
Tok... Tok...
Mendengar suara ketukan pintu, Aria yang saat ini sedang sibuk mengerjakan latihan soal ujian nasional segera beranjak ke depan jendela, mengintip ke luar untuk mengetahui siapa yang datang sebelum membuka pintu.
Mata Aria tertuju pada sebuah mobil mewah dan juga rombongan pria berbaju hitam.
"Wah! Kak Vier dan Pak Mike datang!" seru Aria begitu antusias.
Aria langsung membukakan pintu, menyambut tamu yang datang dengan senyum seceria mungkin.
"Hai, Bapak-bapak, di mana Pak Mike dan Kak Vier?" tanya Aria kepada dua pria berbaju hitam di hadapannya.
Sebelum mendapatkan jawaban dari dua pria berbaju hitam itu, sosok seorang wanita paruh baya terlihat turun dari dalam mobil mewah. Wanita berbaju merah gelap dengan topi lebar itu jelas langsung menyita perhatian Aria dan juga para tetangga yang segera kepo begitu melihat adanya rombongan mobil mewah yang berkunjung ke rumah Bu Asih.
Aria langsung menegang saat melihat wanita paruh baya yang membuka kacamata hitam serta topi lebarnya lalu menyerahkannya kepada dua pria berbaju hitam yang berjaga.
Bagi Aria wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terasa lebih menyeramkan daripada Tante Darti.
"Selamat siang, apa ibumu ada?" tanya wanita itu dengan ramah.
"I- Ibu! Ibu!" seru Aria.
Bu Asih yang sedang menyapu halaman di belakang rumah terkejut mendengar seruan Aria.
"Aria, ada apa teriak-teriak begitu?" Bu Asih berjalan kembali memasuki rumahnya.
Pandangan Bu Asih tersita pada penampilan seorang wanita paruh baya berpakaian formal berwarna merah gelap yang berdiri di ambang pintu.
"Bu Asih ya?" wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Bu Asih.
"I-iya," Bu Asih tergagap saat menyambut uluran tangan wanita yang langsung menjabat tangannya.
"Perkenalkan, nama saya Cintami Yanjayadi, saya adalah ibu dari Vier," wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Eh, oh, Anda ibunya Vier? Vier menantu saya?" tanya Bu Asih tak percaya.
"Benar, Bu Asih," jawab Bu Cintami.
"Mari Bu, silakan masuk!" ajak Bu Asih. "Silakan duduk, Bu Cintami, maaf kondisi rumah saya seadanya seperti ini."
Bu Cintami mengedarkan pandangannya sambil berusaha untuk duduk bersimpuh di lantai.
"Aria, tolong buatkan Bu Cintami minum," pinta Bu Asih.
__ADS_1
"Bu Asih, tidak perlu repot-repot. Saya hanya mampir sebentar saja," kata Bu Cintami.
Bu Asih tak lepas memandangi wajah Bu Cintami yang masih terlihat begitu cantik dengan tubuh yang masih bagus terbungkus pakaian mewah.
Bu Asih jadi merasa minder dengan penampilannya sebagai ibu-ibu berdaster dengan tubuh gemuk berisi.
Yah, memang benar kata orang, nasib seorang wanita itu tergantung dari siapa pria yang menikahinya.
"Terima kasih sudah berkenan mampir ke rumah saya. Saya sungguh senang, ini pertama kalinya saya melihat besan saya," kata Bu Asih.
"Saya benar-benar minta maaf tidak bisa hadir di acara pernikahan Vier dan Vaya. Saya dan ayah Vier begitu sibuk dengan urusan kami di luar negeri," ucap Bu Cintami.
"Saya bisa memaklumi itu," kata Bu Asih.
"Saking sibuknya saya dengan pekerjaan saya, saya sampai tidak memerhatikan Vier dengan baik, termasuk siapa wanita yang pada akhirnya dinikahinya," kata Bu Cintami.
Bu Asih tertegun mendengar ucapan Bu Cintami. Bu Cintami menatap lurus ke arah Bu Asih.
"Bu Asih, sebelumnya saya minta maaf, saya bukannya bermaksud untuk mempertanyakan bagaimana Anda mendidik anak gadis Anda," tukas Bu Cintami.
"Karena saya secara pribadi sangat menekankan pada Vier, pentingnya bertanggung jawab atas semua hal yang ia lakukan," lanjut Bu Cintami.
"Jujur saja Bu, saya sungguh sangat terkejut saat tahu bahwa Vier tidak menikahi tunangannya melainkan justru menikahi Vaya," jawab Bu Cintami.
"Vier sampai membatalkan pernikahannya dengan tunangannya lantaran harus menikahi Vaya. Saya sungguh merasa kasihan pada Vier, Vier harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya."
Jderr...
Bu Asih seakan mendengar ada suara petir besar yang menyambar dalam kepalanya.
Aria yang berada di samping ibunya ikut terkejut.
"Bu Asih, kita sebagai sesama perempuan, pastinya tidak ingin martabat kita sebagai perempuan jatuh lantaran adanya perempuan murahan yang menjadikan tubuhnya sebagai komoditas," lanjut Bu Cintami.
Bu Asih merasakan nyeri yang teramat sangat dalam dadanya.
"Bu Cintami, mohon maaf sebelumnya, bagaimana Anda bisa menuduh anak saya seperti itu?" tanya Bu Asih dengan suara bergetar.
"Bu Asih, saya tidak menuduh anak Anda. Saya mendengar sendiri dari tunangan Vier. Tunangan Vier terpaksa membatalkan pernikahannya lantaran mendengar pengakuan bahwa saat masih sekolah dulu, Vaya mengaku pernah hamil dan menggugurkan janinnya atas permintaan Vier," jawab Bu Cintami.
"A-apa?!" Bu Asih langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Bu Asih, saya tahu, Anda pasti sudah mendidik anak-anak Anda dengan baik. Hanya saja mungkin tuntutan hiduplah yang pada akhirnya membuat Vaya harus mengambil jalan seperti itu," lanjut Bu Cintami.
__ADS_1
Bu Asih merasakan rasa sesak di dadanya makin menjadi-jadi.
"Oleh karena itu, Bu, saya harap, Anda bisa memberi nasehat kepada Vaya bahwa tidak baik merampas apa yang menjadi hak milik orang lain," kata Bu Cintami.
"Kalau memang membutuhkan uang karena sedang kesulitan ekonomi, silakan saja, saya tidak keberatan untuk memberi bantuan," lanjut Bu Cintami.
Bu Cintami merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sebuah amplop.
"Saya tidak membawa buah tangan kemari, jadi saya berikan ini sebagai gantinya," kata Bu Cintami sambil mengulas senyum.
Tangannya yang ramping dan berhiaskan cincin berlian menyodorkan amplop putih berisi cek.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas waktu Anda," Bu Cintami segera bangkit dari duduknya.
"Bu Cintami," kata Bu Asih.
Langkah Bu Cintami terhenti di ambang pintu.
"Bagaimana Anda bisa menuduh anak saya seperti ini? Saya sangat percaya bahwa anak saya tidak seperti yang Anda tuduhkan!"
Bu Cintami melayangkan tatapan skeptis.
"Bu Asih, sekarang saya tanya pada Anda, memangnya apa yang anak Anda miliki sampai anak saya bersedia menukar tunangannya yang sempurna demi memilih anak Anda?"
"Anak Anda jelas sudah menjebak Vier pada sebuah tanggung jawab! Tanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh orang lain, namun Vier yang harus menanggung akibatnya!"
"Hamil di usia sekolah, sampai harus melakukan aborsi jelas merupakan perbuatan yang sungguh rendah dan kejam!" tandas Bu Cintami.
"Saya sungguh tidak bisa menerima wanita seperti itu untuk menjadi menantu saya. Saya sungguh merasa kecewa sehingga saya berharap, Anda bisa mengambil sikap sebagai orang tua!"
Bu Cintami segera pergi bersama rombongannya. Sementara Bu Asih hanya bisa termangu.
...*****...
"Huek... Huek..."
Vaya merasakan mual yang sangat. Namun ia berusaha menahan mualnya lantaran saat ini ia sedang mengemasi barang-barang yang ada di meja kerjanya.
Kring..
Dering ponselnya membuat Vaya segera menjawab telepon.
"Halo, Ibu," jawab Vaya.
__ADS_1
"Vaya, apa kamu bisa pulang? Ada yang ingin Ibu bicarakan," kata Bu Asih.
...*****...