Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
161 - Tiga Tahun


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Vaya sudah sibuk mengantarkan kopi pesanan dari pengunjung yang singgah. Warung kopi itu sudah dikelola oleh Vaya selama hampir tiga tahun.


Warung kopi tersebut berada di kawasan perbatasan kota sehingga pengunjung yang mampir kebanyakan adalah sopir-sopir antar kota dan antar provinsi. Selain sopir, ada juga pengunjung yang memang membutuhkan istirahat sejenak selama menempuh perjalanan.


"Neng, mie kuahnya satu porsi, pakai telur dua," pesan salah seorang pengunjung yang baru saja datang.


"Baik, Pak," jawab Vaya.


"Neng, mie gorengnya satu porsi," pesan yang lain.


"Baik, telurnya mau diceplok atau didadar?" tanya Vaya.


"Diceplok, Neng," sahut si pemesan.


Usai mencatat, Vaya segera menuju ke dapur untuk menyerahkan pada ibunya. Ibu Vaya bertugas memproses pesanan yang masuk.


Sementara itu, Vaya sibuk menyeduh kopi.


"Ibu, biar kuantar ke depan."


Bocah bertubuh bongsor dan berkulit putih segera menghampiri Vaya.


"Vero?" Vaya terkejut melihat kehadiran bocah itu.


"Kenapa Ibu kaget begitu?" tanya Vero.


"Ibu pikir kamu masih tidur," jawab Vaya.


"Ibu pikir aku bisa tidur nyenyak mendengar suara berisik om-om di depan?"


Vaya hanya menyeringai, anak laki-lakinya yang baru berusia tiga tahun itu memiliki sikap yang sepertinya tidak sesuai dengan usianya.


Dibesarkan dalam lingkungan yang dipenuhi orang dewasa membuat Vero tumbuh lebih dewasa dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Vero juga memiliki tubuh bongsor yang membuat bocah itu terlihat seperti sudah berusia tujuh tahun.


Vero mengantarkan kopi yang dipesan oleh pengunjung yang datang.


"Ini kopinya," kata Vero.


"Dik, kakak kau itu sudah punya pacar?" tanya pelanggan ke arah Vero.


"Kakak yang mana?" tanya Vero.


"Itu, kakak kau yang hitam manis dan seksi itu," jawab si pelanggan.


"Pacar itu apa?" Vero bertanya lagi.


Si pelanggan nampak enggan untuk menjelaskan lebih detail kepada Vero.


Vero segera masuk kembali ke dapur, mengambil kembali kopi yang sudah selesai dibuat Vaya.


"Ibu, pacar itu apa?" tanya Vero.


"Pacar?" Vaya balik bertanya.


"Om-om di depan bertanya, apa Ibu punya pacar?" tanya Vero lagi.

__ADS_1


Vaya menghela napas berat.


"Vero, kalau om-om itu tanya yang tidak ada hubungannya dengan makanan ataupun minuman, lebih baik diam saja ya," ucap Vaya.


"Baik Bu, tapi Bu, pacar itu apa?" tanya Vero.


"Nanti Ibu jelaskan ya," jawab Vaya.


"Ya, ya, tapi Ibu jangan lupa ya!" sahut Vero.


Vero kembali mengantarkan kopi, sementara Vaya dan ibunya saling melemparkan pandangan.


"Vaya, apa sudah ada kabar dari Vier?" tanya Bu Asih. "Ini sudah tiga tahun."


Vaya menatap ibunya yang memasang ekspresi cemas.


"Ibu tidak perlu cemas, aku sungguh baik-baik saja meski tanpa Vier," jawab Vaya.


"Lantas bagaimana dengan Vero? Biar bagaimanapun, Vero masih punya ayah," kata Bu Asih.


Vaya hanya mengulas senyumnya, ia segera mengambil mie rebus yang sudah siap diantarkan ke pelanggan.


Vaya memilih untuk menghindar setiap kali ibunya mulai membahas masalah Vier. Semua itu bukannya tanpa sebab, Vaya hanya tidak ingin rasa rindunya pada Vier membuatnya kembali merapuh.


"Neng, sudah punya pacar?"


Pelanggan bertampang sangar itu mengedipkan sebelah mata saat Vaya mengantarkan pesanan beliau.


Vaya hanya mengulas senyumnya.


Pelanggan itu menghalangi Vaya dengan tangannya.


"Neng, jangan jual mahal begitu," cegah si pelanggan.


"Permisi Om, di sini pesannya makanan atau minuman, pacar tidak ada!" sahut Vero.


Vero melemparkan tatapan benci ke arah pelanggan itu.


"Aduh..aduh.. adikmu ini judes sekali!" kata pelanggan itu dengan nada mengejek.


"Ajari adikmu ini tata krama! Jika tidak, bisa-bisa mulutnya nanti ditampar orang!" lanjut si pelanggan seraya terkekeh.


"Baik Pak, terima kasih atas nasehatnya," kata Vaya.


"Huh, anak-anak zaman sekarang tidak tahu sopan santun! Apa orang tuanya tidak bisa memberi nasehat?!"


Vaya benar-benar muak dengan pelanggan tersebut. Ekspresi mesumnya dan cara bicaranya yang belagu jelas membuat Vaya harus mengambil tindakan.


Vaya mengambil kembali mangkuk berisi mie kuah dan juga gelas kopi milik pria itu.


"Lho, mau dibawa ke mana makananku? Aku belum selesai makan! Awas ya! Nanti aku tidak mau bayar!" pelanggan itu seketika murka.


"Tidak apa-apa Pak, tidak usah bayar! Cari saja warung yang lain!" sahut Vaya.


Pelanggan itu pun segera pergi setelah menjadi bahan tontonan semua orang.

__ADS_1


"Sepertinya orang itu baru pertama kali ke daerah sini," ucap pelanggan yang lain.


"Setelah warung ini, tidak ada tempat persinggahan lain," pelanggan lain menimpali.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini ya, bapak-bapak semua," kata Vaya.


...*****...


Vier melangkah menyusuri koridor salah satu rumah sakit yang ada di pusat kota Paris. Kehadirannya selalu menjadi pusat perhatian baik para pengunjung rumah sakit maupun para perawat yang bekerja di rumah sakit tersebut.


Vier segera menghentikan langkahnya di depan sebuah ruang terapi. Mike yang menunggu di depan ruangan segera menyerahkan sebuah buket bunga anyelir merah muda.


"Terima kasih, Mike," kata Vier sambil mengambil buket bunga itu.


"Bagaimana keadaan Selena?" tanya Vier.


"Kondisi Nona Selena sudah lebih baik dari bulan lalu, porsi terapi Nona Selena juga lebih ditingkatkan dari sebelumnya," jawab Mike.


Vier cukup puas dengan jawaban dari Mike. Usahanya untuk mendukung sepenuhnya Selena hingga pulih setidaknya sudah membuahkan hasil selama tiga tahun ini.


Mata Vier segera tertuju pada Selena begitu pintu terbuka di mana ruangan tersebut merupakan tempat Selena menjalani terapi.


Selena sedang berusaha berjalan dibantu oleh dua orang terapis yang berjaga di sisinya.


Overdosis penggunaan obat penenang mengakibatkan kerusakan sistem saraf pusat Selena. Selena pada awalnya divonis oleh dokter akan mengalami kelumpuhan di sisa hidupnya. Vier dengan keyakinan dan tekadnya memberikan dukungan moral untuk Selena. Menemani dan memberi Selena semangat agar lekas pulih seperti sedia kala.


Sesi terapi Selena pun berakhir, Selena segera kembali duduk di kursi roda sambil menerima buket bunga anyelir yang diserahkan Vier untuknya.


"Bagaimana keadaanmu, Selena?" tanya Vier.


"As you can see," jawab Selena sambil mengamati secara saksama buket bunga anyelirnya.


"Is it better than before, or worse than yesterday? Lebih baik dari sebelumnya atau lebih buruk dari kemarin?" tanya Vier.


"I feel much better than several times ago. Aku merasa lebih baik dari beberapa waktu yang lalu," jawab Selena.


Vier mengulas senyumnya.


"Aku sungguh senang mendengarnya, Selena. Kesembuhanmu tentu menjadi hal yang saat ini paling kuinginkan," kata Vier.


"Vier, apa kau sungguh hanya menginginkan kesembuhanku?" tanya Selena.


"Selena, aku sudah berjanji pada orang tuamu dan juga pada ibuku, aku bertanggung jawab penuh atas kesembuhanmu," jawab Vier.


"Vier, apa hanya itu saja? Apa kau sungguh tidak ingin kita kembali bersama?" tanya Selena.


"Selena, kita tidak mungkin kembali bersama. Aku sudah menikah," jawab Vier.


"Vier, apa wanita itu masih mencintaimu sampai sekarang?" tanya Selena.


Vier menatap lurus ke arah Selena.


"Buktikan padaku jika wanita itu memang masih mencintaimu, seperti aku mencintaimu, Vier!" tantang Selena.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2