Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
136 - Ojek Daring


__ADS_3

"Mbak Vaya! Mbak Vaya!"


Evi mencoba memanggil-manggil Vaya yang terlihat melamun sepanjang hari. Evi benar-benar sungguh cemas dengan rekan kerjanya yang akhir-akhir ini sungguh tidak seperti Vaya yang dikenalnya.


Evi sebenarnya bukan tipe orang yang kepo dengan urusan orang lain. Hanya saja, ia merasa cemas karena Vaya terus-terusan seperti itu.


"Mbak Vaya!" Evi menepuk lengan Vaya.


"Eh, Evi!" Vaya terlonjak kaget.


"Mbak Vaya kenapa sih? Kok sepertinya akhir-akhir ini benar-benar selalu gagal fokus?" tanya Evi.


"Hehe, tidak Evi, aku tidak apa-apa," sahut Vaya sambil meringis.


Evi menghela napas berat.


"Mbak, jujur deh, ada masalah apa sih?" tanya Evi sedikit mendesak.


"Tidak ada apa-apa, Evi," sahut Vaya berbohong.


"Mbak, apa Mbak tahu, akhir-akhir ini sepertinya kinerja Mbak Vaya menurun sekali? Pak Andre sampai sharing padaku lho," kata Evi.


"Mbak Vaya sungguh seperti orang yang hilang fokus dalam bekerja," lanjut Evi.


Vaya merasa tenggorokannya yang begitu kering. Ia tentu tidak bisa menceritakan masalah yang saat ini tengah dihadapinya kepada siapa pun. Masalah pribadi yang saat ini tengah dihadapinya jelas menyita hampir seluruh waktu, dan segenap pikirannya.


Belum lagi ditambah dengan masalah pekerjaan yang mana Vaya harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan posisi bagus di perusahaan akibat kehilangan tugas khusus yang diberikan oleh Madame.


Kring.. Telepon di meja kerja Vaya berbunyi.


"Sore, Vaya," Vaya menjawab telepon di meja kerjanya.


"Bu Vaya, ojek daring Anda sudah menunggu," ujar resepsionis yang menghubungi Vaya.


"Eh? Ojek daring?" tanya Vaya keheranan.


"Iya Bu, info sekuriti begitu."


Otak Vaya berpikir cepat, ia melirik jam di monitor komputernya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


Ojek daring? Siapa yang pesan ojek daring? Batin Vaya bertanya-tanya.


Resepsionis menutup teleponnya, sementara Vaya bingung. Ia membuka gawai cerdas dan memeriksa aplikasi ojek daring. Jangan-jangan ketika Vaya sedang melamun, tangannya yang usil tanpa sadar mengutak-atik aplikasi tersebut tanpa disadarinya.


Tiba-tiba Vaya teringat, jangan-jangan Vier mengutus polisi yang menyamar menjadi tukang ojek untuk menjemput Vaya.


Vaya cepat-cepat menyambar tasnya dan bersiap untuk pulang.


"Evi, aku duluan ya," Vaya berpamitan.


"Ya, Mbak," Evi menyahut dengan penuh keheranan.

__ADS_1


"Mbak Vaya kenapa sih selalu dan selalu kabur seperti itu?" gumam Evi.


"Seperti ada yang disembunyikan saja."


Vaya bergegas menuju ke area pelataran, jantungnya bergemuruh sambil melambaikan tangan ke orang-orang yang menyapanya saat ia melintasi lobi.


Mata Vaya langsung tertuju pada sosok pria berjaket hijau yang sedang menunggu sambil duduk di atas sebuah sepeda motor.


"Permisi, Pak, maaf," Vaya mencoba menyapa pria itu.


Pria itu menoleh ke arah Vaya, wajah pria itu tertutup oleh helm jenis full face.


"Maaf Pak, saya tidak ada memesan ojek daring," kata Vaya.


Pria itu membuka kaca helmnya dan langsung membuat Vaya menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Vi-Vier!" Vaya terperanjat.


Vier membuka jok sepeda motor dan menyerahkan sebuah helm ke arah Vaya.


"Pakai," perintah Vier.


"Vi-Vier, kok bisa?!" Vaya terperangah.


"Pakai!" perintah Vier.


Vaya mengambil helm yang disodorkan oleh Vier. Vaya memakai helm tersebut sambil bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Vier sampai datang dan menjemputnya seperti ini?


"Naik," perintah Vier yang sudah menunggangi sepeda motor berjenis matic tersebut.


"Naik!"


Vaya mendelik gusar dan segera duduk di belakang Vier dengan posisi menyamping.


"Pegangan yang erat," perintah Vier lagi.


Vaya segera berpegangan erat pada jaket yang dikenakan Vier.


Setelah itu, Vier pun segera mengemudikan sepeda motor meninggalkan pelataran kantor Vaya. Vaya mempererat satu tangannya yang melingkari pinggang Vier.


Vier mengulas senyumnya dan memacu sepeda motor untuk menembus keramaian jalan.


...*****...


Setelah beberapa saat berkendara, tibalah mereka di area parkir sebuah pusat perbelanjaan.


Vaya segera turun dari sepeda motor, membuka helm sambil merapikan kembali rambutnya.


"Vier, apa sekarang kau bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba kau menjemputku seperti ini?" tanya Vaya.


Menjemput Vaya dengan mengenakan atribut ojek daring tentu saja membuat Vaya luar biasa keheranan.

__ADS_1


Vier membuka jok sepeda motor, dari dalam bagasi mengeluarkan dua buah jaket bertudung dengan warna merah muda lembut yang sukses membuat Vaya melongo.


"Pakai," kata Vier menyodorkan jaket tersebut pada Vaya.


"Vier, ada apa sih?"


"Vaya, sudah pakai saja, jangan banyak bertanya," sahut Vier sambil menyeringai.


Vier segera membuka jaket atribut ojek daring dan menggantinya dengan jaket bertudung tersebut.


"Vier, bisakah kau jelaskan padaku terlebih dahulu sebelum kau memberiku perintah? Aku benar-benar tidak mengerti, Vier," kata Vaya.


"Vaya, aku tidak akan menjelaskan padamu secara panjang lebar," sahut Vier sambil mengurai senyum misteriusnya.


"Malam ini, mari kita berkencan seperti pasangan biasa pada umumnya," lanjut Vier.


"A-apa? Kencan seperti pasangan pada umumnya?" Vaya melongo.


Vier mengangguk cepat.


"Ya, seperti orang biasa pada umumnya," sahut Vier lagi.


"Seperti orang biasa pada umumnya?!" Vaya melotot lebar.


Vier kembali mengangguk.


"Haha! Vier, kenapa kau sampai memiliki pikiran seperti itu?" tanya Vaya.


"Vaya, pakai dulu jaketmu," Vier menyela.


"Vier, kenapa aku harus memakai jaket yang sama sepertimu? Bukankah ini terlihat menggelikan?" tanya Vaya.


"Vaya, apa kau sungguh tidak mengerti apa yang kukatakan padamu? Kita akan berkencan seperti orang biasa pada umumnya! Jadi kita harus berpenampilan seperti pasangan biasa pada umumnya!" sahut Vier.


Vaya sungguh tidak mengerti apa yang saat ini ada dalam pikiran Vier. Namun memakai jaket bertudung dengan warna merah muda jelas akan membuat mereka tidak akan nampak seperti pasangan biasa pada umumnya.


"Rambutmu berantakan," Vier mengusap rambut Vaya yang berantakan usai memakai jaket bertudung tanpa ritsleting itu.


"Vier, aku rasa memakai jaket kembar seperti ini tidak akan membuat kita terlihat seperti pasangan pada umumnya! Kita bisa dilihat seperti pasangan alien dari luar angkasa lho," keluh Vaya.


"Vaya, ini adalah fashion couple! Kata Mike, pasangan biasa pada umumnya akan berkencan dengan memakai atribut yang sama! Supaya semua orang tahu bahwa mereka sedang berkencan seperti pasangan pada umumnya!" jawab Vier antusias.


"A-apa?! Kata Mike? Tunggu, itu zaman kapan ya?!" Vaya terperangah.


"Vaya, sudahlah, tidak usah terlalu banyak protes! Memangnya kau tahu seperti apa kencan orang biasa pada umumnya?" tanya Vier.


"Kau bahkan tidak pernah berkencan dengan pria mana pun karena kau selalu ditolak kan?! Haha," Vier tertawa mengejek Vaya.


Vaya mendelik gusar, entah mengapa rasanya ia sudah terlalu kebal untuk membalas ejekan-ejekan Vier.


Vier segera mengambil tangan Vaya dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Vaya, bukankah kau bilang kalau latar belakang kehidupan kita begitu berbeda? Hari ini akan kutunjukkan padamu, bahwa kita bisa seperti berasal dari latar belakang yang sama, kita bisa berada di level yang sama," ucap Vier.


...*****...


__ADS_2