
"Selamat datang, Pak Vier."
Pak Jo menundukkan kepalanya begitu menyambut kedatangan Vier.
"Pak Jo, apa Vaya sudah pulang?" tanya Vier.
"Sudah, Pak," jawab Pak Jo.
"Kenapa dia tidak datang menyambutku?" tanya Vier.
"Apa dia sibuk di dapur sehingga tidak bisa menyambutku?"
"Bu Vaya ada di kamar, Pak," sahut Pak Jo.
"Di kamar?" Vier mengerutkan sebelah alisnya sambil melirik jam tangannya.
"Harusnya jam segini Vaya ada di dapur untuk memasak makan malam," ucap Vier.
Vier tentu saja bertanya-tanya lantaran seharian ini Vaya bahkan tidak menjawab teleponnya.
"Pak Vier, ada hal yang ingin saya sampaikan. Ibu Anda datang dan berbincang dengan Bu Vaya," kata Pak Jo.
"Apa? Ibuku datang? Kapan?" tanya Vier keheranan.
"Tadi pagi," jawab Pak Jo.
"Ck," Vier berdecak. "Apa yang mereka bicarakan, Pak Jo?" tanya Vier.
"Mohon maaf saya kurang tahu, Pak," jawab Pak Jo.
"Oh begitu, terima kasih atas informasi Anda, Pak Jo," ucap Vier.
Vier segera melangkah menuju ke kamar Vaya.
"Oh ya, Pak Jo, tolong siapkan makan malam untukku," kata Vier.
"Baik, Pak," jawab Pak Jo.
"Pak Vier, apa Bu Vaya sampai ngambek begini karena berbincang dengan ibu Anda?" tanya Mike sambil mengikuti langkah Vier.
"Tentu saja, Mike, aku yakin sekali ibuku pasti sudah bicara yang yah, kau pasti tahu sendiri, bagaimana ibuku," sahut Vier.
"Hmm, ya Pak," jawab Mike.
Mike sungguh tahu bahwa Bu Cintami adalah wanita yang sangat peduli dengan penampilam orang-orang yang berada di sekitar Vier. Bahkan ketika Mike baru pertama kali bekerja sebagai asisten Vier, Bu Cintami begitu sewot dengan penampilan Mike yang dinilainya kurang tampan dan kurang sesuai untuk bisa mendampingi Vier.
Mike sampai berpikir, ia mendampingi Vier untuk bekerja bukan untuk berkencan.
"Mike, kau bisa pulang sekarang," perintah Vier.
"Baik, Pak," ucap Mike.
Vier menghela napas berat sebelum memasuki kamar Vaya.
...*****...
"Apa kau merasa pantas untuk mendampingi Vier?"
__ADS_1
Pertanyaan Bu Cintami terus terngiang-ngiang dalam benak Vaya.
Vaya menatap pantulan dirinya yang saat ini sedang berdiri di depan cermin kamar mandi. Rambutnya masih basah karena ia baru saja selesai keramas.
Perut Vaya sudah tidak bergelambir seperti dulu, pinggangnya pun sudah mulai membentuk siluet, bokong dan pinggulnya nampak lebih berbobot berkat latihan fisik yang keras. Belum lagi dadanya juga nampak lebih kencang dan berisi yang membuat Vaya benar-benar merasa percaya diri dengan bentuk tubuhnya saat ini. Hanya saja kulitnya gelap, seketika membuatnya insecure lagi.
Bayangan Selena yang begitu cantik luar biasa menari-nari dalam benak Vaya. Kulit Selena yang begitu putih, mulus, dan berkilau jelas terlihat lebih menarik dibandingkan dengan kulit Vaya yang gelap.
Belum lagi mendengar bahwa latar belakang keluarga Selena yang setara dengan keluarga Vier sungguh membuat Vaya semakin rendah diri.
Sungguh hal yang wajar ketika Bu Cintami menyebut Vaya ingin menjadi seperti Cinderella. Vaya hanyalah seorang wanita yang berasal dari kalangan bawah, menikah dengan Vier yang berasal dari kelas atas.
Cinderella bahkan begitu cantik meski hidup miskin, sedangkan Vaya, ia jelas tidak memiliki kecantikan ala Cinderella yang bisa membuat pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ya, Vaya sadar bahwa posisinya hanyalah seorang budak yang saat ini sedang terikat kontrak perbudakan birahi dengan Vier.
Cklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Vaya terperangah melihat Vier yang saat ini berdiri di ambang pintu dengan mata yang langsung tersita pada tubuh polos Vaya.
"Vi-Vier!" Vaya terlonjak kaget.
Cepat-cepat Vaya mencari handuk yang bisa ia gunakan.
Namun terlambat, Vier sudah menahan kedua tangan Vaya dan menggiring Vaya ke dinding kaca.
"Wah, wah, Vaya, yang lapar ini perutku, tapi melihatmu begini, yang lapar bukan lagi perutku," goda Vier.
"Vi-Vier," Vaya menyeringai kecut.
Vier segera menciumi garis rahang Vaya, sambil menekan bagian tubuhnya yang mengeras di antara kedua paha Vaya.
Vier segera membenamkan bibirnya di bibir Vaya, memagut dan menyesap bibir Vaya yang selalu membuatnya kecanduan. Sementara Vaya berusaha untuk melepaskan bibirnya dan mendorong Vier.
Vier melepaskan ciumannya karena sadar bahwa Vaya menolaknya. Vaya mengambil handuk kimono dan segera memakainya.
"Vaya, ada apa?" tanya Vier.
Vaya terdiam, ia tidak tahu apakah ia harus mengatakan segala unek-unek yang memenuhi kepalanya ataukah hanya tetap diam untuk mencari aman.
"Vaya, ada apa? Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Vier.
"Kau bahkan seharian ini tidak menjawab teleponku. Ada apa denganmu?"
"Apa kau sedang bersama pria lain, sehingga kau enggan untuk menjawab teleponku?"
Vier memberondong Vaya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Vaya jengah.
Vier menatap Vaya yang memasang ekspresi kesal bercampur sedih yang tak bisa disembunyikannya. Saat ini pikiran Vaya benar-benar kacau sekacau-kacaunya.
"Vier, aku sadar diri bahwa aku adalah wanita yang tidak pantas untukmu. Aku tidak pantas untuk mendampingimu!"
"Aku ini tidak cantik dan bukan berasal dari keluarga yang selevel, keluarga yang setara dengan keluargamu!"
"Ck, Vaya!" Vier berdecak kesal.
Vaya meluapkan kemarahannya, Vier masih menatap lurus ke arah Vaya.
__ADS_1
"Vier, kalau keluargamu memang hanya menyukai Selena, harusnya kau tetap menikahi Selena! Bukannya malah menikahiku!"
Vaya merasakan air mata mengalir deras membanjiri pipinya.
"Aku tahu, aku ini wanita yang sudah rendah, tapi tolong jangan direndahkan lagi! Aku juga punya perasaan dan punya harga diri yang harus kujaga!"
Vier menghela napas berat melihat Vaya menangis sesenggukan seperti itu. Apa yang sudah dibicarakan ibunya jelas bukan hal yang menyenangkan bagi Vaya, itulah yang saat ini ada dalam benak Vier.
"Vaya, kau ini bicara apa? Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan," tanya Vier berpura-pura.
"Kenapa kau tiba-tiba meracau seperti ini, Vaya? Ada apa sebenarnya?"
"Vier, aku sungguh-sungguh, hiks..."
Ucapan Vaya tertahan.
"Vier, aku sungguh-sungguh sadar, kalau aku sungguh tidak pantas untukmu!"
"Kita seakan berasal dari dunia yang benar-benar berbeda!"
"Kau benar-benar begitu sempurna, sudah sewajarnya jika ibumu tidak menerima wanita sepertiku yang penuh dengan kekurangan ini!"
"Wanita sepertiku ini tidak pantas untuk mendampingimu, Vier! Wanita sepertiku ini harusnya mendampingi pria dengan level yang sama sepertiku!"
"Pria yang pantas untukku bukanlah pria yang memakai setelan jas mewah yang didatangkan langsung dari Italia sepertimu!"
"Pria yang pantas untukku bukanlah pria yang bisa mengajakku pergi liburan mewah yang romantis!"
"Ibumu bahkan mengatakan padaku agar aku berhenti menjadi Cinderella yang hidup dalam dongeng!"
Vaya menyeka pandangannya yang berkabut lantaran penuh dengan air mata.
Ya, pria di hadapannya yang saat ini sedang menatapnya lekat-lekat bukanlah pria yang bisa dijangkau oleh Vaya.
"Vaya, kenapa kau begitu peduli dengan ucapan ibuku?" tanya Vier.
"Vier! Tentu saja aku harus peduli dengan ucapan ibumu!" sahut Vaya.
"Ya! Lantas kenapa kau harus peduli? Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa lebih baik kau tidak usah memedulikan ucapan ibuku?" ucap Vier.
"Aku harus bisa diterima oleh Ibumu, Vier," sahut Vaya.
Vaya menatap Vier lekat-lekat.
"Aku harus bisa diterima oleh keluargamu, agar aku bisa menjadi bagian dari hidupmu kan?" ucap Vaya dengan nada penuh kegetiran.
Vier melangkah maju mendekati Vaya.
"Apa maksudmu, Vaya?" tanya Vier.
"Bukankah kau sudah menjadi bagian dari hidupku?"
"Ya, aku memang sudah menjadi bagian dari hidupmu sesuai dengan kontrak yang kau berikan!" sahut Vaya.
Vaya melepas cincin yang tersemat di jari manis kirinya lalu menyerahkannya pada Vier.
"Aku tidak pantas untukmu, Vier!"
__ADS_1
...*****...