
"Pak Mike, bagaimana keadaan Anda?"
Vaya mengamati Mike yang saat ini berbaring di ruang VIP yang letaknya bersebelahan dengan ruang tempat Vier dirawat.
Mike terpaksa menarik senyumnya, sebuah senyum getir untuk menutupi rasa kesal namun tak berdaya di depan pasangan yang sungguh bertindak sesuka hati dengan menjadikan ruang VIP rumah sakit sebagai kamar hotel.
Semalam Mike tak sengaja mendengar dua orang di hadapannya ini saling memuaskan birahi di kamar sebelah. Dan itu sungguh membuat Mike jadi merasa resah dan gelisah sepanjang malam.
Sungguh keterlaluan, tapi apa yang bisa dilakukan oleh Mike kecuali menerima semuanya dengan lapang dada.
"Bu Vaya, terima kasih sudah mencemaskan saya. Saya baik-baik saja," jawab Mike.
"Pak Mike, tangan kanan Anda bahkan di gips, bagaimana Anda bisa bilang tidak apa-apa?" Vaya terperangah.
"Vaya, tangan Mike hanya mengalami retakan ringan, tidak benar-benar patah," Vier menimpali.
"Vier, tapi tetap saja aku jadi merasa makin bersalah. Pak Mike terluka, dan akhirnya tidak bisa bekerja!" keluh Vaya.
Tok... Tok...
Vaya menoleh saat mendengar ketukan pintu. Bu Asih, Rian, dan Aria muncul di ambang pintu.
"Ibu, Rian, Aria, ayo masuk."
Vaya mengajak keluarganya untuk masuk. Mereka sengaja datang ke rumah sakit untuk menjenguk Vier dan Mike.
Aria, gadis itu dengan mata berkaca-kaca menatap Mike dengan tangan kanan di-gips. Ia berjalan mengikuti Bu Asih dan Rian yang menghampiri Mike.
Bu Asih menatap Vier dan Mike bergantian.
"Saya benar-benar minta maaf kepada kalian. Musibah ini terjadi karena saya," kata Bu Asih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu mertua, tolong jangan berpikir seperti itu. Sejujurnya setelah saya pikirkan dengan baik, masalah ini timbul justru karena adanya perseteruan yang terjadi antara saya dan Pak Deri," kata Vier.
"Saya sungguh tidak menyangka bahwa Pak Deri akan bersikap kurang profesional dan juga bertindak senekat itu," lanjut Vier.
Vier menatap Bu Asih yang masih merasa bersalah sambil merangkul Vaya dan Aria.
"Bu Asih, apa yang dikatakan Pak Vier adalah benar. Yang terpenting saat ini Bu Vaya dan juga Aria dalam keadaan baik-baik saja," Mike menimpali.
"Kalian berdua, saya sungguh tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kalian. Saya sungguh bersyukur kalian bersedia melindungi keluarga saya," Bu Asih tak kuasa menahan air matanya yang hendak tumpah.
Vier mengambil tangan Bu Asih, menggenggamnya dengan penuh kesungguhan.
"Ibu mertua, melindungi Vaya sudah menjadi tugas saya sebagai seorang suami, dan melindungi Aria, sudah menjadi tugas saya sebagai menantu Ibu," sahut Vier.
Vaya merasa berdebar-debar dengan ucapan Vier. Perkataan pria itu sungguh sederhana namun memberi efek yang luar biasa menenangkan hati Vaya dan juga ibunya.
"Terima kasih ya, Nak Vier," Bu Asih menggenggam tangan Vier lebih erat.
"Sungguh tidak masalah Bu," kata Vier.
Lagi-lagi Vaya merasa jantungnya bergemuruh karena senyuman Vier yang begitu hangat.
Aria berjalan menghampiri Mike. Gadis itu dengan mata berkaca-kaca dan kedua tangan yang terkepal berdiri di depan Mike.
__ADS_1
"Pak Mike, saya sungguh minta maaf, gara-gara saya, Pak Mike jadi terluka begini," kata Aria.
Mike mengulas senyumnya, di mata Mike, cara Aria meminta maaf sungguh persis seperti Vaya dan juga Bu Asih. Yah, namanya juga ibu dan anak-anaknya.
"Saya sungguh baik-baik saja, terima kasih sudah mencemaskan saya," kata Mike.
"Pak Mike, apa Anda butuh sesuatu? Saya siap membantu Anda," kata Rian.
"Saya! Suruh saya saja, Pak Mike," sergah Aria.
"Saya saja, Pak Mike! Saya banyak waktu luang!" kata Rian.
"Saya bisa! Saya lebih bisa!" kata Aria.
"Rian, Aria!" tegur Vaya.
Rian dan Aria seketika mengakhiri keributan mereka.
"Aria, kamu tidak sekolah?" tanya Vaya.
"Izin sebentar, Kak," jawab Aria. "Kakak sendiri tidak bekerja?" tanya Aria.
"Iya, aku izin," sahut Vaya sambil mencuri pandang ke arah Vier.
Vier mengulas senyumnya, tentu saja Vaya terpaksa mengambil izin tidak masuk kantor karena harus menemani Vier selama masih di rumah sakit.
"Oh ya, ini Ibu bawakan makanan, dimakan selagi hangat ya," kata Bu Asih sambil memberi kode pada Rian.
Rian langsung menyerahkan rantang makanan yang dibawanya kepada Vier.
"Ibu yang minta maaf, tidak bisa membawa buah tangan yang layak," kata Bu Asih.
"Terima kasih Bu," kata Vier.
"Dimakan bersama Pak Mike ya, Nak Vier," kata Bu Asih.
"Baik Bu," sahut Vier.
"Terima kasih Bu," kata Mike.
"Ya sudah, kalau begitu, Ibu permisi dulu ya, kalian beristirahatlah, semoga lekas pulih," kata Bu Asih.
"Baik Bu," kata Vaya.
"Kak Vier, Pak Mike, saya pergi dulu," Rian berpamitan.
"Aria, ayo," ajak Bu Asih pada Aria yang masih bengong.
Aria terlihat berat untuk melangkah pergi, namun akhirnya ia tetap pergi bersama ibu dan Rian. Vaya mengantar keluarganya keluar dari ruangan VIP.
Vier menyeringai, ia segera duduk di sofa dan membuka isi rantang yang diberikan Bu Asih. Aroma bubur ayam segera merebak memenuhi kamar Mike.
Mike jelas tergoda karena makanan di rumah sakit sungguh tidak menggoda.
"Mike, kau mau juga?" tanya Vier.
__ADS_1
"Pak Vier, bukankah Bu Asih sudah jelas mengatakan bahwa kita harus berbagi?" tanya Mike.
Vier memicingkan matanya ke arah Mike, ia memasang sikap defensif terhadap rantang susun yang langsung dipeluknya dengan erat.
"Mike, ini masakan ibu mertuaku, bukan ibu mertuamu," tolak Vier dengan tegas.
"Pak Vier, tapi Bu Asih sudah mengatakan bahwa kita harus berbagi," Mike ngotot.
Suasana tegang yang terjadi antara Vier dan Mike membuat Vaya yang baru kembali ke ruangan itu keheranan.
"Vaya, kemari!" panggil Vier.
"Ada apa, Vier?" tanya Vaya.
Vaya segera bergabung bersama Vier di sofa.
"Vaya, aku tanya padamu, ibumu membuatkan masakan spesial untukku karena aku ini menantu kesayangan ibumu kan?" tanya Vier.
"Bu Vaya, telinga saya ini belum mengalami gangguan. Saya dengar dengan jelas bahwa ibu Anda mengatakan dengan sangat jelas bahwa beliau menyuruh agar kami berbagi," Mike menimpali.
Vaya melihat Vier yang masih memeluk rantang dengan sikap defensif. Terlihat jelas pria itu enggan untuk berbagi.
Oalah, rupanya mereka sedang rebutan rantang toh, batin Vaya yang akhirnya mengerti.
"Vier, tenang saja, ibuku memasaknya cukup banyak," kata Vaya sambil mengambil rantang dari pelukan Vier.
Rantang bersusun empat itu berisi dua tempat bubur ayam dan dua tempat bubur kacang hijau yang masih hangat.
"Tidak masalah kan, berbagi dengan Mike? Kau tidak mungkin menghabiskan semua ini sendiri," kata Vaya.
Vier terlihat memasang ekspresi masam. Vaya langsung berinisiatif untuk menyuapi Vier.
"Vier, aa...," Vaya menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulut Vier.
Hap..
Vier memakan bubur ayam yang disuapi Vaya.
"Bagi untuk Mike juga ya," kata Vaya.
Vier terlihat berpikir keras sambil melayangkan tatapan skeptis ke arah Mike.
"Vier," tegur Vaya.
"Ya, ya, baiklah," sahut Vier.
Mike merasa lega karena pada akhirnya bisa mendapatkan jatah makanan yang lebih enak daripada jatah makanan di rumah sakit. Tahu sendiri kan, makanan di rumah sakit rasanya tidak enak.
Mike merasa berbunga-bunga ketika Vaya menyodorkan bagian rantang untuknya di atas meja portable di sisi tempat tidur.
Hanya saja, kali ini timbul masalah lain. Tangan kanan Mike yang saat ini di-gips membuatnya kesulitan untuk menyuap makanan.
Mike sungguh hanya bisa merasa iri, melihat dua orang di hadapannya yang lagi-lagi pamer kemesraan. Saling suap-menyuap seakan dunia hanya milik berdua.
Ugh, nasib, nasib, bagaimana aku bisa makan? batin Mike gusar.
__ADS_1
...*****...