
Pembaca setia.
Karya ini masih belum tamat, author tag tamat karena slow update. Tapi tetap diusahakan untuk up sebisanya.
Selamat membaca.
...*****...
"Apa? Kita pindah?"
Aria begitu terkejut begitu Vaya dan ibunya mengatakan pada Aria kalau mereka harus segera pindah.
"Kenapa mendadak sekali, Bu?" tanya Aria.
Aria masih melemparkan pandangannya ke arah Vaya dan juga ibunya.
"Kakak, aku tidak mau pindah, aku mau melanjutkan ke sekolah yang sama dengan teman-temanku," kata Aria.
"Aria, maaf ya. Tapi, kita tidak punya pilihan lain selain pindah," Vaya meminta maaf pada Aria.
"Memangnya ada apa, Kak? Kenapa kita harus sampai pindah segala?" tanya Aria.
"Aria, kita harus pindah demi kebaikan kita bersama. Kakak hanya takut, bagaimana jika keluarga kita sampai mendapatkan teror ancaman? Kakak tidak punya kekuatan untuk melindungi kecuali dengan menghindar," Vaya berusaha menjelaskan.
"Teror ancaman dari siapa, Kak? Apa dari Kak Deri lagi?" tanya Aria.
Vaya menggeleng.
"Kakak hanya takut, ibu Vier akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Kakak," kata Vaya.
"Kok bisa begitu, Kak?!" Rian terperangah.
Vaya menoleh ke arah Rian.
"Kok bisa ibu Kak Vier sejahat itu? Ibu Kak Vier sungguh seperti ibu mertua di sinetron-sinetron ikan terbang!" cerocos Rian.
"Ibu Vier meminta kakak untuk menandatangani kesepakatan bercerai dari Vier. Dengan alasan bahwa kesepakatan itu adalah keinginan Vier. Kakak tentu tidak bisa serta merta memercayai itu. Bisa saja, ibu Vier berbohong pada Kakak."
"Logikanya, jika memang Vier menginginkan perceraian ini, pasti Vier sendiri yang akan menemui Kakak langsung, seperti saat pertama kali kami membuat kesepakatan untuk menikah," terang Vaya.
Vaya memegangi perutnya.
"Terlebih saat ini, Kakak sedang mengandung anak Vier. Kakak sungguh takut, bagaimana jika ibu Vier sampai mencelakai Kakak dan anak ini?"
Rian, Aria, dan Bu Asih menujukan pandangan mereka pada Vaya.
"Oleh sebab itu, Kakak pikir, akan lebih baik pindah dari rumah ini, bahkan dari kota ini, demi menghilangkan jejak," lanjut Vaya.
"Kakak...," ucap Aria dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"Lebih baik kita menghindar, daripada terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan," ucap Vaya.
"Kak Vaya, apa Kakak sudah tidak bekerja lagi?" tanya Rian.
"Ya, Kakak sudah tidak bekerja lagi. Terlebih dalam kondisi hamil seperti ini. Tapi kalian tenang saja, dengan uang kompensasi dari perusahaan, setidaknya kita bisa bertahan untuk beberapa bulan ke depan, atau setidaknya sampai bayi Kakak lahir. Setelah itu, Kakak bisa mencari pekerjaan lain," Vaya menjelaskan.
"Lalu, kita akan pindah ke mana, Kak?" tanya Rian.
Vaya terdiam lalu melemparkan pandangannya kepada ibunya.
"Ibu ikut saja ke mana pun kita pindah, asalkan kita bersama-sama," jawab Bu Asih.
...*****...
Aria duduk di depan teras rumah. Saat ini gadis berusia lima belas tahun itu merasa sangat sedih dan juga dilema.
Vaya menghampiri Aria dan langsung duduk di samping Aria, menemani Aria yang benar-benar sedang galau.
"Aria, kamu pasti sedih ya, karena harus berpisah dengan teman-teman?" tanya Vaya.
Aria mengangguk dalam diamnya.
"Aria, Kakak sungguh paham bagaimana perasaan Aria. Saat masih sekolah dulu, Kakak juga rasanya tidak ingin berpisah dari teman-teman yang selama masa sekolah sudah menemani Kakak. Hanya saja, setelah Kakak lulus dari sekolah, Kakak jadi menyadari, bahwa justru kehidupan setelah lulus sekolah adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya."
"Semua orang memulai kehidupannya masing-masing, menjalani kehidupan yang sudah menunggu mereka," lanjut Vaya.
Aria masih diam dan mendengarkan.
"Kakak, apa Kakak dan Kak Vier benar-benar telah berpisah?" tanya Aria.
Vaya memandangi mata Aria yang nampak berkaca-kaca.
"Aria, Kakak bukannya benar-benar berpisah dari Vier. Kakak hanya sedang berusaha membuktikan bahwa Kakak benar-benar mencintainya," jawab Vaya.
"Kenapa Kakak harus memberi bukti? Memangnya Kak Vier tidak percaya bahwa Kakak benar-benar mencintai Kak Vier?" tanya Aria.
Vaya mengulas senyumnya.
"Aria, kakak menikahi Vier karena kebohongan yang Kakak buat. Gara-gara berbohong, Kakak jadi orang yang sulit untuk dipercaya. Sehingga, memberi bukti adalah satu-satunya cara agar Kakak bisa dipercaya kembali," jawab Vaya.
"Kakak benar-benar aneh, kenapa juga Kakak pakai berbohong segala?" tanya Aria.
"Panjang sekali kalau mau diceritakan," sahut Vaya.
"Coba ceritakan, Kak!" pinta Aria.
"Iya Kak, coba ceritakan!" Rian yang rupanya sudah menguping dari tadi langsung bergabung.
"Aku benar-benar ingin tahu, kenapa sih Kakak sampai berbohong begitu? Apa motifnya?" tanya Rian begitu antusias.
__ADS_1
"Aduh, kalian ini," keluh Vaya.
"Ayo Kak," desak Aria.
"Ceritakan, Kak! Aku benar-benar penasaran!" desak Rian.
Vaya yang terus didesak akhirnya mengalah dan memilih untuk bercerita.
"Jadi, semua itu dimulai dari ketika Kakak masih duduk di bangku SMA. Kebetulan, Kakak dan Vier dulu satu kelas," kata Vaya.
"Waahh, Kak Vier dulu seperti apa, Kak? Apa memang sudah tampan seperti sekarang?" tanya Aria antusias.
"Hmm, ya, Vier memang sudah tampan, bahkan sepertinya memang semakin tampan," jawab Vaya.
"Waah, wah, jadi ceritanya Kak Vaya ini, cinta lama bersemi kembali ya?" goda Rian.
"Cinta lama bersemi kembali apanya?! Kami tidak terlibat seperti itu ya! Yang ada dulu Vier selalu membully Kakakmu ini!" sahut Vaya.
"Kakak dibully kenapa? Apa cinta kakak ditolak Kak Vier?" tanya Aria.
"Aria, bukan seperti itu ya!" Vaya mengacak rambut Aria dengan gemas.
"Lalu kenapa Kakak sampai dibully?" tanya Aria penasaran.
"Ya, mana kutahu!" Vaya mengedikkan bahunya.
"Apa jangan-jangan sebenarnya Kak Vier menyukai Kak Vaya? Yah, modus anak laki-laki untuk cari perhatian gadis yang disukainya kan, biasanya seperti itu, hehe," Rian terkekeh geli.
"Rian, sungguh bukan seperti itu!" potong Vaya.
"Kalian harus tahu ya, Vier itu waktu masih zaman jahiliyah, dia adalah seorang playboy kelas berat! Hampir semua siswi pernah menjadi pacarnya, setiap hari selalu gonta-ganti pacar!" cerocos Vaya.
"Wah, hebat! Keren sekali!" puji Rian.
"Haha, hebat apanya? Yang ada dia malah menimbulkan kerusuhan para siswi! Para siswi kerap saling bertengkar karena Vier," seloroh Vaya.
"Lantas, apa dulu Kakak juga pernah menjadi salah satu pacar Kak Vier?" tanya Aria.
"Tidak! Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah mau jadi pacarnya!" jawab Vaya dengan cepat.
"Haha, tidak jadi pacar, tapi malah jadi istri Kak Vier, ciee...," goda Rian.
"Haha," Vaya tertawa.
"Lanjut lagi, Kak, lanjut!" pinta Aria.
Vaya menghentikan tawanya, entah mengapa ia jadi merasa sesak dan pandangannya mulai mengabur karena tergenang air mata.
Entah mengapa Vaya merasa bahwa saat ini membicarakan tentang Vier membuatnya makin merindukan pria itu.
__ADS_1
Rasa rindu yang benar-benar membuat dirinya begitu rapuh.
...*****...