Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
036 - Makan Siang


__ADS_3

"Hari ini kita akan makan siang di luar untuk merayakan ulang tahun Pak Andre. Jadi, sebelum jam dua belas siang kita sudah harus meninggalkan kantor!"


Lamia mendadak berubah macam pengingat yang berkeliling ke setiap ruangan untuk menyampaikan kabar gembira pada semua orang.


"Mbak Vaya, untuk apa Lamia sampai repot-repot menjadi pengingat berjalan, padahal sudah ada grup chat? Aku rasa cukup kirim di grup saja agar lebih efisien."


Evi mencibir begitu Lamia pergi meninggalkan ruang kerja mereka.


"Evi, mungkin bagi Lamia, siapa tahu tidak semua orang sempat membaca grup chat, sehingga dia merasa perlu menyampaikan secara langsung," tebak Vaya.


"Halah, bilang saja kalau Lamia itu cuma cari muka saja sama Pak Andre!" cibir Evi lagi.


"Haha, Evi, sudah, tidak boleh julid begitu," kata Vaya.


"Hihi, habisnya kesal sih, Mbak," sungut Evi. "Oh ya Mbak, ngomong-ngomong kalau kita makan di luar, memangnya Mbak bisa makan? Bukannya Mbak sedang diet?"


"Haha, sekali-kali cheat boleh saja kan?" Vaya tertawa.


"Oh ya, kenapa Mbak Vaya pakai diet segala? Padahal Mbak Vaya tidak nampak seperti orang yang perlu diet," tanya Evi.


"Haha, aku tidak diet, Evi, hanya mencoba mengubah pola makan agar lebih sehat saja," sahut Vaya melontarkan kebohongannya.


Vaya jelas harus menutupi semuanya dengan kebohongan. Evi dan semua orang tidak perlu tahu bahwa ia diet karena kerap menjadi bahan perundungan Vier yang menyebutnya macam ikan buntal.


"Aih, yang benar, Mbak? Jangan-jangan Mbak ada naksir seseorang ya? Apa jangan-jangan Mbak diam-diam punya pacar ya?" tanya Evi.


"Evi, aku tidak punya pacar, hehe," sahut Vaya terkekeh.


"Aih, masa sih, Mbak? Mbak akhir-akhir ini pulang kerja sering tepat waktu, sudah jarang sekali lembur," kata Evi penuh selidik.


"Haha, ya ampun, Evi, kok kamu punya pikiran seperti itu? Aku bukannya sudah jarang lembur, aku mengurangi kerja lembur karena merasa lelah saja," sahut Vaya.


"Ah, masa sih, Mbak? Kok sepertinya aku ragu ya? Habisnya aku pikir Mbak Vaya pulang cepat karena mau pergi kencan dengan pacar, Mbak," cerocos Evi.


"Haha, kencan apanya? Pacar saja aku tidak punya, haha," Vaya kembali tertawa.


Lagi-lagi Vaya melontarkan kebohongan. Memang ya, jika sudah berbohong satu kali, maka selanjutnya akan muncul kebohongan baru untuk melanjutkan kebohongan sebelumnya.


Vaya jelas tidak bisa mengatakan bahwa akhir-akhir ini kerap pulang tepat waktu karena harus menyiapkan masakan yang bisa memenuhi ekspektasi Vier. Selama belum bisa menemukan keberadaan Selena, yang bisa dilakukan oleh Vaya hanyalah bertahan.


Hingga kini pencarian Vaya terhadap Selena masih belum membuahkan hasil, mengingat banyaknya orang bernama Selena di muka bumi ini.


...*****...


Vaya dan rombongan sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Mereka semua menuju ke restoran yang menyediakan aneka hidangan Tiongkok.


Lamia menjadi orang yang paling antusias, tidak, dia benar-benar luar biasa antusias. Lamia menempel di sisi Pak Andre dengan sangat ketat.


"Pak Andre, kita duduk di meja ini saja!"


Lamia menunjuk meja bundar yang di bagian tengahnya bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat. 


"'Ayo sini gabung, kenapa duduknya pada jauhan begitu?" tanya Pak Andre memanggil teman-teman yang lain.


"Di sini saja, Pak," sahut mereka serempak.


Pegawai lain merasa sungkan untuk duduk bersama manajer.


Vaya masih celingukan mencari meja yang kosong.


"Bu Vaya, duduk di sini masih kosong," ajak Pak Andre.


"Terima kasih, Pak," sahut Vaya.


Lamia melotot hingga bola matanya nyaris lepas. Mery dan Nola saling bersikutan melihat Lamia yang tidak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya.


Niat hati Lamia ingin memonopoli Pak Andre, apa daya tiba-tiba Vaya hadir di antara mereka. Lamia jadi berpikir, apa yang harus ia lakukan agar Vaya tergusur dari meja mereka.


Pelayan segera datang mengantarkan minuman dan makanan yang sudah dipesan terlebih dahulu saat melakukan pemesanan tempat.


Vaya meneguk ludahnya menatap menu yang tersaji di depan mata. Mulai dari cumi goreng tepung, udang telur asin, ayam goreng wangi, ikan fillet asam manis, hingga sapo tahu.


Rasanya ia ingin memakan semua itu dengan semangkuk nasi putih hangat. Hanya saja ia jadi was-was, bagaimana jika nanti timbangannya naik mendadak?

__ADS_1


Ah sebodoh amat dengan timbangan! Makanan enak yang memanjakan lidah dan perut jauh lebih nikmat daripada setiap hari hanya minum jus sayur dan salad.


"Permisi ya, saya mau cuci tangan dulu," Vaya berpamitan.


Melihat Vaya yang menuju ke wastafel, Lamia segera mengambil saus tomat, lalu menumpahkannya diam-diam di kursi tempat Vaya duduk.


Vaya yang sudah mencuci tangan, segera duduk kembali di kursinya. Ia pun segera menyantap makan siang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Chinese food memang tak pernah gagal memanjakan lidahnya.


Vaya segera menghentikan kegiatan makannya begitu nasi dalam mangkuknya telah habis. 


"Bu Vaya, sudah selesai makannya? Mau tambah nasi lagi, Bu?" tanya Pak Andre.


"Tidak, Pak, sudah cukup," Vaya menyeringai kikuk.


Ih, kesal, kenapa cuma Bu Vaya yang diperhatikan sih?! Rutuk Lamia dalam hati.


Vaya beranjak dari tempat duduknya untuk mencuci tangan kemudian ia pun segera kembali.


"Vaya, kau datang bulan ya?" tanya Mery.


"Hee?" tanya Vaya keheranan.


"Itu rokmu," tunjuk Mery.


Vaya terperanjat melihat noda merah di rok spannya yang berwarna krem. 


Waduh!


"Aku ke toilet dulu," Vaya pun cepat-cepat berpamitan.


Ia menutupi belakang roknya dengan tasnya, buru-buru mencari toilet terdekat.


"Duh, serius aku datang bulan?" gumam Vaya.


Vaya memasuki toilet yang ramai dengan pengunjung. Menunggu antrian pada bilik yang masih digunakan.


Hingga akhirnya gilirannya pun tiba, ia segera mengunci pintu bilik dan memeriksa apakah ia sedang datang bulan. Ia bahkan memutar posisi roknya.


Vaya memerhatikan benar-benar noda merah pada roknya, ia juga mengendus aroma merah tersebut.


"'Saus tomat?!" Vaya terperangah.


"'Huh, siapa yang iseng begini sih?!" rutuk Vaya sambil mencoba membersihkan noda tersebut.


"Huhh! Benar-benar ya!" Vaya mendengus kesal.


Huuh! Vaya mendengus begitu keluar dari bilik.


Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. 


Noda saus tomat belum juga memudar, rok Vaya sudah mulai basah, membuatnya nampak seperti orang ngompol.


Vaya menghela napas berat, ia mengeluarkan pouch make up. Wajahnya jadi terlihat pucat karena lipstiknya telah memudar.


"Yah, lipstikku ternyata habis," keluh Vaya.


Vaya merogoh pouch make up dan mengambil lipstik pemberian Lamia.


"Ya Tuhan, warna lipstik ini sungguh mengerikan, tapi lebih mengerikan lagi wajah pucatku."


Vaya mulai memulaskan lipstik dengan tekstur basah itu ke bibir.


Dering ponsel membuat Vaya menjawab teleponnya.


"Halo," jawab Vaya.


"Mbak Vaya di mana? Kita sudah mau kembali ke kantor nih," kata Evi.


"Evi, tapi aku masih di toilet," kata Vaya.


"Oh ya sudah, saya tunggu ya, Mbak, soalnya teman-teman yang lain sudah kembali ke kantor," ucap Evi.


"Iya, oke, sebentar ya," kata Vaya sebelum menutup telepon.

__ADS_1


Lamia melihat Evi yang nampak masih menunggu.


"Lho, Evi, kau tidak kembali ke kantor?" tanya Lamia.


"Aku masih menunggu Mbak Vaya," jawab Evi.


"Oh ya, Evi, tadi kudengar katanya Madame mencarimu," kata Lamia.


"Hah? Madame mencariku?" tanya Evi.


"Iya, aku juga dicari Madame," Mery menimpali.


"'Kalian pulang saja lebih dulu, ikut rombongannya Faisal," usul Nola.


"Tapi, Mbak Vaya masih di toilet," kata Evi.


"Evi, nanti Mbak Vaya bisa ikut rombongan kita," kata Nola.


"'Oh begitu, baiklah," sahut Evi.


"Yuk, kita pergi, Evi," ajak Mery.


Evi dan Mery bergegas pergi lebih dulu.


"Ayo kita pergi, Nola," ajak Lamia.


"Lho, Vaya bagaimana, Lamia?" tanya Nola.


"Nola, Bu Vaya punya dua kaki, bisa pulang sendiri," jawab Lamia.


Lamia dan Nola segera bergabung dengan rombongan yang menumpang mobil Pak Andre.


"Sudah lengkap semua kan?" tanya Pak Andre.


"Sudah, Pak, ayo kita kembali ke kantor, saya sudah dipanggil Madame, eh, maksud saya, Ibu Jehan," jawab Lamia.


...*****...


Di lain tempat, tepatnya di ruang kerja Vier, ia hanya memutar-mutar spaghetti dengan garpunya.


"Ada apa, Pak? Anda tidak berselera dengan menunya?" tanya Mike.


"Hmm, ya," sahut Vier tanpa semangat.


"Anda mau makan siang apa?" tanya Mike. "Saya akan menyiapkannya lagi."


Vier menghela napas berat.


"Mike, apa Vaya sudah makan siang ya?" tanya Vier.


"Mengapa Anda bertanya seperti itu, Pak?" tanya Mike.


"Ya, karena aku ingin tahu, dia sudah makan apa belum," sahut Vier.


Vier menengok arlojinya.


"Cih, sial! Aku jadi ingin cepat pulang dan menyuruhnya memasak untukku!"


"Mike, ayo kita pulang sekarang ya?!" Vier memohon kepada Mike.


"Tidak, Pak! Ini belum waktunya Anda pulang!" tolak Mike.


"Mike! Aku mau pulang!" rengek Vier.


"Ya, Anda boleh pulang, jika pekerjaan anda sudah selesai!" sahut Mike dengan tegas.


Vier mendengus kesal ke arah Mike.


"Nah, sekarang habiskan makan siang Anda, agar bisa kembali bekerja, lalu Anda bisa pulang," kata Mike.


Ugh! Aku ingin memakan masakan Vaya lagi! Batin Vier.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2