Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
041 - Sapi Glonggongan


__ADS_3

Vaya menyemprotkan air ke lantai kamar mandi. Entahlah, ia sudah tidak punya lagi yang namanya malu karena sudah pipis dalam gendongan Vier.


Masalah malu, Vaya sudah tidak ambil pusing, yang kini justru membuatnya cemas adalah Vier.


Entah hukuman macam apa yang kiranya akan diterima oleh Vaya. Vaya jelas harus mempersiapkan dirinya.


Sesekali Vaya mencuri pandang ke arah Vier yang saat ini melepas piyama yang dikenakannya lalu bergegas membasahi tubuh di bawah pancuran.


Tubuh Vier yang begitu atletis terlihat luar biasa saat gemericik air membasahi lekuk-lekuk ototnya. Entah mengapa Vaya jadi berpikir, apa ya, rasanya menjadi air yang mengalir di tubuh Vier?


Vaya menurunkan pandangannya, ia segera berpaling dengan wajah merona merah. Tak seharusnya ia menurunkan pandangan untuk melihat tubuh bagian bawah Vier yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang.


Definisi dari bokong seksi paripurna! Apa kabar tampak depannya ya?


I'm bringing sexy back! Yeah!


Sepenggal lirik dari lagu Justin Timberlake langsung terlintas dalam benak Vaya. Membayangkan bagaimana Vier meliuk-liuk bak Justin Timberlake yang sedang menari dengan penuh keseksian mengikuti irama lagu yang begitu seksi.


Come here girl. Go head be gone with it.


Punggung seksi Vier memanggil-manggil.


Hih! Apa yang kupikirkan?!


Vaya membuyarkan lamunannya sendiri.


Vier sudah selesai membasuh tubuhnya, ia beralih ke bathtub untuk berendam dalam busa sabun beraroma mewah yang sudah ia siapkan terlebih dulu.


"Vaya!" panggil Vier.


"A-ada apa, Vier?" tanya Vaya.


"'Gosok tanganku!" perintah Vier sambil menyodorkan tangannya.


"'Hee?"


"Kau jangan hah heh hah heh! Tanganku sudah terkena najis mughallazah!" sahut Vier.


"A-apa?!" Vaya terperangah.


Sangkamu aku ini binatang yang diharamkan?! Vaya melotot geram ke arah Vier.


"Ayo cepat!"


Vaya mulai menyabuni lengan Vier dan menggosoknya dengan perasaan kesal.


"Vaya, apa kau sungguh berniat untuk mengulitiku?" tanya Vier.


Vaya tak menjawab, ekspresi kesal di wajahnya sudah memberikan Vier jawaban.


"Vaya! Kau ini tidak ikhlas ya?" tanya Vier.


"Tidak ikhlas apanya? Kau yang mengikatku, kau tidak bisa membuka ikatan, tapi kau malah menganggapku najis! Mikir, Vier! Mikir!" sahut Vaya.


"Vaya? Apa kau sedang marah padaku?" tanya Vier.


"Ya, sudah sewajarnya kan, aku marah padamu! Kau mengikatku seperti orang bodoh, dan kau tidak bisa membuka simpul ikatanmu sendiri! Lalu kau membuatku terlihat benar-benar menyedihkan!" jawab Vaya.


"Haha!" Vier tertawa sambil menarik Vaya ke dalam bathtub.


"Vi-Vier!"


Byurr...


Vaya tercebur ke dalam bathtub, wajahnya sudah dipenuhi busa sabun saat kepalanya muncul di permukaan.


"Vier! Uhuk!" Vaya terbatuk.


"Apa kau mau membunuhku?!" seru Vaya.


"Haha," Vier masih tertawa.

__ADS_1


"Ini benar-benar tidak lucu, Vier!" gerutu Vaya.


"Vaya, bagaimana bisa kau menyalahkanku, padahal dari awal kau yang salah," sahut Vier.


"Ya, aku yang salah, aku yang salah, puas kau sekarang?!" sergah Vaya.


Vier mengulas senyumnya.


"Sudah, puas kau mengomel? Segera gosok kembali lenganku dengan benar," perintah Vier.


Vaya mendengus kesal, ia mulai kembali menggosok lengan Vier.


"Vaya, aku sungguh bertanya-tanya, apa kau seorang wanita yang normal?" tanya Vier.


"Apa maksudmu, Vier?" Vaya balik bertanya.


"Aku sudah telanjang seperti ini, apa kau tidak ada keinginan untuk menggodaku?" tanya Vier.


"Haha!" Vaya tertawa dengan tawa dibuat-buat.


"Kenapa kau tertawa seperti itu?" tanya Vier.


"Vier, maaf ya, ikan buntal sepertiku harus tahu diri," jawab Vaya.


"Haha, kau sungguh tahu diri? Yakin?" tanya Vier.


"Apa lagi maksudmu, Vier?"


"Bukannya kau itu wanita yang tidak tahu diri ya? Asalkan berjenis kelamin pria, maka semua pria akan kau buru," jawab Vier.


"Huhu, sepertinya kau salah menduga, Vier. Asal kau tahu, dulu aku hanya mengejar pria yang kurasa tipe idealku," jawab Vaya.


"Tipe ideal?" Alis Vier berkerut.


"Ya, aku tidak sepertimu yang mengencani gadis-gadis secara random," sahut Vaya.


"Tipe ideal dari mana? Apakah pria-pria sampah seperti itu sungguh tipe idealmu? Seleramu sungguh buruk sekali, Vaya," ledek Vier.


Vier mencebik mendengar ledekan Vaya, ia pun segera menyipratkan busa sabun ke wajah Vaya.


"Gosok yang benar!"


"Uhuk! Uhuk!" Vaya terbatuk karena busa sabun yang masuk ke mulutnya.


"Haha!" Vier tertawa.


Byurr..!


Vaya membalas dengan menyiramkan kembali busa sabun ke wajah Vier.


"Vaya! Beraninya kau!"


Vier menangkap kedua tangan Vaya dan membawa Vaya ke dalam pelukannya.


Mata mereka saling bertemu, Vaya bahkan merasakan bahwa jantungnya berdetak lebih kencang. Wajah Vier benar-benar terlihat luar biasa dalam keadaan basah seperti ini. Vaya bahkan bisa merasakan embusan napas pria itu.


"Vaya," ucap Vier.


"Kau dilihat dari dekat benar-benar jelek ya?" Vier menyeringai jahil.


"Sudah tahu aku jelek, masih saja kau lihat," sahut Vaya.


Vaya mendorong tubuh Vier agar menjauh darinya. Ia segera keluar dari bathtub, menuju ke bawah pancuran untuk menghilangkan busa sabun yang menempel di tubuhnya.


Vier yang masih duduk dalam bathtub memerhatikan secara saksama.


"Vaya, Vaya, tubuhmu sungguh terlihat macam sapi glonggongan, ahaha!" Vier kembali mengejek Vaya.


Vaya mengabaikan ejekan Vier.


"Ahaha! Jelek! Kau benar-benar sangat jelek! Wajar saja semua pria dulu menolakmu! Kau begitu jelek! Ahaha!"

__ADS_1


Vaya menyudahi acara  membilas tubuhnya, ia mengambil handuk kimono.


"Vier, biar saja aku jelek, biar saja aku terlihat macam sapi glonggongan. Toh, kau sudah menikahiku. Itu sama saja kau menikahi sapi glonggongan," cibir Vaya.


"A-apa? Aku menikahi sapi glonggongan?!"


Wek..!


Vaya menjulurkan lidahnya sebelum keluar dari kamar mandi.


"Ahaha! Dasar sapi glonggongan!"


Sapi glonggonganku yang menyebalkan! Haha! Vier tertawa dalam hati.


Aku jadi ingin memakannya! Makan sapi glonggongan! Hihi! Bagaimana rasanya ya?


...*****...


Keesokan paginya, Vaya sudah berada di gym untuk melakukan latihan fisik bersama Ivan.


"Ugh!" Vaya menahan rasa mualnya.


"Bu Vaya, Anda baik-baik saja?" tanya Ivan.


"Maaf ya, saya merasa kurang enak badan," jawab Vaya.


"'Bu Vaya, lebih baik Anda beristirahat dulu," kata Ivan.


Vaya merasa kepalanya agak pusing, dan ia juga merasa mual. Semalam ia memang kurang tidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur. Adegan-adegan dalam film horor yang ditontonnya bersama Vier jelas menimbulkan efek paranoid.


"Selamat pagi," sapa Vier begitu memasuki ruang gym pribadinya.


"Selamat pagi, Pak Vier," sapa Ivan.


Mata Vier mendapati Vaya yang nampak sedang duduk bersila di atas matras.


"Vaya, kenapa kau hanya diam saja? Bukankah kau sudah harus memulai latihan fisikmu?" tanya Vier.


"'Kalau kau malas-malasan begitu, yang ada tumpukan lemak jahatmu akan semakin bertambah," cibir Vier.


"Ugh, huek..!"


Vaya merasa makin mual dan ia hendak muntah.


"Vaya, kau kenapa?" tanya Vier.


"Huek..!"


Vaya berlari menuju ke toilet tanpa menjawab pertanyaan dari Vier.


"Huek..!" Vaya memuntahkan isi perutnya yang kosong.


Asam lambung terasa membakar kerongkongannya.


Ugh, sepertinya asam lambungku sedang naik! Pikir Vaya.


Vaya segera membuka pintu toilet, ia terlonjak kaget mendapati Vier yang sudah berada di depan pintu.


"Vaya, apa kau sedang hamil?" tanya Vier.


"A-apa?" Vaya terperangah.


Siapa yang hamil?


...*****...


Pembaca setia author yang dipenuhi kehaluan hakiki. Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.


Jangan lupa tombol like diklik, tekan tombol hadiah, vote, isi kolom komentar, dan nantikan episode selanjutnya.


Sampai jumpa.

__ADS_1


__ADS_2