Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
064 - Ayo Kita Pacaran


__ADS_3

Pemandangan malam dari balik dinding kaca restoran yang berada di gedung pencakar langit sungguh memanjakan mata Vaya. Kendaraan yang berlalu lalang di bawah nampak kecil, padat, dan merayap. Vaya duduk sambil menyantap makan malamnya. Akhirnya ia bisa makan malam setelah para tamu Vier pergi.


Vier segera menghampiri Vaya, pria itu mengulas senyum yang membuat Vaya jadi merinding sendiri. Senyum horor yang selalu sukses membuat Vaya harus menutupi rasa gentarnya. Vier sungguh macam tokoh antagonis yang muncul dalam film-film horor.


Vier mengarahkan garpu berisi spaghetti dari tangan Vaya agar Vaya menyuapkan spaghetti ke mulutnya.


"Vier, kau masih lapar? Mau kubuatkan seporsi lagi?" tanya Vaya.


Vier menggeleng, ia masih mengunyah spaghettinya sambil menatap ke arah Vaya. Vaya benar-benar merasakan firasat yang kurang enak setiap kali melihat seringaian Vier yang seperti itu. Seringaian para psikopat yang muncul dalam film bergenre thriller yang sudah siap melakukan eksekusi terhadap korbannya.


"Vaya, apa kau sudah tahu, berapa banyak kesalahan yang telah kau lakukan?" tanya Vier.


Tuh kan, mulai lagi, batin Vaya.


"Iya Vier, banyak," jawab Vaya.


"Coba sebutkan dan jelaskan minimal tiga dari kesalahan yang telah kau buat," Vier menyundul kepala Vaya dengan telunjuknya.


Vaya melongo mendengar pertanyaan Vier.


"Vi-Vier, apakah ini ujian essay? Tidak bisakah aku menulis jawabannya di kertas sehingga aku masih bisa mendapat ongkos tulis jika jawaban yang kupaparkan ngelantur ke mana-mana?" tanya Vaya.


"'Haha! Vaya, apa kau pikir aku sedang memberimu ujian mata pelajaran mengarang bebas?" Vier tertawa dingin.


"Hmm," Vaya mencoba berpikir tentang semua kesalahan yang kira-kira dilakukannya.


"Vier, tapi bukankah yang kulakukan semuanya salah di matamu? Aku bahkan sampai tidak tahu mana yang benar," sahut Vaya.


Vier kembali mengulas seringaian horornya, macam makhluk gaib penunggu restoran.


"Haha! Vaya, Vaya! Kau memohon dengan sangat padaku agar bisa pulang menemui keluargamu. Ternyata tujuannya adalah untuk bertemu dengan pria kaya raya yang akan menjadikanmu sebagai istri ketiga," Vier tertawa dengan nada bicaranya yang mencemooh.


"Tante macan tutul dan suaminya itu benar-benar gila."


"Vier, Deri itu sepupuku, bukan suami Tante Darti," Vaya mengoreksi.


"Haha, aku tidak peduli siapa pun pria itu! Sungguh lancang sekali karena sudah mencoba mencarikan jodoh untuk istri orang, haha! Apa mereka minta dikarantina mandiri di Nusa Kambangan?" Vier tertawa sinis.


"Vier, aku sungguh tidak tahu bahwa Deri dan ibunya akan berbuat seperti itu. Mereka pikir aku masih tetap melajang seperti yang selama ini mereka ketahui," Vaya membela diri.


"Huh! Vaya, kau itu sudah menikah denganku! Jangan pernah lupakan kenyataan itu!" tandas Vier.


"Hmm, ya, aku tahu, Vier," jawab Vaya.


"Kalau kau memang tahu, lantas, mengapa kau berbohong di depan Yoran dan istrinya? Mengapa kau tidak menjawab jujur bahwa kita memang bersama, dan bukan kebetulan bertemu di depan gerai es krim?" Vier mencecar Vaya dengan pertanyaannya.


Vaya mencebik, ia harus pandai-pandai memilih kata-kata yang harus diucapkan. Salah bicara hanya akan membuat Vaya kembali mendapat hukuman.


"Haha, ya ampun, Vier, kalau aku mengaku sebagai istrimu, nanti aku disangka wanita halu," kata Vaya berhati-hati.


"Bagaimana bisa seorang Vier, sosok pria tampan, rupawan, dan menawan itu menikah dengan wanita macam lap dapur sepertiku? Babu sepertiku harus sadar diri, harus pandai menempatkan diri," jawab Vaya seraya tertawa.


Vier menyeringai, memamerkan deretan giginya yang putih, rapi, dan terawat.


"Jadi, menurutmu aku tampan, rupawan, dan menawan?" tanya Vier.


"Ya, kau kan memang tampan, rupawan, dan menawan. Kalau kau perempuan maka kau pasti akan luar biasa cantik jelita cetar membahana badai!" sahut Vaya.


"Jadi, lebih tampan aku atau Yoran?" tanya Vier.

__ADS_1


"Ya jelas Yoran lah!" sahut Vaya tanpa perlu berpikir.


Seketika seringaian Vier berubah menjadi ekspresi luar biasa masam.


"Vier, itu menurutku lho, tapi menurut para wanita lain, kau itu yang paling tampan," sahut Vaya cepat-cepat.


"Menurut wanita lain?"


Alis Vier terangkat sebelah. "Lantas bagaimana denganmu?"


"Ya, kan aku bukan wanita lain itu!" sahut Vaya.


"Haha!" Vier tertawa sinis. "Vaya, kau patut untuk diberi hukuman. Hukuman atas pelanggaran yang kau lakukan."


"Aduh, Vier," keluh Vaya.


"Vaya, mengeluh artinya kau melanggar apa yang kuperintahkan."


Ugh! Lagi-lagi Vaya hanya bisa cemberut.


"Hanya saja berhubung kau bisa memasak dengan baik untuk para tamuku, maka aku akan memberimu grasi," ucap Vier dengan nada sombong.


Grasi sendiri berarti pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh presiden.


Huuh! Apa-apaan, Vier! Apa dia pikir dia itu presiden? Keluh Vaya.


Vier beranjak dari tempat duduknya, menuju ke sebuah grand piano yang terletak tak jauh dari tempat duduk Vaya. Ia membuka penutup tuts dan mulai menekan tuts piano secara acak.


Bagi Vaya, nada-nada yang tercipta sungguh terdengar macam latar musik dalam film-film horor.


Vier mulai menekan tuts, mengalunkan nada-nada yang lembut. Seketika Vaya langsung terpana, melihat dan mendengar kemampuan Vier memainkan piano.


Plok.. plok..


Vaya bertepuk tangan begitu Vier mengakhiri pertunjukannya.


"Bravo, Vier! Kau sungguh terlihat seperti Beethoven masa kini!" kata Vaya.


"Beethoven?" Vier mengerutkan alisnya.


"Ya, Beethoven!" cengir Vaya.


"Kemari kau!" panggil Vier.


"Eh?" Vaya keheranan.


"Kemari!" perintah Vier.


Vaya segera menghampiri Vier.


"Mengapa kau menyebutkan Beethoven?"


"Hmm, ya, karena Beethoven sama saja seperti Einstein, tapi di bidang musik," sahut Vaya.


"Salah! Ini bukan Beethoven! Dasar sok tahu!" Vier menyundul kepala Vaya dengan jarinya.


"Jadi apa? Aku kan sungguh tidak tahu," gerutu Vaya.


"Ini Chopin. Nocturne  in E Flat Major Op. 9 No. 2. Dengarkan sekali lagi!"

__ADS_1


Vier mulai memainkan kembali nada-nada itu.


"Vier, aku baru tahu kau pandai bermain piano," kata Vaya.


"Huhu! Aku bahkan pandai melakukan segalanya!" sahut Vier penuh percaya diri.


Vaya memutar bola matanya, ia memutuskan beranjak pergi, namun tangan Vier menahannya dan menjatuhkan Vaya ke pangkuannya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk pergi?" tanya Vier.


"Vier, aku hanya tidak mau mengganggumu, lanjutkan saja, aku senang mendengarmu memainkan piano," jawab Vaya.


"Hmm, begitukah? Tapi aku rasa aku harus memberimu hadiah untuk usahamu menghidangkan makan malam," Vier menyeringai.


"Vieer! Tidak masalah, aku tidak perlu mendapatkan hadiah," Vaya mencoba melepaskan diri.


"Vaya, kau pasti tahu kan, menolak perintahku adalah pelanggaran bagimu?" Vier menyeringai.


Vier mengambil tangan Vaya, jemari mereka saling bertaut untuk menekan tuts-tuts hitam putih di hadapan mereka.


"Hadiah dariku adalah mengajarimu Chopin Nocturne in E Major, Op. 9 No. 2," kata Vier tepat di telinga Vaya.


Vaya benar-benar tegang, terlalu tegang karena saat ini Vier sedang berada di belakangnya. Terlebih ketika ia merasakan hembusan napas Vier di tengkuknya.


Jari-jarinya saat ini mengikuti ke mana pun jemari Vier membawanya. Menciptakan lantunan melodi yang terdengar indah. Namun tidak bagi Vaya yang benar-benar luar biasa tegang, tubuhnya bahkan gemetaran hebat.


"Vier, apa ini lagu kesukaanmu?" tanya Vaya berusaha mencairkan suasana tegang di antara mereka.


"Waktu belajar piano lagu inilah yang pertama kali kupelajari," jawab Vier. 


"Kenapa kau tidak belajar Beethoven?" tanya Vaya. "Beethoven kan sangat terkenal."


"Vaya, setiap komposer terkenal di zamannya memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas dari musik Chopin itu terdengar dan terasa lebih luwes jika dibandingkan dengan Beethoven, Mozart, dan Bach," Vier menjelaskan.


"Wah, kau tahu banyak ya, Vier," kata Vaya.


"Tentu saja, karena aku belajar," sahut Vier. "Aku tidak sepertimu yang menyia-nyiakan masa muda hanya untuk mengejar para pria, haha," Vier tertawa sinis.


"Belajar? Bukannya kau dulu di sekolah hanya bermain dan pacaran?" cibir Vaya.


"Haha!" Vier tertawa lagi. 


"Ya sudah, kalau begitu, ayo kita pacaran," ucap Vier.


"Hee?" Vaya terperangah mendengar ucapan Vier.


Vier mengulas seringaiannya. Ia mengambil bibir Vaya dengan bibirnya. Nada-nada berdenting mengiringi ciuman mereka yang kian memanas setiap detik yang berlalu.


Di sudut ruangan, lagi-lagi Mike yang menyaksikan pemandangan dua orang yang nampak sedang kasmaran itu hanya bisa mengeluh dalam diamnya.


Kapan aku bisa punya pacar yang bisa kuajak berciuman sambil bermain piano?


Batin Mike kembali nelangsa.


...*****...


Haluers tersayang author.


Sampai jumpa di episode selanjutnya. Author harap bisa crazy up, kalau lagi semangat. 😁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan, cinta, kasih sayang, dan perhatian haluers.


__ADS_2