
Vaya menyantap makan siangnya tanpa selera, ada perasaan was-was yang sedari tadi dirasakannya. Semenjak mendapat ancaman dari Vier, Vaya merasa bahwa Vier mungkin sudah mengerahkan pasukan mata-mata untuk mengintainya.
Jika mengingat hal yang lalu, Vier bahkan berhasil menemukan Vaya selaku perundung Selena. Apalagi untuk memata-matai Vaya yang seperti ini, pasti banyak cctv berjalan yang siap mengintai Vaya. Bisa saja mata-mata itu menyamar sebagai pelayan restoran, tukang kebun, atau pun penjaga keamanan restoran ini.
"Ada apa, Vaya? Apa makanannya kurang membuatmu berselera?" tanya Yoran.
Vaya menggeleng sebagai bentuk jawabannya untuk Yoran. Saat ini yang Vaya cemaskan justru adalah Yoran.
Bagaimana jika Vier sampai tahu bahwa pria yang akhir-akhir ini ditemui Vaya adalah Yoran?
Ancaman-ancaman yang dilontarkan oleh Vier tentu tidak bisa hanya didengar sebelah telinga. Meski kebanyakan apa yang Vier ucapkan lebih sering terdengar seperti gurauan, bahan candaan alias guyonan, namun pria itu mengaku tidak pernah bercanda dengan hidupnya.
Bayang-bayang Yoran yang meregang nyawa dengan tubuh bersimbah darah menghantui benak Vaya. Vaya sungguh tidak ingin semua bayang-bayang yang mencemari pikirannya itu suatu hari nanti akan menjadi kenyataan.
"Yoran," kata Vaya dengan nada penuh kegetiran.
"Hmm, ada apa, Vaya?" tanya Yoran.
"Yoran, entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi kepikiran satu hal dan itu sungguh mengusikku," jawab Vaya.
"Apa itu, Vaya?" tanya Yoran.
Vaya meletakkan sendok dan garpunya, matanya mengunci tatapan Yoran dengan ekspresi penuh keputusasaan.
"Aku kepikiran bagaimana jika suatu saat Grace mengetahui pertemuan-pertemuan kita?" tanya Vaya.
"Membayangkannya saja sudah sangat menakutkanku, Yoran!"
Vaya menatap Yoran dengan ekspresi nanar.
Air mata sudah nampak menggenang di pelupuk mata Vaya dan itu membuat Yoran seketika terdiam.
"Aku sungguh tidak bermaksud dengan adanya kehadiranku, nantinya akan menjadi masalah bagimu dan Grace," ucap Vaya dengan nada penuh kegetiran.
"Aku tidak ingin kau terluka, Yoran," kata Vaya.
Yoran benar-benar tertegun mendengar ucapan Vaya. Ia sungguh tidak menyadari adanya efek samping yang tercipta dari kedekatan mereka saat ini. Karena bagi Yoran, ia hanya mengikuti perasaannya saja.
Perasaan seseorang yang selama ini merasa hampa dan kesepian. Rasa hangat dan kenyamanan yang diberikan oleh Vaya dalam sekejap mengusir semua rasa hampa dan kesepiannya itu.
Hidup Yoran benar-benar terasa jauh lebih bergairah daripada yang selama ini ia jalani. Jika ia menganggap Vaya sebagai pelarian, memang itulah yang saat ini dilakukan oleh Yoran. Ia sedang berlari dan bersembunyi untuk mendapatkan kenyamanan yang tidak ia dapatkan bahkan dari istrinya.
"Vaya," kata Yoran. "Sebaiknya kau tidak perlu mencemaskan itu."
Yoran menatap mata Vaya dalam-dalam.
"Apa yang akan terjadi antara aku dan Grace nantinya akan menjadi urusanku," kata Yoran.
"Lagipula Grace sama sekali tidak pernah mencintaiku seperti kau mencintaiku, Vaya," kata Yoran.
Vaya menggeleng dengan cepat.
"Tidak, Yoran! Aku sungguh tidak ingin kau mendapatkan masalah karena kehadiranku ini. Aku tidak ingin menjadi orang yang merusak rumah tangga orang lain!" kata Vaya.
"'Aku tidak ingin cintaku padamu pada akhirnya justru melukaimu, Yoran."
Air mata mengalir deras di pipi Vaya, membuat hati Yoran jadi tercabik-cabik.
"Vaya, kumohon, berhentilah menangis," pinta Yoran.
"Aku yakin, pasti akan ada jalan bagi kita berdua," kata Yoran.
Vaya menahan tangisnya, ia menatap Yoran dengan perasaan hancur.
Selama masih ada Vier, hanya ada jalan buntu bagi mereka berdua, itulah yang saat ini ada dalam pikiran Vaya.
Yoran menghela napas berat, ia mengambil tangan Vaya dan menggenggamnya.
"Baiklah, Vaya, aku mengerti, aku mengerti apa yang kau risaukan," kata Yoran.
Yoran mempererat genggaman tangannya.
__ADS_1
"Aku paham dan aku mengerti bahwa situasi kita saat ini amatlah sulit," kata Yoran.
"Yoran, untuk selanjutnya kuharap kita tidak perlu bertemu seperti ini lagi," kata Vaya.
Ekspresi Yoran seketika menegang, pria itu seakan kehilangan kemampuannya untuk bicara.
Vaya harus melakukan ini, ia harus menghentikan hubungan yang telah mereka mulai sebelum mereka melangkah terlalu jauh dan akhirnya justru malah membahayakan Yoran.
Vaya tidak mungkin membiarkan Yoran yang begitu dicintainya harus mendapatkan ancaman kematian dari Vier.
"Vaya, apakah maksudmu, aku harus berpisah dari Grace agar kau bisa bersamaku?" tanya Yoran.
Vaya menggeleng pelan.
"Yoran, aku sungguh minta maaf padamu. Aku sungguh tidak bermaksud untuk membebanimu dengan perasaanku. Aku juga tidak ingin mempersulit posisimu, memperkeruh hubunganmu dengan istrimu. Tidak seharusnya aku hadir di antara kalian," kata Vaya.
Perlahan Vaya melepaskan genggaman tangan Yoran.
"Yoran, aku hanya ingin kau bahagia," kata Vaya.
Bahagia dan tentunya selamat dari ancaman kematian.
"Karena bagiku, mencintaimu dan melihatmu bahagia, menjadi hal yang membahagiakanku."
Pandangan Vaya kembali kabur, ia merasakan rasa sakit yang teramat dalam. Di saat ia baru merasakan manisnya memiliki hubungan spesial dengan Yoran, ia harus mengakhiri hubungan itu demi kebaikan dan keselamatan Yoran.
Ya, Vaya harus mengorbankan cintanya pada Yoran untuk melindungi pria itu.
Pengorbanan merupakan salah satu bentuk dari cinta, itulah yang selama ini dipahami oleh Vaya.
Yoran terdiam, namun beberapa menit kemudian, senyum pria itu pun mengembang penuh kegetiran.
"Vaya, terima kasih, aku hargai keinginanmu itu," kata Yoran.
Vaya mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Tapi Vaya, apakah kita masih bisa tetap berteman?" tanya Yoran.
"Apakah kau masih bersedia untuk menjadi pendengarku?" tanya Yoran.
Makan siang mereka saat ini mungkin akan menjadi makan siang terakhir untuk mereka berdua.
...*****...
"Vaya."
Yoran menahan kepergian Vaya begitu Vaya berpamitan untuk kembali ke kantornya. Yoran kembali merogoh saku jas, menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna hitam pada Vaya.
"Ambillah," kata Yoran.
Kening Vaya mengernyit keheranan.
"Apa lagi ini, Yoran?"
"Hadiah lain untukmu," jawab Yoran dengan senyum ramahnya.
"Hadiah lagi?" tanya Vaya.
Yoran mengangguk lambat-lambat.
"Kau bisa membukanya dan aku ingin mendengar pendapatmu, tapi tidak sekarang," jawab Yoran.
"Yoran, aku sungguh tidak enak, aku bahkan tidak menyiapkan kado apa pun untukmu," kata Vaya.
"Vaya, bagiku, kau bisa kemari dan menemaniku makan siang sungguh sudah membuatku merasa senang," sahut Yoran.
Yoran mengulurkan tangannya pada Vaya, Vaya menyambut uluran tangan Yoran.
"Sampai jumpa lagi, Vaya."
"Ya, jaga dirimu baik-baik, Yoran."
__ADS_1
Mereka saling menggenggam dan sama-sama saling melepaskan tangan yang saling bertaut.
Vaya segera keluar dari restoran, memasuki mobil daring yang menjemputnya. Ia duduk di kursi belakang, lalu segera menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil begitu mobil bergerak meninggalkan restoran.
Air mata segera menggenangi kembali pelupuk mata Vaya.
Vaya benar-benar terpaksa harus menutup kisahnya dengan Yoran.
Rasa cintanya pada Yoran tidaklah salah, hanya saja saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi mereka berdua.
Begitu pun dengan Yoran yang saat ini masih terdiam di depan pintu restoran. Pikiran pria itu mendadak kosong bersamaan dengan semakin menghilangnya mobil yang membawa Vaya pergi.
Jangan tanyakan perasaanku
Jika kau pun tak bisa beralih
Dari masa lalu yang menghantuimu
Karena sungguh ini tidak adil
Bukan maksudku menyakitimu
Namun tak mudah tuk melupakan
Cerita panjang yang pernah aku lalui
Tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah hatiku
Hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir
Dan setengah lagi untuk dia
Bukan ini yang kumau
Lalu tuk apa kau datang
Rindu tak bisa diatur
Kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan.
Lagu dari penyanyi bernama Fiersa Besari yang mengudara di radio mobil daring mengiringi perjalanan Vaya untuk kembali pulang.
Mengubur semua kenangan, impian, dan perasaan Vaya pada Yoran.
Vaya jelas merasakan penyesalan yang teramat sangat. Mengapa ia dan Yoran harus bertemu di waktu yang salah?
Vaya membiarkan air matanya mengalir sederas-derasnya.
Kita adalah rasa yang tepat.
__ADS_1
Di waktu yang salah.
...*****...