Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
176 - Kesepakatan


__ADS_3

"Ibu!"


Vero melangkah pelan menuruni tangga. Bocah itu mendapati ibunya yang sedang berada dalam pelukan Vier.


Vaya terperanjat mendengar suara Vero, reflek ia berusaha menjauh dari Vier, namun Vier menahannya. Vaya mendongak saat Vier memberi kode untuk berpura-pura tidur.


Vaya pun cepat-cepat memejamkan matanya, ia tak punya pilihan selain mengikuti kode yang diberikan Vier. Tentunya ia harus memikirkan alasan apa yang harus diutarakan pada Vero yang sudah memergokinya seperti ini.


"Ibu!"


Vero menghampiri Vaya, menggoyang-goyangkan lengan ibunya yang tengah terlelap dalam pelukan Vier.


"Ibu, kenapa tidur di sini?! Bangun Bu!"


"Ini juga, Pak Vier! Kenapa peluk-peluk ibuku?!"


Vero mendorong Vier, Vier mengulas senyumnya, ingin rasanya ia juga menarik Vero ke dalam pelukannya.


"Hoamm!" Vaya pura-pura menguap sambil mendorong Vier untuk melepas pelukannya.


"Lho, Vero?" ucap Vaya.


"Ibu!" Vero menyeruak masuk ke pelukan Vaya.


"Ibu kenapa tidur di sini? Kenapa peluk-peluk Pak Vier?"


"Peluk Pak Vier?! Oh, Ibu pasti sudah ketiduran," jawab Vaya.


Ya, ampun, Vaya! Kau ini benar-benar wanita pembohong! Batin Vier.


"Hmmm, Vero, aku bukan bermaksud memeluk ibumu. Aku hanya merasa demam dan butuh sesuatu untuk dipeluk agar merasa nyaman," Vier menjelaskan pada Vero.


"Sembarangan peluk-peluk ibuku! Memangnya ibuku guling?!" sembur Vero.


Vier mengulas senyum namun cepat-cepat ia memasang ekspresi memelas lantaran Vaya melotot ke arahnya


"Vero, kalau kau sakit, kau pasti memeluk ibumu kan?" tanya Vier.


"Tentu saja!" jawab Vero.


"Nah, aku pun juga begitu. Saat sakit aku juga butuh pelukan," lanjut Vier.


"Kalau begitu, peluk saja ibu Pak Vier, jangan peluk ibuku," cibir Vero.


Vier ingin tertawa mendengar cibiran Vero. Dengan gemas Vier mengacak-acak rambut Vero.


"Ya sudah, kalau aku tidak boleh memeluk ibumu, kalau begitu, aku memelukmu saja," tukas Vier.


"Tidak mau! Nanti aku ketularan sakit!" tolak Vero.


"Ayo Bu," Vero mengajak Vaya pergi.

__ADS_1


"Uhukk, Vaya," Vier memelas.


Vaya melotot ke arah Vier sebelum pergi ke lantai atas bersama Vero.


Mike yang mengamati dari depan jendela hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dasar keluarga penuh drama, batin Mike.


Mike mengusap lengannya, meski masih mengenakan jas, ia tetap merasa kedinginan.


"Apa sebaiknya aku tidur di mobil saja?" gumam Mike.


"Tapi, bagaimana kalau ada apa-apa di dalam?" Mike masih bergumam.


"Mike."


Mike terkesiap, ia menoleh ke arah Vier yang sudah berdiri di depan pintu.


"Pak Vier," Mike segera beranjak dari kursinya.


"Mike, apakah sebaiknya kita pergi sekarang?" tanya Vier.


"Pergi sekarang?" Mike mengerutkan sebelah alisnya.


"Sepertinya tidak ada gunanya aku tetap berada di sini lebih lama. Vaya sungguh tidak bersedia kembali padaku, meski aku sudah memintanya," ucap Vier dengan penuh kegetiran.


"Tapi Pak...," ucapan Mike tertahan.


"Aku tidak bisa terus berada di sini lebih lama, Mike. Aku takut, aku akan kembali memaksakan kehendakku pada Vaya! Aku takut Vaya akan semakin terluka lantaran egoku. Aku pun juga tak ingin membuat Vero semakin berpikir bahwa aku adalah ayah yang benar-benar jahat dan layak untuk dipenjara," ucap Vier.


Mike menghela napas berat, rasanya sungguh sangat disayangkan sekali. Mereka sudah sampai sejauh ini untuk menjemput kembali Vaya dan Vero. Namun Vaya yang bersikeras menolak dan Vier yang tidak bisa memaksakan kehendak, jelas tidak akan menemukan titik temu.


Hingga pada akhirnya Vier pun memilih untuk mengalah.


"Baiklah, jika ini memang keputusan Anda. Hanya saja, akan sangat beresiko jika kita pergi sekarang, Pak. Ini sudah lewat tengah malam dan Anda perlu beristirahat untuk memulihkan kondisi Anda," Mike mengutarakan pendapatnya.


"Mike, aku merasa lebih cepat aku pergi akan lebih baik. Aku merasa bahwa kepergianku adalah hal yang sangat diinginkan Vaya saat ini," kata Vier melayangkan pandangannya ke arah jalan yang begitu sunyi dan senyap.


Hanya embusan angin malam yang begitu dingin dan aroma hujan, membuat kegelisahan Vier semakin besar.


...*****...


Vaya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ia menatap langit-langit, lalu beralih pada Vero yang terlelap di sampingnya.


Vaya merasakan keresahan dan kegelisahan yang begitu besar.


Saat ini, di lantai bawah, ada Vier yang selama ini begitu dirindukannya. Rasa marah dan kecewa yang ia miliki pada pria itu mengambil alih hati dan perasaannya.


Vaya terlalu takut jika Vier hanya kembali mempermainkannya saja.


Selama tiga tahun ini, Vaya bahkan hidup tanpa ada kepastian yang jelas dari Vier. Seakan pria itu memang sedang mempermainkannya. Meminta Vaya untuk memberi bukti bahwa Vaya sangat mencintainya, namun Vier justru malah mempermainkannya.

__ADS_1


...*****...


Menjelang pagi, Vaya yang benar-benar tidak bisa terlelap segera beranjak dari tempat tidurnya. Sudah waktunya untuk bersiap-siap membuka warung. Begitu pula dengan Bu Asih yang sudah bangun dari tidur. Sementara Aria dan Vero masih terlelap dalam selimut mereka yang hangat.


Bu Asih memilih untuk tidak banyak bertanya pada Vaya. Wanita paruh baya itu sudah memutuskan untuk bersikap netral, tidak memihak anak ataupun menantunya. Beliau menyerahkan semua keputusan di tangan Vaya.


Bu Asih menuruni tangga secara perlahan sambil memindai ruang bawah yang nampak senyap.


"Selamat pagi, Bu," sapa Vier yang duduk di salah satu kursi kosong.


"Bagaimana keadaanmu, nak Vier?" Bu Asih mengamati penampilan Vier yang sudah rapi.


"Saya sudah merasa lebih baik, Bu, terima kasih sudah mencemaskan saya," ucap Vier.


Vaya menuruni tangga dengan perasaan was-was. Saat ini ia merasa pusing lantaran sama sekali tidak bisa tidur.


Begitu melihat Vier yang sudah terlihat rapi, hati Vaya rasanya kembali teriris. Pria itu terlihat jelas seakan sudah bersiap untuk pergi.


"Vaya," sapa Vier.


Vaya hanya membalas sapaan Vier dengan pandangan datar.


"Vaya, apa kita bisa bicara sebentar saja? Lima menit," pinta Vier.


...*****...


Vaya mengikuti langkah Vier yang membawanya pergi ke halaman rumah. Udara pagi masih begitu dingin dan tetesan embun sudah mulai membasahi dedaunan.


"Vaya."


Vier menghentikan langkahnya, tubuhnya berputar menghadap ke arah Vaya.


"Vaya, bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"


"Kesepakatan apa?" tanya Vaya.


"Jangan bilang kau tidak akan mengatakannya sebelum aku mengatakan sepakat!"


"Aku harus mendengar dulu apa yang kau tawarkan, mempertimbangkannya baik-baik sebelum memutuskannya."


Vaya sungguh tidak mau tertipu dan terjebak seperti dulu lagi.


"Baiklah, akan kukatakan dengan jelas, kemudian kau pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskannya. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, namun tentu dalam waktu terbatas yang sudah kutentukan."


Vier memulai negosiasi dengan gayanya yang khas.


"Ikutlah denganku ke Paris, maka aku akan mengabulkan apa pun yang kau inginkan, meski itu adalah sebuah perceraian," ujar Vier.


"Kutunggu jawabanmu satu jam lagi."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2