
Vaya segera turun dari lantai atas menuju ke dapur. Ia mendelik gusar karena melihat Vier sudah menunggunya.
"Vaya, bisakah kita bicara?" tanya Vier.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Vier?" tanya Vaya.
Vaya benar-benar menunjukkan sikap ketus, dingin, dan tak bersahabat pada Vier.
"Katakan padaku, apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?" tanya Vaya.
"Aku kemari tentu saja untuk mencarimu," jawab Vier.
"Lebih baik kau tidak usah mencariku, Vier," ucap Vaya.
Vier dan Vaya masih saling menatap dengan pandangan yang saling mengunci satu sama lain.
"Aku tidak akan mengusik hidupmu, sehingga aku pun memintamu untuk tidak mengusik hidupku," tukas Vaya.
Vier masih terdiam, ia bisa melihat kilatan kemarahan yang terpancar jelas dari sorot mata Vaya.
"Vaya," kata Vier tertahan.
Vaya mengalihkan pandangannya ke arah tangga, ia bisa melihat Vero mengintip.
"Vero," tegur Vaya.
"Hehe, Ibu," Vero terkekeh.
"Vero, tetap di atas ya, ini Ibu siapkan makanan," ucap Vaya.
Vero segera kembali ke lantai atas sesuai dengan perintah Vaya.
"Vaya, kumohon, kita harus bicara," pinta Vier.
"Maaf, Vier, aku tidak ingin membicarakan apa pun denganmu. Aku tidak ingin Vero mendengar hal yang tidak seharusnya ia dengar!" tukas Vaya.
Vier menghela napas berat.
"Vaya, apa Vero benar-benar anakku?" tanya Vier.
"Bukan!" jawab Vaya dengan cepat.
Vier terperangah mendengar jawaban Vaya.
"Vaya! Apa selama ini kau menghilangkan jejak lantaran kau mengandung anak pria lain?" tanya Vier.
Vaya meradang mendengar pertanyaan dari Vier yang penuh dengan tudingan.
"Vier, selama tiga tahun ini, apa kau hanya berpikir bahwa aku menghilangkan jejak lantaran aku mengandung anak pria lain?!" Vaya balik bertanya.
__ADS_1
Vier masih menatap lurus ke arah Vaya.
"Kau sungguh harus tahu, Vier! Aku mengandung, aku melahirkan, dan aku membesarkan Vero seorang diri di saat ayah biologis Vero justru mendampingi wanita lain!"
Vaya benar-benar tak sanggup untuk menahan emosinya yang meluap-luap. Rasa kesal, kecewa, dan marah campur aduk menjadi satu.
"Selama tiga tahun ini aku bahkan begitu setia menunggumu! Tapi lihatlah, apa buah dari kesetiaanku? Kau justru malah mengkhianatinya dan berbahagia bersama Selena! Benar begitu kan, Vier?!"
"Ibu!"
Vero berseru sambil berlari menuruni tangga lalu menghampiri Vaya.
"Vero, jalannya pelan-pelan," tegur Vaya sambil mengusap lembut kepala Vero.
"Ibu kenapa marah-marah begitu?" tanya Vero.
"Ibu tidak marah kok," jawab Vaya.
Vero memicingkan matanya lalu melemparkan pandangannya pada Vaya dan Vier secara bergantian.
"Ibu, apa Pak Vier menganggu ibu seperti om-om sopir itu?" tanya Vero.
"Om-om sopir? Apa maksudmu, Vero?" tanya Vier.
"Vero, jangan bicara yang aneh-aneh, sayang," sahut Vaya.
"Habisnya Ibu biasanya marah-marah kalau diganggu om-om sopir kan?" sahut Vero.
"Pak Vier, jangan ganggu ibuku!" ancam Vero.
Vier mendelik gusar mendengar ancaman Vero, namun ia hanya bisa mengulas senyumnya.
Vier memberi kode ke arah Mike. Mike yang sedari tadi duduk di kursi akhirnya beranjak dari kursinya.
"Vero, kita main sama-sama yuk, biarkan Pak Vier dan ibumu bicara baik-baik," ucap Mike berinisiatif mengajak Vero.
"Untuk apa ibuku bicara baik-baik?" tanya Vero pada Mike.
"Bicara baik-baik supaya tidak terkesan marah-marah," jawab Mike.
"Pak Mike," Vaya melotot ke arah Mike.
"Bu Vaya, saya akan menjaga Vero dengan sebaik-baiknya. Saya janji," ucap Mike.
Mike pun mengajak Vero kembali ke lantai atas agar Vaya dan Vier dapat berbincang baik-baik.
...*****...
"Vaya, aku mohon, kita harus bicara secara baik-baik," pinta Vier.
__ADS_1
"Vier, apa kau tidak melihat betapa sibuknya aku? Aku harus memasak untuk Vero! Vero sudah kelaparan!" sergah Vaya.
Vier mendesaah lirih melihat Vaya yang sedang sibuk memasak nasi goreng. Aroma nasi goreng yang begitu semerbak membuat perut Vier meronta-ronta.
"Vaya, aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh tidak bermaksud untuk meninggalkanmu dan Vero demi Selena. Aku bahkan tidak pernah tahu keberadaanmu. Kau seakan menutupi semuanya bahkan tentang Vero," kata Vier.
"Vier, aku punya alasan tersendiri mengapa aku harus menutupi keberadaanku! Aku sungguh harus menjaga keselamatanku, keluargaku, dan tentunya bayi yang saat itu kukandung!"
"Selama tiga tahun ini, aku hanya bisa bersembunyi dan menghindar! Terutama menghindar dari teror ibumu! Masih segar dalam ingatanku, beliau datang dan membawa surat permohonan perceraian! Beliau begitu menginginkan perceraian kita!"
"Saat itu, aku yang sedang mengandung Vero tentu saja menjadi luar biasa cemas. Demi keselamatanku, bayi yang kukandung, dan juga keluargaku, makanya aku memutuskan untuk bersembunyi sambil menunggumu datang untuk menjemputku!"
"Tapi lihatlah! Apa yang kudapatkan setelah selama ini bersembunyi dan menunggumu untuk datang dan menjemputku?"
"Kau dan Selena malah kembali bersama!"
Vaya merasakan sesak di dadanya yang makin menjadi-jadi. Mata Vaya memanas, namun sebisa mungkin ia tidak menunjukkan kerapuhannya di hadapan Vier.
"Vaya, apa kau sungguh berpikir seperti itu?" tanya Vier.
Vaya tidak menjawab pertanyaan Vier, ia masih sibuk mengaduk nasi goreng dengan spatula kayu.
"Vaya, kau benar-benar salah jika berpikir seperti itu. Sepertinya kau pun harus tahu, apa yang sudah kualami selama tiga tahun ini."
Vier masih memfokuskan pandangannya ke arah Vaya meski Vaya lebih memilih mengaduk-aduk nasi goreng dalam wajan.
"Selama tiga tahun ini, aku memfokuskan diri demi kesembuhan Selena. Bagiku, kesembuhan Selena adalah kunci untuk menyelesaikan semua masalah yang saat ini kuhadapi. Masalahku dengan orang tua Selena, masalahku dengan ibuku, bahkan masalah yang saat ini menyeretmu, Vaya!"
"Kau pasti tahu, bagaimana ibuku masih tetap menyalahkanmu atas musibah yang dialami oleh Selena!"
"Aku sungguh harus membereskan masalah itu dengan caraku, Vaya," ucap Vier.
Vaya menuangkan nasi goreng dari wajan ke piring. Selanjutnya ia mulai membuat telur dadar.
"Vaya, sungguh! Percayalah, aku dan Selena tidak kembali bersama!"
"Kau adalah istriku dan kita masih terikat pernikahan! Saat ini aku datang kemari untuk menjemputmu, Vaya!"
"Sudah waktunya kita kembali bersama!"
Vaya memejamkan matanya, sebisa mungkin ia mencoba untuk meredam kemarahannya.
Ia tidak mau berdebat dengan Vier, ia tidak mau Vero sampai mendengar pertengkarannya dengan Vier.
Vaya meletakkan telur dadar yang sudah matang ke atas piring. Kemudian dengan satu gerakan pelan, ia mengarahkan pandangannya pada Vier.
Ia menarik napas pelan untuk mengeluarkan suara yang rendah bahkan serendah mungkin. Tujuannya tentu saja agar Vero tidak mencuri dengar pembicaraannya dengan Vier.
"Tidak, Vier! Aku tidak mau kembali bersamamu!" ucap Vaya dengan penuh ketegasan.
__ADS_1
...*****...