Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
038 - Membeli Tali


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Vier bersenandung riang. Ia bahkan memutuskan untuk pulang lebih awal padahal pekerjaan di kantor masih menumpuk.


Ia menebak-nebak, apa yang akan dimasak oleh Vaya untuk makan malam mereka hari ini.


Hmm, apakah aku perlu menyuruhnya untuk memasak apa yang kuinginkan?


Huh, dia kan masih dibimbing oleh para koki, mana mungkin dia bisa memasak sesuatu yang kuinginkan!


Tunggu, tapi bukankah bagus jika dia tidak bisa membuat masakan yang kuinginkan, jadi aku punya alasan untuk menghukumnya lagi!


"Hihihi!" Vier terkekeh geli.


Mike melirik ke arah kaca spion, entah mengapa rasanya sungguh aneh melihat Vier yang seperti itu. Maksudnya seperti itu ya, Vier tiba-tiba jadi sering tersenyum-senyum sendiri bahkan tertawa tanpa sebab.


"Mike! Berhenti!"


Mike segera menepikan mobil yang dikendarainya di depan sebuah toko perkakas. Vier segera turun dari mobil diikuti Mike.


"Mengapa Anda pergi ke toko perkakas, Pak?" tanya Mike.


"Aku mau membeli cake, Mike," jawab Vier disertai seringaian.


Kedua alis Mike terangkat tinggi.


"Mike, apa kau pikir aku sungguh-sungguh akan membeli cake di sini?" Vier menyeringai jahil.


"Hmm, siapa tahu mereka menjualnya," jawab Mike sekenanya.


"Haha!" Vier tertawa.


Kedatangan Vier jelas mengundang perhatian semua orang. Mike segera berjaga ketat sebelum ada wanita yang tiba-tiba menempel pada Vier bak terkena magnet.


"Apa di sini menjual tali sumbu?" tanya Vier kepada penjaga toko.


Penjaga toko perkakas segera mengantar Vier dan Mike menuju ke bagian tali.


Vier memeriksa satu per satu tali sumbu berwarna putih yang memiliki banyak ukuran. Mike jelas bertanya-tanya, untuk apa Vier memerlukan tali?


"Mike, apa kau dulu pernah mengikuti kegiatan pramuka?" tanya Vier.


"Seingat saya waktu masih duduk di sekolah dasar, saya pernah mengikuti kegiatan pramuka," jawab Mike.


"Apa kau jago melakukan tali temali?" tanya Vier.


Tali temali sendiri dalam kegiatan pramuka yakni kegiatan membuat dan mengikat simpul tali.


"Tidak bisa dibilang jago juga, Pak," jawab Mike.


Vier menarik salah satu gulungan tali, mengamatinya secara saksama.


"Mike, ulurkan kedua tanganmu," perintah Vier.


Mike mengulurkan kedua tangannya.


"Silangkan kedua tanganmu," perintah Vier.


Mike menyilangkan kedua tangannya, Vier mulai melilitkan tali ke pergelangan tangan Mike.


"Gerakkan tanganmu, apakah sakit?" tanya Vier.


Mike mengangguk pelan, gesekan tali pada kulitnya menimbulkan sensasi perih.


Vier melepaskan ikatan tali dari tangan Mike. Lalu mencoba menggunakan metode lain.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah masih terasa sakit?" tanya Vier.


"'Tidak, Pak, hanya saja tangan saya tidak bisa bergerak," jawab Mike.


"Mama! Kenapa tangan om itu diikat?"


Seruan seorang bocah perempuan membuat Vier dan Mike tersentak kaget.


"Hush! Mimi jangan dilihat!" tegur ibu dari bocah itu.


"Mama, apa om itu penjahat?" bocah itu masih bertanya.


"Hush, Mimi, anggap saja tidak lihat!"


Vier seketika menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Mike.


"Mike, aku perlu satu roll tali ini," perintah Vier.


"Baik, Pak," sahut Mike.


Mike menuju ke kasir untuk membayar satu roll tali, mendadak semua orang langsung berkasak-kusuk di belakangnya.


"Haduh, zaman sekarang, pria tampan memang senangnya sama yang tampan-tampan!"


"Hih, mereka bahkan saling mengikat di muka umum! Benar-benar berani sekali!"


"Ini zaman sudah edan!"


Suara-suara sumbang tersebut jelas harus diabaikan oleh Mike.


Memangnya apa salahnya membeli tali? Yang salah adalah mencuri tali!


...*****...


Dalam benak Vier sudah terlintas apa yang hendak ia lakukan dengan menggunakan tali ini. Hanya saja ia perlu melakukan sedikit modifikasi pada permukaan tali yang dirasanya masih kasar.


"Mike, segera simpan tali ini di kamarku," perintah Vier.


"Baik, Pak," jawab Mike.


Vier segera turun dari mobil, Pak Jo sudah menyambut kedatangannya.


"Pak Jo, apa Vaya sudah ada di dapur?" tanya Vier.


"Maaf, Pak, Bu Vaya masih belum pulang," jawab Pak Jo.


"Apa? Belum pulang? Jam berapa ini? Kenapa dia belum pulang?" tanya Vier keheranan.


"'Saya akan menghubungi Bu Vaya, Pak," kata Mike.


Wanita itu, ke mana dia pergi? Apa dia mau kabur lagi? Batin Vier.


...*****...


Vaya masih berkutat di depan monitor komputernya. Ia merasa gelisah dan tak tenang melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul enam sore.


Harusnya saat ini ia sudah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam Vier. Namun saat ini ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda gara-gara ia ditinggal rombongan teman-teman kantornya. Untunglah ada ojek daring yang mengantarnya kembali ke kantor dengan selamat setelah kebut-kebutan di jam sibuk.


Vaya memandangi bibirnya yang terasa perih, sepertinya muncul reaksi alergi akibat penggunaan lipstik palsu.


Ugh, kenapa juga Lamia membeli lipstik palsu? Apa dia tidak takut keracunan?


"Mbak Vaya," Evi memasuki ruang kerja.

__ADS_1


"Ada apa, Evi?" tanya Vaya.


"Mbak Vaya, ternyata ya, Mbak Vaya itu tidak ketinggalan tapi sengaja ditinggal."


"Apa maksudmu, Evi?" tanya Vaya.


"Tadi aku dengar cerita dari teman yang satu rombongan dengan Pak Andre, waktu Pak Andre tanya apakah teman-teman sudah lengkap, Lamia bilang sudah lengkap. Padahal dia tahu Mbak Vaya masih di toilet," jawab Evi.


Vaya menyeringai.


"Evi, tetap saja aku yang salah. Aku yang kelamaan makanya jadi ditinggal begitu," kata Vaya.


"Loh, maksud Mbak apa?" tanya Evi keheranan.


Vaya pun akhirnya menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Evi. Evi terperangah mendengarnya.


"Apa? Jadi, lipstik yang diberikan Lamia untuk Mbak Vaya itu palsu?"


Vaya mengangguk.


"Kok bisa sih, tega sekali Lamia!" geram Evi.


"Evi, Lamia pasti tidak tahu juga, buktinya dia memang mengaku bahwa membeli lipstik itu dengan harga promo," kata Vaya.


"Hih! Dasar Lamia! Kalau mau keracunan, jangan ngajak-ngajak begitu dong!" keluh Evi.


Kring...!


Gawai cerdas Vaya berdering, Vaya melotot melihat nama Mike.


Duh, benar kan, aku dicari!


...*****...


Vaya keluar dari mobil yang menjemputnya. Langkahnya benar-benar terasa berat. Saat ini dalam benaknya terlintas hukuman apa lagi yang disiapkan Vier untuknya.


Yah, pria itu pasti marah karena kata Mike, Vier sudah menunggunya sambil marah-marah.


Begitu memasuki ruang makan, Vaya melihat jelas Vier yang sudah duduk di belakang meja makan.


Pria itu memasang ekspresi kesal yang tak bisa disembunyikannya.


"Vaya, kau ini benar-benar ya! Apa kau lupa dengan apa yang kuperintahkan padamu?" 


"Tidak, Vier! Tidak! Tadi di kantor masih ada pekerjaan yang belum kuselesaikan," jawab Vaya.


"Huhu! Vaya, seandainya kau memang benar-benar memaksimalkan jam kerja efektifmu, aku rasa kau tidak perlu lembur. Atau jangan-jangan kau memang hanya sengaja mengaku lembur padahal kau sudah ada janji kencan dengan pria lain?" tuding Vier.


"Kau ini benar-benar tidak kapok ya, membuat masalah terus! Haha, kau benar-benar sangat suka mendapat hukumanku!"


"Vier! Tunggu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu!" cegah Vaya.


"Kau pikir aku masih mau menunggumu memasak?" Vier memicingkan matanya.


"Vier, kau hanya perlu menunggu lima menit. Lima menit saja," Vaya memohon.


"Akan kusajikan makanan yang bisa kau makan hanya dalam lima menit."


...*****...


Pembaca setia, terima kasih sudah membaca sampai episode ini.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2