
Vier mematut dirinya di depan cermin. Ia memakai setelan jas yang selalu menyempurnakan penampilannya.
Hari ini ia akan menghadiri acara reuni sekolah setelah kelulusan lima belas tahun silam.
Vier begitu bersemangat namun sebisa mungkin ia menutupinya.
Dalam benaknya saat ini, ia benar-benar sudah tidak sabar untuk memamerkan hasil pencapaiannya selama lima belas tahun terakhir. Menceritakan kisah-kisah sukses kepada semua orang yang akhirnya hanya bisa berdecak kagum sambil bertepuk tangan.
Terlintas dalam benak Vier, sosok gadis lusuh yang selama lima belas tahun ini selalu mengusik pikirannya. Bayangan gadis lusuh yang selalu menghantuinya selama lima belas tahun terakhir. Gadis yang membuat harga dirinya terluka dan meninggalkan rasa dongkol yang teramat sangat.
Vier yang begitu sempurna tanpa cela dilewatkan begitu saja!
Vier yang punya segalanya, pria yang begitu diinginkan oleh semua wanita.
"Bagaimana dengan si pemburu laki-laki itu ya? Apa dia masih tetap menyedihkan seperti lima belas tahun yang lalu?"
"Aku benar-benar tak sabar untuk menemuinya! Haha!"
"Apa dia masih tetap lusuh, dekil, dan menyedihkan?!"
Vier bermonolog di depan cermin, mematut sekali lagi penampilannya yang sempurna paripurna.
"Coba kau lihat aku! Aku ini Vier yang luar biasa tampan! Aku juga sangat kaya raya, apalagi sekarang! Aku bahkan bisa membeli hidupmu kalau aku mau!"
"Hanya saja, aku tidak mau! Haha!"
Vier kembali tertawa-tawa di depan cermin yang memantulkan bayangannya dan juga bayangan gadis lusuh yang muncul dari dalam benaknya.
"Dulu kau memang bisa melewatkanku! Tapi sekarang, meski kau bersujud dan memohon padaku, tidak mungkin kita bisa bersama!"
"Aku sudah punya tunangan yang begitu luar biasa, sedangkan kau hanya wanita binasa! Haha!"
Vier kembali tertawa, namun terdengar kegetiran yang teramat dalam.
Yah, bagaimana tidak, selama lima belas tahun ini, Vier benar-benar tak bisa sepenuhnya menyingkirkan bayangan gadis lusuh nan dekil itu dari pikirannya. Meski selama ini begitu banyak wanita luar biasa cantik silih berganti mengisi hari-harinya, menemani untuk mengusir bayangan gadis dekil dan lusuh yang membuatnya dongkol selama bertahun-tahun.
Namun bayangan gadis itu masih tetap dan terus menerus menghantuinya.
"Kupastikan bahwa kau benar-benar menyesal karena telah melewatkanku begitu saja! Haha!" Vier kembali tertawa usai merapikan jasnya.
Setelah memastikan bahwa penampilannya sudah tampan maksimal, Vier pun segera meninggalkan ruang pakaiannya.
...*****...
__ADS_1
Seperti yang bisa diduga oleh Vier, semua teman-teman di masa sekolahnya hanya bisa berdecak kagum dan memuji hasil pencapaian Vier yang begitu mengagumkan di usia terbilang muda.
"Wah, sudah kuduga kau pasti akan sukses besar di masa depan, Vier!"
Pujian dari teman-teman membuat senyum Vier mengembang makin lebar.
"Yah, itu semua tidak lepas dari kerja cerdas dan keyakinan yang menjadi kunci sukses utama," Vier menanggapi dengan santai.
Vier mencuri pandang ke arah para peserta reuni sambil sesekali melirik jam tangannya. Ia mulai muak dengan orang-orang yang mulai menjadi penjilat. Vier berencana untuk pulang lebih awal begitu Selena datang menyusulnya.
Mata Vier kembali memindai para tamu, mencari sosok wanita menyedihkan yang harus diajaknya bicara sebelum Selena tiba.
Vier sudah membulatkan tekadnya untuk menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan di masa lalu agar hidupnya benar-benar menjadi tenang tanpa dihantui rasa bersalah lagi.
Dan tentunya menunjukkan betapa wanita itu akan menyesal karena sudah melewatkan Vier di masa lalu.
"Oh ya, Vier, apa kau sedang menunggu seseorang?"
"Hem ya, aku menunggu tunanganku datang," jawab Vier.
"Oh, haha! Aku kira kau menunggu kedatangan si pemburu lelaki!"
"Haha, ya ampun, sudah lama sekali, apa kabar ya si pemburu lelaki?" Vier tertawa.
"Ya Selena, okay, I will pick you up," jawab Vier sebelum menutup teleponnya.
Vier berjalan menuju ke pintu dan membuka pintu ballroom yang telah tertutup.
Tiba-tiba saja, matanya tertuju pada sosok wanita yang nyaris jatuh terjengkang karena Vier membuka pintu untuk menyambut kedatangan Selena.
Semua mata langsung tertuju pada Vier yang saat ini berjalan melintasi ballroom bersama Selena. Menjadi pusat perhatian seperti biasanya.
"Hei, bukankah itu Vaya si pemburu lelaki?"
Pertanyaan yang terlontar dari salah satu tamu membuat tamu yang lain menoleh, begitu pun dengan Vier.
Seketika jantungnya bergemuruh, sosok gadis dekil dan lusuh yang selalu menghantui benaknya dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir kini berada dalam posisi nyata. Bukan lagi hanya berwujud ingatan Vier semata.
"Wah, serius itu Vaya? Penampilannya berubah sekali!"
Vier masih terpaku melihat penampilan wanita berkemeja putih dengan rambut hitam bergelombang terurai, begitu kontras dengan kulit gelapnya.
Vier memalingkan wajahnya saat melihat senyum yang terkembang di wajah wanita itu.
__ADS_1
Tak ada gadis berpenampilan lusuh dan dekil yang selama ini menghantuinya. Yang ada adalah wanita dewasa yang langsung mencuri perhatian para pria dan mengundang decak kagum.
"Serius itu si Vaya? Si pemburu lelaki? Wah, body-nya gila!"
Vier tak tahu, entah mengapa semua pujian yang didengarnya mengenai Vaya membuat suasana hatinya mendadak memanas. Darahnya menggelegak tersulut emosi.
Di mana gadis lusuh dan dekil yang hendak ditertawakannya?
Di mana gadis menyebalkan yang melewatkannya begitu saja?
Kenapa wanita itu malah menerima pujian dari pria?
Rasa kesal Vier makin meningkat, ia muak mendengar teman-temannya yang nampak terpikat dengan pesona wanita itu.
"Oh wow, siapa ini?" tegur Vier.
"Benarkah kau si pemburu lelaki?" Vier menyindir dengan memberi penekanan ke setiap kata yang diucapkannya.
Adrenalin Vier terpacu untuk melontarkan ucapan-ucapan meledek seperti biasanya. Ada gairah yang memprovokasi setiap ucapannya.
"Lihatlah, sekarang aku sudah sukses, aku juga punya tunangan yang sempurna dan kami akan menikah dalam waktu dekat," Vier kembali berkoar-koar.
Ia menunggu reaksi dari wanita yang bahkan enggan untuk bertatapan dengannya. Entah mengapa Vier merasa begitu bergairah karena sikap dingin wanita itu padanya.
Ada rasa kecewa yang dirasakan oleh Vier karena Vaya kembali mengabaikannya. Wanita itu memilih pergi bersama kedua temannya.
Oh, sial! Batin Vier mengumpat kesal.
...*****...
"Byurr!"
Vier langsung menujukan matanya ke kolam renang bersama puluhan pasang mata lain. Ia tertawa begitu melihat ada orang yang tercebur ke dalam kolam dan terperangah saat tahu siapa yang tercebur.
Terlihat Yoran membantu Vaya untuk naik ke kolam. Lagi-lagi, Vier merasa panas dan terbakar. Ingatan menyeretnya ke masa lalu, ketika melihat Vaya datang dan menghampiri Yoran untuk menyerahkan surat pengakuan cinta.
Hati Vier memanas melihat Yoran yang bahkan membuka jasnya lalu menyampirkan jas tersebut ke pakaian Vaya yang nampak tembus pandang lantaran basah.
"Yoran, kau tidak takut ya nanti diburu oleh si pemburu lelaki?"
Vier berseru untuk menutupi rasa kesalnya seraya tertawa.
Cih, sial, ada apa denganku? Batin Vier sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
__ADS_1
...*****...