
Kok bisa Vier ada di sini?
Pertanyaan itu merasuki benak Vaya tatkala matanya terpaku pada rombongan pria parlente yang keluar dari ruangan VIP di restoran Jepang itu. Sosok Vier jelas menjadi sosok yang paling menyita perhatian. Pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata pria di negara ini selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa.
Ah sial! Kenapa Pak Mike tidak memberitahuku? Ini benar-benar sangat gawat jika dia sampai melihatku! Apa yang harus kulakukan?
Vaya berusaha untuk tetap tenang meski saat ini keadaan benar-benar sangat genting. Entah hukuman apa yang akan Vaya terima jika Vier memergokinya bersama para pria seperti ini. Meski Vaya menjelaskan sampai mulutnya berbusa, tetap saja Vier akan menganggapnya melakukan kesalahan dengan mengencani tiga pria sekaligus!
Ya, Vier pasti akan menuduh Vaya seperti itu, mencari-cari kesalahan yang akhirnya membuat Vaya harus kembali mendapatkan hukuman-hukuman gila.
Vaya benar-benar tak ingin Vier menghukumnya seperti mengikat Vaya dengan tali, lalu menyaksikan film bergenre horor yang dibencinya hingga akhirnya terjadi panggilan alam semesta yang begitu memalukan
Ayo Vaya, pikirkanlah sesuatu sebelum Vier kemari dan menyeretmu pergi lalu mengikatmu!
Klang...
Vaya sengaja menjatuhkan garpu yang dipegang agar punya kesempatan untuk bersembunyi di bawah meja.
"Bu Vaya, sudah tidak perlu diambil," kata Pak Andre.
Aduh! Kenapa Pak Andre pakai menyebutkan namaku sih?! Gerutu Vaya.
Vaya sengaja berada di bawah meja lebih lama, menggapai-gapai seakan mencari sesuatu sambil sesekali melirik ke arah rombongan Vier yang mulai meninggalkan restoran.
"Apa yang Anda lakukan, Bu Vaya?" Bisma menunduk di bawah meja.
"Eh, oh, garpunya hilang entah ke mana," jawab Vaya sambil menyeringai.
Vaya segera kembali duduk di kursinya begitu penampakan rombongan Vier sudah sirna dari restoran itu.
Vaya menghela napas, sungguh detik-detik yang sangat mendebarkan. Untunglah Vier tidak melihatnya. Namun tiba-tiba Vaya tersadar, jika Vier sudah meninggalkan restoran, itu artinya Vier sedang dalam perjalanan pulang.
Bagaimana jika dia tiba lebih dulu dari Vaya? Bukankah itu akan menjadi masalah lagi untuk Vaya?
"Ada apa, Bu Vaya? Anda terlihat gelisah," kata Pak Andre.
"Pak Andre, begini, emm, maaf, sepertinya saya harus pulang lebih dulu karena saya masih ada urusan," kata Vaya ragu-ragu.
"Oh begitu, sayang sekali," kata Andy.
"Pak Andre, Pak Andy, Pak Bisma, terima kasih untuk makan malamnya, saya permisi dulu," Vaya berpamitan.
Andy menyenggol lengan Bisma, memberi kode agar pria itu segera bertindak.
"Bu Vaya, tunggu."
Vaya menoleh ke arah pria yang setengah berlari menghampirinya.
"Pak Bisma, ada apa?" tanya Vaya.
"Jika Anda tidak keberatan, saya ingin mengantar Anda pulang," jawab Bisma sambil menunduk.
"Terima kasih, Pak, tapi maaf saya tidak ingin merepotkan Anda," Vaya menolak.
"Tidak apa-apa, Bu," kata Bisma.
Vaya memasuki lift diikuti Bisma. Bisma berkali-kali membetulkan letak kacamatanya.
Vaya mengambil gawai cerdas, berkutat di sana untuk mengirimkan pesan pada Mike.
__ADS_1
Tring..
Pintu lift terbuka, Vaya melangkah mundur secara reflek melihat langkah-langkah kaki yang memasuki lift.
Vaya masih tetap terfokus pada gawai cerdasnya, menunggu balasan pesan dari Mike.
"Bu Vaya, ngomong-ngomong, Anda sudah punya pacar?" tanya Bisma.
"Tidak, saya tidak punya pacar," jawab Vaya.
"Maaf, Bu Vaya, saya tidak bermaksud untuk membebani Bu Vaya. Sejujurnya Bu Vaya ini sungguh tipe wanita yang saya kagumi," kata Bisma malu-malu.
"Bu Vaya adalah sosok wanita pekerja keras, cerdas, dan mandiri, saya sungguh mengagumi pembawaan Anda yang tenang dan dewasa," lanjut Bisma.
"Hmm, ya ampun, Pak Bisma, tolong jangan memuji saya seperti itu. Saya sungguh tidak merasa seperti yang Anda sebutkan," sahut Vaya.
"Tidak, Bu Vaya sungguh tipe wanita idaman saya," kata Bisma.
"Oleh sebab itu, apakah Anda keberatan jika saya ingin mengenal Anda lebih dekat?" tanya Bisma.
Kling..
Sebuah pesan muncul di layar gawai cerdas Vaya.
...Bu Vaya, Pak Vier sungguh keberatan....
Vaya terperangah membaca pesan yang dikirimkan Mike padanya.
Apa maksud Mike?
Vaya mendongak, menatap bayangan yang terpantul di dinding lift. Vaya cepat-cepat menutup mulutnya sebelum ia berteriak histeris tatkala melihat Vier dan Mike yang berada di dalam lift yang sama dengannya.
...*****...
Pintu lift terbuka, tiba di lantai yang menjadi tujuan Vaya. Vaya segera keluar dari lift, yang membuatnya kehabisan napas. Tak sanggup rasanya ia bernapas ketika melihat kilatan kemarahan yang terpancar jelas di mata Vier.
"Bu Vaya, Anda baik-baik saja?" tanya Bisma.
Vaya berusaha mengatur napas, paru-parunya seakan menyusut selama ia tak bisa bernapas dengan baik dan benar.
"Pak Bisma, terima kasih sudah mencemaskan saya. Saya baik-baik saja," jawab Vaya.
"Oh, begitu, baiklah," kata Bisma.
"Pak Bisma, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan Anda mengantar saya pulang. Tapi saya bisa pulang sendiri. Selamat malam," Vaya berpamitan.
Vaya bergegas pergi meninggalkan Bisma.
"Bu Vaya, tunggu!" seru Bisma.
Vaya mempercepat langkahnya, saat ini yang ia inginkan hanyalah pulang ke rumah dan bersembunyi.
Sebuah mobil mewah terhenti di depan halte tempat Vaya menunggu taksi daring yang akan dipesannya.
Pintu mobil mewah itu terbuka, sosok Vier sudah duduk menunggu di kursi belakang.
"Masuk!" perintah pria itu.
Dengan gemetaran, Vaya memasuki mobil dan duduk di samping Vier.
__ADS_1
...*****...
Sepanjang perjalanan pulang, Vier tak mengucapkan sepatah kata pun. Sudut mata Vaya melirik Vier yang nampak terus berkutat di depan benda pintar berbentuk persegi panjang nan tipis itu.
Vaya hanya bisa menautkan seluruh jemarinya, mencengkeram erat hingga rasanya ia bisa mematahkan jarinya.
Hukuman apa yang kira-kira akan diterima oleh Vaya?
Apakah Vier akan mengikatnya, menggantungnya terbalik, kemudian mencambuknya dengan cambuk kulit?
Atau Vier akan mengikat Vaya, meneteskan lelehan lilin panas ke sekujur tubuh Vaya sambil mencambuki tubuh Vaya dengan cambuk kulit?
Oh, tidak! Aku benar-benar bisa mati di tangan Vier!
Vaya hanya bisa memikirkan kemungkinan terburuk yang pasti dialaminya sebagai bentuk hukuman dari Vier.
Tidak! Aku harus menjelaskan pada Vier! Semua itu hanya salah paham!
...*****...
Sesampainya di rumah, Vaya segera mengikuti langkah Vier. Vier yang diam seperti ini benar-benar sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan daripada ketika pria itu meluapkan kemarahannya pada Vaya.
"Anu, Vier," Vaya berusaha menghentikan langkah Vier.
Langkah Vier terhenti, Vaya mengulurkan kedua tangannya.
"Kau boleh mengikatku, tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu," kata Vaya.
Vier mengulas senyum dinginnya.
"Vaya, lebih baik sekarang kau mandi, sikat gigimu yang bersih, lalu temui aku di ruang kerjaku," perintah Vier.
"Hee, ruang kerja?" Vaya melotot.
Ruang kerja Vier jelas masih membuatnya teringat pada saat pria itu mengikatnya dengan lakban.
"Vier," kata Vaya.
"Vaya, ini perintah!"
Vier segera meninggalkan Vaya dan menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Sungguh ironis, Vaya terciduk dan kembali harus menerima hukuman. Entah hukuman macam apa yang sedang menunggu Vaya saat ini.
Sepertinya malam ini aku benar-benar akan mati!
...*****...
Pembaca setia yang dipenuhi dengan kehaluan hakiki kesayangan author.
Terima kasih sudah membaca karya recehan author sampai di episode ini.
Kenapa author up-nya pagi-pagi?
Karena author garap tiap episode saat sahur. Kalau telat up, biasa karena memang episodenya belum kelar digarap atau author ketiduran. 😁😁
Untuk pembaca yang sedang dalam perjalanan mudik, semoga selamat sampai di tempat tujuan. Buat yang tidak mudik macam author, yuk temani author menulis episode demi episode.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta dan kasih sayang untuk menyemangati author.
😁😁😁😁