua kesalahanku, sebelum aku mati!"
"Tolonglah aku, Vaya! Tolonglah, Pak! Aku ini masih bujang! Aku belum punya istri! Aku belum mau mati dalam keadaan masih perjaka!" Deri memohon-mohon.
Vier dan Vaya kembali saling berpandangan.
"Sungguh, aku akan melakukan apa saja! Apa saja demi ibuku! Aku mohon, Vaya!" Deri memohon sambil menangis tersedu-sedu.
"Begitukah? Jika aku menyuruhmu untuk melompat ke jurang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vier menyeringai.
"A-aduh! Kalau itu, nanti aku bisa mati!" jawab Deri.
"Deri, bukankah kau bilang akan melakukan apa saja demi ibumu?" tanya Vier.
Deri meneguk ludahnya, seringaian Vier benar-benar begitu mengerikan.
"Jadi, Deri, aku punya dua hal yang bisa kutawarkan padamu. Yang pertama adalah kupastikan kau akan mendekam selama mungkin di penjara!"
"Lalu yang kedua, kau harus membantuku untuk menemukan sindikat pemalsu brand OMG-ku!" lanjut Vier.
Vaya mengulas senyumnya, ia benar-benar teringat kembali saat Vier menawarkan kesepakatan untuk menikah dengannya.
Sepertinya Vier memanglah pria seperti itu. Pria yang bisa memberi pilihan tapi tidak bisa membuatnya memilih. Tidak ada pilihan selain terikat padanya.
...*****...
__ADS_1