
Bruk...!
Tiba-tiba saja Vaya menabrak seseorang begitu ia melewati belokan. Vaya jatuh terjerembab ke lantai dengan isi tasnya yang terbongkar.
"Aduh! Maaf!" ucap Vaya sambil memungut semua barang-barangnya yang berserakan di lantai.
Orang itu membantu Vaya mengumpulkan barang-barang bawaan Vaya.
"Maaf, maaf," Vaya mengalihkan pandangannya pada sosok itu.
Vaya langsung terpesona saat melihat sosok orang yang ditabraknya.
Sosok seorang pria yang membuat Vaya seketika menjadi insecure dengan penampilan pria itu.
Pria tersebut memiliki kulit berwarna cerah, rambut hitamnya yang panjang dan lurus tergerai indah, kedua alisnya tebal dengan hidung bangir yang tinggi. Pria berkumis klimis itu memiliki bibir tipis dengan rona merah muda yang sehat. Bola matanya yang hitam seakan menyedot Vaya untuk masuk ke dalam matanya.
"Eh, oh, astaga, baju Anda jadi kotor!" seru Vaya.
Seketika Vaya panik bukan main karena kemeja berwarna putih gading yang dikenakan pria itu ternodai jejak lipstik yang dikenakan Vaya.
"Maafkan saya, akan saya ganti biaya penatu pakaian Anda," kata Vaya.
"It's okay," sahut pria itu santai.
"Terima kasih, tapi saya sungguh minta maaf," Vaya kembali menunduk.
"Oh ya, ini lipstik Anda," pria itu menyerahkan lipstik yang dipungutnya.
"Terima kasih, sekali lagi saya minta maaf," Vaya bergegas pergi.
"Hih, lipstik ini jelek sekali sih!" Vaya ngedumel sendiri.
Pria itu terpaku mendengar gerutuan Vaya lalu mengarahkan pandangannya ke kemejanya. Noda lipstik merah itu membekas di bagian dadanya.
"Nona tunggu!"
Pria itu berjalan cepat mengejar Vaya, bahkan pria itu begitu gesit hingga bisa menghadang langkah Vaya.
Vaya terkejut karena mendadak pria itu kembali muncul. Pria dengan rambut hitam dan panjang yang tergerai indah bak bintang iklan sampo anti ketombe.
Kenapa pria ini malah mengejarku? Apa dia sungguh menagih biaya penatu bajunya?
"Nona, apa maksud Anda dengan mengatakan bahwa lipstik yang Anda kenakan itu jelek?" tanya pria itu.
"Ya, nyatanya memang jelek, buktinya sampai meninggalkan noda di pakaian Anda," jawab Vaya.
"Apa Anda yakin bahwa Anda mengenakan lipstik itu?" tanya pria itu penuh selidik.
"Anda harus hati-hati, karena penilaian buruk Anda bisa membuat reputasi brand lipstik ini terjun bebas," kata pria itu.
Ada nada mengancam dari cara bicaranya.
Vaya mengeluarkan lipstik pemberian Lamia dari dalam tasnya.
"Maaf, tapi saya memang hanya memakai lipstik ini saja," jawab Vaya. "Lipstik ini teksturnya terlalu cair, susah diaplikasikan, dan keringnya cukup lama," Vaya menjelaskan.
Pria itu nampak memasang ekspresi masam mendengar penjelasan Vaya.
__ADS_1
"Pak, maaf saya sekarang sedang terburu-buru," Vaya mengeluarkan lembaran uang kertas merah dari dompetnya.
"Ini biaya penatu untuk Anda, jika memang kurang, Anda bisa menagih saya, saya akan tinggalkan nomor telepon saya di meja informasi," kata Vaya.
Vaya sudah begitu terburu-buru, ia harus mencari teman-teman kantornya.
"Nona, tolong ikut dengan saya," kata pria itu.
"Ta-tapi Pak, saya sedang terburu-buru," tolak Vaya.
"Lima menit, paling lama sepuluh menit saya minta waktu Anda, daripada anda memberi saya uang untuk biaya penatu kemeja saya."
Pria itu mengulas senyum ramah, entah mengapa Vaya langsung terhipnotis senyum cemerlangnya.
Pria itu membawa Vaya menuju ke konter kosmetik bernama Amoreus. Vaya terpana melihat konter kosmetik dengan etalase yang didominasi warna emas. Nampak sangat mewah dan tentunya pasti mahal.
"Selamat datang di Amoreus," para pramuniaga segera menyambut kedatangan Vaya dan pria gondrong itu.
"Selamat siang," pria itu menyapa pramuniaga dengan ramah.
Pria itu mengedarkan pandangannya lalu mengajak Vaya menuju ke bagian lipstik. Ia mengambil lipstik dengan warna yang sama dengan milik Vaya. Membuka segelnya lalu menyapukan aplikator ke pergelangan tangannya.
"Lihat, tekstur lipstik Amoreus memiliki kualitas yang baik, tekstur tidak terlalu cair, dan memiliki pigmentasi yang juga baik," kata pria itu.
"'Kemarikan lipstik Anda," todong pria itu.
Vaya menyerahkan lipstik miliknya pada pria itu. Ia melakukan hal yang sama seperti tadi, memulas pergelangan tangannya dengan aplikator.
"Lihat perbedaannya," pria itu menunjukkan pergelangan tangannya.
Vaya terperangah melihat perbedaan yang cukup signifikan antara lipstik dari konter dengan lipstik miliknya. Tekstur lipstik yang dimilikinya lebih cair dan cenderung berminyak dengan pigmentasi yang buruk. Pantas saja Vaya sampai perlu berulang kali menyapukan lipstik itu ke bibirnya.
"Hee? Palsu?" Vaya terperangah.
Vaya cepat-cepat mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya dari lipstik palsu yang mengerikan ini.
Sial! Tidak mau hilang! rutuk Vaya.
"Tolong beri saya make up remover dan juga kapas," pria itu memanggil salah satu pramuniaga.
Seorang pramuniaga membawakan produk yang diminta oleh pria itu.
"Gunakan ini, kulit bibir Anda bisa rusak jika digosok seperti itu," kata pria itu lagi.
"Maaf, saya jadi merepotkan Anda," kata Vaya.
Vaya segera membersihkan bibirnya dari sapuan lipstik palsu pemberian Lamia dengan cairan pembersih make up.
Pria itu mengulas senyumnya.
"'Anda sungguh tidak tahu bahwa lipstik Anda ini palsu?" tanya pria itu.
"Tidak tahu," jawab Vaya.
"Apa anda membeli lipstik Amoreus palsu ini di toko daring?"
"Tidak, seseorang memberikan saya lipstik ini," jawab Vaya.
__ADS_1
"Hmm, begitu ya. Sebagai konsumen, Anda harus berhati-hati terhadap produk yang Anda beli. Pastikan bahwa Anda membelinya langsung dari konter resmi atau toko daring resmi. Jangan tergiur harga miring dengan potongan harga besar," kata pria itu lagi.
"Ya, masalahnya, saya hanya diberi dan saya tidak tahu kalau ini produk palsu, lagipula sebelumnya saya tidak pernah memakai lipstik merek Amoreus ini," Vaya menjelaskan.
"Yah, namanya diberi, jadi saya pakai saja," lanjut Vaya.
Pria itu mengulas senyumnya.
"Nona, apa Anda keberatan jika saya meminta lipstik milik Anda?"
"Hee? Untuk apa? Ini kan palsu, lebih baik dibuang saja."
Pria itu menggeleng cepat.
"Nona, saya butuh lipstik palsu itu untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh," kata pria itu.
"Oh begitu," kata Vaya.
"Begini saja, Anda berikan saya lipstik palsu itu, akan saya tukar dengan semua lipstik yang Anda inginkan," tawar pria itu.
"Hee?!" Lagi-lagi Vaya terkaget-kaget.
Vaya menyerahkan lipstik itu.
"Terima kasih. Silakan pilih, Anda ambil semua juga boleh."
"Ya ampun, saya tidak butuh lipstik sebanyak itu. Saya tidak makan lipstik, hehe," Vaya terkekeh.
"Aduh!" Vaya menepuk keningnya.
"'Pak, saya permisi dulu, saya benar-benar terburu-buru!"
Vaya berpamitan kepada pria itu.
...*****...
Vaya bergegas kembali ke restoran namun tidak menemukan rekan kerjanya yang menunggu.
Vaya segera menghubungi Evi.
"Halo, Evi," kata Vaya begitu telepon terhubung.
"Iya halo, Mbak Vaya," sahut Evi.
"Evi, kamu di mana?" tanya Vaya.
"'Mbak Vaya, maaf saya duluan kembali ke kantor, Madame mencari saya," jawab Evi.
"Oh begitu," kata Vaya.
"Mbak sudah ketemu Lamia? Katanya tadi Lamia menunggu Mbak, biar barengan balik ke kantor," kata Evi.
"Lamia," Vaya mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Lamia yang batang hidungnya saja tidak muncul.
"Oh, ya sudah, Evi, sampai ketemu di kantor," kata Vaya sebelum menutup teleponnya.
Vaya mendengus gusar, ia berkeliling di sekitar restoran untuk mencari Lamia. Ia bahkan mencoba menelepon Lamia, namun wanita itu sama sekali tidak menjawab teleponnya.
__ADS_1
Oh tidak! Sepertinya aku tertinggal!
...*****...