
Suasana penuh ketegangan masih tercipta. Atmosfer yang menyesakkan itu benar-benar membuat Vaya merasa tubuhnya begitu lemah untuk menyaksikan betapa kacaunya keadaan mereka saat ini.
Beberapa preman sudah tersungkur di lantai lantaran mendapat luka tembak. Sebagian lagi masih melakukan pengeroyokan terhadap Mike dan Vier.
Vaya hanya bisa menangis, pandangannya kabur, lututnya gemetaran, hingga ia hanya bisa terduduk di lantai. Tangannya masih gemetaran sambil memegangi stun gun berbentuk bolpoin milik Vier yang ia gunakan sebagai senjata untuk melindungi dirinya.
Saat ini ia benar-benar berharap kekacauan ini segera berakhir.
Sementara itu, Aria hanya bisa menangis dalam diam, tubuh gadis itu menggigil lantaran menyaksikan perkelahian yang begitu brutal disertai dengan darah yang berceceran.
Aria sungguh menyesal, gara-gara mengikuti ajakan Deri, ia harus melihat adanya pertarungan yang benar-benar membuatnya ketakutan.
Seandainya saja ia tidak mengikuti ajakan Deri untuk pergi ke rumah sakit menemui ibu mereka, semua ini pasti tidak akan terjadi.
Tangis Aria benar-benar tak terbendung, terlebih saat melihat Pak Mike yang terluka dan berdarah-darah karena dikeroyok oleh para preman.
Di sisi lain, Deri si dalang penyebab kekacauan ini sedang terkunci. Deri tak bisa bergerak, tubuh tambunnya bergetar hebat melihat sebilah parang yang teracung di depan lehernya.
Deri sungguh tak menduga bahwa pria-pria ramping yang dihadapinya bukanlah pria kaleng-kaleng yang akan menangis memohon pengampunannya.
Para pria yang dipikirnya hanya pandai bersolek dan membuat wanita menangis karena dilukai oleh mereka.
Dua pria itu melakukan perlawanan sengit, membuat selusin preman yang dibayar Deri kewalahan.
"Sialan! Preman seperti kalian kenapa takut dengan ancaman cacing-cacing ini?!" Deri mengumpat.
"Deri! Diam!" hardik Vier.
Satu preman yang terbaring di lantai diam-diam merayap, mengambil balok kayu yang tergeletak tidak jauh darinya.
Preman itu bangkit dan langsung menghantamkan balok kayu ke punggung Vier.
"Ugh!" Vier terperanjat dan seketika terhuyung.
Deri memanfaatkan kesempatan itu untuk lolos dari kuncian Vier dan mencoba merebut parang di tangan Vier.
Vier tentu saja tidak selemah itu, ia tetap mempertahankan senjata tajam di tangannya.
Dor!
Dor!
Mike kembali melepaskan tembakan, membuat preman yang tadi menghantam Vier terhempas ke lantai bersimbah darah.
"Argh! Argh!" seru preman itu terkapar.
Mike kembali mengisi peluru pistolnya. Ia benar-benar muak dengan para preman yang sama sekali tidak bisa diajak bicara baik-baik.
Sungguh hanya peluru yang bisa membuat para preman itu bungkam.
Mike merasa situasi makin genting, jumlah peluru yang dimilikinya tentu sangat terbatas. Ia harus bisa menyelesaikan masalah ini sambil menunggu kedatangan polisi.
__ADS_1
"Ugh! Sialan! Berikan padaku!" Deri merebut parang dari tangan Vier.
Vier mengangkat parang di tangannya lebih tinggi, dengan satu gerakan yang begitu cepat, ia langsung memelintir tangan Deri dengan satu tangan.
"Argh!" Deri berteriak keras. "Argh! Lepaskan!" raung Deri meronta.
"Deri, diam atau kupatahkan tanganmu!" bentak Vier.
Deri menatap putus asa ke arah para preman yang mulai ketakutan lantaran sebagian dari mereka sudah terkapar, terluka akibat tembakan.
"Ugh! Kenapa kalian diam saja?! Cepat serang mereka! Mereka hanya berdua! Dasar bodoh!" raung Deri penuh kemarahan.
"Khukhu, maju saja, kalau kalian merasa punya nyawa lebih dari satu!" Vier menimpali.
"Kau pikir aku takut padamu?!" raung Deri kembali meronta.
"Oh, begitu kah, Deri?!" Vier memainkan parang itu ke wajah Deri.
"Iya, aku tidak takut padamu! Aku tidak takut padamu!" raung Deri.
Vier menggores wajah Deri dengan parang di tangannya.
"Uuughh! Uugghh!" kengerian menyelimuti Deri.
"Deri, hentikan semua ini, atau akan kukeluarkan isi perutmu!" ancam Vier.
"Haruskah kita mulai dari mengeluarkan tumpukan lemak jahat yang ada di dalam perutmu ini?" tanya Vier sambil mengelus perut buncit Deri.
Tubuh Deri bergetar hebat, Vier sungguh menjelma bak malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawa Deri sekaligus organ-organ tubuh Deri.
Brughh....
Tubuh Deri terjerembab di lantai, tak sadarkan diri.
Para preman bertampang sangar, bengis, berpenampilan gahar dan kini terluka hanya bisa menempel di lantai.
Sedangkan para preman yang mengalami luka ringan, berusaha untuk kabur. Mereka berlarian menuju pintu gudang. Menghambur keluar dari gudang dengan perasaan takut yang luar biasa.
"Huh! Dasar pengecut!" dengus Vier.
"Vier!" Vaya berlari menghampiri Vier.
Lutut Vaya masih bergetar hebat, merinding melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Vaya," kata Vier.
"Vier, apa Deri mati?" tanya Vaya.
"Tidak, Vaya, dia hanya pingsan. Sebentar juga bangun," sahut Vier dengan santainya.
Vaya menatap Vier yang terlihat masih mengurai senyum lembut.
__ADS_1
"Vier, apa kau baik-baik saja?" tanya Vaya sambil mengusap ludah Deri yang masih menempel di wajah Vier.
"Yang harusnya bertanya itu aku. Apa lehermu baik-baik saja?" tanya Vier.
Vier mengeluarkan selembar saputangan sutra dari saku jasnya, lalu mengusap lembut tangan Vaya yang terkena ludah Deri.
"Vier, aku benar-benar takut!" ucap Vaya dengan air mata yang kembali menggenangi matanya.
Tubuh Vaya gemetaran saking takutnya.
"Vaya, kau tenang saja, ada aku," ucap Vier.
Vier membuka kedua tangannya dan membuat Vaya langsung masuk ke pelukannya.
"Vier! Aku benar-benar takut! Aku benar-benar takut! Hiks!!" Vaya menangis sesenggukan dalam pelukan Vier.
Vier mengusap lembut kepala Vaya, membiarkan tangis Vaya pecah dalam pelukannya.
"Vaya, tenanglah. Tidak perlu ada yang kau takutkan, aku ada di sini," Vier mengecup puncak kepala Vaya berkali-kali sambil mengusap lembut punggung Vaya.
Aku takut, aku takut, Vier! Aku takut!
Sementara itu, Mike segera menghampiri Aria. Cepat-cepat Mike membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Aria. Kemudian ia juga membuka secara perlahan lakban hitam yang membungkam mulut Aria.
"Huweee!" Aria langsung menghambur memeluk Mike.
"Sst, Aria," desis Mike menenangkan Aria dalam pelukannya.
"Hiks! Hiks!"
Tangis Aria pecah dalam pelukan Mike.
"Aria, tenanglah, sekarang sudah aman," ucap Mike menenangkan Aria.
...*****...
"Aria!"
Vaya langsung berlari ke arah Aria, begitu Mike menurunkan Aria dari gendongannya.
Aria terlalu terkejut bahkan kehilangan kemampuan untuk berjalan, sehingga Mike menggendongnya.
"Kakak!"
Aria menangis kejer begitu Vaya memberinya pelukan.
"Kakak! Aku takut! Huwee!" teriak Aria histeris.
"Iya Aria, Kakak juga takut! Tapi sekarang tenanglah!" Vaya mengusap lembut punggung Aria.
Selagi Vaya menenangkan Aria, Vier mengurus Deri, membuka ikat pinggang Deri yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri lalu mengikat kedua tangan pria itu dengan ikat pinggang.
__ADS_1
Sementara itu Mike segera melakukan pemeriksaan kepada para preman yang sedang terluka. Memastikan bahwa para preman itu hanya mengalami luka yang tidak parah karena Mike tidak menembak titik-titik vital mereka.
...*****...