
Vaya mengguyurkan air hangat ke seluruh tubuhnya, menggosok tubuh dengan sabun beraroma mewah yang begitu memanjakannya. Kemudian ia menggosok gigi hingga bersih, lalu berkumur dengan cairan pembersih mulut yang memberikan sensasi dingin nan segar.
Tubuh Vaya gemetaran mendapatkan perintah seperti ini. Dalam benak Vaya, terlintas hal-hal menakutkan yang mungkin akan dialaminya sesaat lagi.
Vaya jadi teringat akan keinginan Vier untuk mencicipi tubuhnya. Pria itu meminta Vaya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Vaya menatap tubuhnya di depan cermin besar yang ada di ruang lingerie. Menurut Vier tubuhnya sama sekali tidak ada lekuk seksi bak jam pasir atau gitar Spanyol yang luar biasa selain lemak di perutnya yang menggelambir, belum lagi pahanya yang macam paha sapi glonggongan, lagi-lagi menurut Vier.
Padahal Vaya merasa tubuhnya baik-baik saja, tapi mungkin Vier sudah terbiasa melihat para wanita bertubuh bak jam pasir dan gitar Spanyol, makanya selalu komplain dengan bentuk tubuh Vaya.
Vier benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya jika menginginkan tubuh nista ini, pikir Vaya.
Vaya mengambil salah satu lingerie berwarna merah jambu dengan luaran model kimono.
Daripada lingerie, daster jauh lebih nyaman! Batin Vaya.
Vaya segera keluar dari ruang seksi, menuju ke ruang kerja Vier.
Tok... Tok...
Ia mengetuk pintu, Mike muncul di ambang pintu, mempersilakan Vaya untuk masuk.
"Silakan, Bu," kata Mike menyuruh Vaya untuk menunggu di sofa.
Mike pun mengakhiri tugasnya, ia segera pamit undur diri meninggalkan Vier dan Vaya di ruang kerja itu.
Vaya masih menunggu Vier yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Bukan hal yang menakjubkan bagi Vaya ketika mendengar Vier berbicara dalam bahasa Inggris yang begitu fasih.
Yah, Vier dulunya memang murid yang cerdas, selalu masuk dalam daftar peringkat tiga besar di sekolah. Vier jago semua mata pelajaran padahal kerjanya di sekolah hanya bermain-main, nongkrong di kantin, dan pacaran saja.
"I trust you. You are the big cheese in your company. I am willing to bet the farm on it. Okay then, catch you later."
Dia ngomong apa sih? Cheese? Keju? Farm? Ladang? Apa maksudnya ladang keju? Vaya membatin.
Vier menyudahi panggilan teleponnya. Ia menatap Vaya yang sudah duduk di sofa. Ia membawa tumpukan dokumen dari meja kerjanya, lalu ikut duduk di sana. Masih banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan sehingga ia terpaksa lembur di rumah. Meeting sambil makan malam bersama klien jelas menyita waktu kerjanya.
Vaya memberanikan diri untuk mulai bicara. Hanya diam justru membuatnya makin tertekan lantaran terus kepikiran dengan hukuman apa yang sudah menunggunya.
"Vier, begini, aku bisa jelaskan semuanya. Aku dan pria itu sungguh tidak ada hubungan apa pun. Pak Bisma adalah salah satu auditor eksternal yang ditunjuk untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan tempatku bekerja," Vaya mencoba menjelaskan.
Vier nampak mengabaikan penjelasan Vaya dan masih sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen yang kini ia pindahkan ke pangkuannya.
"Vier," kata Vaya.
"Vaya, kau pasti sudah tahu apa kesalahanmu kali ini?" tanya Vier.
"Vier, aku pergi makan malam untuk urusan pekerjaan. Bukankah kita sudah sepakat bahwa urusan pekerjaanku adalah urusan pribadiku?" jawab Vaya.
Tok.. Tok..
"Masuk!" sahut Vier.
Pak Jo muncul di ambang pintu, membawa kereta dorong, mengeluarkan sepiring besar potongan buah segar dan jus segar sebagai camilan untuk Vier.
"Terima kasih, Pak Jo," kata Vier.
Pak Jo mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Vier.
"Vier, aku tidak mengencani pria mana pun, dan aku tidak sedang berkencan dengan pria lain! Harus kubuktikan dengan apa agar kau percaya?" tanya Vaya.
"Vaya, berikan camilan itu padaku," perintah Vier.
__ADS_1
Vaya segera mengambil piring berisi buah-buahan yang dipotong dalam ukuran sekali gigit.
"Duduk di sampingku," kata Vier.
Hih, kenapa lagi?
Vaya segera berpindah posisi dan duduk di samping Vier.
"Vaya, bukankah sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak percaya padamu?" Vier mengulas senyum dinginnya.
"Maka dari itu, Vier, katakan padaku, apa yang harus kulakukan, apa yang harus kutunjukkan padamu agar kau percaya?" tanya Vaya.
Vier menaikan sebelah alisnya, kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Baiklah, aku mau kau pegang piring camilanku, posisikan di depan dadamu!" perintah Vier.
Vaya mengikuti instruksi Vier.
"Pegang yang benar dan jangan lepaskan! Sekali kau lepaskan, kau benar-benar harus siap menerima konsekuensinya," Vier mengulas senyum dingin.
Vaya meneguk ludahnya, entah apa maksud Vier menyuruhnya menjadi meja portabel seperti ini.
"Suapi aku," perintah Vier.
"Hee? Apa?" tanya Vaya.
"Suapi aku," sahut Vier.
"Suapi?"
"Ya, kau pasti tahu kan?"
"Kau kan bisa makan sendiri, Vier," gerutu Vaya.
Melanggar perintah sama dengan melanggar aturan dan Vaya akan mendapat hukuman.
"Ya, ya, aku akan menyuapimu," sahut Vaya.
"Hmm, tapi kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk menyuapiku," sahut Vier.
"Hee? Kalau begitu, aku menyuapimu pakai apa? Pakai kaki?" tanya Vaya.
Vier kembali menyeringai horor.
"Gunakan mulutmu," jawab Vier sambil menunjuk mulut Vaya.
"A-apa?" seru Vaya.
Piring yang dipegang Vaya nyaris oleng, Vaya cepat-cepat memegangi piring dengan erat.
"Vier, apa kau sudah gila?!" sergah Vaya.
"Vaya, bukankah kau sendiri yang mengatakan akan melakukan apa saja untuk menunjukkan bahwa kau bisa kupercaya? Sekarang aku memintamu untuk memegangi piring berisi camilanku, anggap saja itu kepercayaanku. Lalu kau suapi aku dengan mulutmu, sebagai bentuk loyalitasmu pada perintahku," Vier menjelaskan.
Vaya meneguk ludahnya, menyuapi Vier dengan buah-buahan berukuran sekali gigit jelas merupakan perintah yang mengerikan untuknya.
"Lekas lakukan! Pekerjaanku masih banyak, jangan membuang-buang waktuku!" perintah Vier.
Apakah ini maksud Vier sehingga menyuruhnya untuk menggosok gigi?
Oh tidak! Vier benar-benar sudah gila!
__ADS_1
Vaya mulai menggigit sepotong apel lalu mendekat ke wajah Vier, Vier menyambut potongan apel itu dengan bibirnya. Bibir mereka pun seketika bersentuhan membuat Vaya langsung menegang tak karuan.
Vier mengunyah potongan apelnya sambil bekerja. Vaya terdiam, saat ini pikirannya seketika menjadi kosong.
"Aku mau potongan mangga," kata Vier.
Lagi-lagi pria itu memerintah Vaya. Vaya menguatkan dirinya, perintah Vier adalah aturan yang harus ditaatinya. Melanggar perintah Vier, artinya Vaya harus siap mendapat hukuman.
Vaya menggigit potongan daging buah mangga berwarna jingga yang begitu lembut. Bahkan begitu susah untuk digigit.
Vier menyambut bibir Vaya, menyesap lembutnya daging buah mangga yang begitu manis bersamaan dengan bibir Vaya. Vaya tersentak kaget karena pria itu juga menyesap lidahnya.
Oh tidak! Apa yang kau lakukan, Vier?! Batin Vaya berontak.
Ingin rasanya ia mendorong Vier, namun kedua tangannya sedang memegangi piring yang diperintahkan jangan sampai terjatuh.
Vier melepaskan pagutannya, ia kembali berkutat pada dokumen yang diperiksanya.
"Vier! Apa yang kau lakukan?!" sergah Vaya.
Ia tak terima Vier menciumnya seperti itu.
"Makan buah," jawab Vier dengan santainya.
"Makan buah?" Vaya terperangah dengan jawaban Vier.
"Berikan aku anggur!" perintah Vier.
"A-apa?!"
"Sudah, lakukan saja tanpa perlu banyak bertanya!" sergah Vier.
Vaya benar-benar menggigil dengan kelakuan gila Vier. Vaya menunduk, mengambil sebutir anggur berwarna hijau mengilat dan berukuran besar, Vaya menggigitnya lalu menyerahkan buah anggur mendekat ke bibir Vier.
Vier menahan tengkuk Vaya.
"Aku tidak mau ada bijinya," ucap Vier sebelum mengambil buah anggur dari mulut Vaya.
Ugh! Vier! Batin Vaya meronta.
Pria itu benar-benar membuat Vaya ingin menangis, dengan perlakuannya yang semena-mena.
Rasa manis dari buah anggur menyebar ke dalam mulut Vaya disela-sela pertikaian lidah mereka. Vier menelan buah anggur yang mereka kunyah bersama.
"Vaya, fokuslah mencari biji anggurnya," ucap Vier. "Aku tidak makan biji anggur."
"Vi-Vier! Aku sudah mencarinya!" sahut Vaya dengan wajah bersemu merah.
Napas Vaya sudah tersengal-sengal karena ulah Vier.
"Gunakan lidahmu! Cari yang benar! Lakukan sekali lagi!" perintah Vier.
Vaya menggigit sebutir anggur dan menyodorkannya lagi ke mulut Vier.
Vaya kembali merasakan manis anggur yang seakan memabukkan namun ia harus mencari biji anggur yang saat ini menjadi tugas utamanya.
Di mana bijinya? Dari tadi aku hanya merasakan lidah Vier saja! Ugh! Rutuk Vaya dalam hati.
Vier diam-diam mengulas senyumnya, memperdalam pagutan mereka. Sepertinya Vaya sungguh tidak tahu bahwa buah anggur berjenis shine muscat tidak memiliki biji.
Haha! Batin Vier tertawa senang sambil memperdalam kembali ciumannya.
__ADS_1
...*****...