
Peringatan 21++
Episode ini mengandung adegan menghalu biru dan kekerasan dalam rumah tangga. Tanpa adanya kekerasan, tidak bisa dilakukan. Tidak keras, istri tidak puas.
Harap bijak membacanya. Jangan lupa tinggalkan jejak cinta, perhatian, dan kasih sayang untuk othor.
Selamat membaca.
...*****...
Vaya masih diliputi rasa takut yang setiap detiknya makin meningkat. Seakan sedang menyaksikan detik-detik ketika malaikat pencabut nyawa datang untuk mengambil setiap makhluk yang bernyawa.
Ctar...!
Cambuk memecut lantai, bunyinya begitu ngilu di telinga Vaya.
Kling... Kling...
Hanya bunyi rantai kromium yang memborgol kedua pergelangan tangan Vaya menjadi saksi bagaimana tubuh Vaya bergetar hebat.
Keringat dingin mulai merembes membasahi sekujur tubuh Vaya, detak jantungnya bahkan sudah terdengar memenuhi ruangan yang begitu hening.
Di mata Vaya, Vier benar-benar terlihat sangat menakutkan. Sorot matanya yang penuh kemarahan sudah cukup menjadi bukti otentik betapa marahnya pria itu.
"Vi-Vier, ti-tidak bisakah kita membicarakan ini baik-baik?" tanya Vaya.
"Vaya, kita sudah membuat kesepakatan," sahut Vier sambil membuka jasnya.
Setelah melempar jasnya ke lantai, Vier mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Vier segera membuang kemejanya, kini ia sudah bertelanjang dada. Tubuh atletisnya saat ini bukanlah pemandangan yang memanjakan mata Vaya atau sekadar mengurangi rasa takut Vaya, melainkan menambah rasa takut itu ke level yang lebih tinggi.
"Vi-Vier," bibir Vaya bergetar. "Vi-Vier, kumohon!" Vaya memberanikan diri.
"Vaya! Kau sudah sepakat menerima dua permintaanku! Dan tidak ada tawar menawar lagi!" tandas Vier.
"Ta-tapi, Vier!" sergah Vaya.
"Cukup, Vaya! Kau sudah sepakat bahwa akan menerima semua yang kulakukan terhadapmu! Jangan menguji kesabaranku!" sergah Vier.
"Vi-Vier, tapi, tapi!"
Vier benar-benar kesal mendengar Vaya yang menentangnya seperti ini.
Plak...!
"Arghh!" Vaya menjerit.
Tubuh Vaya melengkung menerima cambukan dari Vier yang tepat mengenai kakinya. Vaya menggigit bibir, merasakan sensasi panas dan terbakar di kakinya.
"Vi-Vier, sa-sakit!" rintih Vaya.
"Sakit?!" Vier kembali menyeringai.
Plak...! Plak...!
"Arghh!" jerit Vaya lagi.
Cambuk dari rambut ekor kuda itu lagi-lagi menyasar kaki Vaya. Kaki Vaya terbenam makin dalam di tempat tidur empuk itu.
Vaya segera tersadar bahwa semakin keras ia menjerit, semakin lebar pula seringaian di wajah Vier.
Vaya mengatupkan bibirnya erat-erat, sebisa mungkin bertahan untuk tidak menjerit lagi.
Vier menjalankan ujung cambuknya menyusuri telapak kaki Vaya, menyusuri kulit kaki Vaya perlahan dengan gerakan yang sukses membuat Vaya menggelinjang tanpa suara.
Bulu kuduk di sekujur tubuh Vaya meremang, merasakan sensasi ujung cambuk yang menggoda semua syaraf di permukaan kulitnya.
"Katakan padaku! Bagian mana dari tubuhmu ini yang sudah disentuh oleh Yoran?!"
Suara Vier terdengar sedingin es dan penuh dengan kemarahan.
"A-aku tidak disentuh oleh Yoran," jawab Vaya dengan suaranya yang gemetaran.
__ADS_1
"Bohong!" hardik Vier.
Plak...!
Satu cambukan lagi kini naik ke paha Vaya.
Ugh, ahh! Tidak! Vaya menjerit tanpa suara.
Vaya menendang udara, rasa panas dan menggelitik saat Vier memainkan cambuk itu ke paha bagian dalam.
"Aku tidak berbohong, Vier!" kata Vaya.
Vaya sudah hampir menangis, tapi sekuat tenaga menahan tangisnya.
"Dasar pembohong! Pendusta!" geram Vier.
Vier membuka ikat pinggang berikut celana yang membungkus kakinya yang panjang. Ia segera mengungkung tubuh Vaya yang bergetar hebat.
Vier kembali memainkan cambuk dari rambut ekor kuda itu bergerilya menyusuri kulit Vaya yang tak tertutup gaun tidur.
Rasa geli yang tercipta dari sapuan cambuk ekor kuda itu segera merangsang indra peraba Vaya. Tubuh Vaya kembali menggelinjang.
Vier menindih tubuh Vaya yang menggelinjang di bawah kungkungannya.
"Vaya, kau berkencan dengan Yoran kan?" bisik Vier.
Vier segera menjilat telinga Vaya dan mengulum lembut daun telinga Vaya.
Oh tidak!
Gejolak dalam tubuh Vaya makin menjadi tatkala Vier menyapukan lidahnya menyusuri garis rahang Vaya.
Oh tidak! Vier!
Vier merobek gaun tidur bertali tipis yang dikenakan Vaya dengan giginya. Satu sentakan kuat membuat tubuh Vaya benar-benar polos tanpa sehelai benang yang menempel.
Vier bangkit dari menindih Vaya, kemudian ia kembali mengayunkan cambuknya.
Plak...!
"Ugh!" Vaya melenguh merasakan rasa panas di kulitnya.
"Vaya, apa kau sungguh berpikir bisa membodohiku?" tanya Vier.
Vier mengambil bibir Vaya, menyesap bibir bawah Vaya dengan keras lalu menyeruak masuk ke dalam mulut Vaya, mengobrak-abrik apa yang ada di dalam mulut Vaya tanpa ampun.
Satu kuncian yang begitu kuat mengunci lidah Vaya hingga Vaya hanya bisa menelan jeritannya.
"Vaya, ingat dua kesepakatan kita," bisik Vier.
Vaya menggigil ketakutan saat Vier membuka penutup yang masih melindungi benda pusakanya. Benda keramat yang keluar dari sarangnya itu sudah berdiri tegak dan menantang, siap untuk berperang di atas ranjang. Inilah alasan mengapa kekerasan dalam rumah tangga khususnya di atas ranjang sangatlah penting.
Vaya hanya menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi memelas, memohon pengampunan Vier.
"Vier, aku tidak berbohong padamu! Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Yoran!" ucap Vaya.
"Tidak ada hubungan tapi kalian bertemu diam-diam di belakangku!" sergah Vier.
Vier membuka kedua kaki Vaya, melebarkannya agar memberi akses yang lebih leluasa.
"Vier, sungguh! Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Yoran, kami hanya berteman," Vaya memelas.
"Teman apa yang sampai membeli penthouse seharga dua puluh miliar?!"
Kemarahan terpancar jelas dari sorot mata Vier.
"Vier, sungguh, aku tidak berbohong! Aku tidak tahu menahu penthouse itu," kata Vaya dengan suaranya yang tercekat.
Vier benar-benar marah karena Vaya masih saja berpura-pura tidak tahu menahu masalah penthouse itu.
Wanita ini pasti sudah menyerahkan tubuhnya makanya sampai Yoran memberinya penthouse, itulah yang ada di benak Vier.
__ADS_1
"Kau benar-benar wanita pembohong, Vaya! Kau bahkan berbohong dengan mengaku bahwa kau masih lajang!"
"Kau itu milikku, Vaya! Dan aku tidak berkenan membagi apa yang menjadi milikku secara pribadi kepada orang lain!" sergah Vier.
Vier kembali mencium Vaya dengan begitu buas.
Argh!
Vaya terperanjat saat merasakan sesuatu yang keras mendorong inti dirinya, membuat tubuhnya menegang tak karuan.
Vaya tak bisa menjerit, mulutnya terbungkam ciuman Vier.
Vaya merasakan air matanya mulai menggenang, rasa sakit yang teramat luar biasa itu tercipta akibat sebuah dorongan yang memaksa memasuki tubuhnya. Tubuh Vaya menegang makin menjadi bersama dengan erangaan Vier.
Dalam keheningan, Vaya bisa mendengar suara robekan yang membuat tubuh Vaya terhempas keras. Ada rasa panas yang meleleh turun dari miliknya yang saat ini sudah menyatu.
Vaya menutup matanya, merasakan tubuhnya terguncang keras karena dorongan dan hentakan keras milik Vier yang menghujamnya dengan keras tanpa ampun.
Ya, kesuciannya sudah direnggut oleh Vier secara sempurna.
Tidak ada yang bisa dinikmati oleh Vaya selain rasa sakit dan rasa takut yang makin intens setiap detiknya.
...*****...
Dua permintaan khusus dari Vier terngiang-ngiang dalam benak Vaya.
Pertama adalah menerima semua yang dilakukan oleh Vier tanpa boleh menolaknya.
Ya, Vaya menerima setiap cambukan yang dilakukan oleh Vier yang saat ini masih menungganginya, memacu dirinya untuk berkejaran menuju puncak kenikmatan. Terdengar jelas pria itu melenguuh dan mengeraang dengan mata yang beberapa saat terpejam setiap kali mengerahkan hentakan-hentakan keras yang membuat tubuh Vaya terguncang keras.
Yang kedua adalah tidak boleh ada air mata yang menetes.
Vaya terpaksa menghisap kembali air matanya yang nyaris terjun bebas setiap kali ia memejamkan matanya. Memaksa kembali air matanya untuk melawan gravitasi dengan cara menengadah menatap langit-langit.
Vaya berusaha untuk memenuhi dua permintaan khusus dari Vier. Semakin banyak Vaya melakukan aksi protes, hukuman dari Vier jelas akan makin menjadi-jadi.
Vaya harus menumbalkan dirinya, menjadi santapan untuk memuaskan birahi pria ini. Inilah konsekuensi yang harus diterima oleh Vaya.
Menyerahkan dirinya untuk melindungi apa yang harus ia lindungi.
Vaya merasakan tubuh Vier yang menegang dan mengejang di atas tubuhnya. Ada rasa hangat yang meleleh masuk ke dalam tubuhnya.
Vier sudah selesai mendapatkan puncak kenikmatan.
Mata Vier tertuju pada Vaya yang nampak terdiam dengan wajah menyamping, menatap lurus dengan pandangan kosong.
Vier turun dari tempat tidur, matanya tertumbuk pada noda darah yang merembes di atas seprai putih.
Vier tak berkomentar apa pun, ia membuka borgol pada kedua tangan Vaya.
"Kembalilah ke kamarmu," perintah Vier pada Vaya.
Vier segera menghilang ke balik salah satu tirai hitam yang mengelilingi ruangan itu.
Vaya beringsut turun dari tempat tidur, rasa nyeri dan ngilu langsung membuatnya terjatuh ke lantai.
Tangan Vaya mengambil kemeja Vier yang teronggok di lantai, menyampirkan ke tubuhnya yang polos.
Dengan tenaga yang masih tersisa, Vaya mencoba berdiri.
Sial, kaki yang bergetar hebat itu tak bisa digunakan untuk berjalan.
Vaya mencoba untuk mengesot ala-ala suster ngesot.
Perlahan-lahan menuju ke pintu dan membuka pintu.
Vaya berusaha berdiri meski kedua kakinya masih gemetaran. Ia berjalan tertatih-tatih sambil memegangi tembok.
Hiks.. Hiks..
Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Vaya, akhirnya terjun bebas tanpa bisa dibendungnya lagi.
__ADS_1
...*****...