Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
165 - Bertemu


__ADS_3

Di lain pihak, Vaya sedang menempuh perjalanan menuju kota, ia tiba di kota terdekat usai menumpang mobil angkutan yang kebetulan melewati kota tujuan Vaya.


"Terima kasih ya, Pak," ucap Vaya begitu turun dari sebuah mobil angkutan.


"Iya, sama-sama, Mbak," sahut si sopir.


Vaya segera menuju ke pasar yang saat ini masih dipenuhi pengunjung. Vaya mengeluarkan catatan berisi daftar barang yang harus dibelinya untuk kebutuhan operasional warung, mulai dari kopi sachet hingga mie instan.


Belanja di pasar yang ada di kota tentu saja lebih lengkap dan harganya jauh lebih murah daripada di pasar yang berada di daerah. Belum lagi pasar yang ada di pelosok hanya buka pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Misalnya pasar Senin yang hanya buka di hari Senin dan pasar Rabu yang hanya beroperasi di hari Rabu.


Setelah membeli barang-barang yang ia butuhkan, Vaya biasa menitipkan barang-barang yang sudah dibelinya di toko tersebut. Tujuannya tentu saja agar ia bisa singgah ke tempat makan tanpa harus membawa banyak belanjaan.


Tempat makan yang dikunjungi Vaya hari ini tetap ramai seperti biasanya. Tempat makan berkonsep food court yang lokasinya hanya berjarak sepuluh menit dengan berjalan kaki. Lelah selama di perjalanan menuju ke kota jelas seakan terbayarkan dengan menyantap hidangan yang enak.


Hujan mulai mengguyur dengan deras saat Vaya sudah duduk di salah satu meja yang kosong dan siap untuk memesan makanan.


"Vaya."


Seseorang memanggil nama Vaya, Vaya mendongak dari buku menu dan langsung mengarahkan pandangannya pada sosok pria bertampang blasteran yang seketika itu pula membuat jantung Vaya seakan berhenti berdetak.


"Yo- Yoran!" Vaya dengan cepat menutup mulutnya.


Vaya beranjak dari tempat duduk ketika menyambut uluran tangan Yoran.


Yoran, pria yang pernah menjadi pujaan Vaya, dalam balutan kaus hitam berkerah dan setelan jas abu-abu yang nampak basah, jelas menandakan bahwa pria itu sempat terkena hujan.


Vaya menyalami Yoran yang mengulas senyum ke arahnya sambil melepaskan tangan dari genggaman Vaya.


"Kau sendiri?" tanya Yoran.


"Hmm, i-iya," jawab Vaya kikuk.


"Kalau begitu, apa kau berkenan berbagi meja denganku?" tanya Yoran.


"Tentu saja," jawab Vaya.


Yoran segera duduk di kursinya, begitupun dengan Vaya yang langsung merasakan canggung luar biasa.


Vaya memandangi wajah tampan Yoran. Garis rahang tegas, bola mata hitam dengan sorot lembut dan nampak redup.


"Sungguh kebetulan kita bertemu di sini," kata Yoran.


"Iya, sungguh sebuah kebetulan. Apa yang sedang kau lakukan di sini, Yoran?" tanya Vaya.


"Aku mampir untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan," jawab Yoran.

__ADS_1


"Oh begitu, kau mau ke mana?" tanya Vaya lagi.


"Tujuanku adalah Kota J, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di sana," jawab Yoran.


"Oh begitu," Vaya masih tersenyum kikuk.


Pelayan datang mengantarkan buku menu untuk mereka. Setelah membuat pesanan, pelayan itu pun kembali meninggalkan Vaya dan Yoran.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu, Vaya?" tanya Yoran.


"Selama tiga tahun terakhir ini, aku bahkan tidak pernah mendengar kabarmu lagi."


Vaya mengulas senyum yang dirasakan Vaya makin berat.


"Hmm, kau benar, Yoran," jawab Vaya singkat. "Kau sendiri, bagaimana denganmu?" tanya Vaya.


Yoran mengulas senyumnya, senyum ramah dan hangat yang kala itu mengisi hari-hari Vaya.


Vaya mengamati jari panjang Yoran yang panjang dan tak ada sebuah cincin kawin tersemat di jari manis kanan pria itu.


"Begitu banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku selama tiga tahun terakhir ini," jawab Yoran.


"Aku bahkan sudah bercerai dari Grace," lanjut Yoran dengan nada penuh kegetiran.


"Apa? Bercerai?" Vaya terkesiap.


Vaya merasakan dadanya begitu sesak. Entah mengapa rasa bersalah langsung menyelimuti Vaya.


"Yoran, a-apa kau bercerai karena aku?" tanya Vaya.


Yoran menggeleng cepat karena melihat ekspresi wajah Vaya yang langsung menegang tak karuan.


"Tidak, Vaya, perceraianku sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu," jawab Yoran.


"Yoran...," ucapan Vaya tertahan.


Yoran mengulas senyumnya.


"Sungguh Vaya, perceraianku dengan Grace sama sekali tidak ada kaitannya denganmu," Yoran meyakinkan.


Meski Yoran berkata demikian, rasa bersalah kembali menghantui Vaya. Terlebih saat ini dalam benak Vaya, terlintas momen-momen manis yang pernah mereka lalui bersama. Momen-momen manis yang sesungguhnya adalah hal yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka. Terlebih saat itu, Vaya sedang terikat pernikahan dengan Vier.


"Aku menyadari bahwa saat bersama Grace, tidak ada kebahagiaan yang bisa kurasakan. Pun demikian yang dirasakan oleh Grace. Bersamaku sama sekali tidak membuatnya merasa bahagia. Daripada kami terus terjebak dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak memberi kebahagiaan, akhirnya kuputuskan untuk memberi Grace kebahagiaan yang ia inginkan," Yoran menjelaskan panjang lebar.


"Sehingga kau tidak perlu mencemaskan apapun lagi, Vaya," lanjut Yoran.

__ADS_1


Vaya kembali menatap Yoran dengan tatapan yang saling mengunci.


"Aku rasa cukup tentangku, bagaimana denganmu, Vaya?" tanya Yoran.


"Bagaimana denganku?" Vaya balik bertanya.


"Ya, apa saja yang sudah kau lakukan selama ini?" tanya Yoran.


Vaya mengulas senyumnya.


"Aku hanya menjalani hari-hari seperti biasanya dan akhirnya menua seiring berjalannya waktu, hehe," Vaya terkekeh.


Senyum Yoran mengembang lebar melihat Vaya yang terkekeh.


"Menua? Apa kau sungguh yakin?" tanya Yoran sambil tertawa kecil.


"Tentu saja, Yoran! Kau pikir sekarang umurku sudah berapa? Haha," Vaya tertawa.


Tawa Vaya terhenti tatkala pelayan datang mengantarkan makanan yang mereka pesan.


Dalam benak Vaya saat ini terlintas masa-masa yang ia lewati bersama Yoran. Begitu singkat hingga Vaya tak tahu bagaimana memaknainya. Terlebih saat itu, Vaya tidak mungkin meneruskan hubungan mereka lantaran sama-sama sedang terikat pada pernikahan.


Meski Yoran tidak bahagia dengan penikahannya, dan Vaya pun saat itu tidak merasa bahagia dengan pernikahannya bersama Vier, namun pernikahan tersebut tetaplah pernikahan yang sah.


Alam bawah sadar mengajak Vaya untuk berandai-andai.


Bagaimana seandainya jika pria yang menikahinya adalah Yoran dan bukannya Vier?


Apakah Vaya akan menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan yang saat ini dijalaninya?


Mungkin saja orang tua dan seluruh keluarga Yoran akan menerima kehadiran Vaya dengan sambutan hangat. 


Mungkin saja Vaya akan menjadi sosok menantu yang sangat dikasihi lantaran Vaya adalah perempuan pribumi yang begitu istimewa di mata warga negara asing.


Mungkin saja saat ini Vaya dan Yoran akan sangat berbahagia. Membesarkan anak-anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Vaya," ucap Yoran.


"Eh, ehem," Vaya terkesiap dan semua lamunannnya seketika buyar.


"Ada apa, Yoran?"


"Vaya, apa saat ini kau masih sendiri?" tanya Yoran.


"Eh," Vaya kembali terkesiap.

__ADS_1


"Jika saat ini kau sedang dan masih sendiri, apakah kau bersedia memulai hidup yang baru bersamaku?" tanya Yoran.


...*****...


__ADS_2