
Vaya benar-benar sudah tidak tahan jika harus menyuapi sepiring penuh buah-buahan untuk Vier. Bibirnya sudah terasa panas dan terasa mulai membengkak. Apalagi semakin lama durasi aksi penyuapan itu semakin panjang dan sangat intens. Vaya bahkan tak bisa bernapas dengan baik karena Vier begitu serakah, mengambil semua jatah udara yang harus dihirupnya agar tetap bisa memenuhi paru-parunya dengan udara.
Dari pelupuk matanya, mengalir cairan bening perlahan turun membasahi pipinya. Vaya benar-benar sangat kesal karena ciuman pertamanya harus terjadi seperti itu.
Padahal ia begitu mendambakan ciuman pertamanya dengan seorang pria yang ia cintai dan mencintainya. Ia dan lelaki itu berjalan bergandengan tangan di pinggir pantai, deburan ombak dan di bawah sinar rembulan yang menjadi saksi. Seperti itulah ciuman pertama yang diimpikan oleh Vaya. Bukannya berciuman dengan seorang playboy macam Vier.
Rasanya ini sungguh tidak adil. Vaya yang selama ini memang tidak pernah tersentuh oleh pria mana pun harus memberikan ciuman pertamanya kepada Vier yang sudah terlalu banyak menyentuh wanita. Kesenjangan sosial di antara mereka sungguh kentara. Perbedaan jam terbang sungguh terasa.
Vier melepaskan pagutannya, lalu menatap Vaya yang menangis dalam diam.
"Vaya, kenapa kau menangis?" tanya Vier.
"Tidak! Aku tidak menangis!" jawab Vaya dengan ketusnya.
"'Terus, kenapa kau berlinangan air mata?" tanya Vier.
"Ini bukan air mata!" sahut Vaya.
Vier mengulas seringaian khasnya. Seringaian meledek dan mengejek.
"Kalau bukan air mata lalu apa? Air liur? Haha," Vier tertawa mengejek.
"Ini keringat! Ini keringatku!" sahut Vaya.
Tak terima karena lagi-lagi harus jadi bahan tertawaan Vier.
"Haha!" Vier tertawa lagi.
Vaya benar-benar kesal melihat ekspresi Vier. Ada kepuasan yang tergambar jelas di wajah pria itu. Kepuasan karena sudah berhasil membuat Vaya melakukan apa yang ia inginkan.
Vier mengulas seringaian yang lagi-lagi terlihat horor di mata Vaya. Pria itu benar-benar terlihat seperti om-om mesum yang baru saja melakukan aksi bejatnya kepada seorang anak di bawah umur, sebut saja namanya Melati.
"Vaya, aku tidak memberimu perintah untuk menangis."
Vier mengambil piring dari tangan Vaya, lalu meletakkannya di meja.
Vier kembali tersenyum sambil mengambil wajah Vaya lalu mengusap air mata Vaya dengan jemarinya.
"Kau pasti sangat terharu karena sudah berciuman denganku, mengaku saja, Vaya."
Ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Vaya justru membuat seringaian Vier makin lebar.
"Vaya, bagiku, apa yang kita lakukan ini tidak lebih dari aksi saling suap. Aku tidak berciuman seperti itu," ucap Vier sambil melepaskan wajah Vaya.
Dasar pria gila! Maniak! Vaya mengumpat dalam hati.
"Vaya, berapa kali harus kukatakan agar kau dapat memahami betapa pentingnya menjaga interaksi antara kau dan para pria yang berada di sekitarmu? Kau ini masih saja melanggarnya. Kau jangan berpikir lagi untuk mengejar, atau menggoda para pria sampah yang berusaha mendekatimu."
Vier memicingkan matanya, ekspresi wajahnya mengeras.
"Vier, berapa kali harus kukatakan aku tidak mengejar atau pun menggoda pria?"
"Vaya, apa kau pikir aku buta dan tuli saat Clark Kent itu mengatakan bahwa dia ingin mengenalmu lebih dekat? Apa kau pikir aku tidak tahu modus dari seorang pria?"
__ADS_1
"Clark Kent siapa, Vier?" tanya Vaya keheranan.
"Cih! Superman itu jelas-jelas mengatakan ingin mengenalmu lebih dekat! Dasar modus! Pria sampah tukang modus!" Vier berdecih kesal.
"Vier, bukankah kita sudah sepakat bahwa kau tidak akan mencampuri urusan pribadiku?" tanya Vaya.
"Vaya, jika urusan pribadimu ternyata membuatmu harus berurusan dengan pria lain, aku rasa aku berhak untuk ikut campur. Kau jangan pernah sedetik pun lupa bahwa saat ini kau adalah istriku," sahut Vier sambil menyundul-nyundul kepala Vaya dengan jarinya.
"Kau benar-benar harus mendapat hukuman karena sudah melupakan peraturan yang kuberikan yakni membatasi interaksi terhadap lawan jenis. Tidak peduli meski itu adalah rekan kerjamu, bagiku salah adalah salah."
"A-apa?!" Vaya terperangah.
Vier menyingkirkan tumpukan dokumen yang berada di pangkuannya.
Ia segera menarik tangan Vaya, keluar dari ruang kerjanya.
Vier membawa Vaya ke ruang seksi.
"Vaya, jangan beranjak selangkah pun dari kamar ini!"
...*****...
Vier kembali ke ruangan tempat Vaya menunggu. Matanya menangkap keberadaan Vaya yang sedang berbaring di tumpukan bantal dengan tatapan mata yang kosong.
Vaya tersentak kaget melihat Vier yang sudah kembali. Pria itu mengenakan piyama hitam dengan keadaan rambut yang setengah basah.
ia segera bergabung dengan Vaya di tempat tidur.
"Lakukan hal yang harus kau lakukan setiap malam!" perintah Vier.
"Vaya, kau kan harus memijatku! Lekas pijat aku!" perintahnya.
"Pijat bahuku yang benar-benar tegang gara-gara ulahmu!"
"Hee?!"
"Lakukan sekarang!"
Vaya hanya bisa ngedumel dalam hati. Vier benar-benar sungguh keterlaluan. Sikapnya yang semena-mena ini benar-benar membuat stok kesabaran Vaya makin menipis setiap detiknya.
Vaya mulai memijat bahu Vier.
"Vier, kenapa sih semua hal yang kulakukan selalu salah di matamu?" tanya Vaya.
"Vaya, jika semua hal yang kau lakukan adalah benar, untuk apa aku menyalahkanmu?" Vier balik bertanya.
Ugh! Dasar pria ini! Vaya menekan lebih keras bahu Vier.
"Vaya, apa kau mencoba untuk mematahkan bahuku?" tanya Vier.
"Huuh!" dengus Vaya.
"Vaya, mulai malam ini, kau harus tidur di kamar ini," perintah Vier.
__ADS_1
"A-apa?" Vaya terperangah.
"Ya, dan kau jangan coba-coba kembali ke kamarmu yang ada di paviliun barat," ucap Vier.
"Tu-tunggu, Vier! Apa maksudmu?" tanya Vaya keheranan.
"Vaya, apa aku ada memberimu perintah untuk berhenti memijat?" tanya Vier.
"Vier, kenapa tiba-tiba aku harus tidur di kamar ini? Aku lebih suka kamarku di paviliun barat! Kamar itu sangat estetik! Dindingnya yang penuh dengan mural bernilai seni tinggi, sangat indah saat dipandang!" sergah Vaya.
"Vaya, apa kau benar-benar menentang perintahku?" tanya Vier.
"Vier, aku tidak bermaksud menentang perintahmu, aku hanya mengutarakan pendapatku saja," jawab Vaya.
"Cukup memijatnya," sergah Vier.
Vier segera menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal.
"Kemari, berbaring di sini!"
Vier menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya.
"Hee?! Apa maksudmu, Vier?" tanya Vaya.
"Vaya, apa aku perlu mengikatmu lagi agar kau bisa berbaring dengan tenang di sampingku?"
"Kenapa aku harus tidur di sampingmu? Aku biasa tidur sendiri," gerutu Vaya.
"Vaya, aku harus tidur di sampingmu untuk memastikan bahwa kau benar-benar tidur dan tidak melakukan perbincangan tengah malam via telepon atau pun melakukan panggilan video seksi tengah malam bersama si Clark Kent itu."
"Vaya, aku ini adalah seorang pria dan aku paham sekali dengan modus-modus yang dilakukan oleh pria yang mengatakan ingin mengenal lebih dekat," lanjut Vier.
"Modus-modus seperti itu, aku sudah khatam."
Vaya mendelik gusar, dengan malas ia merangkak lalu berbaring di samping Vier.
Vaya segera menarik selimut hingga sebatas lehernya lalu berguling, hingga membuat tubuhnya terbungkus selimut bak sempol ayam yang dibalut telur. Bersikap waspada terhadap Vier jelas harus dilakukannya.
Vier memicingkan matanya melihat kelakuan Vaya yang seperti itu.
"Vaya, aku memang mengatakan bahwa aku ingin menidurimu, tapi tidak sekarang!" tukas Vier sambil menarik selimut yang dipakai Vaya.
"Ugh! Vier!" Vaya terperanjat.
"'Lekas tidur! Aku benar-benar lelah! Padamkan lampunya!" perintah Vier.
Vaya bersungut-sungut, turun dari tempat tidur untuk memadamkan lampu.
Oh Tuhan! Kenapa aku harus tidur bersama Vier?! Batin Vaya menangis.
Vaya segera kembali ke tempat tidur, berbaring memunggungi Vier.
Semoga saja aku bisa bangun tidur dalam keadaan masih tetap hidup.
__ADS_1
Dalam pencahayaan yang temaram, senyum Vier kembali mengembang tanpa diketahui oleh siapa pun.
...*****...