
Vaya masih berkutat di layar monitornya, memeriksa laporan keuangan perusahaan sudah menjadi tugasnya sebagai salah satu senior staff accounting. Belum lagi ia juga menerima misi rahasia dari direktur keuangan untuk melakukan penagihan atas tunggakan para pelanggan demi mendapatkan promosi jabatan yang fantastis.
Vaya benar-benar merasa tertantang untuk mendapatkan posisi itu mengingat banyaknya benefit yang bisa ia dapatkan jika mendapatkan posisi sebagai manajer.
Hal yang perlu dilakukan oleh Vaya adalah mencari semua dokumen pendukung untuk melakukan penagihan.
"Evi, aku harus mencari dokumen yang diminta oleh Madame, apa kau tahu di mana kira-kira disimpannya?"
Vaya menyodorkan selembar kertas ke arah Evi yang sedari tadi masih berkutat dengan tumpukan dokumennya.
Evi memerhatikan isi dokumen itu secara saksama.
"Wah, dokumen yang lama sekali, Mbak, sudah lima tahun yang lalu," sahut Evi.
"Iya, Evi, Madame menyuruhku untuk mencari salinan semua dokumen ini," kata Vaya.
"Sepertinya mungkin ini masih ada di gudang dekat ruangan IT, seingatku semua dokumen lima tahun ke atas ada disimpan di sana," Evi menebak-nebak.
"Oh ya, ngomong-ngomong, siapa yang memegang kunci gudang itu ya?" tanya Vaya.
"Maaf, Mbak, aku kurang tahu, coba Mbak Vaya tanya ke Pak Andre," jawab Evi.
"Oh oke, baiklah," sahut Vaya.
"Mbak perlu buru-buru?" tanya Evi.
"Aku hanya perlu secepatnya saja," jawab Vaya.
Vaya menghela napasnya, bertepatan dengan dering pesawat telepon di mejanya.
Vaya segera mengangkat gagang telepon lalu mulai menjawab.
"Siang, Vaya."
"Bu Vaya, tolong ke ruangan saya sekarang ya."
"Baik, Pak Andre," jawab Vaya sebelum mengembalikan gagang telepon ke posisi semula.
"Evi, aku ke ruangan Pak Andre dulu ya," Vaya berpamitan.
Vaya segera meninggalkan ruangannya menuju ke ruangan Pak Andre.
Tok.. Tok..
Evi menoleh ke arah pintu, kepala seorang wanita muncul tanpa badan membuat Evi terlonjak kaget.
"Ya ampun, Lamia! Bikin kaget saja!"
Lamia, wanita bertubuh mungil dengan rambut hitam panjang dan kerap berdandan tebal. Wajahnya yang mungil selalu terlihat jauh lebih putih dari warna kulit pada anggota tubuhnya yang lain.
"Mbak Vaya ke mana, Evi?" tanya Lamia.
"Mbak Vaya dipanggil Pak Andre," jawab Evi.
"Oh," kata Lamia singkat. "Oh ya, ngomong-ngomong, Evi, Bu Vaya itu naksir Pak Andre ya?" tanya Lamia.
Evi mencebik mendengar pertanyaan Lamia yang merupakan salah satu dari trio biang gosip di perusahaan.
"Lamia, kau jangan bikin gosip yang tidak-tidak," sahut Evi.
__ADS_1
"Hei, Evi, gosip adalah fakta yang tertunda," balas Lamia.
"Lamia, Bu Vaya tidak ada hubungan dengan Pak Andre," sahut Evi.
"Hee? Yang benar? Kalau memang tidak ada hubungannya dengan Pak Andre, kenapa Bu Vaya sampai sekarang masih lajang? Pasti nungguin Pak Andre kan?" cerocos Lamia.
Evi memilih mengabaikan cerocosan Lamia, percuma meladeni tukang gosip, salah bicara nanti malah jadi gosip.
Lamia merasa tidak puas dengan sikap Evi yang memilih untuk bungkam. Padahal ia harus mengorek sebanyak mungkin informasi dari orang terdekat Vaya. Terlebih Lamia sudah lama menyukai Pak Andre, sehingga ia merasa harus menyingkirkan semua wanita yang mencoba mendekati Pak Andre.
...*****...
Vaya mencatat semua tugas yang diberikan oleh Pak Andre, terlebih sebentar lagi akan ada kegiatan audit internal sehingga Vaya benar-benar harus bekerja secara ekstra. Mulai mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk menghadapi pemeriksaan.
"Bu Vaya, apa malam ini Anda lembur?" tanya Pak Andre.
"Saya usahakan untuk mengerjakannya secepat yang saya bisa, Pak," jawab Vaya.
"Maksud saya, kalau nanti Anda lembur, setelah selesai lembur, mungkin kita bisa pergi makan malam bersama, kebetulan ada kenalan saya yang baru membuka usaha angkringan," kata Pak Andre.
"Oh begitu," kata Vaya.
"Nanti chat saya saja," kata Pak Andre.
"Baik, Pak, terima kasih, kalau begitu saya permisi," Vaya berpamitan.
Vaya segera keluar dari ruangan Pak Andre. Entah mengapa Vaya jadi merasa tidak enak dengan Pak Andre. Pak Andre kerap menraktirnya makan malam ketika lembur. Yah, memang sih hal yang wajar, karena beliau memang kerap meminta anggota untuk bekerja lembur.
Tok.. Tok..
"Pak Andre."
"Ada apa, Lamia?" tanya Pak Andre.
"Ini, Pak, saya ada beli camilan, terlalu banyak jadi saya bagi-bagi, silakan dimakan, Pak."
Lamia menyerahkan kantong plastik berisi sekotak sushi dan juga teh hijau dalam kemasan botol plastik.
"Terima kasih ya," kata Pak Andre.
"Tidak dimakan, Pak?" tanya Lamia.
"Maaf, saya masih kenyang karena habis makan siang, tapi nanti pasti saya makan," jawab Pak Andre.
"Oh," sahut Lamia dengan kekecewaan yang terlihat jelas.
"Oh ya, Lamia, malam ini apa kau lembur?"
"Memangnya kenapa, Pak?" Lamia balik bertanya.
"Begini, saya dapat undangan dari kenalan saya yang baru membuka angkringan, kalau kau ada waktu silakan ikut," jawab Pak Andre.
"Oh, tentu saja saya punya waktu, Pak," Lamia bertepuk tangan senang.
Jangankan waktu, apapun akan kuberikan untukmu, Pak!
"Baiklah, nanti chat saja," kata Pak Andre.
"Oh siap, Pak! Siap!"
__ADS_1
Lamia bergegas keluar dari ruangan Pak Andre sambil membuat pose kemenangan.
Yes! Aku bisa pergi kencan dengan Pak Andre!
...*****...
Kring..
Gawai cerdas Vaya berdering, Vaya menoleh dari layar monitornya, mengambil benda berbentuk persegi panjang itu lalu menggeser tanda hijau.
"Halo, Pak Mike," jawab Vaya
"Selamat sore, Bu Vaya, saya menghubungi Anda karena ingin menanyakan jam berapa Anda pulang kantor?" tanya Mike di seberang sana.
Vaya melirik jam digital yang ada di sudut meja kerjanya, kini baru menunjukkan pukul lima sore.
"Maaf, Pak Mike, hari ini saya harus lembur, tapi tenang saja, saya akan pulang kok, saya tidak akan menginap di kantor. Baiklah, sampai nanti!"
Tut.. Tut.. Panggilan berakhir.
Vaya meletakkan kembali gawai cerdas lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Mbak Vaya," Evi tiba-tiba muncul.
"Ada apa, Evi? Tumben kau belum pulang," kata Vaya.
Evi kembali duduk di meja kerjanya sambil meletakkan dokumen yang baru dibawanya.
"Mbak Vaya, aku benar-benar heran sekali dengan Lamia itu," kata Evi.
"Memangnya Lamia kenapa?" tanya Vaya.
"Itu lho, masa dia bilang ke semua orang kalau malam ini dia mau jalan sama Pak Andre, katanya Pak Andre mengajaknya kencan!"
"Pak Andre lho juga mengajakku pergi ke angkringan kenalannya malam ini, tapi Lamia bilang, Pak Andre cuma mengajak dia saja!" lanjut Evi.
"Ahaha, yang benar?" tanya Vaya.
"Makanya itu, Mbak, ayo kita datang juga, supaya Lamia sadar dari kehaluannya!" ajak Evi.
"Ikut ya Mbak, kalau Mbak ikut, aku pasti ikut," Evi memohon.
...*****...
Lamia memulas kembali lipstiknya yang berwarna merah menyala, ia menyemprotkan juga minyak wangi malaikat subuh yang begitu semerbak.
Ia sudah siap untuk pergi makan malam bersama Pak Andre, lalu bergegas menuju ke parkiran untuk menunggu kedatangan Pak Andre.
Wanita itu mematut kembali penampilannya yang terpantul pada jendela kaca mobil Pak Andre.
"Pak Andre!"
Lamia berseru begitu melihat kemunculan Pak Andre di tempat parkir.
Namun antusiasnya sirna tatkala melihat Pak Andre tidak datang sendirian, melainkan bersama beberapa pegawai yang ikut menumpang di mobil Pak Andre.
Bu Vaya! Kenapa dia ada di sini?! Apa dia mau mengacaukan kencanku dengan Pak Andre?! Dasar sialan! Maki Lamia dalam hati menahan emosi.
...*****...
__ADS_1