Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
082 - Alasan Kemarahan


__ADS_3

"Mike, aku ingin kau mengaturkan pemeriksaan kesehatan untuk Vaya."


"'Pemeriksaan kesehatan?" alis Mike berkerut.


Vier tak mengalihkan pandangan dari tablet pintarnya untuk memeriksa jadwal harian yang telah disusunnya.


Pria itu mengunyah pelan-pelan roti lapis sebagai menu sarapannya pagi ini.


"Ya, aku perlu mendapat hasil pemeriksaan kesehatan Vaya secara mendetail," sahut Vier.


"Untuk apa, Pak?" tanya Mike.


"Mike, aku membutuhkan wanita yang sehat baik secara fisik maupun mental. Vaya itu sepertinya sudah gila. Dia pasti sudah sakit jiwa karena berani-beraninya tidak menjawab telepon dariku. Apa telinganya mengalami gangguan? Dia juga tidak membalas pesanku, apa matanya juga mengalami gangguan?"


"Semalam dia juga tidak pulang ke rumahku. Apa jangan-jangan di jalan dia terkena penyakit gangguan mental hingga dia lupa jalan pulang ke rumahku?"


Vier menghela napas berat, di hari penting seperti ini, Vaya justru malah memecah belah konsentrasinya.


"Baik, saya akan mengaturkan jadwal untuk pemeriksaan kesehatan Bu Vaya," jawab Mike.


"Hari ini harus sudah selesai, Mike," perintah Vier.


"Baik, Pak, saya mengerti," sahut Mike.


"Dan aku juga ingin malam ini Vaya hadir di acara peluncuran produk OMG," kata Vier lagi.


Mike tercengang mendengar ucapan Vier. Mata Mike yang cenderung sipit terlihat membesar.


"Kenapa melihatku seperti itu, Mike?" tanya Vier.


"Tidak, Pak, saya hanya kaget saja, Anda bersedia mengajak Bu Vaya ke acara penting seperti ini?" Mike kembali mengajukan pertanyaan.


"Mike, justru karena acara ini begitu penting, makanya aku mau Vaya melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa penting posisi yang ia miliki karena sudah menikah denganku, sekian!" sahut Vier.


"Baik, saya mengerti, Pak," ucap Mike lagi.


Terang saja Mike jadi bingung sendiri, biasanya Vier tidak pernah mengajak wanita yang menjadi kekasihnya untuk datang ke acara resmi. Jika memang membutuhkan wanita pendamping, biasanya Vier pasti menyewa jasa model profesional. Sebisa mungkin Vier tidak pernah mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadinya.


Jika Vier sampai mengajak Vaya ke acara resmi, itu artinya Vier sudah memberikan tempat penting untuk Vaya.


Vier bersenandung senang, jika hasil tes kesehatan Vaya sudah keluar dengan hasil yang baik, itu artinya ia bisa menyentuh Vaya dengan lebih leluasa. Vier tentu tidak mau menyentuh wanita yang membawa penyakit menular daripada beresiko ikut tertular. Ia sungguh sangat selektif terhadap wanita yang berada di sekitarnya.


Sepanjang hari dihabiskan oleh Vier dengan kesibukan dalam persiapan peluncuran produk terbaru OMG. Sebisa mungkin Vier tetap memfokuskan dirinya pada pekerjaannya.


"Pak Vier, saya sudah mengirimkan hasil tes kesehatan Bu Vaya, berdasarkan hasil tes tersebut, Bu Vaya dinyatakan sehat dan dalam kondisi yang prima, baik secara fisik maupun psikis beliau."


Mike menyampaikan hasil pemeriksaan kesehatan Vaya pada Vier.


"Hmm, begitu ya, kalau Vaya memang sedang sehat-sehat saja, harusnya dia menjawab teleponku kan, Mike?Kenapa dia malah tidak menjawab teleponku? Sepertinya Vaya memang sedang mencari masalah denganku. Apa dia bermaksud menguji kesabaranku?" Vier bersungut-sungut kesal.


"Lebih baik, Anda tanya langsung saja pada Bu Vaya daripada sibuk berasumsi sendiri, Pak, lagipula saat ini Bu Vaya sudah dalam perjalanan kemari," kata Mike.


"Haha! Begitu ya?" Vier tertawa sinis.


Habis kau malam ini, Vaya! Habis! Vier menyeringai jahat.


Vier sudah membayangkan apa saja yang akan ia lakukan terhadap Vaya.


Vaya harus berada di sampingnya selama acara berlangsung. Vaya sungguh harus tahu posisinya sebagai istri Vier. Istri yang tidak hanya sekadar mengisi kolom status istri pada kartu keluarga.


Namun rupanya apa yang sudah dibayangkan oleh Vier, pada kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasi.


Vaya hanya mengenakan pakaian kerjanya yang membuat wanita itu sungguh terlihat seperti  pegawai casual hotel. Tak ada gaun mewah dan riasan glamor yang menimbulkan decak kagum bagi yang melihat wanita itu.


Vier benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Entah apa maksud Vaya dengan menentang keinginan Vier.


Tak hanya masalah gaun dan riasan, hal yang membuat Vier kembali tercengang adalah ketika melihat Vaya nampak berbincang akrab dengan seorang pria. Pria itu tak lain adalah Jovy.

__ADS_1


Bagaimana Vaya bisa berbincang begitu akrab dengan Jovy? 


Ada hubungan apa mereka berdua?


Wah, wah! Bagus sekali, Vaya! Bagus!


Vier bertepuk tangan dalam diam. Sepertinya Vaya memang menentang dan menantangnya seperti ini. Rupanya peringatan Vier hanya menjadi angin lalu saja bagi Vaya.


...*****...


Srakk....


Yoran hanya terdiam menerima hujan kertas yang dilemparkan oleh Grace padanya.


"Aku tidak peduli, Yoseph! Kau harus bertanggung jawab atas hilangnya projek dari AE Property!"


Teriakan Grace memenuhi ruang kerja Yoran. Untunglah semua karyawan sudah pulang sehingga tidak perlu ada yang mendengar kembali pertengkaran mereka.


Yoran yang duduk di kursinya hanya diam dengan kedua tangan yang bertumpuk di atas meja.


"Kau bukannya membantu mengembangkan perusahaan, yang ada malah membuat kekacauan!" teriak Grace.


"Sekarang aku tanya padamu, Yoseph, bagaimana caramu untuk membereskan kekacauan yang sudah kau buat?! Hah?!"


Tensi Grace makin meninggi, wanita itu menyibak rambut panjangnya. Ia kesal karena suaminya hanya diam saja. Terkesan mengabaikannya meski urat leher Grace rasanya hendak putus saking seringnya berteriak di depan pria itu.


"Baiklah, Grace, nanti akan kupikirkan," sahut Yoran.


"Nanti akan kau pikirkan?!"


Grace mencengkeram kerah kemeja Yoran lalu menghentaknya dengan kasar.


"Kau pikir bisa semudah itu?!" 


Mata Grace berkilat penuh kemarahan.


"Dasar pria tidak berguna! Jika kau memang tidak berguna, paling tidak buatlah dirimu berguna! Kau dan perusahaanmu yang payah itu hanya menjadi benalu! Sampai kapan kau terus menjadi parasit untukku, Yoseph?! Sampai kapan?!" teriak Grace.


"Mau ke mana kau, Yoseph? Pembicaraan kita belum selesai!" sergah Grace.


Yoran tidak menjawab, ia segera melangkah pergi meninggalkan Grace.


Grace menghalangi langkah Yoran.


Plak...


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Yoran. Yoran terhuyung, namun ia tetap menjejakkan kakinya dengan kuat.


"Kau berani mengabaikanku?" 


Mata Grace melotot dipenuhi kemarahan.


"Maaf, Grace, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku hanya lelah," jawab Yoran.


"'Hanya lelah?! Kau pikir siapa yang lebih lelah?!" Grace mendorong keras dada Yoran.


Yoran terdorong mundur, namun lagi-lagi ia bertahan.


"Grace! Cukup!" kata Yoran.


"Apa?! Cukup katamu?!" teriak Grace.


Yoran kembali menarik napasnya, saat ini ia pun merasa emosinya terpancing.


Ya, pukul saja aku, Yoseph! Dan kau benar-benar akan menerima akibatnya! Pikir Grace.


"Dasar pria brengseek!" teriak Grace menyerang Yoran.

__ADS_1


Yoran segera menghindar, Grace terhuyung. Ia begitu kaget karena Yoran menghindarinya.


Yoran segera keluar dari ruang kerjanya. Ia berlari ke arah lift.


"Yoseph!" teriak Grace.


Teriakan Grace menghilang bertepatan dengan pintu lift yang tertutup dan membawanya turun ke lantai yang ia tuju.


Yoran bersandar pada dinding lift, adrenalinnya benar-benar berpacu. Entah keberanian macam apa yang membuncah dalam dirinya.


Biasanya Yoran tidak pernah menghindar dari amukan Grace yang menjadikannya kantong samsak. 


Yoran sudah memutuskan untuk tidak lagi membiarkan dirinya menjadi sasaran kemarahan sang istri. Membiarkan tubuhnya harus terluka untuk menenangkan Grace.


Entahlah, tiba-tiba saja ia jadi teringat kata-kata Vaya.


"Aku tidak berpikir jijik, hanya saja rasanya pasti sangat menyakitkan."


Ya, luka fisik yang diukir Grace awalnya memang sangat menyakitkan. Namun seiring berjalannya waktu, luka itu pun sudah menjadi bagian dari hidup Yoran.


Hanya saja, apakah Yoran harus menanggung terus rasa sakit itu? 


Ya, Grace tidak boleh lagi menorehkan luka fisik padanya.


Yoran mengambil gawai cerdasnya, ia segera menghubungi Vaya karena saat ini Vaya yang terlintas dalam benaknya.


Berbincang dengan Vaya sungguh lebih menyenangkan daripada harus mendengar amukan-amukan Grace.


"Halo, Vaya," kata Yoran begitu mendengar jawaban dari Vaya.


Yoran mengulas senyumnya, mendengar suara Vaya yang terdengar begitu manis dan lembut. Seandainya saja Grace bisa berbicara lembut dan manis seperti Vaya.


Tut... tut...


Di tengah obrolan Yoran dengan Vaya, nama Grace muncul memanggil.


Yoran mengabaikan panggilan masuk dari Grace.


"Ya, makan malam," Yoran mengulangi ucapannya.


"Aku belum makan malam, hehe," jawab Vaya.


"Rasanya aku jadi ingin makan malam bersamamu lagi, Vaya," kata Yoran.


Tut... tut...


Telepon dari Vaya tiba-tiba terputus.


Yoran tertegun, melihat layar ponselnya yang kini menampilkan nama Grace.


Yoran mengabaikannya, ia menyimpan gawai cerdasnya kembali di saku jas.


...*****...


"Dasar sialan! Beraninya kau mengabaikan teleponku, Yoseph!" teriak Grace penuh kemurkaan.


Grace marah, ia menyapu semua barang-barang yang ada di atas meja kerja Yoran.


"Dasar brengseek!" teriak Grace.


...*****...


Yoran benar-benar makin merasa muak dengan sikap Grace.


Yoran menghela napas berat, seandainya saja wanita yang menikah dengannya adalah Vaya, pastilah keadaan Yoran tidak akan seperti ini.


Bersama Vaya jauh lebih menyenangkan dan membuatnya merasa nyaman.

__ADS_1


Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh Vaya saat ini ya? Aku sungguh ingin segera bertemu dengannya, batin Yoran.


...*****...


__ADS_2