
"Ada apa, Vier? Kenapa kau hanya diam saja? Cepat antar aku untuk menjemput Vero!"
Vaya masih diliputi rasa marah sekaligus takut saat mendengar bahwa Vero sedang bersama Bu Cintami.
Vaya jelas memiliki masalah pribadi dengan Bu Cintami yang juga memiliki masalah pribadi dengan Vaya. Dua orang yang sama-sama saling memiliki masalah pribadi.
Saat anak berada di tangan musuh, rasanya sama saja seperti menyerahkan sandera secara cuma-cuma di medan perang.
"Cepat bawa aku, Vier!" Vaya berteriak.
Teriakan yang menjadi ekspresi bahwa saat ini Vaya tengah merasa putus asa.
"Vaya, tolong tenang dulu," pinta Vier memohon.
"Apa?! Tenang kau bilang?!"
"Bagaimana aku bisa tenang sedangkan saat ini Vero sedang bersama seseorang yang tidak membuatku tenang?!"
Vaya masih terus mencecar Vier.
"Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu, Vier! Bagaimana bisa kau menyerahkan Vero pada ibumu begitu saja tanpa izinku?!"
Vaya masih menatap Vier dengan tatapan kesal yang intensitasnya semakin tinggi setiap detik.
"Vaya," lirih Vier.
"Vier, apa kau tahu apa yang kupikirkan saat ini?! Ibumu bahkan begitu membenciku! Dan tidak menutup kemungkinan ibumu akan mencelakai Vero!"
"Vaya!" hardik Vier dengan nada meninggi satu oktaf.
Vaya terdiam melihat ekspresi Vier yang mengeras.
"Maaf, Vaya, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya ingin kau tenang dan tolong jangan berpikir yang tidak-tidak," nada bicara Vier melembut.
Vaya mengatupkan bibirnya erat-erat, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa kesal masih melahap akal sehat Vaya.
Vier menghela napas berat, sambil mengerling ke arah Mike. Mereka berdua menunggu hingga akhirnya Vaya bersikap lebih tenang.
"Baiklah, Vaya, mari kita jemput Vero," ajak Vier.
...*****...
"Aku selalu teringat betapa ibumu sangat membenciku, Vier. Ibumu bahkan datang membawa pengajuan permohonan perceraian yang harus kutanda tangani."
Vaya melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil, sementara Vier dan Mike mendengarkan secara saksama.
"Aku mengatakan pada ibumu bahwa aku tidak bersedia menandatangani perceraian itu kalau bukan kau yang datang sendiri, Vier."
"Dan apa kau tahu, aku rasa saat itu ibumu benar-benar semakin membenciku!"
Vaya tertawa getir sementara Vier masih tak melepaskan matanya dari memandangi Vaya. Saat ini ia pun sebenarnya mengerti semua hal yang menjadi kerisauan Vaya.
__ADS_1
Vaya dan ibunya masih terus bersitegang. Dua wanita yang bagi Vier sebenarnya memiliki karakter yang sama. Keduanya sama-sama keras kepala dan menghadapi keduanya haruslah dengan lebih banyak mengalah.
"Dan sekarang pun ibumu masih tetap membenciku. Aku sungguh bisa menerima semua itu, Vier. Tidak masalah ibumu membenciku, aku tidak berharap ibumu bisa menerimaku. Tapi yang pasti, ibumu jangan pernah menyakiti Vero! Cukup aku yang merasa tersakiti!"
"Vaya, aku tidak akan membiarkan ibuku menyakiti Vero, percayalah," potong Vier.
Vaya tersenyum kecut melihat senyum Vier.
"Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Vier.
"Vier, saat ini aku tidak bisa memercayai siapa pun, kecuali diriku sendiri," jawab Vaya.
...*****...
Vero terlalu takut, bocah itu menunduk tapi mencuri pandang ke atas meja yang saat ini dipenuhi dengan kue dan buah-buahan segar.
Vero kembali menunduk saat matanya bertemu dengan mata Bu Cintami.
Bu Cintami masih menatap lurus ke arah Vero, ia masih menyeruput sedikit demi sedikit teh bunga chamomile dalam cangkirnya.
"Vero, kenapa tidak dimakan kuenya? Apa semua kue ini bukan seleramu?" tanya Bu Cintami.
"Macaron ini sangat enak!" Bu Cintami mengambil sekotak besar macaron warna-warni.
Bu Cintami mengerling ke arah Gemma. Gemma merasa berdebar-debar, semua kudapan yang ada di meja merupakan kudapan yang dipilihnya untuk menjamu tamu anak-anak.
"Cake cokelat ini juga pasti enak sekali, benar begitu kan, Vero?"
"Ibumu pasti tidak pernah memberimu semua makanan-makanan ini, benar kan, Vero?"
"Ya, ibuku tidak pernah," jawab Vero.
"Kalau kau tinggal bersamaku, setiap hari semua makanan ini akan selalu tersedia untukmu, Vero," kata Bu Cintami.
"Tidak mau," jawab Vero.
"Kenapa kau tidak mau?" tanya Bu Cintami.
"Kata ibuku, makan banyak cokelat bikin sakit gigi," jawab Vero.
"Kau tenang saja, Vero, akan ada banyak dokter gigi terbaik yang akan merawat gigimu," kata Bu Cintami.
"Sakit gigi itu tidak enak! Jadi lebih baik tidak usah makan cokelat," tukas Vero.
"Haha! Sungguh pola pikir yang unik sekali," Bu Cintami tertawa.
Bu Cintami kembali memandangi wajah Vero. Senyumnya masih terulas melihat bocah yang duduk tenang itu. Samar-samar ia terkenang saat Vier masih kecil dan tentunya itu ingatan yang begitu lama dan usang termakan oleh waktu.
"Vero, selama ini Vero tinggal bersama siapa saja selain bersama ibu?" tanya Bu Cintami.
Vero mengerutkan keningnya, ia masih memasang sikap waspada.
__ADS_1
"Kenapa tanya-tanya?" Vero balik bertanya.
"Oh, haha," Bu Cintami tertawa kecut. "Aku bertanya karena ingin tahu," jawab Bu Cintami.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah selama ini Vero hidup secara layak," lanjut Bu Cintami.
"Hidup secara layak itu apa?" tanya Vero.
Vero melemparkan pandangannya pada Gemma dan ke arah Bu Cintami secara bergantian.
Bu Cintami mengulas senyumnya, sepertinya ia baru menyadari bahwa lawan bicaranya hanyalah seorang balita yang baru berusia tiga tahun.
"Maksudku, apakah setiap hari Vero makan makanan yang enak? Apakah Vero tidur nyenyak? Dan apakah Vero sudah mulai sekolah?"
Bu Cintami memberondong banyak pertanyaan untuk Vero.
"Tiap hari Vero makan enak dan tidur nyenyak kok," jawab Vero.
Bu Cintami menahan napasnya, ia merasa kesal karena bocah di hadapannya ini selalu punya jawaban meski jawaban itu hanyalah jawaban-jawaban polos.
"Iya, aku tahu Vero makan enak dan tidur nyenyak. Tapi apa Vero makan dan tidur di tempat yang sesuai untuk Vero?" tanya Bu Cintami.
"Sebagai seorang calon penerus dari keluarga Yanjayadi, Vero tidak boleh hidup secara asal-asalan! Sama seperti ayahmu dulu," lanjut Bu Cintami.
"Vero!"
Seruan Vaya saat menyeruak masuk ke ruangan itu membuat semua mata langsung tertuju pada Vaya.
"Ibu!" Vero melompat turun dari kursinya dan langsung berlari menghampiri Vaya.
Vaya langsung menyambut Vero ke dalam pelukannya.
"Ibu dari mana?" tanya Vero.
"Maaf ya, Vero, Ibu cuma jalan-jalan sebentar," jawab Vaya.
"Ibu curang, jalan-jalan sendiri," gerutu Vero.
"Maaf ya, Vero, nanti kita jalan sama-sama ya," kata Vaya.
Vier memandangi ekspresi ibunya yang nampak kesal. Terlebih saat melihat kebersamaan Vaya dan Vero.
"Ibu, terima kasih sudah menjaga Vero," kata Vier.
"Vier, sebaiknya untuk seterusnya, biarlah Ibu yang menjaga dan mendidik Vero," kata Bu Cintami.
"Apa?!" sergah Vaya tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Seketika itu pula suasana langsung menegang.
...*****...
__ADS_1