
Vaya masih menatap Vier yang saat ini melangkah lebih dulu begitu mereka selesai menemui Deri.
Vaya sungguh tidak menyangka bahwa Vier benar-benar sangat bijaksana dalam membuat solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara Vier dan Deri.
Vaya memandangi Vier yang masih berjalan di depannya. Langkah Vier yang mantap, tubuhnya yang tinggi dan tegap, sungguh bersaing dengan para polisi yang berseliweran di kantor polisi.
Vier menghentikan langkahnya, ia merasa bahwa Vaya tidak berjalan di sisinya. Ia menoleh ke arah Vaya yang nampak memerhatikan para polisi berbadan tegap yang berlalu lalang di sekitar mereka.
"Vaya!"
Vier langsung menarik tangan Vaya, merangkul erat bahu Vaya.
"Vi-Vier!"
Vaya terkejut karena tiba-tiba saja Vier langsung merangkul bahunya begitu erat.
"Berhenti jelalatan begitu! Apa matamu mau kucongkel dan kujadikan gantungan kunci?" geram Vier.
"Vi-Vier, apa sih?" Vaya terperangah dengan ancaman Vier.
"Kau itu, kenapa sih masih saja jelalatan melihat pria? Sudah ada aku yang begitu luar biasa di sampingmu, apa masih belum cukup?" rutuk Vier.
"Vier, kau ini bicara apa sih?" Vaya mencebik.
Vaya segera melanjutkan kembali langkahnya bersama Vier.
"Kok bicara apa? Jelas-jelas aku melihatmu memandangi para polisi itu," cibir Vier.
"Vier, aku bukannya memandangi mereka, aku hanya melihat bahwa ternyata kau dan para polisi itu memiliki proporsi tubuh yang bersaing," kata Vaya.
"Wah, wah, Vaya, apa maksudmu membandingkan proporsi tubuhku dengan para polisi itu? Sungguh lancang!" Vier mencubit cuping hidung Vaya.
"Aduh, Vier! Kau ini keterlaluan sekali! Kau bahkan sering membandingkanku mulai dari ikan buntal sampai sapi glonggongan!" gerutu Vaya.
Vier menyeringai mendengar gerutuan Vaya.
"Vaya, apa kau sungguh tidak tahu, seseorang itu tidak suka dibandingkan dengan orang lain? Makanya aku lebih memilih membandingkanmu dengan ikan buntal maupun sapi glonggongan! Haha!" Vier tertawa mengejek.
"Tapi ya, keterlaluan sekali kau membandingkanku dengan binatang-binatang itu," cibir Vaya.
"Haha," Vier tertawa lagi sambil menatap Vaya yang memasang ekspresi cemberut.
"Vaya, Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Manusia diberi akal pikiran yang digunakan untuk berpikir. Coba kau pikir baik-baik saat aku membandingkanmu dengan binatang-binatang itu. Mana yang lebih unggul, antara kau, ikan buntal, ataukah sapi glonggongan itu?" beber Vier panjang lebar.
Vaya memutar bola matanya.
"Ayo cepat jawab," desak Vier.
"Vier, aku tahu, aku lebih unggul dari semua binatang-binatang itu, tapi tetap saja, jahat sekali kau membandingkanku dengan binatang," cibir Vaya.
"Haha," Vier tertawa sambil mengacak rambut Vaya dengan gemas.
Vier melirik jam tangannya.
__ADS_1
"Vaya, aku rasa sekarang sudah waktunya untuk makan malam," ajak Vier.
"Ayo kita pergi makan malam dulu, sebelum kembali ke rumah sakit."
"Vier, tapi bagaimana dengan Tante Darti?" tanya Vaya.
"Kau tenang saja, serahkan semuanya pada Mike," sahut Vier.
...*****...
Vier membukakan pintu mobil untuk Vaya, setelah memastikan Vaya duduk dengan baik, Vier segera menuju ke kursi kemudi. Ia duduk, kemudian memasang sabuk pengaman.
Ia melirik sekilas ke arah Vaya yang nampak sudah membuang pandangan ke luar jendela.
"Vaya, kau mau makan apa?" tanya Vier.
"Hee? Apa?" Vaya balik bertanya.
"Kau mau makan apa?" Vier mengulangi pertanyaannya.
"Hmm," Vaya terlihat berpikir.
"Jangan menjawab terserah, sembarang, atau aku ikut saja! Tidak ada menu makanan seperti itu di restoran manapun!" celetuk Vier.
"Haha," Vaya tertawa.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Vier.
''Yah, habisnya kau berkata seperti itu pasti berdasarkan pengalaman pribadimu," sahut Vaya.
Huh! Dasar playboy! Batin Vaya.
Vier segera menginjak pedal gas, mengemudikan mobil mewahnya keluar dari pelataran parkir kantor polisi.
Vaya segera memandang ke luar jendela, bayangan Vier yang sedang fokus mengemudi terpantul di kaca.
Sungguh munafik jika Vaya mengabaikan visual Vier yang luar biasa tampan. Ketampanan Vier yang sungguh membuat otot-otot Vaya terasa tegang. Terlebih setelah semalam mereka melakukan aktivitas luar biasa panas yang membakar hingga ke tulang.
Vaya jadi bertanya-tanya dalam hati, seperti inikah yang dirasakan oleh semua gadis yang dulu menjadi kekasih Vier di masa sekolah?
Melihat para gadis yang dulu terlihat begitu bangga luar biasa saat masuk dan keluar dari mobil yang dikemudikan oleh Vier.
Di zaman ketika belum ada sosial media yang memviralkan betapa bangganya para gadis yang menjadi kekasih Vier. Dengan penuh kebanggaan menceritakan bahwa mereka dijemput dan diantar Vier ke sekolah.
Meski besoknya mereka tiba-tiba dicampakkan oleh Vier, namun tetap saja mereka sangat bangga pernah menjadi kekasih pria itu.
Vier melirik ke arah Vaya dengan sudut matanya, senyum merekah di sudut bibir Vaya.
"Apa yang kau tertawakan? Apa ada yang lucu?" tanya Vier.
"Hmm, tidak, Vier," jawab Vaya.
"Apa kau masih menertawakan Deri?" tanya Vier.
__ADS_1
"Tidak," jawab Vaya.
"Jadi apa?" desak Vier ingin tahu.
"Aku berpikir sepertinya ini pertama kalinya kau mengemudi untukku," sahut Vaya.
"Hmm, begitu ya," ucap Vier sambil melirik Vaya.
"Vier, apa kau tahu, seandainya sekarang adalah lima belas tahun yang lalu, aku rasa aku benar-benar akan merasa sangat bangga ketika berbagi cerita bahwa kau mengemudi untukku," kata Vaya.
"Hei, lihat, aku bahkan bukan pacar Vier, tapi Vier juga mengajakku berkendara dengan mobil sport-nya yang keren sekali! Haha," Vaya tertawa sambil bertepuk tangan heboh.
"Aku rasa aku akan mengatakannya di hadapan semua orang ketika upacara penaikan bendera setiap hari Senin. Kupikir momen yang pas adalah saat aku merampas mic dari kepala sekolah yang hendak memberikan wejangan membosankan," lanjut Vaya.
Vier menautkan alisnya saat mendengar ucapan Vaya.
"Haha!" Vier tertawa terbahak-bahak.
"Serius kau akan melakukan itu?" tanya Vier.
"Haha, Vier itu kan hanya seandainya saja," sahut Vaya.
"Vaya, kenapa dulu kita tidak berkencan saja ya? Sehingga aku bisa melihatmu benar-benar merampas mic yang dipakai oleh kepala sekolah! Haha," Vier tertawa.
"Vier, kalau aku melakukan itu, aku benar-benar akan diskors! Haha!" Vaya tertawa lagi.
Vier mengulas senyumnya.
"Jadi Vaya, apa kau sudah memutuskan untuk makan apa?" tanya Vier.
"Aku rasa, aku ingin makan di sebuah restoran yang ingin kukunjungi sejak dulu sekali," jawab Vaya.
...*****...
Vaya mengulas senyumnya begitu melangkah memasuki sebuah restoran seafood yang berada di pinggir laut.
Restoran seafood yang terkenal dan dikenal paling elit di kota ini. Seumur hidupnya Vaya tidak pernah makan di restoran ini mengingat bahwa ia tidak akan sanggup membayar tagihannya.
Riak air laut terdengar jelas berada di bawah lantai restoran yang berada di atas permukaan air. Hembusan angin laut menyapu lembut. Pencahayaan temaram dari lampu-lampu hias berbentuk bulat dan ditata sedemikian rupa, menjuntai di atas tiang-tiang penyangga. Area terbuka memang menjadi area favorit pengunjung.
Vaya dan Vier segera duduk di salah satu meja yang kosong. Pelayan segera mengantarkan buku menu untuk mereka.
"Silakan panggil saya jika sudah siap memesan," ucap pelayan itu ramah.
Vaya segera membuka buku menu yang menampilkan daftar menu tanpa harga.
"Vier, apa kau tahu, aku selalu deg-degan melihat daftar menu tanpa harga," kata Vaya.
"Haha, apa kau deg-degan karena jatuh cinta dengan daftar menunya?" ejek Vier.
"Haha, bukan begitu! Kalau uangku kurang untuk membayar, bisa-bisa aku harus mencuci semua piring kotor di restoran ini," sahut Vaya.
"Haha," Vier tertawa lagi.
__ADS_1
...*****...