
Malam mulai turun bertepatan dengan bersandarnya kapal pesiar mewah yang membawa Vaya dan Vier untuk berburu senja di laut Maldives.
Vier masih menggandeng tangan Vaya begitu keluar dari kapal pesiar dan mereka pun berjalan kaki di sepanjang dermaga yang disinari cahaya lampu-lampu hias di sisi kanan-kiri dermaga.
Vaya masih merasakan debaran jantungnya yang menggila di setiap detik saat memandangi wajah Vier yang tersenyum hangat padanya.
Vaya membuka sepatunya begitu mereka turun dari dermaga, menyusuri pasir pantai yang masih terasa hangat.
"Kemarikan sepatumu, biar aku yang bawa," kata Vier sambil mengambil sepatu yang ditenteng Vaya.
Vaya mengulas senyumnya, mereka kembali menyusuri jalan berpasir yang hangat, angin malam yang berhembus lembut membawa aroma laut.
Netra Vaya terpana melihat sebuah meja yang sudah disiapkan untuk makan malam mereka. Di sekitar meja mereka terdapat tiang-tiang penyangga yang dililiti lampu hias kecil membentuk tenda.
Vaya yang begitu terpana mengamati dekorasi tempat makan malam mereka. Vier segera menarik Vaya ke pangkuannya.
"Vi-Vier," Vaya tergagap.
"Bagaimana? Apa kau suka pemandangannya?" tanya Vier sambil memandangi wajah Vaya.
Vaya tersipu malu dengan tatapan Vier yang benar-benar seakan melelehkan dirinya.
"Bagaimana, Vaya?" tanya Vier sambil mempererat pinggang Vaya yang berada dalam rangkulannya.
"Hmm, tentu saja aku suka," jawab Vaya langsung mengulas senyum selebar mungkin.
"Kau lebih suka memandangi pemandangan ini atau memandangi wajahku?" tanya Vier.
"Haha," Vaya tertawa sambil memandangi wajah Vier.
Pemandangan malam yang begitu indah dan wajah tampan Vier jelas merupakan pilihan yang begitu sulit untuk dipilih oleh Vaya yang saat ini sedang merasakan debaran-debaran yang menggelitik perutnya.
"Excuse me, Sir."
Sapaan dari pelayan dan koki yang datang, membuat Vaya segera turun dari pangkuan Vier. Vaya benar-benar merasa salah tingkah karena kepergok seperti ini.
Vaya segera duduk di kursinya untuk menyambut hidangan pembuka yang diantarkan langsung oleh pelayan dan juga koki.
Hidangan pembuka tersebut langsung membuat Vaya meneguk ludahnya. Potongan ikan segar yang masih mentah dipotong dadu kecil, dilapisi buah alpukat yang jug dipotong dadu kecil.
"Vier, ini ikan mentah?" tanya Vaya.
"Ya, apa masalah bagimu?" Vier balik bertanya.
Kening Vaya berkerut, ikan mentah tentu saja membuatnya jadi teringat saat Vier menjadikan tubuhnya sebagai piring saji.
"Tidak usah dimakan jika kau tidak suka. Kita bisa pesan menu pembuka yang lain," kata Vier.
Vier masih mengulas senyumnya ke arah Vaya sambil memakan makanan tersebut.
"Vier, apa enak?" tanya Vaya.
"Tentu saja, apalagi sambil melihatmu seperti ini," sahut Vier.
Vaya merasakan isi perutnya bergejolak, rasa grogi yang luar biasa menggelitik perutnya.
"Seperti ini? Apa maksudmu, Vier?" Vaya balik bertanya untuk menutupi rasa groginya.
"Ya, maksudku, melihatmu tersenyum sepanjang hari, terlihat bahagia, dan menikmati hari ini, sungguh membuatku merasa sangat baik," jawab Vier.
Tatapan mata Vier yang hangat, dan senyumnya yang luar biasa menawan itu jelas menawan hati Vaya.
Vaya bahkan tanpa sadar mulai menyendok dan memakan hidangan pembukanya.
__ADS_1
"Hmmm...," Vaya tersenyum sumringah sambil mengunyah ikan mentah dan alpukat itu. "Ini enak, Vier!"
"Kau jangan meremehkan seleraku," sahut Vier dengan penuh kebanggaan.
"Haha," Vaya tertawa menanggapi Vier.
Selesai menyantap hidangan pembuka, pelayan datang menyingkirkan piring-piring dan menggantinya dengan piring-piring berisi hidangan utama.
Koki kembali hadir untuk menjelaskan hidangan yang disajikan. Ada steak ikan, gulai ikan, sayur panggang, dan tentu saja dua ekor lobster Maldives panggang berukuran raksasa yang disajikan di atas wadah aluminium.
"Please, enjoy," kata koki itu.
"I'll appreciate it," sahut Vier.
Koki segera meninggalkan Vaya dan Vier untuk menyiapkan hidangan penutup.
"Woaah! Lobsternya besar sekali, Vier!" Vaya terpukau.
"Ya, lobster Maldives memang merupakan menu utama di Maldives," sahut Vier.
"Eh, tapi, bukankah kau tidak makan lobster?" tanya Vaya.
Vier mengangguk.
"Ya, sudah, segeralah makan, karena hidangan penutup akan segera menyusul," kata Vier.
Vaya dengan begitu antusias langsung mematahkan ekor lobster berukuran raksasa itu. Vaya segera menyantap daging lobster yang begitu segar dan lembut.
"Vier, kau sungguh tidak mau mencobanya? Ini enak sekali lho," kata Vaya.
Vier hanya mengulas senyumnya.
"Haha, Vaya, kau pasti pernah mendengar kisah Adam yang diusir dari surga karena memakan buah pengetahuan. Siapa yang membujuk Adam untuk memakan buah itu?" tanya Vier.
"Buah pengetahuan? Oh, apa maksudmu buah terlarang?" tanya Vaya.
"Tentu saja iblis!" jawab Vaya.
"Hmm, ya, iblis memang menggoda. Namun justru Hawa yang membujuk Adam. Persis seperti yang kau lakukan saat ini," Vier menyeringai.
"Haha, ya sudah, kalau begitu kuhabiskan sendiri saja," Vaya tertawa.
Vier mengulas senyumnya, melihat Vaya yang terlihat begitu antusias menyantap lobsternya.
"Kau benar-benar suka sekali seafood ya, Vaya?" tanya Vier.
"Ya, sangat!" sahut Vaya. "Kau sendiri?" tanya Vaya.
"Kau," jawab Vier.
"Hee?!" Vaya tertegun.
"Maksudku, aku suka melihatmu makan dengan porsi banyak dan lahap seperti ini. Sangat ampuh untuk membuatku merasa kenyang," sahut Vier sambil menyeringai jahil.
"Haha," Vaya tertawa kecut.
Vaya benar-benar sudah kebal dengan segala macam ejekan Vier.
Beberapa saat kemudian pelayan datang mengantarkan hidangan penutup berupa puding cokelat dengan es krim vanila yang diberi lelehan cokelat dan hiasan berbentuk sarang burung yang terbuat dari karamel.
Lagi-lagi Vaya terpana dengan hidangan penutup yang begitu estetik. Vaya segera menyantap es krimnya sebelum semuanya meleleh.
"Vaya, apa kau sangat menikmati hari ini?" tanya Vier.
Vaya mengangguk. "Sangat."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu bersiaplah, kita akan segera pulang," ucap Vier.
"Pulang? Pulang ke mana?" tanya Vaya.
"Pulang ke tanah air," jawab Vier sambil mengulas senyumnya.
Seketika Vaya langsung menegang.
"Ke-kenapa kita harus pulang, Vier?" tanya Vaya.
"Vaya, bukankah semalam kita sudah sepakat?" Vier balik bertanya.
Vaya merasakan kecewa yang mendadak bersarang dalam dadanya. Padahal ia baru saja mulai menikmati waktu liburan yang sangat menyenangkan. Tiba-tiba saja harus pulang seperti ini jelas membuat Vaya merasa kecewa.
"Ada apa, Vaya?" tanya Vier.
"Hmm, tidak," jawab Vaya sembari menyantap es krimnya.
...*****...
Selesai makan malam, mereka pun kembali ke vila. Vaya melangkah gontai, rasa kecewa yang bersarang di dalam dadanya semakin besar.
"Vaya, ada apa?" tanya Vier saat mereka menyusuri jembatan menuju ke vila.
"Vier," Vaya menggenggam tangan Vier lebih erat.
"Aku tidak mau pulang," ucap Vaya.
"Vaya, kenapa kau tidak mau pulang? Bukankah semalam kau yang meminta untuk pulang?" tanya Vier sambil menyeringai.
Vaya menggeleng cepat.
"Aku tidak mau pulang sekarang," jawab Vaya.
"Kenapa kau tidak mau pulang sekarang?" tanya Vier.
Vaya menatap Vier lekat-lekat.
"Aku ingin di sini bersamamu lebih lama, Vier," jawab Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Kita harus pulang, Vaya. Kita sudah sepakat," ucap Vier tegas.
Vaya kembali berjalan dengan langkah yang terasa begitu berat saat memasuki vila.
Vier segera membereskan beberapa barang pribadinya yang berada di atas nakas untuk di simpan di dalam tasnya.
Tiba-tiba saja Vaya langsung memeluknya dari belakang.
"Vier, kumohon, kita jangan pulang dulu ya," pinta Vaya.
Vier segera memutar tubuhnya, menghadap Vaya yang saat ini memasang ekspresi memelas.
"Vaya, kita sudah sepakat untuk pulang hari ini, sesuai dengan keinginanmu," ucap Vier.
"Ya, aku memang menginginkan seperti itu semalam! Tapi aku tidak menginginkan itu sekarang!" ucap Vaya.
"Jadi apa yang kau inginkan sekarang, Vaya?" tanya Vier keheranan.
"Aku menginginkanmu, Vier!" Vaya menatap Vier.
"Seberapa besarkah kau menginginkanku?" tanya Vier sambil mengambil dagu Vaya.
Tanpa perlu menjawab, Vaya langsung menarik Vier dan mengunci bibir pria itu dengan bibirnya.
__ADS_1
...*****...