Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
120 - Bagaimana Denganku?


__ADS_3

Semilir angin yang berhembus lembut, suara riak air laut, aroma laut yang segar bersatu padu dengan langit malam yang begitu cerah dengan taburan jutaan bintang berkelip manja. Langit dan laut Maldives di malam hari benar-benar sangat indah.


Semua keindahan itu terasa makin lengkap dengan suguhan hidangan di sebuah meja bundar yang disiapkan di atas dermaga berbentuk lingkaran mengambang di atas laut.


Di atas meja bundar, terdapat lilin-lilin kecil berwarna merah yang menyala dalam gelas hias mewah.


Vaya duduk di kursinya sementara Vier duduk di sisi meja yang lain. Seorang koki menjelaskan hidangan pembuka yang disajikan untuk mereka. Penjelasan detail mengenai apa yang disajikannya sebagai suguhan kepada tamu eksekutif.


Vaya dengan kemampuan bahasa Inggris ala kadarnya jelas tidak mengerti apa yang diucapkan oleh koki berlogat India yang begitu kental tersebut.


Yang Vaya tahu, di atas piring besar itu terdapat hidangan cantik yang pasti sangat bagus untuk diunggah ke media sosialnya.


Namun tiba-tiba Vaya teringat, bahwa mengunggah hidangan ini jelas bukan pilihan yang bijaksana. Terlebih saat ini ia sedang menjadi buronan kantor alias mengambil cuti dadakan lagi.


"Vaya, kenapa kau tidak makan? Apa karena hidangannya yang terlalu cantik?" tanya Vier.


"Eh, ah, tidak, Vier," sahut Vaya.


"Lalu apa?" tanya Vier ingin tahu.


"Hmm, aku sedang mempertimbangkan, apakah aku perlu memotret makanan ini sebelum memakannya," jawab Vaya.


"Haha!" Vier tertawa mendengar jawaban Vaya.


"Vaya, lekas makan, sebentar lagi hidangan utama akan segera disajikan," ucap Vier.


Vaya segera menyantap hidangan pembuka berupa Boshi Mashuni yaitu salad asli Maldives. Salad ini terbuat dari parutan jantung pisang dan parutan kelapa, serta dibumbui dengan rempah-rempah, bercita rasa segar dari perahan jeruk nipis dan pedasnya cabai rawit, memiliki teksur yang renyah dan tentunya sangat segar.


Beberapa saat setelah mencerna hidangan pembuka, hidangan utama pun datang. Hidangan utama bernama Garudhiya. Garudhiya sendiri merupakan sejenis sup ikan yang berbahan dasar ikan tuna. Rasanya hampir sama seperti sup ikan yang biasa dihidangkan di rumah Vier.


Vier masih mengamati ekspresi Vaya yang terlihat senang.


"Ada apa, Vaya?" tanya Vier lagi.


"Vier, aku hanya merasa senang karena hidangan yang disajikan di sini ternyata tidak jauh berbeda dengan makanan yang biasa kita makan," jawab Vaya.


"Haha! Vaya, kau ini seperti orang yang setiap hari hanya makan batu dan pasir saja," Vier tertawa mengejek.


Vaya hanya mencebik saat menanggapi ejekan Vier. Kemudian mereka kembali terdiam sambil menyantap hidangan utama.

__ADS_1


Selanjutnya hidangan penutup pun diantarkan oleh pelayan. Koki kembali menghampiri mereka untuk menjelaskan hidangan penutup yang disajikan. Puding sagu beraroma kuat dari rempah-rempah dengan potongan buah-buahan segar sebagai topping-nya.


Vaya segera mencicipi hidangan pencuci mulut khas Maldives bernama Saagu Bondibai itu. Meski awalnya Vaya mengerutkan kening karena aroma dan rasa yang cukup mengejutkan indra pengecapnya.


Vier mengulas senyumnya sambil tak putus-putusnya memandang Vaya yang terlalu sibuk memakan hidangan penutup.


Padahal sebelumnya selama berada di pesawat, Vaya hanya diam dan merenung. Ekspresinya jelas sekali menunjukkan bahwa Vaya tidak menyukai perjalanan ini. Tapi itu semua justru membuat Vier merasa tertantang untuk membuat Vaya pada akhirnya menyukai liburan mereka.


"Vier, kau tidak makan hidangan penutupmu?"


Vaya menjatuhkan pandangannya pada piring berisi Saagu Bondibai yang sama sekali belum disentuh oleh Vier.


"Kau mau?" tanya Vier.


Vaya mengangguk cepat dengan ekspresi berseri-seri.


Vier menyeringai.


"Baiklah, akan kuberikan padamu tapi tentu saja ada syaratnya," sahut Vier sambil menyeringai mesum.


Seketika keinginan Vaya untuk menyantap kembali Saagu Bondibai itu sirna. 


"Bagaimana? Setuju?" tanya Vier.


"Haha, Vaya! Sekarang aku tanya, yang mau makanan pencuci mulut ini, aku atau kau? Bukankah sudah sewajarnya aku mengajukan persyaratan karena kau menginginkan apa yang kumiliki?" sahut Vier seraya tertawa.


"Huuh, ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi menginginkan makanan pencuci mulutmu!" cibir Vaya lagi.


Vier mengulas senyumnya.


"Vaya, kenapa kau langsung mundur begitu? Bukankah tadi kau begitu menginginkan makanan pencuci mulut bagianku?" tanya Vier.


"Ya, tadinya aku sangat ingin, tapi mendengar kau mengajukan syarat, aku jadi berubah pikiran," jawab Vaya.


"Kenapa? Kau takut mendengar syarat yang kuajukan?" tanya Vier.


Vaya tersenyum kecut, Vier menyeringai lebar.


"Sudah kuduga, kau pasti akan menciut bahkan sebelum mendengar syarat yang kuajukan!" Vier terkekeh senang.

__ADS_1


"Ya, siapa yang tahu bahwa kau akan memberi syarat yang tidak bisa kuterima dengan akal sehatku," sahut Vaya skeptis.


"Haha," Vier tertawa lagi. "Vaya, apa kau sungguh selalu berburuk sangka padaku?"


Vaya mencebik dan Vier bisa mengartikannya sebagai persetujuan dari Vaya.


"Aku hanya memintamu untuk menghabiskan semuanya tanpa tersisa."


Vier menyodorkan piring berisi Saagu Bondibai miliknya ke arah Vaya.


"Itu saja syarat yang kuberikan padamu," Vier mengulas senyum lembutnya pada Vaya.


Vaya tertegun dan seketika merasa berdebar dengan tatapan dan senyum lembut Vier.


Jantung Vaya bergemuruh, terlebih saat ini Vier masih tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Vaya.


Usai menyantap makan malam, mereka berdua segera menuju ke vila tempat mereka menginap. Mereka berjalan menyusuri jembatan kayu yang di sepanjang jembatan itu terdapat vila-vila yang nampak tak berpenghuni.


Vaya makin berdebar-debar tak karuan karena Vier menggandeng tangannya. Vaya benar-benar sangat tegang karena Vier menggiringnya seperti ini. Ya, pria itu sungguh menagih untuk bermesraan dengannya sebanyak sepuluh ronde.


Mereka pun akhirnya tiba di sebuah vila terbesar dan terluas yang ada di resort tersebut. Di depan pintu, Mr Jamal sudah menunggu dan segera membukakan pintu vila untuk mereka.


"Have a good night, Mr and Mrs Vierlove," Mr Jamal mempersilakan.


"Thank you, Mr Jamal," ucap Vier.


Mr Jamal pun meninggalkan Vier dan Vaya. Vaya langsung mengedarkan pandangannya ke vila berfasilitas lengkap dan mewah seperti di kamar hotel bertipe presidensial. 


Sofa mewah, televisi selebar dinding, dan tempat tidur besar yang menghadap langsung ke arah laut lengkap dengan fasilitas kolam renang pribadi.


Vaya berjalan menuju pintu balkon, berdiri di ambang pintu, membiarkan angin malam menyapu lembut kulitnya yang mulai memanas karena memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Berada di sebuah vila yang luar biasa indah dan mewah hanya berduaan dengan Vier yang menagih bermesraan sebanyak sepuluh ronde jelas membuat Vaya merasa takut dan gusar.


Vier segera memeluk Vaya dari belakang.


"Bagaimana? Apa kau suka dengan vila ini?" tanya Vier.


"Hmm, ya, vila ini luar biasa bagus," jawab Vaya.

__ADS_1


"Oh begitu, lantas bagaimana denganku?" tanya Vier.


...*****...


__ADS_2