
"Selamat Bu, Anda positif hamil."
Bidan yang melakukan pemeriksaan terhadap Vaya mengucapkan selamat dengan senyum yang sumringah.
"A-apa? Saya hamil?"
Pikiran Vaya seketika mendadak kosong.
Hamil?
Hamil?
Aku benar-benar hamil?
"Anda harus rajin-rajin memeriksakan diri. Terlebih ini kehamilan pertama Anda," lanjut bidan itu.
"Hamil?! Saya benar-benar hamil?!"
...*****...
Vaya melangkah gontai begitu meninggalkan puskesmas setelah melakukan serangkaian pemeriksaan yang menyatakan bahwa saat ini Vaya dinyatakan tengah positif hamil.
Vaya tidak tahu bagaimana ia harus bersikap dalam menghadapi kehamilannya ini. Apakah ia harus merasa senang ataukah justru merasa sedih.
Melihat ibu-ibu hamil yang memeriksakan kandungan dengan didampingi suami tentulah membuat Vaya merasa iri.
Saat ini ia juga tengah hamil meski baru tri semester pertama, namun bulan-bulan berikutnya, perutnya akan sebesar itu. Dan lebih menyedihkan lagi, tidak ada suami yang akan mendampinginya.
Vaya menatap gawai cerdasnya, haruskah ia memberitahu Vier mengenai kehamilannya ini? Ataukah justru diam dan bungkam seribu bahasa?
Vaya benar-benar merasa sangat dilema. Rian dan Aria masih membutuhkan biaya untuk sekolah mereka. Dengan uang kompensasi yang diterima Vaya dari perusahaan, uang itu bisa digunakan untuk membiayai sekolah adik-adiknya dan bisa digunakan untuk kebutuhan selama Vaya belum mendapatkan pekerjaan baru.
Namun dalam kondisi hamil seperti ini, sungguh tidak memungkinkan bagi Vaya untuk bisa mendapatkan pekerjaan baru.
Vaya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya, perutnya kembali terasa mual dan keinginan untuk muntah semakin besar.
...*****...
Vaya menghentikan langkahnya saat melihat iring-iringan mobil mewah yang terparkir di depan rumah.
Para pria berbaju hitam melakukan penjagaan cukup ketat, membuat Vaya teringat pada Vier.
Vaya sungguh berharap bahwa tamu yang datang ke rumahnya saat ini adalah Vier.
Vaya membayangkan senyum Vier yang menyambutnya di depan pintu, lalu pria itu menarik Vaya ke dalam pelukannya.
"Vier, aku hamil anak kita!"
"Benarkah? Sungguh?"
__ADS_1
Vier bersorak senang dan mereka kembali berpelukan erat.
Sungguh imajinasi Vaya terlalu manis untuk bisa menjadi sebuah kenyataan.
Ya, imajinasi hanyalah sekadar keinginan alam bawah sadar yang begitu didambakan oleh Vaya.
Semua khayalan manis itu segera terhempas ke dasar jurang terdalam lantaran tamu yang datang ke rumah Vaya bukanlah Vier ataupun Mike yang menyambut Vaya dengan senyum ramah.
Bu Cintami, wanita paruh baya itu duduk bersimpuh dengan gestur arogan saat menyambut kedatangan Vaya.
Vaya segera duduk bersimpuh di lantai dengan mata yang tak luput dari tatapan tidak bersahabat ibu mertuanya.
Bu Asih bisa merasakan ketegangan yang menyesakkan ketika melihat Vaya begitu terintimidasi oleh sikap berkuasa Bu Cintami.
Seperti inikah anak perempuanku diperlakukan? Batin Bu Asih bergejolak.
"Bagaimana kabarmu, Vaya?" tanya Bu Cintami.
Bu Cintami hanya sekadar berbasa-basi, melihat wajah Vaya yang begitu pucat, jelas menandakan wanita itu tidak sedang baik-baik saja.
"Saya, baik-baik saja Bu," jawab Vaya.
"Tujuanku datang kemari karena aku harus menemuimu, Vaya," kata Bu Cintami.
Bu Cintami menyodorkan sebuah amplop cokelat besar ke arah Vaya.
"Buka dan bacalah," perintah Bu Cintami.
"Bacalah dan kau akan tahu itu apa," jawab Bu Cintami dingin.
Vaya membuka isi amplop dan mengeluarkan dokumen yang tak lain adalah surat permohonan pengajuan perceraian.
Saat itu juga Vaya merasa jantungnya berhenti berdetak.
"Aku rasa tidak perlu ada penjelasan lagi. Bukankah semuanya sudah jelas? Pernikahanmu dengan Vier sudah berakhir, hanya saja, tetap harus ada dokumen resminya," ujar Bu Cintami.
Vaya merasa bahwa ibu mertuanya sungguh berlagak seperti orang yang tak berdosa.
"Ibu, maaf, tapi aku tidak berkenan untuk menyetujui permohonan perceraian ini," tolak Vaya.
"Mengapa kau tidak setuju?" tanya Bu Cintami.
"Saya tidak setuju karena saat saya menikah dengan Vier, saya dan Vier membuat kesepakatan bersama. Sehingga ketika kami berpisah, kami pula yang harus menyepakatinya bersama," jawab Vaya.
"Oh begitu? Tapi, Vaya, permohonan perceraian ini adalah permintaan dari Vier sendiri," Bu Cintami membela diri.
"Aku datang untuk membantu Vier," Bu Cintami menekankan.
Vaya menggeleng.
__ADS_1
"Jika memang perceraian ini adalah permintaan Vier sendiri, maka Vier sendiri yang akan datang menemui saya. Untuk apa harus repot-repot meminta bantuan Ibu?" ujar Vaya.
"Aku hanya membantu Vier. Saat ini Vier benar-benar sangat sibuk. Vier harus mengurus pekerjaannya dan juga Selena," terang Bu Cintami.
Vaya menarik napasnya.
"Ibu, terima kasih. Tapi saya tidak akan menandatangani dokumen ini, jika bukan Vier sendiri yang datang kepada saya," tolak Vaya.
Bu Cintami merasa berang dengan sikap Vaya yang tidak bisa diajak bekerja sama.
"Vaya, berapa kali harus kukatakan agar kau bisa mengerti? Saat ini Selena lebih membutuhkan kehadiran Vier di sisinya!"
"Ibu, saya pun juga membutuhkan Vier di sisi saya," tegas Vaya.
"Vaya! Selena jauh lebih membutuhkan Vier! Selena bahkan kehilangan masa depannya gara-gara kau merebut Vier darinya!" geram Bu Cintami.
"Ibu, terima kasih, tapi saya tetap berpegang pada keputusan saya," tolak Vaya.
Vaya menyodorkan kembali dokumen tersebut pada Bu Cintami.
"Saya dan Vier membuat kesepakatan bersama saat kami menikah. Sehingga saat mengakhirinya pun, haruslah berdasarkan kesepakatan kami bersama tanpa campur tangan orang lain," ucap Vaya menegaskan.
"Baiklah, kalau begitu, kupastikan bahwa Vier sendiri yang akan datang menceraikanmu!" tandas Bu Cintami.
Bu Cintami segera pergi bahkan tanpa berpamitan. Emosinya benar-benar meluap nyaris tak terbendung setiap kali berhadapan dengan Vaya.
Vaya merasakan dadanya kembali terasa begitu sesak, namun mual yang dialami membuatnya langsung berlari ke kamar mandi.
Bu Asih menyodorkan segelas air hangat begitu Vaya keluar dari kamar mandi dengan tubuh gemetaran.
"Sudah berapa bulan, Vaya?" tanya Bu Asih.
"Sudah jalan tiga bulan, Bu," jawab Vaya.
"Apa itu benar-benar benih Vier?" tanya Bu Asih.
"Ibu, aku hanya tidur dengan Vier," jawab Vaya.
"Vaya, Ibu hanya tidak ingin kau dituduh oleh ibu Vier bahwa kau mengandung anak pria lain," kata Bu Asih.
"Ibu, apa sebaiknya kita pindah saja untuk sementara waktu? Aku tidak ingin ibu Vier meneror kita seperti ini, Bu," ucap Vaya.
"Vaya, apa maksudmu?"
"Ibu, aku sungguh takut, bagaimana jika ibu Vier sampai bertindak jauh dan mengusik kehidupan kita? Aku bahkan berpikir, jangan sampai ibu Vier tahu kehamilanku ini."
"Aku tidak ingin ibu Vier sampai menganggap bahwa aku memanfaatkan anak ini untuk mengikat Vier. Ibu Vier pasti akan melakukan segala cara untuk mencelakai anak ini, Bu. Aku harus melindunginya."
Vaya menatap ibunya dengan kesungguhan yang teramat sangat.
__ADS_1
...*****...