Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
181 - Wanita Penyihir


__ADS_3

Vero menatap bosan ke arah Mike yang sedari tadi tak henti-hentinya berbincang di telepon. Pria yang sedari tadi hanya memberinya janji palsu.


"Sebentar kita ke Disneyland, tunggu sebentar ya, Vero."


"Maaf ya, Vero, saya jawab telepon dulu."


Begitulah yang terus diucapkan oleh Mike hingga Vero merasa lelah dengan janji-janji manis pria itu.


"Pak Mike, antar aku ke ibuku," pinta Vero.


"Vero, ibu dan ayahmu masih ada urusan, lebih baik kita ke Disneyland saja ya," sahut Mike.


Vero menggeleng cepat.


"Bawa aku ke ibuku!" pinta Vero dengan nada menuntut.


"Vero, tapi...," ucap Mike.


"Tidak ada tapi-tapian, Pak Mike!" potong Vero dengan cepat.


"Bawa aku ke ibuku! Atau aku akan mengadukanmu pada ibu dan ayahku! Akan kuberitahu bahwa Pak Mike hanya memberi janji palsu padaku!" ancam Vero.


Mike terkesiap dengan ancaman dari Vero. Rasanya sungguh aneh mendapat ancaman dari bocah yang saat ini masih duduk tenang di atas car seat.


"Vero, saya tidak memberi janji palsu, tapi...," ucapan Mike lagi-lagi terpotong karena gawai cerdasnya kembali bergetar.


Vero memicingkan matanya ke arah Mike, Mike menyeringai kecut.


"Tuh, kan!" cibir Vero.


"Maaf Vero," ucap Mike.


"Antar aku, Pak Mike!" kali ini nada bicara Vero lebih memerintah.


"Baiklah, akan saya antar," ujar Mike akhirnya mengalah.


...*****...


Begitulah, akhirnya Mike pun mengantar Vero ke rumah sakit. Namun saat tiba di pelataran, Mike masih tetap fokus berbincang di telepon.


Vero yang tidak sabar akhirnya membuka sabuk pengaman sendiri dan menyelinap keluar dari mobil, meninggalkan Mike.


Vero memasuki rumah sakit yang jelas begitu asing baginya. Tempat yang asing dengan banyak orang yang juga asing. Tubuh mereka semua tinggi menjulang dengan rambut pirang. Semua terlihat seperti bintang iklan kosmetik di televisi.


Vero terus melangkah mencari-cari di mana ibu dan ayahnya.


Sosok-sosok yang ditemui Vero mengajak Vero untuk berbicara. Bahasa yang tidak Vero mengerti dan gestur mereka jelas membuat Vero ketakutan. Terlebih Vero selalu mengingat perkataan ibunya, jangan pernah berbicara dengan orang asing.


"Ibu! Ibu!" seru Vero berlari ketakutan.

__ADS_1


...*****...


Mike berusaha untuk tetap tenang begitu keluar dari mobil yang dikendarainya. Ia merapikan kembali setelan jasnya sebelum benar-benar meninggalkan area parkir.


Pria itu menarik napas berkali-kali untuk meredakan dentaman jantungnya akibat Vero yang mendadak hilang dari pengawasannya.


Entah apa yang akan dilakukan Vier dan Vaya jika mereka sampai tahu bahwa Vero tiba-tiba saja menghilang. Bisa-bisa Vier mengikat dan menggantung Mike secara terbalik di puncak menara Eiffel.


Mike cepat-cepat menghalau imajinasi liar yang menyusup masuk di kepalanya.


Pusat informasi menjadi tempat pertama yang harus dituju oleh Mike guna mempermudah pencarian.


Vero tidak hilang, bocah itu hanya sekadar jalan-jalan karena bosan.


Mike meyakinkan dirinya seperti itu.


...*****...


Di lain pihak, Vaya mengerling ke arah Vier ketika langkah mereka terhenti di depan sebuah ruang perawatan.


Jantung Vaya berdegup begitu kencang, seketika perutnya melilit, dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.


Di balik pintu itu ada seseorang yang sesaat lagi akan ditemuinya. Masih segar dalam ingatan Vaya saat pertama kali ia bertemu dengan Selena.


Wanita itu memakai pakaian megah dan mewah yang seketika mencuri perhatian semua orang di acara reuni sekolah.


Vier mendorong pintu di hadapannya dan mempersilakan Vaya untuk memasuki ruangan tersebut.


Mata Vaya segera memindai ke dalam ruangan serba putih yang diterangi cahaya lembut sinar matahari musim gugur.


Wanita dengan rambut pirang panjang, berkulit putih pucat, serta wajah tirus yang seakan kehilangan gairah hidup. Duduk di tempat tidur sambil bersandar pada tumpukan bantal dalam balutan gaun putih gading. Wanita itu masih terlihat cantik meski tanpa mengenakan riasan apa pun.


"Selena," Vier menyapa wanita itu.


Selena langsung melayangkan pandangannya, tatapan tak bersahabat itu jelas membuat Vaya langsung merasa terintimidasi.


Vaya menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang tercekat seakan ada tangan tak terlihat yang sedang mencekik lehernya.


"Bagaimana kabarmu, Selena?" tanya Vier dengan nada lembut dan bersahabat.


Selena tidak menyahut, matanya masih tertuju pada Vaya. Tatapan penuh kebencian yang bercampur dengan keputusasaan.


"Selena," ucap Vaya.


Vaya melangkah maju mendekati Selena.


"Aku datang menemuimu karena kata Vier, kau ingin aku menemuimu."


Selena masih diam.

__ADS_1


"Vier, I want to talk to her," ucap Selena dingin.


Ucapan dingin Selena membuat ekspresi Vier menegang, Vier menoleh ke arah Vaya.


"Selena ingin bicara denganku, Vier," kata Vaya.


"Aku tidak keberatan mendengar kalian bicara."


Vier menggeleng pelan sebagai pertanda bahwa ia tidak ingin membiarkan keduanya bicara. Vier mencemaskan banyak kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika membiarkan dua orang wanita yang memiliki ego begitu tinggi.


"Vier."


Selena melotot sebal, Vier kembali menggeleng. Vier tidak mau ambil resiko saat kemungkinan-kemungkinan terburuk itu terjadi. Lebih baik mencegah daripada akhirnya justru menimbulkan masalah yang lebih besar.


"Vier, sungguh, aku tidak akan melakukan hal yang akan merugikan siapapun," ucap Vaya.


"Aku tidak akan membiarkan Selena sampai menyakiti dirinya lagi," lanjut Vaya.


Vier tertegun mendengar ucapan Vaya, namun Vaya yang begitu bersikeras pada akhirnya membuat Vier mengalah.


"Baiklah, baiklah, berjanjilah bahwa kalian tidak akan membuatku harus menanggung lebih banyak masalah lagi," tandas Vier.


Vier melangkah mundur, meninggalkan Vaya dan Selena berdua saja di ruangan itu.


Begitu pintu tertutup, Vaya menoleh sekilas ke arah pintu. Ia hanya memastikan bahwa Vier benar-benar meninggalkan mereka.


"Selena, bagaimana keadaanmu selama ini?" tanya Vaya.


"As you can see. Seperti yang bisa kau lihat. Terima kasih sudah mencemaskanku," jawab Selena.


Vaya merasa begitu canggung di depan Selena yang masih melemparkan tatapan sinisnya.


"Aku tidak akan berbasa-basi terlalu panjang," ucap Selena masih tetap dengan nada dingin.


"Apa kau benar-benar mencintai Vier?"


Vaya melemaskan otot-ototnya yang begitu tegang. Ia menekan buku-buku jarinya hingga berbunyi kretek-kretek. Menahan emosi itu memang sulit.


Wanita yang membuatnya harus hidup terpisah dari Vier di saat Vaya benar-benar sedang membutuhkan sosok suami yang harusnya mendampingi melalui masa-masa sulit selama hamil, melahirkan, hingga membesarkan Vero.


Tapi justru wanita ini yang memonopoli suaminya.


"Mengapa kau ingin tahu, Selena?" Vaya balik bertanya.


"Tentu saja aku ingin tahu, karena aku benar-benar sangat mencintai Vier," jawab Selena dengan nada provokatif.


Sial, dasar wanita penyihir! Batin Vaya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2