Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
123 - Menikmati Liburan


__ADS_3

Cahaya matahari yang menyilaukan membuat Vaya terbangun dari tidur. Vaya menggeliat pelan, berusaha mengumpulkan nyawanya. Tangan Vaya meraba-raba sisi tempat tidur yang kosong. Dan benar saja, Vier sudah tidak berada di tempat tidur.


Ke mana Vier?


Vaya melompat turun dari tempat tidur, ia berlari ke arah pintu kaca yang saat ini menyuguhkan pemandangan laut yang luar biasa indah.


Hamparan laut biru kehijauan dengan air yang begitu jernih hingga dasarnya terlihat. Kolam renang pribadi dengan air yang juga terlihat biru, bening, dan jernih menyatu dengan pemandangan di sekitarnya. Hangatnya sinar matahari pagi, lembutnya angin, dan birunya langit merupakan pemandangan yang membuat Vaya berdecak kagum.


Semalam jelas pemandangan luar biasa menakjubkan ini tidak terlihat.


Dari kejauhan Vaya bisa melihat jembatan kayu panjang yang menghubungkan seluruh vila yang ada pada resort ini.



Mata Vaya langsung tertumpu pada sosok yang sedang berlari melintasi jembatan kayu. Sosok bertelanjang dada itu jelas membuat Vaya meneguk ludahnya.



Ya, Vier terlihat luar biasa memesona, tubuhnya yang bak maha karya dari pemahat jenius di alam semesta sedang bermandikan cahaya matahari.


Tak berapa lama, Vaya sudah melihat Vier memasuki vila mereka, berjalan pelan menghampiri Vaya yang masih mematung di pinggir kolam renang.


Vaya masih terpaku melihat cucuran keringat membasahi tubuh Vier yang hanya mengenakan celana pendek. Vaya bahkan bisa melihat ekspresi bengongnya terpantul dari kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung Vier.


Vier mengambil handuk yang berada di kursi malas.


"Ada apa, Vaya?" tanya Vier.


"Vier, kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Vaya.


"Habisnya tidurmu nyenyak sekali, sampai-sampai kau terlihat seperti sapi, haha!" Vier tertawa mengejek.


"Haha," Vaya tertawa masam menanggapi ejekan Vier.


"Lekaslah bersiap, sebentar lagi sarapan akan siap," ucap Vier.


"Oh ya, Vier, ngomong-ngomong, aku sepertinya tidak bawa pakaian ganti. Di mana aku bisa membeli pakaian ya?" tanya Vaya.


"Haha! Vaya, seluruh pakaianmu selama berada di sini sudah disiapkan. Kau tidak usah pusing mau beli pakaian di mana," sahut Vier.


Vaya mencebik, ia segera masuk kembali ke vila. Ia memasuki kamar mandi untuk sekadar membersihkan diri dan juga menggosok gigi. Lalu menuju ke ruangan khusus tempat penyimpanan pakaian.


Vaya melotot lebar melihat deretan bikini berwarna-warni mendominasi standing hanger. Terdapat pula gaun-gaun tipis berbahan minimalis dengan warna-warna cerah ceria.


Vier sudah berada di dalam ruangan tersebut, tangannya menyusuri deretan bikini dan langsung menyerahkan salah satunya pada Vaya.


"Pakai ini," Vier menyerahkan bikini itu ke tangan Vaya.


"Vi-Vier!" Vaya tercengang.


"Vaya, semalam kita sudah membuat kesepakatan," ucap Vier sambil menyeringai.


Vier melihat Vaya yang terlihat enggan untuk memakai bikini berwarna aquamarine itu.


"Vaya, kita sudah sepakat!" Vier mengulangi dengan tegas.


"Baiklah Vier, tapi...," kata Vaya.

__ADS_1


"Tapi apa? Kau tidak mau memakainya?" tanya Vier.


"Bukan itu! Maksudku, kau jangan komplain saat melihatku memakai bikini," sungut Vaya.


"Haha! Vaya, aku bahkan sudah sering melihatmu  tanpa busana, aku juga sudah merasakan seluruh tubuhmu, tanpa terkecuali," Vier menyeringai.


Ugh! Vier! sungut Vaya.


"Lekas! Kita harus sarapan!"


Vier bergegas meninggalkan ruangan itu.


...*****...


Vaya melangkah takut-takut begitu keluar dari ruang penyimpanan pakaian. Ini pertama kalinya ia memakai bikini. Saat melangkah menuju ke kolam renang, Vaya merasa dirinya sedang berjalan di atas panggung kontes kecantikan ratu sejagad.


Hanya saja saat ini tidak ada yang melihatnya kecuali Vier yang sudah berada di dalam kolam. Di hadapan Vier tersedia sebuah nampan berisi makanan yang mengapung di atas kolam.


Vier mengulas senyum seringaian, menatap dari balik kacamata hitam bergaya aviator yang bertengger di hidungnya yang mancung.



Vaya merasakan jantungnya begitu berdebar saat Vier membuka kacamata hitamnya dan tak putus-putusnya memandangi Vaya.


"Kemarilah," Vier mengulurkan tangannya.


Vaya segera menyambut uluran tangan Vier, memasuki kolam renang dengan kedalaman yang ternyata cukup dalam bagi Vaya. Bagi Vier yang memiliki tinggi di atas 180 cm, kedalaman kolam itu jelas tidak menimbulkan masalah untuknya.


Vaya memandangi wajah Vier yang mengulas senyumnya.


"Kau terlihat luar biasa dengan bikini ini," ucap Vier.


Vier menggeleng, ia merengkuh pinggang Vaya, merapatkan tubuh mereka.


"Cantik, dan aku menyukainya," ucap Vier.


Jantung Vaya berdebar menggila mendengar pujian dari Vier. Vaya bisa merasakan ketulusan dari bibir Vier yang menciumnya dengan sangat perlahan.


Vaya mengalungkan tangannya di leher Vier, menerima ciuman yang begitu hangat dan lembut.



...*****...


Setelah sarapan, mereka pun segera bergegas pergi meninggalkan resort. Menumpang sebuah kapal yang membawa mereka ke sebuah pantai pasir putih sepanjang mata memandang. Hamparan pasir putih yang begitu kontras, berada di tengah laut biru yang kehijauan.


Vier mengajak Vaya ke sebuah tempat berlindung,  terdapat sebuah bean bag besar berwarna kuning cerah lengkap dengan bantal. Dua buah meja kayu berbentuk peti harta karun, di atasnya terhidang sajian berupa sate buah-buahan, jus buah segar, hingga kelapa muda.


"Ayo kita berenang," ajak Vier.


"Vier, aku tidak bisa berenang," Vaya menggeleng.


"Ya maka dari itu, kau harus belajar berenang," sahut Vier.


Sebelum berenang, Vier meminta Vaya untuk mengoleskan tabir surya ke seluruh tubuhnya. Vaya menahan napas, mengoleskan tabir surya berbentuk gel yang terasa dingin di sepanjang punggung Vier.


Vier juga melakukan hal yang sama pada Vaya, sambil memberikan kecupan-kecupan lembut di belakang lehernya.

__ADS_1


"Vi-Vier," rengek Vaya merasa geli.


"Hmm," Vier berdeham. "Ayo kita pergi."


...*****...


Setelah melakukan pemanasan ringan, Vaya segera menceburkan dirinya ke dalam air laut yang begitu jernih, warna biru kehijauan sungguh memanjakan mata.


Namun yang jauh lebih memanjakan mata Vaya adalah Vier yang terlihat luar biasa seksi, keluar dari dalam air dengan begitu elegan. Tubuh atletis yang sungguh menggoda hasrat.


Vaya bahkan tak bisa berkonsentrasi saat Vier mengajarinya untuk berenang. Vier yang bermandikan air laut dan sinar matahari benar-benar terlihat luar biasa seksi, luar biasa tampan, dan sangat menggairahkan.


Setiap kali berpelukan dengan Vier, jantung Vaya berdebar-debar tak karuan, darah berdesir kencang, dan tentu saja tubuhnya memanas setiap kali bersentuhan dengan kulit Vier.


...*****...


Selesai berenang, mereka melanjutkan kegiatan snorkling.


Vaya benar-benar merasakan petualangan baru, menyaksikan keindahan biota laut yang menakjubkan. Meski Vaya tidak bisa berenang, setidaknya ia cukup berendam bersama ikan-ikan.


"Vaya, apa tadi kau melihat ikan buntal?" tanya Vier.


"Ikan buntal?" tanya Vaya.


"Ya, ikan buntal yang memakai bikini, benar-benar sangat seksi," bisik Vier sambil meremaas bokong Vaya.


"Iih, Vier," Vaya mengerucutkan bibirnya.


Vier saling bersitatap dengan Vaya. Vaya menatap Vier yang lagi-lagi sukses membuatnya salah tingkah.


...*****...


Hari ini Vaya benar-benar merasa sangat senang, sambil bergandengan tangan bersama Vier menuju ke dermaga tempat sebuah yatch, kapal pesiar mewah yang akan membawa mereka berjalan-jalan menikmati sore di laut Maldives.


Mereka masih bergandengan tangan, menuju ke anjungan kapal, lalu duduk di kursi malas. Pelayan datang menyajikan minuman untuk mereka yakni mocktail berupa campuran jus buah-buahan segar.


Tring...


Gelas mereka saling terbentur sebelum keduanya meneguk mocktail dari gelas mereka.


"Oh ya, Vaya," Vier merogoh saku celananya.


Sebuah kotak hitam berukuran mungil dikeluarkan Vier dari saku celana. 


"Bukalah," ucap Vier.


Vaya membuka kotak hitam itu dengan perasaan berdebar. Sepasang cincin langsung membuat Vaya kembali berdebar.


"Maaf ya, cincinnya baru selesai dibuat," kata Vier.


Vier melepas cincin yang melingkari jari manisnya. Ia melempar cincin berukiran nama Selena itu ke laut.


"Sekarang, cincin kawin kita sudah sepasang," ucap Vier.


Vaya berdebar-debar saat Vier menyematkan cincin di jari manis kirinya.


Begitu juga dengan Vaya yang kemudian menyematkan cincin di jari manis kanan Vier.

__ADS_1


Mereka kembali berpandangan, dengan tangan saling menggenggam.


...*****...


__ADS_2