Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
055 - Mencuri-curi Kesempatan


__ADS_3

...Jangan ada boomlike di antara kita. 🙏...


...Selamat membaca......


Bu Asih keluar dari kamar beliau, wanita paruh baya itu menyaksikan betapa ramainya rumah mereka. Melihat anak-anak dan menantunya berkumpul sambil nonton televisi bersama. Beliau sungguh tak menduga bahwa ternyata menantunya adalah orang yang mudah berbaur. Padahal jika dilihat, menantunya itu terkesan bukan orang yang bisa membaur dengan kehidupan sosial kelas menengah ke bawah.


"Aria, sudah jam berapa ini, kok kamu masih nonton televisi?" tanya Bu Asih.


"Ibu, sinetronnya belum selesai," jawab Aria.


"Lho, Vaya, suamimu kenapa tidak diberi nasi? Mana bisa kenyang," tegur Bu Asih begitu melihat isi mangkuk menantunya.


"Tidak apa-apa Bu, ini sudah cukup," sahut Vier.


"Ibu, Vier jarang makan nasi kalau malam," kata Vaya.


"Hee, kenapa tidak makan nasi? Nanti kamu kurus, Nak Vier," ucap Bu Asih.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya ini kan belalang kupu-kupu. Makan nasi siang saja," sahut Vier.


"Kalau malam pasti minum susu ya, Kak?" sahut Rian seraya terkekeh.


"Pintar!" Vier menimpali sahutan Rian sambil menyeringai ke arah Vaya.


Mata Vier yang jelalatan ke arah dada Vaya membuat Vaya melotot geram ke arah Vier.


Dasar laki-laki mesum!


"Oh begitu," sahut Bu Asih.


"Kak Vier dan Kak Vaya selama ini diam-diam pacaran ya?" tanya Aria.


"Aria, tidak perlu bertanya yang aneh-aneh!" sergah Vaya melotot ke arah Aria.


"Kak Vaya, Aria itu tidak bertanya yang aneh-aneh kok! Yang aneh kan justru Kakak yang mendadak menikah dengan Kak Vier, kok bisa sih, orang setampan Kak Vier sampai kepincut kak Vaya?" Rian ikut-ikutan bertanya.


"Rian apa maksudmu berkata begitu?" tanya Vier.


"Rian!" Vaya melotot ke arah Rian.


"Bicara saja, Rian, jangan sungkan begitu. Aku sungguh ingin tahu," Vier mengedipkan sebelah matanya ke arah Vaya.


Vier!


"Hmm, ya, maksudku, Kak Vaya itu kan selama ini tuh tidak pernah punya pacar. Dijodohkan juga tidak mau. Eh, tahu-tahu, menikah dengan pria setampan Kak Vier. Kan aneh," sahut Rian.


"Rian, jangan berlagak jadi wartawan infotainment ya!" Vaya melotot ke arah Rian.


Rian dan Aria kompak terkekeh. Vaya melayangkan pandangannya ke arah Vier yang mengulas senyum  misterius.


"Hmm, yah, mau bagaimana lagi, kakak kalian harus menikah denganku karena ia harus bertanggung jawab," sahut Vier masih melemparkan senyum jahilnya.


"Hee? Tanggung jawab apa?" Rian dan Aria serempak berseru.


"Ya, harus tanggung jawab karena sudah mencuri hatiku," lanjut Vier sumringah.


"Ciee... ciee...," Rian dan Aria kembali berseru heboh.


Vaya mendelik gusar, Vier benar-benar keterlaluan!


"Vier! Jangan bicara yang aneh-aneh!" Vaya melotot  geram ke arah Vier.


"Ciee... cie... Kak Vaya tuhh," Rian dan Aria kembali menggoda Vaya.


Vier terkekeh bersama adik-adik Vaya yang masih bercie-cie heboh.


"Hih, dasar adik-adik berisik!" cibir Vaya.


"Hihi, Kak Vaya tuh!" goda Rian dan Aria.


"Awas ya, nanti uang jajan kalian kupotong!" ancam Vaya.


"Yaah, kok begitu Kak!" keluh Aria.


"Hoho! Tenang saja pemirsa! Kalau uang jajan kalian dipotong, aku yang akan ganti rugi!" sahut Vier.


"Horee! Terbaik memang kakakku ini!" seru Rian dan Aria bersorak heboh untuk Vier.

__ADS_1


Vier! Dasar pria gila!


"Sudah-sudah tertawanya, ini sudah malam, tidak enak mengganggu tetangga!" sergah Bu Asih.


Vier menyeringai melihat Vaya yang kembali mencebik.


"Nak Vier, Vaya, segeralah beristirahat, kalian pasti sudah sangat lelah," ucap Bu Asih.


"Baik Bu," sahut Vier.


"Ya sudah, kalau begitu, Ibu istirahat dulu ya. Aria, ayo lekas tidur," ajak Bu Asih.


"Ya Bu," jawab Aria.


"Rian, kalau sudah mengantuk segera tidur, jangan dipaksa begadang," pesan Bu Asih sebelum beliau memasuki kamar beliau.


"Ya Bu," sahut Rian.


Vier menyudahi makan malamnya, Vaya membawa mangkuk kotor ke dapur untuk dicuci.


"Kak Vier, kok bisa ya, kaus yang kakak pakai terlihat keren sekali?" tanya Rian.


"Rian, kunci penampilan sempurna paripurna adalah percaya diri," sahut Vier.


"Oh begitu ya? Kak, apa aku bisa sekeren Kakak?" tanya Rian.


"Tentu saja bisa! Coba kau turunkan beratmu sepuluh kilo!" jawab Vier antusias.


"Ih serius Kak?" sahut Rian.


Vier mengangguk mantap.


"Vier, tidak usah bicara yang aneh-aneh," celetuk Vaya dari arah dapur.


Vaya sungguh tidak ingin Vier meracuni Rian dengan pola diet ekstrem. Sudah cukup Vaya menjadi korban kekejaman diet tersebut.


...*****...


Vaya memasuki kamarnya, sementara Vier kembali mengulang mandinya lantaran merasa kegerahan.


Vaya segera merebahkan diri di kasur sambil berselancar di dunia maya.


Pintu kamar Vaya terbuka dibuka oleh Vier.


Begitu memasuki kamar Vaya, Vier langsung membuka jendela kamar Vaya.


"Vier, kenapa kau membuka jendela? Kau mau mengundang masuk para nyamuk?" Vaya turun dari tempat tidurnya.


Ia segera menutup kembali jendela kamarnya, setelah itu ia kembali naik ke tempat tidur.


"Vaya, aku merasa gerah sekali, lihat keringatku sampai bercucuran begini, padahal aku baru saja mandi!" keluh Vier.


"Vier, bukankah kita sudah sepakat bahwa kau tidak boleh mengeluh?" tanya Vaya.


Vier mendelik gusar.


"Duh panasnya!" Vier langsung membuka kausnya.


"Vier! Pakai lagi bajumu!" Vaya melotot.


Vier mengabaikan ucapan Vaya dan segera bergabung dengan Vaya di tempat tidur.


Vaya benar-benar risih dengan Vier yang bertelanjang dada. 


"Tempat tidurmu sempit sekali," ucap Vier.


"Vier! Dilarang mengeluh!"


"Vaya, aku hanya berkomentar."


"Baiklah, aku akan tidur di lantai," ujar Vaya mengalah.


"Tidak! Tidak! Kau harus tetap di sini!" tukas Vier. "Oh ya, Vaya, kau tentu tidak lupa dengan hukuman yang kuberikan sebelum aku tidur kan?" tanya Vier.


"Vier, ini kan bukan di rumahmu, aku rasa hukuman darimu tidak berlaku," jawab Vaya diplomatis.


"Haha!" Vier tertawa.

__ADS_1


"Vaya, sekarang aku tanya padamu, yang kau pijat itu, aku atau rumahku?" tanya Vier.


Vier menyeringai melihat ekspresi Vaya yang berubah masam.


"Tidak peduli aku berada di mana, selama kau bersamaku, hukuman dariku selalu berlaku untukmu," Vier menyundul dahi Vaya dengan telunjuknya.


Bibir Vaya makin maju bersenti-senti melihat seringaian penuh kemenangan yang terukir sempurna di wajah Vier.


Vaya mulai memijat bahu telanjang Vier yang membuat pikirannya langsung berjalan-jalan liar. Bagaimana bisa tubuh pria ini terpahat begitu sempurna? Mungkin ini yang dinamakan hasil tidak mengkhianati usaha. Konsisten melakukan latihan fisik dan menjaga pola makan.


Haa, apalah Vaya yang hanya kaum rebahan? Ingin punya body goals tapi kerjanya hanya makan dan tidur-tiduran. Wajar saja Vier mengejeknya macam ikan buntal.


Vier merasa bulu kuduknya meremang, entah mengapa pijatan yang dilakukan Vaya membuatnya jadi merasa panas. Ya, kamar Vaya benar-benar sangat panas, keringatnya bahkan sudah sebesar biji-biji jagung.


Vaya masih memijat bahu Vier, keringat yang membanjiri tubuh Vier membuat tangan Vaya terpeleset.


"Aduh!"


Vaya terpeleset menabrak bahu Vier, bibirnya tak sengaja mengecup punggung Vier.


Vier menegang, merasakan bibir Vaya di punggungnya.


"Aduh, Vier! Maaf!"


Vier memutar tubuhnya, menatap ke arah Vaya.


"Vaya, kau sengaja ya?" tanya Vier.


"Ti-tidak, Vier! Tidak!" Jawab Vaya tergagap.


Vier memicingkan kedua matanya.


"Tidak? Kau pasti sengaja kan, mencuri-curi kesempatan?" Vier menyeringai.


"Tidak, Vier, sungguh!" jawab Vaya. "Tubuhmu penuh keringat, aku terpeleset!" jawab Vaya.


"Kenapa kau bisa sampai terpeleset? Kau pasti melamun, benar kan?" tanya Vier.


"Ti-tidak, Vier, sungguh!"


"Bohong! Kalau kau fokus, tidak mungkin kau sampai terpeleset seperti itu."


"Vier! Ugh!"


"Aku tidak mau tahu. Kau harus mendapat hukuman atas kelalaianmu," Vier menyeringai.


"Vi-Vier! Di kamar sebelah ada ibuku dan Aria, di depan ada Rian, tolong jangan macam-macam!" Vaya mencoba untuk melakukan negosiasi.


"Vaya! Aku tidak mau tahu!" 


Vier membuka kancing daster yang dikenakan Vaya, lalu segera mendaratkan kecupan-kecupan lembut di dada Vaya.


"Ugh! Vier!"


Vaya benar-benar harus menahan diri untuk tidak berteriak, menahan rasa geli yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. 


"Vi-Vier, geli! Hihi!"


"Hmm, jangan berisik, Vaya, kau bisa membangunkan ibu dan adik-adikmu," sahut Vier.


"Vier, stop! Cukup! Geli sekali! Haha!" Vaya tertawa.


Tawa Vaya segera dibungkam oleh bibir Vier yang segera memagutnya tanpa ampun. 


Vier bahkan terlalu bersemangat, ia benar-benar tidak tahan untuk membuka sarung gajah nyungsep yang saat ini menyembunyikan sisi ganasnya. Isi sarung gajah nyungsep sudah tidak tahan untuk dijamah meski tidak menjamah sarang yang hangat.


Setidaknya jangan biarkan Vier menggarap proyek solo sendiri. Tolong dibantu, begitu.


Duak...!


"Aduh!" Vier memegangi kepalanya.


Ia segera mengakhiri ciumannya yang begitu membara lantaran kepalanya yang terbentur ke tembok. Hal tersebut terjadi lantaran tempat tidur Vaya tidak dilengkapi dengan headboard alias sandaran kasur.


"Aduh! Aduh!" Vier blingsatan meringkuk kesakitan.


Sementara Vaya masih terdiam untuk mengatur nafasnya yang nyaris hilang akibat ulah Vier.

__ADS_1


^^^*****^^^


__ADS_2