
"Haha," Yoran tertawa lagi.
Yoran sampai menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Vaya.
"Astaga, Vaya, yang benar saja."
Vaya bisa melihat Yoran tertawa lepas namun masih tetap anggun.
"Vaya, bagaimana kau bisa berpikir bahwa VY itu adalah Vierlove Yanjayadi? Maksudmu Vier yang itu?" tanya Yoran keheranan.
"Hehe, entah mengapa semua itu terlintas begitu saja di kepalaku," jawab Vaya.
"Vaya, Vier itu seorang pria lho," ujar Yoran.
"Hm, ya, mungkin aku jadi teringat kau dan Vier, karena kalian sering nongkrong bersama," jawab Vaya sembari terkekeh.
"Haha, begitu ya," Yoran kembali tertawa.
Vaya kembali melemparkan pandangannya ke arah lapangan. Seketika alam bawah sadar membawanya kepada kenangan masa lalu yang begitu memalukan.
Di lapangan itu, ia menghampiri Yoran, menyerahkan selembar surat cinta yang harus berakhir di tangan Vier.
Yoran melihat perubahan ekspresi Vaya yang tadinya begitu ceria mendadak berubah murung.
"Vaya, ayo kita pergi makan mie ayam," ajak Yoran.
"Eh, apa?" Vaya tersadar dari lamunannya.
"'Mie ayam," Yoran mengulangi.
...*****...
Warung mie ayam yang berada di kantin sekolah mulai terlihat sepi, sudah tidak banyak murid yang nongkrong di sana. Sungguh berbeda ketika Vaya masih sekolah dulu. Warung itu terkenal menyediakan mie ayam dengan harga bersahabat dalam porsi besar. Tak heran menjadi langganan para murid laki-laki. Pemilik warung pun sudah berganti, bukan lagi Pak Tua bersama istrinya.
"Anak-anak zaman sekarang sudah jarang kumpul-kumpul, nongkrong sepulang sekolah, mereka semua ngumpulnya di grup chat, ngumpul bersama tapi masing-masing pegang gawai cerdas," cerocos Vaya.
"Sungguh berbeda sekali dengan zaman kita masih sekolah dulu," lanjut Vaya.
Vaya mengaduk-aduk mie ayam dalam mangkuknya, sementara Yoran nampak sudah mulai melahap mie ayamnya. Vaya lagi-lagi tak bisa melepaskan pandangannya dari Yoran.
"Ada apa, Vaya?" tanya Yoran.
Vaya menyeringai kikuk karena lagi-lagi terciduk mengamati Yoran.
"Yoran, apa kau tahu, dulu aku pernah melihatmu makan mie ayam dari meja itu?" Vaya menunjuk meja yang ia maksud.
Meja tersebut berjarak dua baris dari posisi mereka.
"Aku pernah duduk di situ, mengamatimu makan mie ayam, seolah-olah kita berada di meja yang sama," lanjut Vaya.
Yoran menatap mata Vaya yang nampak berbinar-binar setiap kali mengatakan hal-hal yang diingatnya di masa lalu.
"Aduh, maaf, Yoran, aku jadi mengatakan hal-hal yang aneh," ujar Vaya lagi.
Yoran menggeleng.
"Tidak, kau tidak mengatakan hal yang salah, Vaya. Kau sungguh hebat masih bisa mengingat hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu dengan begitu detail," kata Yoran.
"Hmm, ya, karena otakku seakan memiliki kemampuan untuk mengingat hal-hal yang sangat penting bagiku. Seandainya saja kemampuan mengingatku ini bisa kugunakan untuk belajar, pasti itu jauh lebih bermanfaat," Vaya menyeringai.
Yoran kembali mengulas senyumnya. Entah mengapa ia merasa nyaman berbincang dengan Vaya seperti ini. Mereka seperti kawan lama yang dulunya begitu akrab namun terpisah cukup lama lantaran kesibukan masing-masing.
...*****...
Usai menyantap mie ayam, mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor sekolah. Vaya begitu antusias saat memamerkan kelasnya sewaktu masih kelas satu dan kelas dua karena mereka dulu tidak sekelas.
"Ini dulu kelasku, kelas penuh drama, setiap hari akan ada banyak para siswi yang berdatangan. Kau pasti sudah tahu mereka semua datang untuk menemui siapa, jadi lebih baik tak perlu kusebutkan," Vaya menjelaskan pada Yoran.
__ADS_1
"Pasti Vier kan?" tebak Yoran.
"Haha," Vaya hanya tertawa.
"Setiap hari bahkan ada saja siswi kelas lain yang berkelahi, saling jambak, saling cakar, karena mereka saling memperebutkan Vier," lanjut Vaya kembali mengenang.
Lantas siapa yang bisa menduga bahwa bertahun-tahun kemudian, Vaya justru harus terikat kontrak perbudakan dengan Vier.
Benar-benar sangat memalukan! Aku benar-benar berharap Vier segera mengakhiri kontrak perbudakan ini! Batin Vaya.
"Haha," kini giliran Yoran yang tertawa.
"Lucu sekali ya, Yoran?" tanya Vaya.
"Hmm, ya, samar-samar aku memang mengingat kejadian-kejadian seperti itu. Kalau aku tidak salah ingat, para siswa sampai membawa masalah ini ke pihak OSIS, mereka mengeluh susah dapat pacar karena semua siswi terpikat pesona Vier," sahut Yoran. "Mereka bahkan melayangkan somasi agar Vier pindah sekolah saja."
"Haha! Duh, kita kok malah jadi ghibahin Vier ya? Kita jadi macam emak-emak tetangga yang rempong! Haha," Vaya tertawa.
"Haha," Yoran ikut tertawa.
...*****...
"Hatchim!"
Suara bersin Vier membuat Mike tersentak kaget.
"Pak Vier, Anda baik-baik saja?" tanya Mike.
"Huh, kenapa aku tiba-tiba bersin begini?" keluh Vier.
"Pak Vier, sebaiknya Anda minum vitamin tambahan, jangan-jangan Anda terkena flu," kata Mike.
"Huh Mike! Hanya orang bodoh yang terkena flu di musim panas!" dengus Vier.
...*****...
"Para guru sepertinya sudah pulang tepat waktu," kata Vaya.
"'Permisi, Ibu cari siapa ya?"
Vaya dan Yoran langsung mengarahkan pandangan mereka kepada wanita berhijab, memakai id badge yang dikalungkan di lehernya. Namanya Rike, wajahnya pun jelas sangat asing bagi Vaya.
"Kami mencari Pak Santoso, Bu," jawab Yoran.
"Oh, Pak Santoso, beliau sudah pensiun sejak dua tahun yang lalu," jawab Rike.
"Oh begitu," sahut Vaya.
"Oh ya, ngomong-ngomong ada keperluan apa ya mencari Pak Santoso?" tanya Rike.
"Pak Santoso dulu adalah wali kelas kami," jawab Vaya.
"Oh, apa kalian berencana untuk menitipkan undangan pernikahan?" tanya Rike.
"Eh?" Vaya tersentak kaget.
"Biasanya jika ada murid yang datang kemari mencari mantan wali kelas mereka, tujuannya paling sering untuk mengantar undangan pernikahan," Rike menjelaskan.
"Hehe, begitu ya," Vaya terkekeh.
"Kami hanya ingin menemui beliau," jawab Yoran. "Sayang sekali, ternyata beliau sudah pensiun."
"Benar, infonya beliau juga sudah pulang kampung," lanjut Rike.
"Oh begitu, terima kasih atas informasi Ibu," kata Yoran.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kalian dari angkatan berapa?" tanya Rike.
__ADS_1
"Kami angkatan 35," jawab Yoran.
"Angkatan 35, wah, lama sekali," Rike nampak terkejut.
"Benar," jawab Yoran.
Yoran melirik ke arah Vaya yang nampak terbengong-bengong.
"Vaya?" panggil Yoran.
"Eh, iya, maaf," sahut Vaya.
"Baiklah, Bu Rike, kalau begitu kami permisi," ucap Yoran.
Yoran mengajak Vaya untuk pergi meninggalkan gedung sekolah menuju ke tempat parkir.
Vaya masih melamun, ia jadi kepikiran kata-kata Bu Rike yang mengira ia dan Yoran datang untuk menyerahkan undangan pernikahan. Seketika itu pula Vaya langsung terbawa perasaan.
"Vaya, apa kau baik-baik saja?" tanya Yoran.
"Aku baik-baik saja," jawab Vaya.
Tentu saja Vaya berbohong. Saat ini hati Vaya sedang tercabik-cabik akan kenyataan yang menyedihkan.
Yoran segera mengemudikan mobilnya, sesekali ia melirik ke arah Vaya yang melempar pandangan ke luar jendela dengan tatapan muram.
"Yoran, apa kita bisa singgah sebentar ke suatu tempat sebelum kita kembali pulang?" tanya Vaya.
"Baiklah, tidak masalah," jawab Yoran.
...*****...
Ombak nampak bergulung dengan tenang, pecah dan berubah menjadi buih-buih begitu menyentuh bibir pantai.
Vaya hanya bisa melihat ombak-ombak yang berkejaran dari dalam mobil. Ia enggan keluar dari mobil Yoran. Di luar cuaca masih cukup terik padahal jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Vaya tahu saat ia kembali ke kota mereka, saat itu pula kebersamaannya dengan Yoran harus berakhir. Naluri memaksa Vaya untuk tidak merelakan berakhirnya kebersamaan mereka.
"Vaya, ada apa denganmu?" tanya Yoran.
Vaya meremaas-remaas jemarinya, ia ragu untuk menjawab pertanyaan Yoran. Entah ia harus mengatakan hal yang jujur ataukah harus berbohong.
Apakah sebaiknya saat ini ia harus mengatakan yang sebenar-benarnya?
"Yoran, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku rasa aku belum bisa sepenuhnya melupakan bahwa aku sangat menyukaimu bahkan meski lima belas tahun telah berlalu."
Vaya menegang, air matanya mulai turun membasahi pipinya.
"Aku tahu, aku sungguh tidak tahu diri seperti ini. Tapi aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku selama ini padamu. Sungguh, aku hanya ingin kau tahu, agar aku merasa lega karena sudah mengungkapkannya padamu," lanjut Vaya.
"Selama lima belas tahun aku memendam rasa sukaku padamu, menafsirkan sendiri, rasa sukaku padamu adalah rasa suka ataukah sebuah rasa cinta. Aku pun menyadari bahwa jika bukan cinta, tidak mungkin aku mengingatmu selama lima belas tahun ini," Vaya menunduk, air matanya menetes makin deras.
Yoran yang diam dan mendengarkan akhirnya mengambil tangan Vaya yang gemetaran.
Vaya menatap Yoran yang mengulas senyum lembut di wajahnya.
...*****...
Pembaca setia tersayang othor. Othor ucapkan terima kasih karena sudah sampai di episode ini.
Visual Yoseph Randvale alias Yoran, kira-kira siapa nih yang cucok meong?
Yuk coret-coret nama yang kira-kira muncul. Visual terbaik akan othor tampilkan di next next episode. Hehe..
Salam sapa manja syalala ulala Haluers Kesayangan di mana pun kalian berada.
Peluk online semuanya. 🥰🥰🥰
__ADS_1