Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
179 - Berbagi Tempat Tidur


__ADS_3

"Tidak, ini tidak boleh terjadi! Vier tidak boleh seenaknya menciumku seperti ini! Tidak! Tidak!"


Batin Vaya memberontak karena mendadak mendapatkan sebuah ciuman dari Vier.


Jauh di lubuk hati Vaya, tentu saja ia merindukan ciuman Vier. Ciuman yang dulu selalu mereka lakukan pada setiap kesempatan.


Ciuman yang pada awalnya selalu ditolak oleh Vaya lantaran Vier yang selalu melakukannya dengan memaksa. Namun pada akhirnya justru menjadi sebuah candu yang selalu ditunggu.


Tidak! Ini sungguh sebuah kesalahan! Kesalahan yang tidak boleh kembali terulang!


Batin Vaya kembali memberontak, meski saat ini nalurinya berusaha mendorongnya untuk mendekap lebih erat tubuh Vier.


Tidak!


Vaya mengumpulkan seluruh kekuatannya, mendorong Vier sekuat tenaga yang ia miliki namun percuma. Pria itu memiliki kekuatan yang lebih besar dan jauh lebih kuat dari Vaya.


"Tidak! Tidak! Ini tidak boleh!" Vaya berteriak sekuat tenaganya dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhnya.


Adrenalinnya bekerja begitu keras, menciptakan perasaan menegangkan. Tubuh Vaya terguncang hebat seakan baru saja terjadi gempa bumi.


"Ibu! Ibu!"


Vaya mendengar suara teriakan Vero.


"Ibu! Ibu!"


"Vero! Vero!" Vaya balas berteriak.


"Ibu!"


Suara teriakan Vero membuat Vaya terkesiap, tubuhnya berhenti berguncang karena Vero berhenti mengguncang tubuh Vaya.


Mata Vaya terbuka lebar berbarengan dengan bunyi pintu kamar yang terbuka.


Dengan napasnya yang masih terengah-engah, Vaya mengedarkan pandangannya pada raut wajah-wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Vero.


"E..eh?" Vaya terkesiap.


"Ada apa, Vaya? Kenapa kau berteriak-teriak begitu?" tanya Vier.


Vaya berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih terpencar.


Rupanya yang baru saja dialaminya hanyalah sebatas mimpi. Mimpi mendapatkan ciuman dari Vier. Lebih tepatnya mimpi berciuman dengan Vier.


Oh tidak! Ini benar-benar sangat memalukan! Kenapa aku bisa sampai memimpikan itu?!


Batin Vaya bergemuruh, untuk sesaat Vaya terlihat begitu linglung.


"Ibu mimpi buruk?" tanya Vero.


Vaya langsung membawa Vero ke dalam pelukannya. Vaya benar-benar merasa lega bahwa hal yang dialaminya ternyata hanyalah mimpi.


"Vaya, apa kau tahu, jantungku rasanya hendak lepas karena kau menjerit seperti itu dalam tidurmu," keluh Vier.


"Saya kira ada Pak Vier yang menyelinap masuk ke kamar Anda, Bu Vaya," Mike menimpali.


Vier memicingkan matanya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu, Mike?" tanya Vier.


Mike mengulas senyum kecut.


Anda tidak usah pura-pura bodoh begitu, Pak Vier! Mike membatin.

__ADS_1


"Ma-maaf, aku sepertinya memang bermimpi buruk."


Vaya menyeringai menahan malu sambil tetap memeluk Vero.


"Eh, tunggu, kenapa kalian bisa masuk ke sini?" tanya Vaya.


Vaya baru menyadari bahwa kedua pria itu seenaknya masuk ke dalam kamar yang sudah dikunci Vaya sebelum ia tidur.


"Vaya, tentu saja aku membuka kamar ini dengan kunci cadangan," sahut Vier.


Vaya hanya bisa menyeringai kecut.


"Kalau begitu saya akan kembali tidur, permisi," Mike berpamitan.


"Hehe, maaf mengganggu tidur Anda, Pak Mike," ucap Vaya seraya terkekeh.


"Ibu mimpi buruk apa? Apa ibu bertemu monster? Hantu?" tanya Vero usai Vaya melepas pelukannya.


Vaya mengerling ke arah Vier, namun kemudian ia kembali memandangi wajah Vero yang nampak mencemaskannya.


"Vero, Ibu minta maaf ya, karena sudah membuat Vero cemas. Ini salah Ibu karena sudah bermimpi buruk," ucap Vaya dengan penuh kesungguhan.


"Kok Ibu bisa mimpi buruk?" tanya Vero.


"Ibumu pasti lupa berdoa sebelum tidur," Vier menimpali.


"Atau jangan-jangan, Ibumu salah doa?" tambah Vier seraya menyeringai.


Vaya tidak menanggapi ucapan Vier yang lagi-lagi terdengar mengejek.


"Vero, ayo kita lanjut tidur lagi," ajak Vaya.


Vaya kembali mengerling ke arah Vier yang masih memandanginya dan juga Vero.


"Kenapa kau masih di sini, Vier?"


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar bisa kembali tidur nyenyak," jawab Vier.


"Ayah, kenapa tidak tidur di sini saja?" tanya Vero.


"Wah, senang sekali rasanya kalau Ayah bisa tidur bersama kalian di sini," ucap Vier.


Vaya melotot ke arah Vier.


"Tapi, sepertinya ibumu keberatan kalau Ayah tidur di sini. Ayah tidur di luar saja," lanjut Vier.


"Ayah, tidur di sini saja ya! Ibu, biarkan Ayah tidur di sini ya?" rengek Vero.


"Vero," Vaya berusaha menenangkan rengekan Vero.


"Ibu! Ayah!" rengek Vero.


Vier kembali mengurai senyumnya, ia pun segera menjatuhkan dirinya di sisi Vero.


Vier segera bersandar di tumpukan bantal dan mengabaikan Vaya yang sudah melotot hingga bola matanya nyaris lepas.


"Iya, iya, Ayah tidur di sini," kata Vier sambil mengelus rambut Vero.


Vero segera menyandarkan kepalanya di dada Vier.


"Wah, dada Ayah kenapa beda dengan dada Ibu ya?" tanya Vero.


"Vero, tidak perlu bertanya yang aneh-aneh," Vaya menyahut.


"Haha, benarkah? Kenapa bisa begitu?" tanya Vier seraya tertawa.

__ADS_1


"Iya, dada Ayah tidak kenyal seperti dada Ibu," jawab Vero.


"Hahaha!" Vier kembali tertawa.


"Vero!" tegur Vaya.


"Hmm, ya, dada ibumu memang kenyal, makanya Ayah juga suka," ucap Vier.


"Vier! Jangan bicara yang aneh-aneh!" tegur Vaya dengan wajah yang langsung terasa memanas.


"Vaya, aku tidak bicara yang aneh-aneh! Aku bicara jujur," sahut Vier.


Vaya mendelik gusar, dua Vier benar-benar terlalu berlebihan.


"Ayah, Ayah bekerja apa? Kenapa lama sekali tidak pulang?" tanya Vero lagi.


Vaya kembali melotot ke arah Vier sambil bicara tanpa suara.


Awas! Jangan bicara aneh-aneh!


"Vero, Ayah sekarang sudah pulang," jawab Vier.


"Vero, lanjut tidur lagi ya, Sayang, Ibu sudah mengantuk," potong Vaya.


"Yah Ibu," keluh Vero.


"Ngobrolnya besok lagi."


Vaya segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Vero dan segera berbaring sambil memejamkan matanya.


Vier mengulas senyum melihat Vaya yang berusaha keras untuk kembali tidur. Ia mengambil tangan Vaya dan langsung menggenggamnya.


Vaya terkesiap, ia menyadari bahwa Vier menggenggam tangannya. Namun jika ia melepaskan tangan Vier, ia akan ketahuan hanya berpura-pura tidur.


Rasanya sudah lama sekali ia dan Vier tidak berbagi tempat tidur. Dulu mereka hanya tidur berdua di kasur yang luas, dan sekarang mereka justru kembali tidur bersama. Hanya saja sekarang mereka sudah bertiga.


Vier benar-benar merasakan kedamaian dalam keheningan malam yang pada akhirnya membuatnya terlelap.


...*****...


"Vero, main dengan Pak Mike dulu ya, Ayah dan Ibu masih ada urusan," Vaya berpamitan.


"Aku ikut Ibu ya," pinta Vero.


"Vero dan Mike pergi lebih dulu ke Disneyland, nanti Ayah dan Ibu menyusul," kata Vier.


Vero mencuri pandang ke arah Vaya dan Vier.


"Disneyland? Apa itu?" tanya Vero.


"Taman bermain yang besar! Ada banyak permainan yang seru," jawab Vier.


Vero masih bersikap skeptis.


"Sungguh, nanti Ibu menyusul," bujuk Vaya.


"Baiklah!" sahut Vero.


"Pak Mike, titip Vero ya," ucap Vaya.


"Mike!" tukas Vier.


"Baik, Pak Vier, Bu Vaya, tenang saja," sahut Mike dengan kalem.


Setelah berpamitan dengan Vero dan Mike, Vier dan Vaya bergegas ke rumah sakit tempat Selena dirawat.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2