Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
152 - Kepanikan Mike


__ADS_3

"Mike, aku harus ke rumah sakit bersama Vaya. Tolong urus Selena," titah Vier pada Mike.


Mike yang sedari tadi menunggu di luar ruang kerja Vier mengangguk singkat.


Vaya benar-benar merasa tegang karena semua mata langsung mengikuti langkahnya ketika Vier merangkulnya di depan puluhan pasang mata yang berpapasan dengannya.


Para pegawai Vier jelas melemparkan pandangan bertanya-tanya, mengapa Vier terlihat begitu protektif kepada seorang wanita asing.


Sopir segera membukakan pintu mobil untuk Vier dan juga Vaya.


...*****...


"Kalau luka di wajahmu sampai berbekas, aku benar-benar harus membuat perhitungan dengan Selena!" tukas Vier sambil tak henti-hentinya memandangi Vaya yang saat ini sedang mendapatkan tindakan medis dari perawat.


Perawat segera mengobati luka bekas cakaran di wajah Vaya. Luka yang cukup dalam itu jelas akan meninggalkan bekas yang tidak akan mudah hilang jika tidak diberikan perawatan yang sesuai.


"Vier, jangan bicara yang aneh-aneh," sahut Vaya.


"Aku tidak bicara yang aneh-aneh! Aku hanya ingin dia merasakan apa yang kau rasakan!" geram Vier dengan rasa kesal yang tak dapat ditutupinya.


"Vier, aku kau benar-benar sanggup melakukannya kepada mantan tunangan yang begitu kau cintai?" tanya Vaya sembari menggoda Vier.


Vier mendelik gusar melihat Vaya yang menyeringai mengejek Vier.


"Vaya, aku sungguh tidak peduli! Bagiku, salah adalah salah! Orang yang bersalah harus mendapat hukuman sebagai akibat dari perbuatannya!"


Vaya memicingkan matanya melihat Vier yang terlihat memasang ekspresi kesal. Yang pasti saat ini Vaya jelas meragukan ucapan Vier mengenai hukuman yang akan diberikan oleh pria itu terhadap mantan tunangannya. Mengingat bahwa Vier begitu mencintai Selena, apa Vier sungguh sanggup memberi hukuman untuk Selena?


"Selesai," kata perawat itu pada akhirnya.


"Terima kasih," kata Vaya.


Perawat itu pun segera keluar dari ruang VIP tempat Vaya dirawat. Meski bagi Vaya luka cakar yang disebabkan oleh Selena bukanlah luka yang parah, tapi tetap saja Vier meminta pihak rumah sakit menyiapkan ruang VIP untuk Vaya.


"Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu, Vaya?" tanya Vier keheranan.


Vaya masih menatap skeptis ke arah Vier karena saat ini dalam benaknya masih menebak-nebak hukuman apa yang akan diberikan oleh Vier untuk Selena.


"Hmm, ya, ngomong-ngomong soal hukuman, aku jadi kepikiran. Apakah kau akan memberikan hukuman yang sama untuk Selena, seperti saat kau memberiku hukuman?" cibir Vaya dengan ekspresi mencemooh.


"Maksudnya?" Vier mengerutkan alisnya.


"Yaa, maksudku, apa kau akan memborgol kedua tangan Selena, lalu mencambuki Selena, dan kemudian menidurinya?!" tanya Vaya dengan mata melotot lebar dan bibir yang semakin maju sekian senti.


Vier melangkah mendekati Vaya. Vaya terdesak di atas tempat tidur saat Vier mencondongkan tubuhnya ke arah Vaya.

__ADS_1


"Vaya, apa kau sungguh melihatku seperti seorang pria yang akan dengan mudah meniduri setiap wanita yang kutemui?" tanya Vier.


Vaya menyeringai, masih melemparkan tatapan skeptisnya.


"Eheemm, yaa, bukannya memang terlihat begitu ya?" cibir Vaya.


Vier memasang ekspresi mencemooh sebagai pertanda bahwa ia tidak menyukai cibiran Vaya. Vier mengambil dagu Vaya.


"Vaya, aku hanya meniduri wanita yang menjadi milikku sepenuhnya dan seutuhnya," ucap Vier sambil menatap Vaya lekat-lekat.


Vaya mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk tidak percaya pada ucapan Vier.


"Kau sungguh tidak percaya padaku?" tanya Vier.


"Memangnya kau punya bukti yang bisa kau tunjukkan padaku?" Vaya balik bertanya.


Vier menyeringai mendengar provokasi Vaya. Ia pun segera mengambil bibir Vaya. Vaya segera mengalungkan kedua tangannya ke leher Vier, menyambut ciuman pria itu.


"Vaya, aku sungguh minta maaf padamu, gara-gara Selena, kau jadi terluka seperti ini," kata Vier usai melepaskan bibir Vaya.


Vaya menatap Vier yang terlihat bersungguh-sungguh dalam meminta maaf.


"Vier, aku sungguh paham mengapa Selena begitu marah padaku. Aku merebutmu dari Selena. Jika aku berada di posisi Selena, aku pasti juga akan semarah itu kepada wanita lain yang berusaha merebutmu dariku," ujar Vaya.


"Aku rasa, aku benar-benar akan lebih brutal dari sekadar menjambak dan mencakar wajah wanita itu," lanjut Vaya.


Matanya tak putus memandangi wajah Vaya yang memasang ekspresi kesal.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan pada wanita itu?" tanya Vier ingin tahu.


"Aku rasa aku akan memborgol kedua tangannya, lalu mengikat dan menggantungnya secara terbalik di alun-alun kota. Tapi sebelum itu, kupastikan bahwa aku sudah merendam tubuhnya dengan jus cabai rawit!" sahut Vaya antusias.


"Haha!" Vier tertawa lagi.


"Kenapa kau tertawa seperti itu, Vier? Apa kau sungguh ingin aku merendam tubuhmu dengan jus cabai rawit juga?" tanya Vaya.


Vier mengusap lembut rambut Vaya.


"Vaya, bagaimana kau bisa memiliki pikiran yang begitu 'panas'?" tanya Vier sambil menyeringai.


"Aku rasa karena kau begitu 'panas', Vier," sahut Vaya.


Vier mengulas senyumnya kemudian bibir mereka kembali saling terbenam dalam kelembutan dan juga gairah yang membakar.


"Ehemm..."

__ADS_1


Seseorang berdehem dan langsung membuat Vaya dan Vier menoleh ke arah sumber suara. Vaya cepat-cepat mendorong tubuh Vier begitu melihat Dokter Reno berjalan menghampiri mereka.


"Masih mau dilanjutkan?" tanya Dokter Reno.


Vaya dan Vier langsung terlihat begitu salah tingkah karena tertangkap basah seperti ini.


"Haha, Dokter," Vier menyeringai kecut.


"Dokter, maaf," ucap Vaya sambil meringis malu-malu.


Dokter Reno hanya bisa melemparkan senyum simpulnya.


...*****...


Sementara itu, Mike yang baru saja hendak meninggalkan pintu depan apartemen tempat tinggal Selena merasa ragu.


Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, Selena hanya bisa menangis sesenggukan.


Sebenarnya Mike sendiri kurang terlalu mengenali Selena. Selena dan Vier menjalani hubungan jarak jauh selama dua tahun. Seingat Mike, keduanya hanya bertemu untuk makan malam bersama. Itu pun hanya jika Vier memiliki waktu luang di tengah kesibukannya.


Mike merasa was-was karena melihat kondisi kejiwaan Selena yang nampaknya berbahaya. Melihat wanita itu sampai melukai dirinya di depan mata Mike jelas membuat Mike jadi cemas.


Itu di depan Vier dan Mike saja, Selena nekat melukai dirinya, apalagi tanpa ada orang yang mengawasinya.


Mike menekan panel digital pada pintu apartemen Selena. Kebetulan ia melihat saat Selena memasukkan sandi sebelum membuka pintu dan mengingatnya dengan jelas.


Mike segera memasuki apartemen tersebut, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang nampak kosong seakan tak berpenghuni.


Mengingat bahwa apartemen ini sepertinya merupakan fasilitas yang diberikan oleh Bu Cintami selama Selena berada di kota ini.


"Miss Selena," panggil Mike.


Hening, tak ada jawaban.


"Miss Selena. I am sorry for bothering you. Maaf mengganggu Anda," panggil Mike.


Hening, masih belum ada jawaban.


Brugh...


Terdengar suara nyaring yang memecah keheningan. Mike mencari sumber suara yang berasal dari sebuah kamar yang pintunya terbuka.


"Nona Selena!"


Mike berseru begitu melihat Selena yang terkapar di atas lantai. Tubuhnya mengejang dengan mulut mengeluarkan busa putih.

__ADS_1


...*****...


 


__ADS_2