Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
053 - Kedatangan Vier


__ADS_3

Vier dan Mike sudah tiba di sebuah gudang yang berlokasi jauh di luar kota. Terlihat pihak kepolisian melakukan penjagaan ketat di sekitarnya.


"Permisi, kami dari pihak brand OMG," kata Mike mencoba menerobos penjagaan dengan menunjukkan kartu identitas pengenalnya.


"Silakan," petugas memberikan jalan untuk Mike dan juga Vier.


Vier dan Mike segera menuju ke lokasi pergudangan yang menjadi tempat penemuan kontainer berisi ribuan kosmetik brand OMG yang dipalsukan. Ribuan kosmetik palsu tersebut nampak telah siap diedarkan kepada konsumen.


Penemuan tersebut awalnya terjadi pada saat truk pengangkut kontainer terjaring razia yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Ketika pihak polisi melakukan pemeriksaan terdapat perbedaan signifikan antara muatan yang tercantum dalam surat jalan dengan muatan yang ada dalam kontainer tersebut. Pada surat jalan tertera bahwa kontainer mengangkut sembako, namun begitu diperiksa ternyata berisi kosmetik.


Kosmetik yang diperiksa tersebut dilaporkan pihak kepolisian kepada pihak brand OMG. Berdasarkan pengakuan pihak OMG, mereka tidak mengenali pengiriman kosmetik menggunakan jasa truk kontainer bermasalah itu. Setelah diselidiki lebih lanjut, barulah terungkap bahwa kosmetik tersebut ternyata berstatus ilegal lantaran terbukti bukan berasal dari pabrik resmi brand OMG.


Di hadapan Vier sudah tersedia sampel produk ilegal penemuan pihak kepolisian. Ia mengamati beberapa produk seperti lipstik, bedak, hingga rangkaian perawatan kulit yang dipalsukan.


"Pihak ekspedisi mengaku bahwa mereka hanya mengirimkan, bahkan tidak tahu siapa pengirimnya," Mike menjelaskan.


"Omong kosong apa itu?!" sergah Vier.


"Mereka hanya dibayar untuk mengantarkan ke tempat tujuan, yakni Kota S, menurut informasi, di sana sudah ada pihak yang menunggu," lanjut Mike.


"Mike, usut tuntas kasus ini! Kau pasti tahu kan, berapa kerugian yang akan kita terima gara-gara kasus pemalsuan ini!" keluh Vier.


"Ya, saya tahu, Pak," jawab Mike.


"Oh ya Mike, ngomong-ngomong, kau bilang barang-barang ini harusnya dibawa ke Kota S, ada pihak yang sudah menunggu di sana, tidakkah sebaiknya kita pergi untuk mengorek informasi dari pihak gudang di sana?" usul Vier.


"Mungkin jika kita membiarkan kontainer ini sampai di tempat tujuan, kita bisa langsung menemukan dalang pemalsu produkku yang sangat berharga," kata Vier.


"Pak Vier, menurut saya, ide Anda sangat brilian, hanya saja, banyak hal yang perlu dipertimbangkan lagi. Kita bahkan tidak tahu siapa yang kita hadapi. Pemain besar ataukah hanya pemain amatiran," Mike menyampaikan pendapatnya.


"Huhu, Mike! Size does not matter! Ukuran bukan masalah! Yang jadi masalah adalah perbuatan yang dilakukan oknum ini benar-benar sangat merugikan! Dia benar-benar salah karena sudah berani berurusan denganku!" Vier tertawa sinis.


"Besar sekali nyalinya karena sudah berani memalsukan produk OMG! Apa dia pikir produk OMG sama saja dengan produk Amoreus?!"


Vier mengulas senyumnya, mengembalikan sampel produk OMG palsu yang menjadi barang bukti penyelidikan.


"Baiklah, ayo kita bereskan masalah ini sebelum berlarut-larut, Mike," ucap Vier.


"Baik, saya mengerti, Pak," jawab Mike.


Mike pun segera menjalankan strategi untuk mengungkap kepemilikan kosmetik OMG kw super. Mereka membiarkan pihak ekspedisi mengirimkan truk kontainer pembawa ribuan produk OMG palsu yang hendak diantar ke tempat tujuan yakni di Kota S.


Vier dan Mike sudah menunggu di komplek pergudangan yang berada di Kota S. Menunggu dengan sabar hingga truk kontainer pengangkut kosmetik palsu itu tiba di sana.


Selusin penjaga dikerahkan bersama beberapa penembak jitu sudah ditempatkan di posisi-posisi vital.


Vier menduga bahwa besar kemungkinan sindikat pemalsu kosmetik tersebut bukanlah sekelompok amatiran. Bisa mendatangkan kosmetik palsu sebanyak itu pasti dibutuhkan modal dalam jumlah besar. Kemungkinan mereka bahkan memiliki pabrik yang memproduksi produk palsu.


"Mike, aku lapar dan mengantuk," keluh Vier.

__ADS_1


"Pak, bagaimana jika Anda menginap saja di hotel terdekat? Biarkan saya yang membereskan masalah ini," kata Mike.


Vier melirik jam tangannya.


"Daripada ke hotel, sebaiknya aku menemui Vaya saja," Vier menyeringai.


"Jadi, itu saja yang Anda inginkan, Pak?" tanya Mike.


"Memangnya menurutmu apa lagi, Mike?" Vier balik bertanya.


Mike segera mengirim pesan kepada ketua tim pengintaian sebelum mengantar Vier yang nampaknya sudah tidak sabar untuk bertemu Vaya.


"Mike, aku ini pria yang pantang melanggar janji. Aku sudah berjanji pada Vaya untuk menemuinya, jadi aku harus menemuinya," Vier terkekeh.


...*****...


Mobil yang dikendarai Mike terhenti di depan rumah orang tua Vaya. Vier segera turun, ia sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Yah, harusnya mereka datang bersama-sama. Sungguh bukan imej yang baik jika Vier membiarkan Vaya datang sendirian. Ia tentu tidak ingin dicap sebagai suami yang menelantarkan istri di mata orang tua Vaya.


Tok.. Tok..


Vier mengetuk pintu rumah, menunggu dengan sabar. Entah mengapa ia merasa deg-degan sendiri.


Ckeklek...


Vier merentangkan tangannya, membuat Vaya mengerutkan kening.


"Kenapa kau tidak menghambur lalu memelukku, Vaya?" tanya Vier.


Cepat kemari peluk aku! Kenapa kau malah bengong seperti orang bodoh?!


Vaya mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Vier? Ke-kenapa kau ada di sini?" tanya Vaya keheranan.


"Vaya, bukankah sudah kukatakan aku akan datang? Aku bukan orang yang suka berbohong sepertimu," Vier kembali menyeringai.


"Pak Vier," Mike setengah berlari menghampiri Vier.


"Ada apa, Mike?" tanya Vier.


"Saya mendapat info dari ketua tim," jawab Mike.


"Pergilah," sahut Vier.


Mike mengangguk cepat.


"Kalau begitu saya permisi," Mike berpamitan.

__ADS_1


"Vaya, apa kau sungguh tidak mau mempersilakanku masuk?" tanya Vier.


"Vaya, siapa yang datang?" tanya Bu Asih sambil menghampiri Vaya.


Mata Bu Asih membulat melihat sosok tampan yang langsung mengulas senyum ramah padanya.


Vier segera mengambil tangan Bu Asih dan mengecupnya sekilas.


"Ibu mertua, maaf saya datang terlambat," kata Vier.


"Aduh Vaya, kenapa kamu membiarkan suamimu di luar saja? Ayo masuk," Bu Asih mengajak Vier.


"Woaah, kakak ipar datang!" Rian berseru heboh.


"Kakak ipar?!" Aria tiba-tiba muncul.


"Kamu benar-benar datang menyusul Vaya?" tanya Bu Asih.


"Saya sudah berjanji pada Vaya, Bu," jawab Vier.


"Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Bu Asih.


"Ibu mertua, bagi saya, memenuhi janji saya pada Vaya itu lebih penting," jawab Vier.


"Uwoow! So sweet!" Rian dan Aria bersorak heboh.


"Rian, Aria, jangan ribut-ribut, ini sudah malam! Nanti kita di komplain tetangga," tegur Vaya.


"Nak, kamu sudah makan? Mau ibu siapkan?" tanya Bu Asih.


"Waduh, Ibu, Vaya yang biasa menyiapkan saya makanan," jawab Vier.


"Oh begitu, Vaya, siapkan makan untuk suamimu," pinta Bu Asih.


Vaya melotot ke arah Vier yang masih tersenyum senang dengan sambutan hangat dari keluarga Vaya.


"Kamu pasti lelah dari perjalanan jauh, mandi dulu biar segar," ucap Bu Asih.


"Biar aku saja yang siapkan air hangatnya ya, Kak," kata Rian antusias.


Vaya melotot ke arah Rian.


"Rian, teganya kamu, kakakmu ini bahkan tidak pernah kamu siapkan air hangat," rutuk Vaya.


"Kak, aku harus baik-baik pada kakak ipar! Aku mau dapat resep tampannya! Hihi!" Rian terkekeh geli.


Hih! Apa gunanya tampan kalau sakit jiwa?! Kalian jangan tertipu dengan penampilannya!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2