Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
062 - Es Krim Stroberi


__ADS_3

Sebuah pesawat jet pribadi mendarat di bandara. Mike menjadi orang yang pertama kali turun dari pesawat itu.


Vier turun dari pesawat lebih dulu dari Vaya yang langkahnya masih belum menapak di tanah.


"Vier, ini sungguh pesawat jet pribadimu? Bukan sewa atau di-endors maskapai privat?" tanya Vaya keheranan.


"Huh, kau pikir aku ini selebriti yang suka pamer kehidupan mewah di sosial media?" Vier menyeringai.


"Vier, dari mana asal sumber kekayaanmu itu? Kau bukan pemain robot trading abal-abal kan?" tanya Vaya.


"Vaya, jangan samakan aku dengan Indar Ngenez dan Dino Salahmakan itu ya! Kekayaanku ini bukan berasal dari hasil menipu orang lain! Semua adalah murni hasil kerja keras dan kerja cerdas yang kulakukan!" jawab Vier.


Nada bicara pria itu terdengar penuh kebanggaan. Ia ingin mendengar pujian dan sanjungan Vaya.


Huh, bagaimana? Kau pasti bangga kan, punya suami sultan sepertiku? Pikir Vier.


Huuh, dasar sombong! Vaya mengerucutkan bibirnya sambil melangkah tertatih-tatih.


"Vaya, kenapa jalanmu lambat sekali? Kau macam bekicot saja," gerutu Vier.


"Vier, kepalaku masih pusing," keluh Vaya. "Sepertinya aku mabuk udara."


"Huh, kau ini! Kita baru terbang dua jam saja kau sudah jetlag begini? Dasar payah," sindir Vier.


"Ugh! Aku bukan orang yang sering naik turun pesawat," sahut Vaya.


"Dasar kau ini," keluh Vier langsung merangkul pinggang Vaya.


"Vi-Vier?" Vaya terperanjat.


"Jalan yang benar, atau perlukah aku menyeretmu?" Vier menyeringai horor.


Ugh! Dasar Vier!


...*****...


Vaya mengedarkan pandangannya begitu memasuki sebuah butik mewah yang merupakan salah satu cabang merek rumah mode ternama Eropa. Rumah mode yang khusus memproduksi setelan jas yang menjadi langganan Vier.


"Oh, Vier!"


Vier langsung disambut dengan hangat oleh seorang penanggung jawab butik tersebut.


"Halo, Carl," Vier menjabat tangan pria itu.


"Kau pasti sudah tak sabar untuk melihat setelan jas terbarumu," tebak Carl.


"Memang, makanya aku kemari," sahut Vier. "Dan aku perlu beberapa setelan jas lagi."


"Haha, tentu saja," sahut Carl. "Oh hai, Mike," sapa Carl pada Mike.


Mike hanya menyahut dengan sebuah anggukan pelan.


"Oh wah, siapa wanita yang kau bawa, Vier? Kekasihmu?" tanya Carl.


"Tidak, Carl, dia bukan kekasihku," sahut Vier.


Carl terlihat memandangi Vaya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh bukan seperti wanita yang biasanya mendampingi Vier.


"Oh ini dia, setelan jasmu! Baru tiba kemarin dari Milan," Carl menyambut sebuah kotak besar dan mewah yang dibawakan oleh asistennya.


Vaya melotot lebar mendengar setelan jas milik Vier yang didatangkan langsung dari Italia.


Gila, apa kabar aku yang beli baju dan didatangkan dari toko daring berlogo jingga?! Batin Vaya.


"Pak Mike, ini butik langganan Vier ya?" tanya Vaya.


"Benar," jawab Mike singkat.

__ADS_1


"Kalau Anda di mana?" tanya Vaya.


"Saya membeli yang sudah tersedia di toko pakaian saja. Membeli secara custom seperti ini membutuhkan waktu relatif lebih lama, tapi sepertinya Pak Vier tidak keberatan menunggu asalkan sesuai dengan keinginan beliau," jawab Mike.


"Oh," sahut Vaya.


"Vaya!" seru Vier begitu keluar dari ruang ganti.


Vaya menoleh ke arah Vier yang memanggilnya.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Vier.


Vaya terpana melihat penampilan Vier, setelan jas berwarna hitam berbahan beludru yang begitu pas di tubuh Vier yang tinggi dan tegap. Jas yang mewah itu benar-benar menyempurnakan penampilan Vier yang sudah mewah sejak masih dalam bentuk morulla blastula.


Vier sungguh terlihat seperti hendak pergi ke Met Gala untuk makan malam bersama Gigi Hadid dan para selebriti dunia.


Bagi Vaya mungkin memuji Vier setinggi langit bisa membantunya meringankan hukuman yang akan diterima. 


"Oh tentu saja kau terlihat luar biasa indah, Vier! Bagaimana bisa ada makhluk menyilaukan macam kau? Aku bisa melihat pendar-pendar kemewahan yang terpancar pada dirimu. Aku rasa aku perlu kacamata hitam sekarang. Ya, aku bisa buta melihat pesonamu yang memorak-porandakan kewarasanku ini!" cerocos Vaya dengan ekspresi dibuat-buat.


Vaya terkesiap melihat ekspresi semua orang yang nampak menegang setelah mendengar cerocosan Vaya.


Mike mengerutkan keningnya sambil menggeleng pelan. Ekspresi Vier terlihat masam, ia segera kembali ke ruang ganti.


"Pak Mike, aku salah bicara ya?" tanya Vaya.


"Bu Vaya, menurut saya, ucapan Anda sungguh terdengar seperti seorang penguntit," jawab Mike.


"Hee? Penguntit?!"


Mike kembali mengangguk.


"Apa Vier juga menganggapnya begitu?" tanya Vaya.


"Tentu saja Bu," sahut Mike.


Aduh! 


...*****...


Usai berpamitan dengan Carl, mereka segera menuju ke sebuah restoran mewah untuk makan siang.


"Haha! Vaya, begitu kita pulang, bersiaplah menerima hukumanku," Vier tertawa sinis.


"Vier, maaf, aku sungguh tidak bermaksud begitu! Kumohon! Biarkan aku memberi penjelasan!" Vaya memohon.


"Aku tidak mau tahu! Kau harus menerima hukumanmu secara sportif! Salah adalah salah! Tidak perlu ada pembelaan yang tidak berguna! Haha!" Vier tertawa lagi.


Ugh, Vier! Kapan sih aku tidak salah di matamu? Batin Vaya kembali nelangsa.


...*****...


Usai makan siang mereka melanjutkan kembali perjalanan. Vaya merasa jantungnya begitu berdebar saat Vier menggenggam tangannya, mereka berdua berjalan menyusuri pertokoan yang dipenuhi para wisatawan di pusat surga belanja.


Vaya masih deg-degan, memikirkan hukuman apa yang akan ia terima dari Vier.


Hukuman gila, mesum, dan cabul yang akan menjadikan Vaya sebagai objek mainan Vier.


"Vaya, kau mau es krim?" tanya Vier tiba-tiba.


"Hee?" Vaya tersentak kaget.


"Kenapa kau kaget begitu?" tanya Vier.


"Ya, aku kaget saja, kenapa tiba-tiba kau tanya es krim?"


Vier menunjuk sebuah gerai es krim yang saat ini ramai dikunjungi pengunjung yang sedang mengantre.

__ADS_1


"Oh kau mau es krim, Vier, biar aku yang belikan!" Vaya mencoba melepas tangan Vier.


Vier menahan Vaya. "Biar Mike saja."


...*****...


Mike menyerahkan es krim yang dibelinya. Vier mengambil es krim stroberi sedangkan Vaya rasa vanila.


"Bagaimana kau tahu kalau aku suka rasa vanila?" tanya Vaya pada Vier yang sibuk menjilati es krimnya.


"Haha! Vaya, aku bahkan mengetahui ukuran pakaian dalammu," jawab Vier seraya tertawa.


Lagi-lagi Vaya merasa nelangsa mendengar pengakuan Vier yang terlalu berterus terang. Mike yang mendengar pun rasanya jadi malu sendiri. 


Vier menyeringai setiap kali mengingat kejadian itu. Dengan mata Vaya yang tertutup ikatan dasi, Vier berhasil mendapatkan ukuran tubuh Vaya secara detail karena ia sendiri yang melakukan pengukuran terhadap Vaya lalu menyerahkan hasil pengukuran tersebut pada Mike agar dapat diproses lebih lanjut. Sehingga tidak mengherankan mengapa semua pakaian yang disiapkan oleh Vier sangat pas di tubuh Vaya.


"Kau mau coba rasa stroberi?" Vier menawarkan.


"Tidak, terima kasih," jawab Vaya sambil menjilati es krimnya.


Tiba-tiba Vier ikut menjilati es krim Vaya, bahkan bibir mereka saling bersentuhan. Kemudian, mereka pun kembali berciuman.


"Hei, kau kenapa?"


Tegur Vier yang terlihat kaget melihat Vaya yang terlihat melamun sambil mengulum bibirnya.


Vaya tersentak, ia menatap Vier yang terlihat menyeringai horor ke arahnya. Ternyata ia sedang mengkhayal sendiri.


Astaga! Apa yang sudah kupikirkan?! Dasar gila!


" Vaya, ada es krim di wajahmu," tunjuk Vier.


"He? Di mana? Tidak ada tuh," Vaya menyeka wajahnya.


"Bukan di situ," kata Vier menatap wajah Vaya.


"Apa maksudmu?" tanya Vaya.


Vier menyeringai, ia menunduk lalu mengambil bibir Vaya. Vaya tersentak kaget, ia berusaha untuk melepaskan diri dari ciuman Vier.


Vier tentu tak bersedia melepaskan Vaya meski Vaya berusaha mendorongnya. Pria itu bahkan memagut bibir dan lidah Vaya dengan begitu antusias.


Vaya bisa merasakan es krim stroberi yang lumer di lidahnya berkat operan dari Vier. Bahkan terasa juga potongan stroberi yang manis dan menyegarkan di lidah.


Mike lagi-lagi hanya bisa nelangsa mengawasi dua orang yang masih menikmati ciuman rasa es krim stroberi yang membuatnya harus merasa iri.


Vier menyeringai, memandangi Vaya yang langsung memasang ekspresi kesal begitu Vier melepaskan pagutannya.


"Vier! Apa kau sudah gila? Ini di tempat umum!" rutuk Vaya.


"Hahaha! Habisnya kau seperti meminta ciumanku," Vier menyeringai jahil.


Hihh! Siapa yang minta dicium sih?! Dasar Vier gila!


Vier kembali menggandeng tangan Vaya, bersikap begitu protektif kepada Vaya. Lagi-lagi ia merasa jantungnya berdebar-debar. 


Berada di dekat Vier benar-benar bisa membuatku sakit jantung! Keluh Vaya.


Vier mengulas senyumnya, berjalan-jalan sebentar bersama Vaya sebelum kembali melanjutkan jadwal hariannya yang padat ternyata menyenangkan juga.


"Vier! Vaya!"


Vaya tersentak kaget, ia langsung melepaskan gandengan tangan Vier begitu melihat seseorang yang menyapa mereka.


...*****...


Siapakah seseorang itu? 😁😁

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya. Marilah tinggalkan jejak cinta, kasih sayang, dan perhatian yang melimpah untuk mendukung karya receh ini.


Author sayang haluers semua 💜💜💜


__ADS_2