Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
081 - Sashimi Girl


__ADS_3

Harap bijak, ada terselip adegan menghalu-biru. Yang tidak suka boleh skip. Yang suka, boleh dicoba. 🤭🤭


Selamat membaca..


...*****...


"Vaya, jika kau bergerak sedikit saja, kau benar-benar akan menyesal!"


Vaya bergidik ngeri mendengarkan ancaman dari Vier. Suara Vier terdengar begitu dingin, sedingin es, dan terasa penuh dengan kemarahan.


Vaya hanya bisa menutup mata, ketakutan menyelimutinya. Ia benar-benar berharap ketika membuka mata kembali, semua ini hanyalah mimpinya saja.


Tangan Vier sudah memegang sumpit untuk memindahkan isi wadah berisi potongan tipis ikan segar yang biasa disebut sebagai sashimi.


Dengan penuh kehati-hatian, Vier meletakkan sepotong demi sepotong sashimi di atas kulit Vaya yang terbuka.


Saat ini Vaya benar-benar menjelma menjadi sebuah piring saji di atas meja makan. Tubuhnya yang tanpa sehelai benang mulai dipenuhi potongan daging ikan segar yang terasa dingin di kulitnya.


Vier bahkan melarang Vaya untuk bergerak agar semua potongan sashimi itu tidak terjatuh dari permukaan tubuhnya.


Oh Tuhan, apa yang sedang dilakukan oleh Vier? Apa yang mau dia lakukan?


Sungguh hanya Vier dan Tuhan saja yang tahu karena pria itu sungguh tak tertebak. Suasana pun makin mencekam. Vaya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saja ia bisa melewati malam ini dalam keadaan utuh. Menyongsong pagi yang indah dalam keadaan tubuh lengkap tanpa ada yang hilang.


Tatapan Vier sungguh terlihat seperti pembunuh yang hendak memutilasi korbannya. Itulah yang saat ini dilihat oleh Vaya. Saking takutnya melihat tatapan mata Vier, Vaya memilih untuk memejamkan matanya saja.


"Vaya, mengapa semalam kau sama sekali mengabaikan teleponku?" tanya Vier.


Vaya tidak menjawab pertanyaan Vier. Saat ini otaknya ikut membeku seperti tubuhnya. Suhu penyejuk udara yang dingin, suasana yang mencekam, suara Vier yang begitu dingin seakan melumpuhkan semua saraf di tubuhnya.


"Apa kau sungguh marah padaku?" tanya Vier.


Vaya tidak menjawab pertanyaan Vier, mulutnya terkunci oleh rasa takut yang kian detiknya makin menjadi. Seakan sebentar lagi akan ada gelombang tsunami yang hendak menerjangnya.


Vaya memikirkan apa yang akan dilakukan Vier terhadap tubuhnya. Apa pria itu sungguh ingin mencicipi tubuhnya seperti yang diinginkan oleh pria itu?


Oh tidak! Aku tidak mau! Batin Vaya meronta.


"Vaya, kenapa kau hanya diam saja? Jawab aku!" nada bicara Vier meninggi setengah oktaf.


"Vi- Vier," Vaya merasa tenggorokannya tercekat.


"Oh, apa jangan-jangan semalam kau bersama pria lain, sehingga kau mengabaikan teleponku?" tanya Vier penuh selidik.


Deg.. Jantung Vaya seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan Vier.


"Hmm, jadi benar ya, semalam kau bersama pria lain? Pantas saja semalam kau sampai tidak pulang ke rumah," tuding Vier.


"Vier! Kau jangan mengada-ada begitu!" sahut Vaya pada akhirnya.


"Mengada-ada?! Aku hanya bicara sesuai fakta yang ada!" tandas Vier.


Vaya mencoba bangkit dari meja, namun mengingat bahwa Vier tidak memperkenankannya untuk bergerak, Vaya hanya bisa menjawab sambil menatap langit-langit kamar.


"Haha! Vaya, aku benar-benar tidak akan segan-segan membasahi tanganku dengan darah pria itu!" Vier tertawa dalam kemarahannya.


Vaya bergidik ngeri, seketika dalam benak Vaya terlintas sebuah gambaran yang menyesakkan dadanya.


Yoran terkapar, terkulai lemah, dan bersimbah darah. Vaya menjerit histeris, menangisi keadaan Yoran di tengah tawa Vier yang menggelegar.


Tidak! Itu tidak boleh sampai terjadi! Vaya cepat-cepat membuyarkan imajinasi liarnya.


Vaya harus cepat-cepat memutar otak, memberi alasan yang masuk akal untuk melindungi apa yang harus dilindunginya.


Yoran tidak boleh sampai mati di tangan Vier!


"Vier, aku punya alasan mengapa semalam aku tidak pulang ke rumahmu," sahut Vaya.


"Alasan?" tanya Vier.

__ADS_1


"Ya, semalam aku menginap di mess. Pihak perusahaan bertanya, mengapa aku tak lagi menempati mess, jika aku memang tidak menempati lagi, maka fasilitas mess yang diberikan perusahaan akan ditarik lalu dialihkan ke pegawai lain," jawab Vaya.


Vaya tidak tahu entah bagaimana ia bisa melontarkan kebohongan dengan begitu lancar.


Vier mengitari meja, kini ia berdiri di atas kepala Vaya. Pria itu melipat tangannya di depan dada, menunduk menatap mata Vaya.


"Kenapa kau tidak mengembalikan saja mess-mu ke perusahaan? Alihkan saja untuk orang yang lebih membutuhkan. Apa menurutmu fasilitas di rumahku masih tidak cukup?" tanya Vier.


"Atau kau hanya menggunakan mess sebagai alasanmu saja?"


Vier menyeringai horor, menatap Vaya yang berusaha keras menutupi kebohongannya.


Vaya meneguk ludah, setajam itukah insting Vier untuk mengendus kebohongan Vaya?


"Vier, aku tidak bisa mengembalikan mess ke perusahaan karena aku masih membutuhkan mess itu," jawab Vaya.


"Untuk apa?" tanya Vier.


"Mess itu masih kubutuhkan sebagai tempat tinggal untukku. Ketika nanti kau membuangku, maksudku, lebih tepatnya kau menceraikanku, aku masih tetap punya tempat tinggal yang gratis," jawab Vaya.


"'Apa kau bilang?!"


Vier terperangah mendengar ucapan Vaya. Vaya terkesiap, ia memalingkan wajahnya. Vaya terlalu takut untuk menatap mata Vier yang berkilat penuh kemarahan.


"Vaya, sepertinya aku benar-benar harus membuatmu mengerti arti bertanggung jawab yang sesungguhnya karena kau sudah merusak rencana pernikahanku akibat kebohonganmu!"


"Vi-Vier!" suara Vaya tercekat.


Vier mengulas senyumnya lalu mengambil sepotong sashimi dengan sumpit dan mengarahkannya ke mulut Vaya.


"Makan!" perintah Vier.


"Vi-Vier! A-aku tidak makan ikan mentah," Vaya menolak.


"Makan!" Vier menyuapi Vaya dengan potongan sashimi.


Mana bisa aku makan ikan mentah! Apa Vier pikir aku ini kucing?! Batin Vaya menjerit.


"Baiklah, kalau kau tidak mau makan, biar aku yang menghabiskan semuanya," kata Vier.


"A-apa?!" Vaya tersentak kaget.


Vier mulai menunduk di atas tubuh Vaya. Seketika tubuh Vaya menegang merasakan hembusan napas panas Vier.


"Vi-Vier!"


Vaya terperanjat ketika merasakan bibir Vier yang menyentuh telapak tangannya.


Lidah Vier menyapu telapak tangannya, mengambil potongan sashimi tipis sambil menjilat-jilat bak kucing.


"Vi-Vier!"


Secara refleks, tubuh Vaya menggelinjang.


"Vaya, jika kau bergerak dan menumpahkan semua sashimi ini, kau benar-benar akan menyesal!" ancam Vier.


Oh tidak! batin Vaya benar-benar nelangsa.


Vier kembali memulai sesi makan sashimi di atas kulit Vaya.


Vier menyusuri area lengan Vaya, menyesap, menjilat, sambil mengunyah potongan ikan segar itu.


Vaya merasa tubuhnya seketika memanas terlebih ketika Vier akhirnya sampai di sekitar dada Vaya.


Vaya menegang tak karuan, saat potongan sashimi yang berada di gunung kembarnya dilahap oleh Vier dengan penuh kerakusan.


Oh tidak! Batin Vaya meronta.


Vaya tak kuasa menahan gejolak pada tubuhnya. Ada rasa geli, juga kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya. Sapuan lidah Vier yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi bukit kembarnya membuat Vaya merasa menggila.

__ADS_1


Vaya berusaha untuk tidak bergerak, tapi siapa yang bisa tahan dengan posisi yang membuat tubuhnya jadi bergerak secara reflek?


"Vier! Ugh!" 


Tubuh Vaya melengkung, tangannya berusaha mendorong tubuh Vier. Vier mengambil kedua tangan Vaya, menahan kedua tangan Vaya di atas kepala.


"Vier! Lepaskan aku!" Vaya memohon.


Vaya terpaksa memohon, ia tak sanggup rasanya harus menjadi santapan Vier seperti ini.


"Jangan bergerak, Vaya!" perintah Vier.


"Vier! Kumohon, lepaskan aku!" rengek Vaya.


Vier menyeringai, ia tak peduli meski Vaya merengek dan memohon seperti itu. 


Ia segera melanjutkan kembali wisata kulinernya untuk melahap sejengkal demi sejengkal tubuh Vaya.


Mempelajari anatomi tubuh Vaya, bagian tubuh mana yang benar-benar membuat Vaya merengek minta ampun. Yah, dasar dari memuaskan wanita adalah mempelajari titik-titik sensitif yang tersebar di seluruh tubuh. Apalagi kondisi setiap wanita berbeda-beda sehingga hal tersebut menjadi poin paling krusial bagi seorang pria.


Vier menuju ke perut Vaya, perut yang kerap mendapatkan ejekan penuh dengan tumpukan lemak jahat. Padahal pada saat seperti saat ini, perut Vaya benar-benar sangat ramping. Vier melahap potongan sashimi yang berada di atas perut Vaya yang lagi-lagi memiliki sensitifitas cukup tinggi.


Vaya merasakan kembali kegelian yang membuat tubuhnya kembali bergerak.


Rasa geli, bercampur nikmat yang membuat tubuhnya kembali merasakan sensasi yang menggila. Siksaan Vier kali ini benar-benar siksaan yang mengerikan.


Vaya merasa bahwa siksaan ini membuat tubuhnya bereaksi aneh. Tubuhnya seakan meminta lebih dari sekadar dicium, dijilat, ataupun disesap seperti ini.


Bahaya! Sungguh bahaya! Otak Vaya memberi peringatan akan adanya luapan gejolak hormon-hormon cinta. Hormon dopamin, endofrin, oksitosin, dan serotonin yang mulai bekerja keras membuat Vaya blingsatan.


"Vier! Tolong, berhenti!" rengek Vaya.


Ada rasa takut yang saat ini menyelimuti Vaya. Vaya sungguh tidak ingin kesuciannya direnggut oleh Vier. Ia tidak ingin menyerahkan tubuhnya kepada seorang pria yang tidak dicintainya, tidak diinginkannya, dan pada akhirnya hanya akan membuangnya seperti sampah.


Vier mengabaikan rengekan Vaya. Mulut Vaya merengek minta berhenti, namun tubuh Vaya tidak setuju.


Vier segera menyasar bagian kaki Vaya, menyesap perlahan mulai dari betis, terus naik, naik, naik, secara perlahan dan mantap hingga terus ke simpang keramat.


"Vier! No! Tidak!" Vaya mulai histeris.


Bagaimana Vaya tidak histeris, karena Vier benar-benar sudah jauh tersasar saat menyusuri lembah keramat.


"Vier! Tidak! Lepaskan aku!" Vaya meronta.


"Aah! Aah!"


Vaya mulai mendesaah, menikmati apa yang Vier lakukan di bawah sana.


Vaya menegang tak karuan, air matanya mulai banjir. Ia terlalu takut untuk menghadapi apa yang selanjutnya akan terjadi. Terlebih Vier begitu rakus menyantap tubuhnya seperti ini.


Ada sesuatu yang rasanya hendak menyeruak keluar dari tubuh Vaya. Pemberontakan hormon-hormon cinta yang berusaha mengkudeta ideologi dan idealisme Vaya terhadap momen sensualitas.


Ugh!


Vaya menegang sekaligus menggelinjang tak karuan. Tubuhnya terangkat beberapa senti dari atas meja.


Pusaran tornado alias lidah dari seorang penikmat wanita itu sukses menyerang dan melumpuhkan benteng pertahanan Vaya.


Detik berikutnya Vaya terhempas gelombang kenikmatan yang memporak-porandakan inti dirinya.


Gelombang kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.


Kenikmatan yang membawa ketakutan besar bagi Vaya.


"Oh My Sashimi Girl, I will give you heaven for the next."


Kata-kata Vier menggema dan semakin menakutkan Vaya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2