Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
154 - Over Dosis


__ADS_3

Vaya mematut dirinya di depan cermin, memastikan bahwa penampilannya sudah terlihat jauh lebih segar setelah mandi usai berolahraga panas bersama Vier.


Vaya meraih tas dan mengambil gawai cerdasnya yang berdering berkali-kali namun terpaksa tidak dijawab lantaran kesibukannya bersama Vier. Vaya jadi tertegun lantaran menerima banyak panggilan dari Mike.


"Ada apa, Vaya?" tanya Vier.


"Pak Mike menelepon berkali-kali, ada apa ya?" Vaya balik bertanya.


"Hmm, mungkin dia hanya mencariku," sahut Vier enteng.


"Ya, kau pasti melewatkan banyak jadwal karena setengah hari ini kau bersamaku, begitu kan?" tebak Vaya.


"Ya, begitulah, tapi tidak masalah kan?" Vier menyeringai kecil sambil mengecup kembali bibir Vaya.


Vaya menyambut kecupan Vier yang mulai kembali menuntut.


"Emm, Vier," Vaya menepuk lembut punggung Vier.


"Kenapa, Vaya?" Vier melepas bibirnya yang memagut bibir Vaya.


"Bukankah kita sudah harus turun dari kapal ini?" Vaya mengingatkan.


"Apa kau tidak ingin berada di sini lebih lama?" tanya Vier sambil memandangi wajah Vaya.


"Hmm, aku rasa asalkan bersamamu, di mana pun tidak akan jadi masalah," jawab Vaya.


"Hmm, begitu ya," Vier mengangguk lalu mencubit cuping hidung Vaya.


"Aduh, Vier, kenapa kau mencubit hidungku?!" keluh Vaya.


"Dari mana kau belajar menggombal seperti itu?" tanya Vier.


"Siapa yang menggombal sih?" cibir Vaya.


Vier mengacak rambut Vaya dengan gemas lalu kembali memeluk Vaya.


"Baiklah, ayo kita pergi," ajak Vier.


Vier dan Vaya segera turun dari kapal yang sudah bersandar di dermaga.


"Pak Vier!"


Vier dan Vaya langsung menujukan pandangan ke arah Mike yang setengah berlari menghampiri mereka.


Vaya dan Vier kembali saling melemparkan pandangan.


"Wah, Vier, apakah Pak Mike memasang pelacak sehingga berhasil menemukanmu?" tanya Vaya.


"Haha," Vier tertawa menanggapi pertanyaan Vaya.

__ADS_1


"Pak Vier," ucap Mike dengan nada penuh ketegangan setegang ekspresi wajahnya saat ini.


"Ada apa, Mike? Kau kelihatan seperti baru saja melihat hantu," tanya Vier.


"Pak Vier, sebelumnya saya minta maaf baru bisa menyampaikannya sekarang, karena saya tidak bisa menghubungi Anda," jawab Mike.


"A-anu Pak Mike, saya yang harusnya minta maaf, karena saya tidak bisa menjawab telepon Anda, karena satu dan lain hal," Vaya mengerling ke arah Vier.


Vier yang sedari tadi melingkarkan tangan kanannya di pinggang Vaya langsung menurunkan tangannya ke bokong Vaya dan meremaasnya pelan.


"Vi-Vier!" Vaya terperanjat.


Vier menyeringai.


"Kenapa jadi kau yang harus minta maaf, Vaya?" tanya Vier. "Memangnya ada apa, Mike?"


Mike merasa tenggorokannya tercekat namun ia harus mengatakannya.


"Pak Vier, Nona Selena saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Beliau mengalami over dosis obat penenang," jawab Mike.


Wajah Vier yang sedari tadi memancarkan rona kebahagiaan seketika berubah menjadi penuh ketegangan usai mendengar kabar tersebut. Begitu pun dengan Vaya. Masih segar dalam ingatannya bahwa Selena baru saja melakukan penyerangan terhadapnya.


Tiba-tiba saja mendengar kabar bahwa Selena dirawat di rumah sakit akibat over dosis obat penenang sungguh membuat Vaya tidak bisa memercayainya dengan mudah.


Namun melihat bahwa Mike jelas bukan tipe orang yang akan dengan mudah bercanda, tentu saja Vaya mau tidak mau harus memercayai hal tersebut.


...*****...


Ekspresi wajah Bu Cintami benar-benar penuh dengan ketegangan saat melihat Vier yang menggandeng tangan Vaya, langkah Vier dan Vaya terhenti di hadapan Bu Cintami.


Plak...


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Vier. Bu Cintami mengerahkan segenap tenaganya ketika melayangkan tamparan di wajah anak kesayangannya itu.


Vaya terbelalak, bahkan ia langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan agar tidak menjerit.


Vier terperangah, perlahan ia mengangkat wajahnya yang tertunduk lantaran menerima kerasnya tamparan di pipinya. Vier bisa merasakan sensasi terbakar pada pipi kanannya. 


"Vier!" geram Bu Cintami.


Suara wanita paruh baya itu bergetar, seperti tangannya yang juga terlihat gemetaran meluapkan kemarahannya.


"Vier! Kau benar-benar sudah mengecewakan Ibu!"


"Ibu," ucap Vier tertahan.


"Vier! Lihatlah akibat perbuatanmu!" geram Bu Cintami sambil menunjuk ke ruangan ICU.


Vaya mengikuti tangan Bu Cintami yang menunjuk ke ruang ICU. 

__ADS_1


"Di dalam ruangan itu, ada Selena yang saat ini sedang meregang nyawa! Entah apa yang sudah kau lakukan terhadap Selena hingga akhirnya Selena berpikir untuk mengakhiri hidupnya!" cecar Bu Cintami.


Vier hanya bisa terdiam, ia berusaha untuk tidak terprovokasi kemarahan ibunya.


"Saat ini kedua orang tua Selena sudah dalam perjalanan menuju kemari! Tapi, apa yang harus ibu sampaikan kepada mereka?"


"Rasa menyesal Ibu karena membuat Selena meregang nyawa seperti ini?"


Bu Cintami mencecar pertanyaan-pertanyaan yang membuat dada Vaya terasa sesak.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Selena?! Apa yang sudah kalian lakukan?!" 


Bu Cintami melemparkan pandangan sengitnya ke arah Vier dan Vaya secara bergantian.


Bu Cintami pun jatuh terduduk di bangku panjang dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. 


Vier menoleh ke arah Vaya, ia mengangguk pelan sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan Vaya lalu menghampiri ibunya.


Vier segera duduk di samping ibunya yang mulai menangis.


"Ibu, maaf," kata Vier.


"Simpan saja maafmu untuk orang tua Selena!" geram Bu Cintami.


Vier terdiam, matanya mengunci tatapan Bu Cintami yang dipenuhi dengan air mata.


"Vier, apa kau tahu, rasa bersalah Ibu saat ini jauh lebih besar lagi? Ibu menjadi orang yang pantas dipersalahkan! Jika terjadi sesuatu pada Selena, Ibu jelas menjadi orang pertama yang harus menanggung semuanya!"


"Ibu yang mengajak Selena untuk bertemu denganmu! Meyakinkan pada Selena bahwa kalian harus bertemu dan bicara!"


"Tapi, lihatlah! Apa yang baru saja terjadi pada Selena! Selena nekat mengakhiri hidupnya karena kau lebih memilih wanita itu!" cecar Bu Cintami.


Vaya lagi-lagi merasa paru-parunya diremas oleh sebuah kenyataan yang sangat menyesakkan dan tentu saja menyakitkan.


"Ibu, kumohon tenang. Selena pasti baik-baik saja,"  kata Vier.


"Baik-baik saja?!" Bu Cintami mengulangi ucapan Vier dengan nada sinis yang tak tertahankan.


"Vier, apa kau tahu, apa yang dikatakan oleh dokter?"


"Nyawa Selena bisa saja tertolong, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi Selena mungkin tidak akan sama seperti sebelumnya!"


"Apa maksud Ibu?" tanya Vier.


"Ada kemungkinan efek obat penenang yang dikonsumsi Selena akan merusak sistem syaraf Selena. Yang mana itu berarti, ia akan mengalami kelumpuhan syaraf seumur hidupnya!"


Vaya benar-benar merasa bahwa saat ini ada petir yang saling sambar menyambar dalam kepalanya. Begitu pula dengan Vier yang seakan langsung kehilangan kata-kata.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2