
Langit malam ini terlihat cerah, banyak bintang bertaburan di angkasa, cahaya kecil itu berpendar-pendar menghiasi gelapnya langit. Meski bulan nampak berselimutkan awan, namun tetap tak mengurangi pancaran keindahan sinarnya.
Sesungguhnya saat ini adalah waktu yang terbaik untuk menikmati keindahan malam yang begitu memanjakan mata.
Namun bagi Vaya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengagumi keindahan langit malam, karena lagi-lagi atmosfer penuh ketegangan sedang tercipta. Vaya bahkan merasa seakan berada di ruang tertutup, semacam bunker tempat berlindung yang kapasitas udaranya terbatas.
Mike sedang sibuk mengemudi, sementara Vier yang duduk di samping Mike hanya berdiam diri sepanjang perjalanan.
Vaya jelas bertanya-tanya, mengapa justru Vier dan Mike yang menjemput? Ke mana supir yang biasa menjemputnya?
Ingin bertanya tapi rasanya malas, tidak ditanya tapi rasanya penasaran.
Vaya menimbang-nimbang, apakah ia harus bertanya, ataukah tidak.
"Anu, Vier, aku bukannya merasa kecewa karena kalian yang menjemputku, hanya saja, aku merasa tidak enak, kau yang begitu sibuk, tapi malah menyempatkan diri untuk menjemputku," kata Vaya.
"Menjemputmu? Huh!" dengus Vier.
"Aku tidak menjemputmu, aku hanya memastikan, apakah kau benar-benar bekerja lembur seperti yang kau katakan," ucap Vier.
"Ya, aku memang lembur, karena ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," sahut Vaya.
"Khukhu," Vier terkekeh.
Dasar pembohong!
Entah mengapa tiba-tiba saja Vaya bergidik seram mendengar Vier yang terkekeh seperti itu.
...*****...
Vier segera turun dari kursi penumpang begitu mobil yang dikemudikan Mike berhenti di depan pelataran paviliun utama. Vier membuka pintu belakang dan mempersilakan Vaya untuk keluar.
Vaya segera keluar dari mobil, ia bergegas menuju ke arah paviliun barat.
"Vaya, kau mau ke mana?"
"Kembali ke kamarku," jawab Vaya.
"Vaya, ada yang harus kita bicarakan," kata Vier.
"Apa yang harus kita bicarakan, Vier?" tanya Vaya segera mengambil sikap defensif.
Vier mengulas senyum tipisnya.
"Kita hanya perlu bicara empat mata," jawab Vier singkat.
Vier menoleh sekilas ke arah Mike.
"Kau bisa pulang sekarang, Mike."
Vier segera melangkah memasuki rumah, bahkan mengabaikan Pak Jo yang menyambutnya.
"Kenapa kau hanya diam saja, Vaya? Bukankah sudah kukatakan kau harus ikut denganku?"
Vaya tidak menyahut, ia mulai melangkah mengikuti Vier.
Vaya merasa jantungnya kembali berdentam dengan keras. Entah ke mana Vier akan membawanya.
__ADS_1
Vier membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilakan Vaya untuk masuk. Vaya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang tertata rapi.
Ruangan dengan dominasi warna putih, langit-langitnya tinggi dengan lampu gantung hias berupa bola-bola aluminium. Terdapat sofa berwarna hitam yang menghadap langsung ke sebuah meja kerja luas. Ruangan tersebut adalah ruang kerja Vier.
Vier mengambil dokumen dari meja kerjanya, kemudian ia segera duduk di sofa.
"Kenapa berdiri di sana? Duduklah," katanya dengan nada memerintah.
Vaya mengawasi sambil memasang sikap defensif. Ia duduk di hadapan Vier, Vier segera meletakkan dokumen kontrak pernikahan mereka.
"Vaya, apa kau sudah membaca benar-benar mengenai kontrak pernikahan kita?" tanya Vier.
Nada bicara Vier tetap tenang seperti biasanya meski ada kilatan kemarahan yang terpancar dari matanya yang tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Vaya.
Vier melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku rasa kau benar-benar belum memahami sepenuhnya tentang isi kontrak pernikahan kita," kata Vier.
"Vier, inti dari kontrak pernikahan kita adalah perbudakan birahimu saja kan?"
"Aku sadar bahwa fisik yang kumiliki tentu saja memiliki banyak sekali kekurangan yang jelas tidak bisa memenuhi ekspektasimu."
Aku sangat berterima kasih sekali jika kau tidak menyentuhku seujung rambut pun, Vier, batin Vaya.
"Vaya, kontrak pernikahan dibuat dengan tujuan untuk mengaturmu. Namun sepertinya kau justru melanggar semua aturan yang sudah kubuat," kata Vier.
"Vier, aku rasa aku tidak melanggar aturan apa pun! Kau suruh aku memakai pakaian seksi yang menjijikkan itu, aku pakai! Kau hina aku, kau tertawakan aku, kau ejek aku habis-habisan, aku terima! Kau bahkan melakukan pelecehan padaku, kau celakai aku, aku hanya bisa menerimanya!" cecar Vaya.
"Kau tidak merasa melanggar aturan? Vaya, apa kau tahu, menolak perintah yang kuberikan termasuk dalam pelanggaran!" sergah Vier.
"Kemudian, kau juga melakukan pelanggaran dengan berbohong bahwa kau ada lembur, padahal kau pergi berkencan dengan pria lain!"
"Vier! Siapa yang pergi berkencan dengan pria lain?" tanya Vaya.
"Apa kau pikir aku mengencani pria?" Vier balik bertanya.
Ugh, pria ini, batin Vaya.
"Vier, bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu?" tanya Vaya.
"Menuduh? Aku tidak menuduhmu!"
"Lihat, kau bahkan masih mengenakan pakaian pria itu! Entah apa yang sudah kalian lakukan sampai pakaianmu kotor seperti itu! Kurang bukti apalagi?!" cecar Vier.
"Haha!" Vaya tertawa.
"Vier, kau jangan mengada-ada! Jangan samakan aku seperti wanita yang biasa kau kencani! Pakaianku kotor bukan berarti aku melakukan hal-hal yang kotor!" tandas Vaya.
"Aku memang lembur, dan setelah lembur, aku pergi makan malam bersama teman-teman kantorku!" ucap Vaya.
"Apa?! Kau pergi makan malam bersama teman-teman kantormu?!" potong Vier.
Vaya terkesiap.
"Wah, kau bahkan menolak saat aku mengajakmu makan malam, tapi kau malah pergi makan malam bersama teman-temanmu! Sebenarnya kau itu menikah denganku, atau dengan teman-temanmu?!" sergah Vier.
__ADS_1
"Ini benar-benar pelanggaran! Dan kau benar-benar harus mendapat hukuman atas pelanggaran yang kau buat!" tambahnya.
"Vier! Apa maksudmu?!" tanya Vaya.
"Kau berhak mendapat hukuman, Vaya!" Vier beranjak dari sofa.
Ia segera menarik tangan Vaya, menyeret, lalu mendorong Vaya ke atas kursi kerjanya.
"Aduh! Vier, apa yang kau lakukan?!" bentak Vaya.
"Yang harus kulakukan adalah memberimu hukuman atas semua pelanggaran yang hari ini telah kau lakukan, Vaya!"
Vier membuka laci di bawah meja kerjanya lalu mengeluarkan sebuah lakban hitam.
Vaya kembali disergap rasa takutnya saat Vier dengan cepat melilitkan gulungan lakban hitam ke tangan Vaya dan menempelkannya dengan sangat kuat pada pegangan kursi.
"Vier! Lepaskan aku!"
Vaya meronta hebat, kedua tangannya tidak bergeming karena lilitan lakban hitam itu benar-benar kuat, bahkan Vaya tidak bisa menggerakkan kedua tangannya. Tidak hanya kedua tangan, kedua kaki Vaya pun diikat dengan lakban hitam.
"Vier! Ini sungguh tidak lucu! Kumohon lepaskan aku!"
Vier mengeluarkan sebuah gunting dari laci yang sama.
Vier menarik wajah Vaya sambil memainkan gunting.
"Vaya, perintahku adalah peraturan untukmu! Berani melanggar, berarti kau harus bersiap menerima konsekuensinya, yaitu berupa hukuman!"
"Vier! Tidak! Kumohon, lepaskan aku!"
Vaya benar-benar ketakutan, tubuhnya bergetar hebat seperti gawai cerdas dalam mode getar yang dihubungi terus oleh telemarketing asuransi.
"Bayangkan jika jaket yang kau kenakan ini adalah kulit pria itu!"
Vier mulai menggunting jaket yang dikenakan oleh Vaya.
"Tidak! Tidak! Vier! Jangan digunting! Jaket ini bukan milikku! Aku harus mengembalikannya!" teriak Vaya.
"Haha! Aku tidak peduli! Aku benar-benar akan menguliti pria yang sudah seenaknya berkencan denganmu! Kau itu istriku! Haha!"
Vier tertawa sambil terus menggunting jaket yang dikenakan Vaya. Jaket tersebut akhirnya terlepas dari tubuh Vaya.
"Tidak! Vier! Kumohon! Lepaskan aku!"
Vaya mulai menangis.
"Apa kau masih akan menemui pria itu?" tanya Vier sambil mulai menggunting kemeja Vaya.
"Vier! Aku tidak berkencan dengan pria mana pun! Jangan gunting kemejaku! Ini seragam kerjaku! Nanti aku kerja pakai apa?!"
"Haha!" Vier tertawa.
"Aku tidak peduli, salah tetaplah salah! Dan kau harus menerima hukuman!"
Vier menyeringai, tangannya dengan cepat menggunting kemeja Vaya hingga terlepas.
"Tidak! Vier! Vier! Kumohon!"
__ADS_1
Vier menyeringai sambil memainkan gunting di wajah Vaya yang menangis ketakutan dengan tubuh bergetar hebat.
...*****...