Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
183 - Tes DNA


__ADS_3

"Selena, aku benar-benar sungguh minta maaf padamu dan juga Vier. Jika kau memang menginginkan agar Vier kembali ke sisimu, maka yang bisa kulakukan hanyalah menerima semua itu dengan lapang dada."


"Meski pada akhirnya aku benar-benar mencintai Vier, namun sesungguhnya aku sama sekali tak pernah berniat untuk merebut Vier darimu."


"Satu hal yang perlu kutekankan, tolong terima dan rawat anakku dengan baik, meski kau bukan ibu yang melahirkannya. Kalau kau memang kurang berkenan dengan kehadiran anakku dalam kehidupanmu, sungguh tidak masalah. Kau tidak perlu merawatnya, aku bisa merawat dan membesarkan anakku."


"Tapi, tolong jangan pernah meniadakan kehadirannya dalam hidup Vier. Biar bagaimanapun, anakku adalah darah daging Vier."


"Semoga kalian berbahagia," tutup Vaya.


Vaya bisa melihat dengan jelas, mata Selena sudah mulai berkaca-kaca.


"Kalau begitu, permisi."


Vaya menunduk dalam, tubuhnya berputar dengan langkah yang begitu berat menuju ke pintu yang tertutup. Vaya memberanikan diri untuk mendorong pintu itu. Tekadnya sudah bulat untuk mengembalikan Vier pada Selena.


Aku bahkan tidak pernah meminjam Vier.


Batin Vaya teriris-iris kenyataan yang begitu menyakitkan.


Namun sesakit apa pun, tetap harus dihadapi agar semuanya bisa dilalui.


Vaya terperanjat saat membuka pintu. Di hadapannya, wanita berbusana serba hijau dengan topi besar, berdiri dengan ekspresi wajah yang sama terkejutnya seperti Vaya.


Wanita paruh baya yang kehadirannya menjadi mimpi buruk bagi Vaya.


Ucapan wanita itu masih terekam jelas dalam benak Vaya.


Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai menantuku!


"Kau! Apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Vaya meneguk ludahnya mendengar pertanyaan bernada angkuh beserta tatapan sinis tak bersahabat.


Bu Cintami melemparkan pandangannya pada Vier.


"Vier, apa kau yang membawanya kemari?"


"Ibu," Vier menyela.


"Wah, wah, masih berani sekali kau menampakkan wajahmu di depanku!"


"Ibu, tolong," ujar Vier dengan nada mengalah.


"Vier, tolong jangan menyela ucapanku! Aku tidak bicara padamu!"


Bu Cintami menghardik Vier, Vier menghela napas berat sambil melemparkan pandangan ke langit-langit.


"Cepat katakan, apa yang kau lakukan? Apa kau datang menemui Selena untuk menertawakan dan membuat Selena makin terpuruk?" tuding Bu Cintami

__ADS_1


"Anda salah jika berpikir seperti itu," jawab Vaya.


Vaya menghapus jauh-jauh rasa gentarnya pada Bu Cintami.


Wanita paruh baya itu sebentar lagi sudah tidak akan memiliki hubungan apa pun lagi dengan Vaya.


Tidak, bahkan dari awal wanita itu sama sekali tidak menganggap Vaya sebagai menantunya, sehingga Vaya pun juga tidak perlu menganggap Bu Cintami sebagai ibu mertua.


Nenek sihir yang membawa petaka, begitulah Vaya menyebutnya.


"Huh! Apa kau pikir kau bisa membodohiku semudah itu?" tanya Bu Cintami.


"Aku benar-benar tidak sudi melihatmu di sini! Pergilah selagi aku masih berbaik hati!"


Nada Bu Cintami meninggi satu oktaf bak petir di siang bolong yang menggelegar di sepanjang koridor ruang perawatan.


Para suster yang berlalu lalang di koridor tersebut mulai berkasak-kusuk dengan ekspresi terkejut.


"Kenapa kau hanya diam saja?! Apa perlu aku menyeretmu dengan tanganku sendiri?"


Bu Cintami mencengkeram tangan Vaya dengan erat, meluapkan emosinya.


"Lepaskan!"


Teriakan disertai derap langkah bocah yang berlari di koridor membuat semua orang menoleh ke arah bocah itu.


"Dasar nenek sihir!" teriak bocah itu mendorong keras Bu Cintami.


Vier memijat pelipisnya, begitu juga dengan Mike yang langsung menunduk padahal ia baru saja tiba usai setengah berlari mengejar Vero.


"Gemma, kenapa kau malah membawa bocah ini kemari? Di mana orang tuanya?!" Bu Cintami melotot kesal ke arah Gemma.


"Ibu!" Vero langsung memeluk saat Vaya berjongkok dan menggendong Vero.


"Apa?! Ibu?!" Bu Cintami melayangkan pandangan ke arah Vaya.


"Ibu, maafkan anakku," kata Vier sambil menunduk.


"Apa?! Anakmu?!"


Bu Cintami tak bisa menutupi ekspresi terkejutnya.


...*****...


Bu Cintami menyeruput teh chamomile hangat untuk menenangkan diri. Begitu cangkir tehnya kembali menyentuh tatakan cangkir, mata beliau melakukan pemindaian secara saksama pada sosok bocah yang saat ini berada di pangkuan Vaya.


Vero meneguk susu hangatnya sedikit demi sedikit sambil memerhatikan wajah-wajah asing yang melakukan penjagaan ketat di sekeliling kafe yang terletak di seberang rumah sakit.


Vero hanya mengenali Gemma, wanita yang membawanya ke pusat informasi hingga akhirnya Mike menemukan Vero.

__ADS_1


Bu Cintami masih belum bisa memercayai bahwa bocah berkulit putih dengan alis tebal dan rambut hitam lebat itu adalah anak Vier. Meski wajah bocah itu memang terlihat sangat mirip dengan Vier.


Bu Cintami memang tidak terlalu mengingat wajah Vier ketika kecil lantaran Vier diasuh oleh para baby sitter bersertifikasi karena Bu Cintami begitu sibuk dengan pekerjaannya.


"Vier, menurut Ibu, lebih baik kau melakukan tes DNA untuk memastikan bahwa anak ini memanglah anakmu," tukas Bu Cintami.


Vaya mendelik gusar, ia sudah menduga bahwa Bu Cintami pasti tidak memercayai bahwa Vero adalah benar-benar anak Vier.


"Wanita ini bahkan menghilang selama tiga tahun, bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa anak ini adalah benihmu?!"


"Ck, Ibu!" Vier berdecak kesal.


"Ibu, dia siapa sih?" tanya Vero.


"Sst, Vero," desis Vaya.


"Ibu," gerutu Vero.


"Nanti Ibu jelaskan ya," bisik Vaya.


"Ibu, wajahku dan Vero bahkan begitu mirip!" ujar Vier.


"Vier, apa kau lupa?! Wajahmu pun begitu mirip dengan Pendeta David! Sampai-sampai ayahmu meminta Ibu untuk melakukan tes DNA! Terus terang, ketika mengandungmu Pendeta David merupakan idola semua jemaat. Ibu bahkan berdoa pada Tuhan agar kau bisa seperti Pendeta David. Dan Tuhan benar-benar mengabulkan doa Ibu! Kau bahkan terlihat lebih mirip dengan beliau daripada ayahmu!" beber Bu Cintami panjang lebar.


Vier mendelik gusar, sementara Vaya hanya bisa menyeringai kecut.


"Harusnya Ibu merevisi doa dengan meminta agar anak yang Ibu kandung memiliki sikap dan perilaku seperti Pendeta David!" lanjut Bu Cintami.


Vier memasang ekspresi masam ke arah ibunya.


"Bu Cintami," Vaya menyela.


"Jika Anda memang meragukan bahwa Vero bukanlah anak Vier, baiklah, tidak apa-apa. Saya juga tidak akan meminta pertanggung jawaban apa pun," ucap Vaya.


"Saya mengandung, melahirkan, dan membesarkan Vero selama ini sendiri."


"Vaya," potong Vier.


"Saya sungguh tidak keberatan meski Anda tidak mengakui saya dan juga anak saya," lanjut Vaya.


"Vaya, aku bukannya tidak mengakui Vero sebagai anak Vier! Aku hanya ingin memastikan apakah Vero benar-benar adalah anak Vier!"


"Aku butuh bukti tertulis, bukti otentik yang bisa dipertanggung jawabkan secara empiris!"


"Kalau hanya sekadar mengaku-ngaku, bukankah itu sama saja dengan omong kosong?!" 


Vaya terdiam sambil melirik ke arah Vier.


Vier benar-benar sungguh anak Bu Cintami tanpa perlu melakukan tes DNA.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2